Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-47 Jangan panggil aku ‘Jendral’


Ara menoleh pada Jack.


“Jack!” panggil Ara.


“Apa kau lebih baik?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab, kenapa wanita itu bertanya begitu? Bukankah dia yang tenggelam, kenapa dia malah memikirkannya?


“Sepertinya kau lebih baik,” ucap Ara.


Jack masih tidak bicara, menolehpun tidak. Dia meminum air hangat ditangannya yang diberikan perawat itu.


Pak Beni menoleh pada Jack yang sama sekali tidak menoleh pada Ara, lalu menoleh pada istri Tuannya itu.


“Nyonya, apa kita akan langsung pulang saja?” tanya Pak Beni pada Ara.


“Iya Pak Beni, sepertinya usahaku untuk membuat Jack sembuh sia-sia, aku malah mengalami kejadian seperti ini, sangat menakutkan,” ucap Ara, membayangkan tadi dirinya hampir tenggelam.


“Jack, kau harus mengajariku berenang,” ucap Ara.


“Kenapa minta diajari padaku? Merepotkan saja,” batin Jack.


Pak Beni melirik Tuannya yang hanya menikmati minuman itu.


Ara menoleh lagi pada Jack dan menatapnya dengan tatapan berbinar.


“Aku senang Jack menyelamatkanku, aku tahu meskipun dia masih sakit tapi dalam hatinya dia benar-benar mencintaiku,benar kan Jack?” ucap Ara, sambil tersenyum.


Mendengar Ara mengatakan kalau dia mencintainya, tiba-tiba saja Jack batuk-batuk. Yang benar saja? Apa benar dia mencintai wanita itu? Semua karena matanya mengingatkannya pada Arum, batin Jack.


“Jack Kau kenapa?” tanya Ara.


“Tuan!” tanya Pak Beni.


Jack diam saja, dia berhenti batuk.


“Hati-hati Jack, minum sedikit-sedikit, airnya masih panas. Kau selalu terburu-buru kalau makan dan minum,” ucap Ara.


Tidak ada yang terucap dari mulut Jack. Dia terus mengeluh dalah hati. Kenapa wanita itu cerewet sekali? Rasanya tidak percaya dia menikahi wanita yang cerewet. Wanita itu tahu dia makan dan minum terburu-buru darimana? Kalau bukan karena perkataannya, dia juga tidak akan tersedak.


Apa benar dia mencintai wanita itu? Dia menyelamatkannya karena dia melihat Arum yang tenggelam tadi.


“Baiklah Nyonya, kita pulang sekarang. Nyonya harus istirahat, Tuan juga,” ucap Pak Beni, lalu bangun dari duduknya.


Pak Beni bicara dengan perawat dan petugas pengamanan pantai tadi. Setelah berterimakasih, Pak Beni mengajak Ara dan Jack keluar dari tenda.


Ara mengulurkan tangannya akan memegang tangan Jack, tapi Jack malah cepat- cepat berjalan duluan, membuat Ara merasa heran, biasanya Jack tidak pernah protes kalau dia memeluk tangannya? Kenapa Jack jadi aneh begitu? Apa Jack marah karena dia membawanya ke pantai ini dan membuat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya?


Ara tidak banyak berfikir lagi, diapun mengikuti langkahnya Jack. Tapi begitu sampai di mobil, Jack malah beridi diluar tidak langsung masuk.


 “Jack, kenapa kau tidak masuk?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab. Pak Beni tahu maksud Jack, diapun menjawab, sambil membukakan pintu buat Ara.


“Masuklah Nyonya! Tuan sepertinya ingin ke toilet, saya akan mengantar Tuan dulu,” ucap Pak Beni.


Arapun hanya mengangguk dan segera masuk, Pak Beni langsung menutup pintunya. Di dalam mobil Ara keheranan, apa Jack bilang pada Pak Beni mau ke toilet? Pak Beni tahu darimana Jack mau ke toilet? Tapi Pak Beni kan sudah mengenal Jack pasti sudah tahu kalau Jack mau ke toilet.


“Tuan, mari!” ajak Pak Beni pada Jack.


Merekapun meninggalkan mobil itu menuju arah yang lain. Setelah berbelok dan memastikan Ara tidak melihat mereka, Jack menghentikan langkahnya.


“Ada yang ingin Tuan bicarakan?” tanya Pak Beni, menatap Jack.


“Iya, sebelum kita pulang,” jawab Jack.


“Apa Tuan?” tanya Pak Beni.


“Di rumah semua orang jangan ada yang memanggilku Jendral dan jangan hormat padaku! Semua protocol kemiliteran jangan dipakai! Semua foto-fotoku juga turunkan!” kata Jack, membuat Pak Beni terkejut.


“Tapi kenapa? Biasanya juga begitu, mereka tidak akan berani lancang!” tanya Pak Beni, keheranan.


“Kerjakan saja! Ini perintah!” kata Jack.


“Tapi kenapa Tuan?” tanya Pak Beni, masih tidak mengerti.


“Aku tidak mau wanita itu tahu identitasku, aku tidak mau dia tahu kalau aku sudah lebih baik sekarang,” jawab Jack.


“Tapi kenapa? Dia istri Tuan, dia harus tahu kalau Tuan sudah sembuh,” ucap Pak Beni.


Pak Beni masih menatap Jack. Apa yang dikatakan Tuannya itu benar. Setelah sekian lama sembuh, sebuah kejadian buruk membuat Tuannya merasa trauma lagi.


“Ada yang mencoba menyabotase kapal anak buahku di perairan, dan sengaja menenggelamkannya. Beberapa anak buahku tewas, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku merasa bersalah dengan semua itu, aku seperti mengirim kematian buat orang lain. Kalau aku terus mengalami hal seperti ini, sepertinya aku akan benar-benar gila!” ucap Jack.


“Tuan jangan bicara begitu!” ucap Pak Beni, menggelengkan kepalanya.


“Seharusnya aku tidak terjun ke militer,” ucap Jack lagi.


“Itu sudah cita-cita Tuan dari kecil juga keinginan ayah Tuan, jangan menyesali semua itu!” kata Pak Beni.


“Aku Jendral yang bodoh tidak bisa melindungi anak buahku sendiri. Harus berapa nyawa lagi yang akan meninggal ditanganku?” keluh Jack lagi.


“Tuan jangan seperti itu! Jangan selalu menyalahi diri sendiri! Semua itu kecelakaan!” kata Pak Beni, terus menghibur Jack.


Jack menghela nafas sebentar dan menatap Pak Beni.


“Ada yang ingin membuatku benar-benar gila! Aku harus tahu siapa orang itu! Kenapa orang itu tidak mengincar nyawaku? Malah menginginkan aku gila? Orang itu tahu kelemahanku kalau aku trauma dengan kejadian dulu,” ucap Jack, tangannya memegang keningnya.


Pak Beni mengangguk-angguk setuju.


“Aku tidak bisa hidup normal sebelum aku menemukan orang itu,” kata Jack.


“Tapi apa hubungannya dengan Nyonya? Kenapa Nyonya tidak boleh tahu siapa Tuan sebenarnya?” tanya Pak Beni.


“Aku harus waspada, bisa saja dia itu mata-mata yang akan mencelakaiku!” jawab Jack.


“Tidak Tuan, Nyonya tidak mungkin seperti itu, dia sangat mencintai Tuan, dia sangat baik, dia menerima Tuan apa adanya, dia rela memberikan surat kuasa kekayaan Tuan pada Ny.Inez demi selalu bersama Tuan,” kata Pak Beni.


“Itu semua bukan jaminan kalau dia bukan mata-mata  atau kaki tangan orang yang ingin menghancurkanku, Pak Beni,” ujarJack.


“Tuan, bagaimana bisa berprasangka begitu? Tuan memilihnya dan menikahinya,” kata Pak Beni.


“Matanya mengingatkanku pada Arum. Aku merasa Arum masih hidup setiap melihat matanya, itu mengobati rasa bersalahku. Tapi sekarang aku tahu dia bukanlah Arum,” ucap Jack, ingatannya kembali pada Arum kecil.


“Dia juga sangat cerewet! Ya ampun aku menikahi wanita cerewet! Kalau Arum besar, dia tidak akan secerewet itu,” lanjut Jack, terus berkeluh kesah, membuat Pak Beni menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Tapi Nyonya sangat baik Tuan, dia sangat mencintai Tuan,” ucap Pak Beni.


“Tetap saja aku harus hati hati pada siapapun yang berada di dekatku. Jadi tolong rahasiakan identitasku, jangan katakan aku sudah sembuh. Aku perlu bukti kalau dia memang bukan bagian dari orang yang ingin menghancurkanku,” kata Jack.


Pak Benipun diam, sebenarnya dia merasa kecewa Tuannya berfikiran begitu. Tuannya tidak tahu bagaimana perjuangan istrinya membelanya. Tapi semua kembali pada Tuannya. Tuannya yang memutuskan.


“Aku juga belum selesai dengan urusan keluargaku. Aku tidak mau keluargaku tahu kalau aku sudah sembuh sejak lama,” kata Jack.  Kini wajahnya berubah dengan raut sedih.


“Sungguh malang nasibku, tidak ada yang menyayangiku sejak kejadian itu,” keluh Jack.


“Tidak begitu Tuan, Nyonya sangat menyayangi Tuan,” kata Pak Beni.


“Kalau Ibuku menyayangiku, seharusnya ibu menjengukku  saat aku di RSJ, bahkan aku sembuhpun ibu tidak tahu. Dia tidak tahu anaknya menjadi apa sekarang,” jawab Jack.


“Maksud saya Nyonya Ara, istri Tuan,” kata Pak Beni, meluruskan.


Dijawab Pak Beni begitu, Jack malah diam. Dalam hatinya dia juga bertanya-tanya apakah dia benar-benar mencintai Ara? Wanita itu memiliki mata seperti Arum, kalau tidak, dia tidak mungkin menikahinya.


“Baiklah Tuan, semua akan saya atur. Saya akan menelpon orang rumah, kasihan Nyonya menunggu di mobil,” kata Pak Beni, akhirnya.


Jack tidak menjawab, dia melangkahkan kakinya kembali ke tempat mobil itu diparkir, Pak Beni segera mengikutinya.


Didalam mobilpun Jack tidak banyak bicara, dia hanya diam seperti biasa, jadi Arapun tidak mempermasalahkannya karena memang akhir-akhir ini Jack jarang sekali bicara.


Saat mobil memasuki gerbang rumah, Jack melihat kearah kaca jendela. Tidak ada satupun menyambut dengan hormat padanya. Hanya satpam gerbang saja, jadi tidak ada yang berlebihan dan mencolok. Ara memperhatikan perubahan itu tapi dia tidak terlalu memikirkannya.


Tapi saat tiba di depan rumah barulah Ara keheranan karena hanya dua orang yang berjaga di depan pintu. Tapi bukankah itu lebih baik?


Salah satu satpam menghampiri mobil dan membukakan pintu buat Jack, dia bersiap-siap memberi hormat tapi diurungkannya, jadi hanya mengangguk saja. Jack hanya meliriknya sekilas lalu tanpa bicara apapun masuk kedalam.


Ara turun dan menatap satpam itu. Melihat satpam itu dari atas sampai bawah, seragam yang digunakannya berbeda dengan yang kemarin dan tadi pagi.


Matanya bertemu dengan tatapan satpam itu. Dia heran kenapa satpam itu tidak hormat lagi padanya? Tapi Ara lagi-lagi tidak mau banyak berfikir, dia segera berlari mengikuti Jack ke dalam rumah.


Saat Ara membuka pintu kamarnya, dilihatnya Jack berdiri di depan cermin dan akan  membuka kancing kemejanya.


“Jack! Apa kau mau mandi? Tumben sekali kau membuka baju sendiri,”tanya Ara membuat Jack terkejut dan tersadar, bukankah dia sedang berpra-pura masih depresi? Diapun menghentikan niatnya membuka baju, tangannya menjadi mengusap kemejanya saja.


************


Readers, jangan lupa vote vote vote!