Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-153 Dua Bulan Kemudian


Ara berdiri didepan sebuah kalender yang tergantung di dinding. Di bulatkannya salah satu tanggal disana dengan bolpoint yang ada ditangannya. Sudah 3 bulan Jack tidak ada kabar, perutnya sudah mulai membulat. Rasanya air matanya sudah mengering, terus menangis menahan rasa rindu pada suaminya.


Usia kehamilannya yang semakin bertambah, membuatnya merasa semakin berat melewati hari-harinya. Tidak ada suaminya yang akan mengelus punggungnya jika dia merasa lelah. Tidak ada yang memanjakannya disaat masa mengidamnya menginginkan sesuatu. Menjalani kehamilan seorang diri rasanya seperti berada didalam sebuah ruangan yang luas tapi terasa sesak.


Ditatapnya angka-angka itu, lalu pada dinding kamarnya. Di dekat foto pernikahan, sudah ada 3 buah foto baru tertempel disana dengan ukuran lebih kecil. Foto pertama saat dia hamil 1 bulan, perutnya belum terlihat, dia sengaja di foto menggunakan pakaian streech supaya bisa memperlihatkan bentuk perutnya.


Foto kedua saat usia kehamilannya dua bulan, masih belum terlihat membulat, foto terakhir usia kehamilannya sekarang 3 bulan, sudah mulai terlihat membulat meskipun belum  besar.


Foto-foto itu dibuatnya seperti yang Jack inginkan, ingin mendokumentasikan masa- masa kehamilannya. Apa ini yang di khawatirkan Jack makanya dia meminta itu? Dia tidak bisa dihubungi saat masa tugasnya? Sekedar telponpun tidak ada, rasanya begitu sepi dan hampa, setiap kali menelponnya hanya nada suara tutut tutut saja.


Ara kembali duduk di pinggir tempat tidur tapi masih menatap kearah dinding. Jack memberikan banyak kekayaan padanya, tapi semua itu terasa tidak berarti tanpa kehadirannya. Rumah mewah, mobil bagus, uang banyak, makan-makanan apapun tersedia, mau membeli barang bermerk tinggal menunjuk, berapapun harga barang yang ingin dibelinya sanggup dia beli, tapi itu sungguh tidak membahagiakan disaat menyadari Jack tidak ada disisinya.


Ara menduduk lesu, airmata itu kembali menetas dipipinya. Seandainya Jack bertugas lamapun mungkin dia tidak akan merasa sekehilangan ini kalau dia masih bisa ditelpon, masih bisa mendengar suaranya. Ini sperti lenyap ditelan bumi.


Tiba-tiba Ara teringat pada seseorang, ya pamannya Jack itu, dia punya paman di Paris yang juga seorang militer, apa dia harus menemuinya? Barangkali pamannya tahu keberadaan Jack dimana?


Ara langsung bangun dari duduknya dan segera keluar dari kamarnya. Dia mencari ibu mertuanya diruang kerjanya. Ny.Inez memang sudah mulai mengurus perusahannya yang di dirikan sendiri dengan Tn.Ferdi. Tapi karena dia berjanji kalau akan mememani Ara jadi Ny.Inez lebih banyak mengerjakan pekerjaannya dirumah.


Ara mengetuk pintu ruang kerja Ny.Inez.


“Masuk!” terdengar suara Ibu mertuanya.


Ara segera membuka pintu itu, dilihatnya ibu mertuanya sedang ada simeja kerjanya.


“Nyonya sedang sibuk?” tanya Ara.


“Tidak, kenapa?” tanya Ny.Inez.


“Aku ingin pergi ke Paris,” jawab Ara.


“Ke Paris? Untuk apa?” tanya Ny.Inez, keheranan.


“Aku ingin menanyakan kabarnya Jack,” jawab Ara.


Ny.Inezpun terdiam.


“Jack punya paman seorang militer juga di Paris, aku pernah ke rumahnya, aku akan menemui pamannya,” ucap Ara.


Mendengarnya membuat hati Ny.Inez merasa sedih. Ara sedang hamil sekarang, pasti sangat merindukan Jack. Berbeda dengannya meskipun Jack adalah putranya, dia sudah terbiasa tanpa kehadiran Jack selama ini.


“Apa kau perlu aku temani?” tanya Ny.Inez.


“Tidak, tidak perlu, aku akan berangkat sendiri saja,” jawab Ara.


Ny.Inezpun mengangguk.


Kau jangan berangkat sendiri, kau bisa ajak Pak Beni,” kata Ny.Inez.


Ara terdiam sebentar lalu diapun mengangguk. Seteleh itu dia keluar dari ruangannya Ny.Inez dan mencari Pak Beni.


“Ada apa Nyonya?” tanya Pak Beni, bertemu dengan Ara si ruang tengah.


“Tolong siapkan keberangkatanku ke Paris,” jawab Ara, membuat Pak Beni terkejut dan menatapnya.


“Aku ingin bertemu dengan Pamannya Jack, aku ingin meminta tolong padanya untuk mencari tahu keberadaannya Jack,” kata Ara.


Pak Beni malah terdiam, ada sedih juga dihatinya melihat istri Tuannya yang sedang hamil menunggu kepulangan Tuannya yang tidak ada kabar.


“Pak Beni boleh ikut,” kata Ara.


“Baik Nyonya, akan saya siapkan,” jawab  Pak Beni.


Ara mengangguk, lalu pergi ke teras, meski tidak tahu mau apa di teras. Dia hanya berdiri disana menatap ke gerbang, membayangkan Jack pulang, mobilnya memasuki gerbang itu. Tapi kenyataannya itu hanya hayalannya saja. Diapun hanya masuk lagi ke rumah, bersiap--siap akan ke Paris.


*****


 


Satu hari telah berlalu, Ara sudah tiba di Paris. Setiap kali melihat jalanan memasuki rumahnya Jack membuatnya merasa senang, karena pemandangannya yang indah, apalagi saat melewati airmancur itu. Bayangan anak-anaknya yang lucu berlarian di sekitar air mancur, kemudian yang lebih kecil, perempuan menangis lalu digedong oleh Jack. Sungguh bayangan yang sangat indah.


Tapi itu dulu, sekarang dalam bayangannya, putranya menangis  seorang diri dekat airmancur dan dia yang datang menghampirinya dan menghiburnya, hanya dia karena Jack tidak bersama mereka. Dan putranya itu bertanya sambil menangis, ayahku dimana? Rasanya begitu pahit bayangan itu.


Tiba-tiba matanya kembali berkaca-kaca, ternyata bayangan itu tidak pernah tahu apakah akan menjadi kenyataan atau hanya sekedar mimpi. Dia akan memiliki seorang bayi buah cintanya dengan Jack, tapi tidak ada Jack bersamanya dan buah hati mereka.


Sampailah mereka di depan rumah besar itu. Ara langsung ke kamarnya dan beristirahat. Rencananya setelah beberapa jam beristirahat dia akan ke rumahnya Paman Favier. Dilihatnya lagi foto pengantin itu yang juga sudah terpasang didinding itu, sama seperti yang ada di rumahnya. Kamar yang luas itu terasa begitu sepi.


Beberapa jam kemudian Ara meminta Pak Beni mengantarnya ke rumahnya Paman Favier.


Ditatapnya rumah itu yang tidak beda jauh megahnya dengan rumahnya Jack.


Saat turun dari mobil, ada seorang pia yeng menghampirinya. Pak Beni langsung bicara dengan orang itu dalam bahasa Perancis.


“Nyonya, mari kita menuggu di dalam,” ajak Pak Beni.


Ara tidak banyak bicara, diapun segera masuk ke rumah itu. Dilihatnya ruang yang luas itu. Disinilah dulu tempat pesta itu diadakan saat Paman Favier pensiun. Ara juga menoleh kearah tangga, saat awal dia melihat Jack menggunakan pakaian dinasnya. Dia masih ingat pertama kalinya melihat pria tu, pria itu sangat tampan dan gagah, kadang merasa tidak percaya kalau pria yang muncul di tangga  itu adalah suminya. Tapi sekarang suaminya itu tidak ada kabar beritanya.


Pak Beni berdiri tidak jauh dari Ara.


Pria itu menghampiri Ara menatapnya tidak berkedip, lalu pada Pak Beni yang menganggukkan kepalanya.


Ara segera bangun dari duduknya


“Apa Tuan Paman Favier?” tanya Ara.


“Iya,” jawab Paman Pavier.


Ara langsung mengulurkan tangannya dan disambut oleh Paman Favier.


“Aku Arasi, istrinya Jack,” kata Ara.


“Kau istrinya Jack?” tanya Paman Favier, tersenyum senang.


“Benar, Paman,”jawab Ara.


“Senang bertemu denganmu, aku sudah bilang pada Jack untuk membawamu kemari,”kata PamanFavier, sambil


tersenyum.


Ara tersenyum padanya.


“Kau tidak bersama Jack?” tanya Paman Favier, menatap Ara lalu pada Pak Beni.


“Tidak Paman, justru aku kesini, ingin minta bantuan Paman untuk mencari tahu keberadaannya Jack dimana? Dan kapan dia bisa pulang?” jawab Ara.


Mendengarnya membuat Paman Favier terkejut.


“Mencari Jack?” tanyanya.


Arapun mengangguk.


“Duduklah, kita bicara,” ucap Paman Favier.


Arapun segera duduk dikursi tamu itu begitu juga Paman Favier.


“Katakan bagaimana ceritanya kau harus mencari Jack?” tanya Paman Favier.


“Jack pergi bertugas sudah 3 bulan yang lalu, tapi dia tidak ada kabar sama sekali,” jawab Ara.


“Jack pergi kemana? Apa dia bicara?” tanya Paman Favier.


“Katanay ke Negara konflik,” jawab Ara.


Paman Favierpun terdiam, dia tahu kalau GIGN mengirim pasukannya kesana tapi tidak tahu kalau ternyata Jack yang dikirim kesana.


“Jadi Jack dikirim kesana?” tanya Paman Favier.


“Paman tahu?” tanya Ara, dengan penuh harap.


“Jadi Kau tidak ada kabar sama sekali dari Jack?” tanya Paman Favier.


“Bisakah Paman membantuku, aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja?  Aku ingin memberitahunya kalau aku sedang hamil,” jawab Ara, sambil memegang perutnya.


Paman Favier tampak terkejut lagi, lalu diapun tersenyum senang.


“Kau sedang hamil? Senangnya! Jack pasti senang mendengarnya!” serunya.


Arapun mengangguk sambil tersenyum.


“Kau tunggu, coba aku tanyakan, karena ini sebenarnya informasi sangat rahasia, jadi tidak bisa mudah mendapatkannya,” kata Paman Favier.


Diapun mengeluarkan ponselnya dari sakunya, menelpon kantor GIGN dan berbicara dalam bahasa Perancis.


Ara menunggunya dengan harap-harap cemas, semoga dia bisa mendapat kabar keberadaannya Jack, atau mungkin  dia bisa menelpon dan bicara dengannya.


Ara menatap Paman Favier yang sedang menelpon itu dengan tidak sabar. Semoga Paman Favier bisa mendapatkan informasinya.


*****




Buat Readers yang masih setia, aku usahakan novel ini tamat di bulan ini ya. Tapi setelah ini mungkin aku akan hiatus dulu dari MT.  Sudah 2 tahun aku nulis disini dari nol, bagi penulis kecil seperti aku untuk mendapatkan pembaca itu perjuangannya tidak mudah.


Suamiku ternyata Milyader mungkin akan aku post di pf lain.


Bagi yang masih mau baca nanti aku informasikan jadinya dimana. Sebenarnya disini aku masih punya novel gantung, banyak yg minta dilanjut dan sebenarnya sudah kontrak, tapi gimana nanti aja kalau ada waktu nulisnya aku selesaikan.


Yang masih setia sampai bab ini, meski ceritanya lambat dan lama up nya, tapi masih mau sabar mengikuti, terimakasih banyak atas supportnya.


******