Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-54 Tamu yang tak di inginkan


Jack hanya diam saat Ara kembali diam dan bersandar di bahunya dengan nyaman. Tidak bisa, Jack tidak bisa untuk jujur pada Ara saat ini. Ada banyak hal yang ingin dia lakukan dan saat ini waktu yang tidak tepat untuk mengatakan semuanya. Akhirnya Jack hanya bisa membiarkan Ara berkeluh kesah dan tidak menyadari kalau pria yang diajaknya bicara itu mengerti apa yang dia ucapkan.


Hingga keesokan harinya, sesuai dengan recana semula, Pak Beni sudah mempersiapkan kepulangannya Jack kembali ke rumah orang tuanya.


Mereka sampai dirumahnya Jack hari sudah larut malam. Jack menatap rumah peninggalan ayahnya itu saat mobilnya memasuki halaman rumah dan berhenti diteras.


“Sayang, sepertinya ada tamu, tamu siapa malam-malam begini?” tanya Ny. Inez yang sudah menggunakan baju tidur, merapihkan bajunya di depan cermin.


“Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa,” ucap Tn.Ferdi, yang sedang berbaring di tempat tidur, akan bersiap-siap tidur.


“Bastian juga tidak keluar, dia mengurung diri dikamarnya, dia masih marah karena kita belum menyiapkan hadiah untuk melamar Kinan,” kata Ny. Inez.


Dia menajamkan pendengarannya dan mendengar kalau suara mobil itu berhenti.


“Coba aku lihat siapa yang datang,” ucap Ny. Inez, sambil berjalan kearah pintu lalu keluar dari kamarnya.


Pak Atam membuka pintu rumah itu dan langsung terkejut saat melihat siapa yang datang.


“Tuan Delmar!” serunya sambil menghampiri Jack yang baru turun dari mobil, ternsenyum lebar dan menoleh pada Pak Beni juga Ara.


Jack menatap pria yang menyambutnya itu. Dia mengumpulkan ingatannya, dia ingat itu adalah Pak Atam, kepala pelayan dirumah ini.


“Pak Beni!” seru Pak Atam, kini wajahnya berubah dengan keheranan.


“Aku fikir Tuan Delmar akan tinggal di Perancis lama,” ucap Pak Atam.


“Tuan Delmar tidak betah , dia ingin pulang jadi saya membawanya pulang saja,” jawab Pak Beni sambil menoleh pada Jack yang hanya diam saja.


Jack memperhatikan bagian depan rumahnya.  Ini adalah rumah masa kecilnya saat ayahnya masih hidup.


“Silahkan masuk! Saya akan memberitahu Ny. Inez,” ucap Pak Atam.


Mendengar nama Ny. Inez disebut, ada rasa kekhawatiran yang timbul dihatinya Ara.  Apakah ini awal pertarungan yang sempat terhenti beberapa hari yang lalu karena dia pergi ke Perancis? Spontan tangannya memeluk tangan Jack. Jack hanya melirik tangan itu, dia tahu istrinya merasa takut.


Pak Atam langsung masuk kedalam diikuti oleh  Pak Beni, Jack dan Ara.


Jack sekarang memperhatikan isi rumah masa kecilnya itu. Dia merasakan kembali aura rumah yang pernah di tempatinya itu. Beberapa sudut rumah itu tidak ada yang berubah, beberapa barang lama juga yang tentunya dengan kualitas yang bagua dan tidak dimakan usia, masih ada diruangan itu.


Jack berjalan kearah lemari kaca yang terdapat banyak miniatur berbagai macam bentuk yang lucu-lucu. Dilihatnya isi lemari itu, terus beerjalan perlahan menuju dinding yang terdapat lukisan-luksian yang bernilai fantastic. Lukisan itu bukan lagi luksian yang sama seperti dulu, entah dimana ibunya menyimpan lukisan-lukisan yang lama.


“Jack!” panggil Ara,  mengikuti langkah  Jack dan kembali memeluk tangannya Jack.


Jack menolah pada tangannya yang dipegang Ara. Tangan-tangan mungil itu selalu memeluk tangannya. Diapun menatap Ara.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ara, menengadah menatap wajah tampannya Jack.


Ara merasa khawatir Jack akan merasa tertekan lagi tinggal di rumah ini yang telah memberikan kejadian buruk buat Jack.


Jack menatap wajah istrinya itu. Lama semakin lama dia merasa betah menatapnya. Apa ini yang dikatakan istrinya kalau saat depresi dia suka sekali menatap wajah istrinya?


“Jack!” panggil Ara, keheranan karena Jack hanya menunduk menatapnya.


Jack melihat tatapan istrinya itu selalu terlihat khawatir dengan keadaannya.


“Tenang istriku, aku bisa menjaga diriku lebih dari yang bisa kau bayangkan,” batinnya, tidak terucap.


“Pak Atam! Ada tamu siapa? Kenapa tamu datang selarut ini?” tanya suara seorang wanita yang masuk ke ruangan itu.


Ny. Inez menghentikan langkahnya saat muncul diruangan itu dan melihat ada Jack sedang berdiri membelakangi bersama Ara didekat sebuah lukisan lalu pada Pak Beni juga Pak Atam.


“Tuan Delmar datang, Nyonya,” jawab Pak Atam.


Ny. Inez benar-benar terkejut melihat kedatangannya Jack.


“Apa-apaan ini? Kenapa kalian kembali kerumah ini?” tanyanya dengan suara tinggi dan tidak suka.


Mendengar suara ibunya yang meninggi, Jack segera membalikkan tubuhnya menoleh kearah suara.


Dilihatnya sosok wanita yang telah melahirkannya itu, ibu kandungnya, berdiri sedang menatapnya lalu menoleh pada Pak Beni juga pada Ara, raut wajah yang sangat tidak menyukai atas kehadirannya.


“Pak Beni! Kenapa kau membawa Jack pulang?’ tanya Ny.Inez.


“Maaf Nyonya, Tuan mengamuk dan ingin pulang,” jawab Pak Beni.


Jack menatap wanita itu. Wanita itu begitu tidak menyukai kehadirannya. Di tatapnya ibunya itu. Wajah yang sudah lama tidak dia lihat dengan jelas karena kemarin dia pulang tidak dengan keadaan yang baik, tidak ada yang berubah. Ibunya masih cantik seperti dulu. Meskipun dia tidak muda lag tapi ibunya terlihat sangat awet muda. Tentu saja, dengan uang banyak yang dimilikinya ibunya pasti merawat kecantikannya dengan sempurna.


“Saya kewalahan Nyonya. Menurut Dokter yang merawat Tuan, akan lebih baik membawa  Tuan pulang, itu akan menenangkannya!” jawab Pak Beni.


“Tenang buat siapa? Aku sama sekali tidak tenang dengan kehadirannya kembali ke rumah ini! Aku sudah mengatakan untuk mengakhiri segala macam hal yang merepotkan! Jack akan lebih tenang tinggal disana!” kata Ny. Inez masih dengan nada tinggi.


Jack menatap ibunya itu. Ibunya begitu tidak ingin melihatnya. Padahal selama ini ibunya sudah tidak pernah menjenguknya. Ibunya tidak tahu perkembangannya, pertumbuhannya sampai dewasa, bahkan ibunya tidak tahu kalau dia sudah menjadi Jendral sekarang, sudah bisa mewujudkan cita-citanya dan ayahnya untuk menjadi seorang Perwira tinggi di Perancis.


Ada perasaan sedih dihati Jack, begitu sangat menyakitkan saat merasakan tidak diinginkan oleh keluarganya sendiri apalagi ini adalah ibu kandungnya.


Ingin dia bicara pada ibunya tapi Jack ingat kalau dia punya tujuan lain pulang ke rumahnya ini.


Ny. Inez menghampiri Ara yang sedang berdiri dekat Jack.


“Kau! Kau kan sudah berjanji untuk mengakhiri segala macam perseteruan dengan keluargaku, kenapa kau membawa Jack pulang?  Bahkan kau yang menginginkan untuk bersama Jack dan akan menjaganya! Buat apa kau kemari?” bentak  Ny.Inez degan kesal.


Melihat sikap ibunya yang membentak Ara, ada perasaan kesal dihati Jack. Jadi ini perlakuan ibunya pada istrinya? Membentak-bentak istrinya seperti itu.


Ara menatap wajahnya Ny. Inez.


“Nyonya, sebenarnya aku tidak setuju Jack pulang, tapi kata Pak Beni menurut Dokter itu jalan terbaik untuk kesembuhan Jack karena hatinya rindu pulang,” ucap Ara.


“Apa? Rindu pulang?” tanya Ny.Inaz, lalu  tertawa sinis.


Beberapa detik kemudian ibunya Jack itu menghentikan tawanya dan menatap Ara.


“Dia itu gila! Jack itu gila! Mana tahu dia soal rindu pulang? Jangan membuat lelucon!” hardik Ny.Inez.


Ara menoleh pada Pak Beni. Dia sudah bisa menebak ini pasti perlakuan yang akan diterima oleh keluarganya Jack.


Pak Beni hanya diam saja. Arapun kembali menatap Ny.Inez.


“Nyonya, saya berjanji kami tidak akan membuat keributan, aku hanya ingin  mengabulkan keinginan Jack untuk pulang,” ucap Ara.


Ny.Inez memberengut kesal. Sebenarnya dia tidak suka dengan kehadiran Jack yang sepertinya akan menimbulkan lagi keributan dirumahnya.


“Ternyata kau keras kepala juga, kau sama sekali tidak mengindahkan peringatanku!” hardik Ny. Inez pada Ara.


“Tolong Nyonya, jangan menolak Jack, dia hanya ingin pulang.  Biarkan dia bersama diantara keluarganya!” kata Ara menoleh pada Jack dan mengusap tangannya Jack. Dia merasa sedih Jack ditolak keluarganya.


“Ada apa sayang? Kenapa begitu ribut?”  Terdengar suara pria masuk ke ruangan itu. Semua mata menoleh kearah pria yang datang itu, Tn, Ferdi.


Tn. Ferdi terkejut melihat kedatangan Jack dan Ara juga Pak Beni kerumah mereka lagi.


“Kenapa kalian kembali lagi kesini?” bentaknya dengan raut muka yang memerah karena marah.


“Jack mengamuk dan ingin pulang, Tuan,” jawab Ara.


“Apa? Mengamuk dan ingin pulang? Kau kan bisa mengikatnya! Di rumah sakit itu ada baju khusus pasien yang mengamuk! kalau perlu, pasung saja!” kata Tn.Ferdi.


“Tuan! Kenapa Tuan tega bicara seperti itu?” hardik Ara dengan kesal.


“Memang begitu cara memperlakukan pria gila!” jawab Tn.Ferdi sambil menatap Jack dengan senyum mengejeknya.


Jack menatap pria itu, pria itu  adalah teman ayahnya tapi sekarang menjadi ayah tirinya. Terakhir melihat wajah pria itu adalah saat kejadian di pantai itu, pria itu ada bersama teman-teman orang tuanya.


“Kau, orang gila!” Panggil Tn.Ferdi pada Jack.


“Sepertinya kejadian kemarin tidak membuatmu kapok! Sepertinya aku harus benar-benar menendangmu dari sini!” maki Tn.Ferdi menatap Jack, mata merekapun bertemu.


Ada kebencian di mata itu, mata pria itu begitu sagat membencinya.  Jack balas menatapnya. Pria itu seharusnya bersikap baik padanya, karena dia sudah tinggal di rumahnya, rumah peninggalan ayahnya dan ikut menikmati kekayaan yang dipegang ibunya begitu lama.


Ny.Inez menghampiri suaminya.


“Sudahlah sayang, biarkan saja Jack pulang! Kita terpaksa menerimanya tinggal dirumah ini,” kata Ny. Inez, lalu menoleh pada Ara.


“ Kau boleh tinggal disini dengan Jack tapi dengan beberapa persyaratan,” ucap Ny. Inez.


“Persyaratan? Maksud Nyonya apa?” tanya Ara, menatap ibu mertuanya itu.


*******