Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-173 Memulai dari Paris


3 Mobil mewah itu memasuki gerbang dengan pagar yang tinggi dan penjagaan yang ketat. Prajurit bersenjata, seperti sudah terbiasa Ara lihat sekarang. Memasuki taman rumah suaminya yang sangat luas di Paris. Mulai hari ini dia dan Jack juga putranya akan tinggal di rumah ini.


Setiap kali melewati taman ini, bayangan bersama suami dan putra putrinya muncul, meski dia baru memiliki putra, mungkin nanti akan memiliki putri.


Kini impian itu terwujud, bisa hidup berumah tangga dengan normal bersama Jack sangat membuatnya bahagia.


Ada haru dihatinya datang kerumah ini sudah bersama suaminya dan putranya.


Ara menoleh pada suaminya yang duduk disampingnya tanpa banyak bicara.


“Kenapa?” tanya Jack, menoleh pada istrinya.


“Pertama kali aku melewati taman ini, aku bermimpi suatu saat pernikahanku akan bahagia bersamamu dan putra-putri kita,” jawab Ara, menatap suaminya.


Jack balas menatapnya.


“Apa kau bahagia sekarang?” tanya Jack.


“Iya, aku bahagia, kau bersamaku dan putra kita,” jawab Ara.


“Aku juga bahagia bisa membawamu kerumahku. Aku merasa tidak sepi lagi, apalagi Galand sudah bersama kita,” kata Jack, lalu mencium keningnya Ara.


Ara menatap suaminya lalu pada putranya, lalu pada Jack lagi.


Suaminya langsung memeluk bahu Ara, mencium pipinya juga mencium bayi itu. Dia juga merasa bahagia yang sama, menemukan wanita yang dicintainya yang sangat mencintainya dan sekarang sudah memberinnya seorang putra yang taman, hidupnya terasa sangat sempurna, apalagi yang diinginkannya? Dia hanya ingin hidup bahagia dengan keluarga kecil juga keluarga besarnya nanti.


“Kenapa bayi kita selalu tidur?” tanya Jack, melihat Galand yang terlelap digendongan ibunya.


“Baru juga beberapa hari, ya bayi seperti itu, banyak tidur. Dia hanya bangun kalau lapar mau menyusu, sepertinya dia akan cepat gemuk,” kata Ara, tersenyum menatap bayinya.


“Aku ingin mengajaknya bermain perang-perangan,” ujar Jack.


“Dia masih kecil Jack, kau harus menunggunya beberapa tahun lagi,” kata Ara.


“Tapi kalau main perang-perangan hanya berdua tidak seru,” ucap Jack.


“Kenapa tidak seru?” tanya Ara.


“Kurang orang, prajuritkan harus banyak, baru seru,” jawab Jack.


“Putramu kan cuma satu, ya satu saja prajuitnya,” kata Ara.


Jack mendekatkan bibirnya ke telinga Ara.


“Apa?” tanya Ara.


“Bagaimana kalau kita buat adik Galand lebih cepat? Biar rumah cepat ramai,” usul  Jack, dengan semangat.


Ara langsung mengernyit menatapnya.


“Galand baru lahir kau sudah memikirkan punya bayi lagi? Haah, kau ini!” gerutu Ara.


“Rumahku sangat besar sayang, kalau anak satu masih kurang,” ucap Jack.


Ara menatap suaminya yang mendekatkan kepalanya kebelakang kursinya.


“Jangan karena ingin rumah ramai, putra kita tidak terurus, semua ada waktunya Jack,” kata Ara.


Jack menempelkan wajahnya ke rambut belakang istrinya, dan mencium rambut itu.


“Aku mencintaimu,” ucap Jack.


“Aku juga!” jawab Ara, merasakan rambutnya yang diganggu suaminya.


“Kau merusak rambutku Jack!” keluhnya, lalu tiba-tiba dia menjerit karena suaminya menggigit lehernya tiba-tiba. Sampai supir menginjak rem mendadak.


Ara menjauhkan tubuhnya dari  Jack sambil cemberut.


“Aah kau menggangguku!” keluhnya.


“Bayimu nanti bangun,” kaluh Ara lagi.


Tapi protesnya tidak didengarnya, pria itu malah mencium bibirnya.


“Ada apa Tuan?” tanya supir depan, yang tidak bisa melihat kejadian dibelakang mobil itu.


“Kau jalan saja! Istriku sedang manja!” jawab Jack, membuat Ara melotot.


Mobilpun kembali melaju.


Ara semakin memberengut saja, pria ini yang mengganggunya kenapa bicaranya begitu?


Jack tidak menghiraukan istrinya memberengut, dia malah menciumnya lagi.


“Aku tidak bosan menciummu,” ucapnya.


Ara menatap suaminya itu.


“Kau menggangu bayimu!” kata Ara dan benar saja bayi itu mulai merengek.


“Tuh kan, dia menangis, cup,cup, Ayahmu memang begitu, suka mengganggu Ibu,” kata Ara menepuk-nepuk bayinya supaya tidur lagi.


Jack malah tertawa mendengar perkataan istrinya.


“Bayi satu saja kau membuatnya menangis bagaimana kalau banyak?” keluh Ara.


“Aku sengaja mengganggumu. Biar Galand bangun, aku ingin mengobrol dengannya! Aku tidak mungkin kan mencubitnya supaya dia bangun,” kata Jack.


Ara membelalakkan matanya menatap Jack.


“Kau kefikiran mencubitnya? Hah, yang benar saja Jack!” keluh Ara.


Dia tidak habis fikir kenapa pria itu malah ingin mengganggu bayinya tidur. Jack hanya tersenyum dan kembali mencium pipi istrinya.


Mobil berhenti di halaman rumah. Ara melihat kearah airmancur itu. Airmancur yang berukuran lumayan besar, dengan airnya yang jernih, kalau malam hari terlihat sangat indah dengan lampu lampu gold di sekitarnya.


Jack turun duluan lalu membantu Ara turun. Di mobil kedua turun Pak Amril dan Bu Amril, juga  Ny.Imelda dan Tn.Daniswara, juga  Ny.Ines, Bastian dan Arum.


Ara berdiri menatap airmancur itu. Dia selalu membayangkan akan bermain disana bersama putra dan putrinya juga Jack.


“Apa kita akan kesana?” tanya Jack.


Ara mengangguk.


Jack menoleh pada Ibunya.


“Bu, aku dan Ara akan kesana dulu sebentar!” kata Jack, menunjuk kearah airmancur.


“Iya,” jawab Ny.Inez lalu mempersilahkan tamu-tamunya masuk kedalam rumah.


Bu Amril tampak terkagum-kagum dari sejak memasuki taman rumah ini.


“Rumahnya sangat bagus sekali, aku pasti betah tinggal disini,” kata Bu AMril.


“Bu,” Pak Amril menoleh pada istrinya.


“Aku kan bicara sebenarnya,” ucap Bu Amril, lalu mengikuti langkah kaki Nyonya Inez masuk keruang tamu, begitu juga dengan yang lain.


Jack memeluk bahunya Ara, mengajajaknya mendekati airmancur itu.


“Sangat indah, bukan?” tanya Jack.


Mereka berhenti tidak jauh dari airmancur itu. Ara menutupkan selimut bayinya supaya tidak kepanasan.


“Iya, aku sangat suka melihatnya,” jawab Ara.


Jack memutarkan tubuhnya Ara supaya menghadapnya.


“Kita akan tinggal disini, memulai hidup kita yang baru,” kata Jack, memegang bahu istrinya, menatap wanita yang sudah memberikan kehidupan lebih baik buatnya.


“Iya,” jawab Ara, mengangguk.


“Sayang, aku tidak tahu harus berkata apa. Yang pasti kehadiranmu dalam hidupku sangat berarti bagiku. Aku sangat berterimakasih kau mau menerimaku apa adanya, kau mau menerima segala kekuranganku, kau mau menemaniku disaat aku tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu, aku sangat berterimakasih,” ucap Jack.


Ara masih diam mendengarkan, tiba-tiba saja ada haru dihatinya mendengar perkataannya Jack itu.


“Aku berjanji tidak akan membiarkanmu menangis lagi, sudah cukup kejadian yang telah lewat membuatmu tersakiti, aku ingin kedepannya kita terus bahagia bersama anak-anak kita,” kata Jack panjang lebar.


Ara menatap suaminya itu. Bagaimana dia tidak berkaca-kaca mendengar perkataannya Jack. Airmata sudah mengumpul dimatanya.


“Aku tidak mau melihatmu menangis,” ucap Jack, jarinya menghapus airmata yang menetes di pipinya Ara.


“Aku menangis karena aku bahagia, akhirnya aku bisa menjalani pernikahan kita dengan normal itu yang selalu aku inginkan,” kata Ara.


Jack mengangguk.


“Iya, aku minta maaf selama ini sudah memberikan banyak penderitaan padamu,” kata Jack.


“Ke depannya aku hanya ingin memberikan kebahagiaan buatmu dan putra kita,”lanjut Jack.


Ara menatap wajah tampan didepannya itu.


“Aku mencintaimu, Jack. Jendral Jack Delmar!” kata Ara.


“Aku juga mencintaimu, istriku, Arasi Mayang,” ucap Jack.


Jack melangkahkan kakinya lebih dekat lalu memeluk Ara dan mencium keningnya juga mencium pipi putranya yang masih tertidur. Setelah itu kembali memeluk istri dan putranya itu sambil melihat airmancur itu.


Sedang menikmati kebersamaan begitu tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang.


“Lapor Jendral! Maaf mengganggu Jendral!” teriak seorang Prajurit dibelakang Jack.


Jack langsung melepaskan pelukannya. Membalikkan badannya menatap prajurit itu. Sedangkan Ara menepuk-nepuk bayinya yang mulai merengek.


“Ada apa?” tanya Jack.


“Jendral ditunggu makan siang bersama keluarga besar, Jendral!” jawab prajuit itu, berdiri tegak.


“Iya aku akan kesana,” kata Jack.


“Siap Jendral!” jawab prajurit itu dengan keras.


Seketika Galand Delmar yang tadi merengek langsung menangis kencang, membuat semua orang terkejut. Ara langsung menatap prajurit itu.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak-teriak? Kau membuat bayiku ketakutan dan menangis!” umpat Ara, sambil terus menepuk-nepuk bayinya.


Prajurit itu sangat kaget dimarahi istri Jendralnya itu,  dia menatap Jack dengan bingung.


“Kau pergi saja!” kata Jack.


“Siap, Jendral!” teriak prajurit itu lagi, bayi itu semakin kencang saja menangisnya.


Ara mendelik pada Prajurit itu lalu melangkahkan kakinya sambil terus mengayun-ayun bayinya supaya berhenti menangis.


Jack melirik pada prajuritnya yang masih berdiri kebingungan. Jack hanya menghela nafas sebentar lalu menyusul langkah kaki istrinya, memeluk bahunya, bersama-sama menuju rumah mereka. Rumah Masa Depan.


***********


Readers, lampu mati seharian jadi aku g bs nulis nulis. up yg ada aja dulu.


****