Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-144 Luapan Kemarahan Jack


Tn.Ferdi berada diruang kerjanya, dengan banyak botol minum di mejanya. Dia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terbongkar, dia harus pergi keluar  negeri.


Diapun menelpon seseorang untuk mengurus keberangkatannya ke Paris.


Ny.Inez masih berada diruang tengah itu, saat terdengar suara ketukan dipintu.


“Siapa yang bertamu?” gumamnya, tapi tetap diam karena pelayan rumah yang membukakan pintu itu.


“Malam Tuan, mencari siapa?” tanya pelayan rumah itu pada sosok pria yang bertubuh tinggi tegap itu yang berdiri dipintu.


Pria itu yang tiada lain adalah Jack, setelah mencari tahu dibantu oleh Pak Beni dimana alamat rumahnya Ny.Inez yang baru,dia langsung mendatangi rumah baru ibunya itu.


Belum juga disuruh masuk, Jack langsung masuk ke rumah tanpa menjawab pertanyaan pelayan rumah itu.


“Ferdi! Ferdi!” teriaknya, di ruang tamu itu.


“Dimana Ferdi?” tanya Jack pada pelayan rumah itu yang tampak ketakutan karena tamunya datang dengan kondisi marah-marah.


“Ada siapa?” terdengar suara Ny. Inez yang menghampiri keruang tamu. Dia terkejut saat melihat siapa yang datang.


“Jack?” tanya Ny.Inez.


Jack langsung menghampirinya.


“Mana suamimu yang brengsek itu?” tanyanya dengan nada tinggi.


“Kau mencari ayah tirimu?” tanya Ny.Inez, masih dengan rasa bingungnya melihat Jack seperti itu.


“Jangan menyebut dia Ayah, aku muak!” teriak Jack, membuat Ny.Inez semakin kaget saja dengan sikapnya.


“Kemana dia?” tanya Jack lagi.


“Dia ada di ruang kerjanya,” jawab Ny Inez.


“Dimana ruang kerjanya? Dimana?” teriak Jack, sambil masuk ke dalam ruangan lain.


Ny.Inez mengikutinya.


“Dilantai atas, sebelah kanan,”jawab Ny.Inez.


“Ferdi! Ferdi! Kaluar kau!” teriak Jack, sambil bergegas menaiki tangga.


“Jack tenanglah,  ada apa ini?” tanya Ny.Inez, mengikuti langkahnya Jack.


Jack menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ny.Inez menatapnya tajam.


“Apa kau juga sekongkol?” tanya Jack.


“Sekongkol apa?” tanya Ny. Inez.


“Kau dan pria brengsek itu sudah merencanakan semua ini kan?” tanya Jack.


“Kau ini bicara apa? Rencana apa?” tanya Ny.Inez.


“Kau sekongkol dengannya untuk merahasiakan kalau Arum masih hidup! Selama ini sebenarnya kau tahu kalau Arum selamat dari tragedi itu kan?” tanya Jack, dengan menggebu-gebu, membuat Ny.Inez terkejut.


“Apa maksudmu?” tanya Ny.Inez.


“Kau sudah tahu itu kan? Tidak perlu berbohong lagi!” kata Jack.


“Tidak Jack, Ibu tidak tahu kalau Arum selamat,” jawab Ny.Inez menggelengkan kepalanya.


“Apakah… apakah tes DNA itu sesuai? Ara putrinya Imelda?” tanya Ny.Inez. Teringat kalau Jack sedang melakukan tss DNA Ara dengan Ny.Imelda.


“Iya, dia adalah Arum, Istriku adalah Arum,” jawab Jack, dengan nada getir saat mengatakannya, semakin membuat Ny. Inez tidak mempercayai pendengarannya.


Jack menatap ibunya dengan tajam.


“Apa kau sekongkol  dengan pria itu? Sengaja ingin membuatku depresi seumur hidupku? Kau ingin menyingkirkanku dari kehidupanmu dengan pria itu?” tanya Jack dengan marah, wajahnya merah padam.


“Kenapa kau tidak membunuhku saja!” teriak Jack.


“Kenapa kau mengorbankan orang lain yang tidak bersalah?” teriak Jack lagi, tidak memberikan kesempatan ibunya menjawab.


Tubuh Ny.Inez terasa bergetar melihat kemarahannya Jack tertuju padanya, sampai bibirnya tidak bisa mengucapkan kata-kata.


“Kau ingin aku terus-terus depresi kan? Kau ingin aku terus ada Rumah Sakit Jiwa supaya kau bisa menikah dengan selingkuhanmu itu!” teriak Jack.


Ny.Inez menatap Jack dengan air mata yang langsung menganak sungai di pipinya. Dia tidak menyangka sudah menorehkan luka begitu dalam pada Jack sampai putranya sangat membencinya. Airmata itupun terus menetes dipipinya.


“Apa kau fikir Ibu sejahat itu?” tanya Ny.Inez dengan terbata-bata.


“Sudahlah jangan berpura-pura! Jujur saja! Kau berselingkuh saat Ayahku masih hidiup dan kau sengaja merahasiakan kalau Arum selamat dari tragedi itu supaya aku tetap depresi dan selamanya di rumah sakit jiwa!” kata Jack.


Mendengar perkataan Jack, tidak ada kata yang terucap dari bibir Ny.Inez, hanya airmata terus membasahi pipinya.


“Kau fikir Ibu sejahat itu?” ulang Ny.Inez dengan sulit mengatakannya karena menahas tangis yang sudah tidak bisa terbendung lagi.


“Ibu tidak sejahat itu Jack! Ibu memang malu memilikimu yang depresi, Ibu malu memiliki anak yang punya gangguan mental, tapi Ibu tidak pernah sengaja membuatmu terus dirawat di RSJ!” kata Ny.Inez, di tengah tangisnya.


Jack menatap wajah Ibunya.


“Kalau kau peduli padaku, kau tidak akan menelantarkanku!” teriak Jack.


Ny.Inez terus saja menangis. Hatinya begitu sakit dituduh Jack seperti itu.


“Dimana pria itu? Dimana ruang kerjanya?” teriak Jack lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Jack terus berjalan sambil berteriak-teriak memanggil Tn.Ferdi.


“Ferdi! Ferdi! Kau dimana? Keluar kau!” teriaknya, sambil melihat ke beberapa ruangan yang sekiranya dibuat untuk ruang kerja. Ny.Inez segera mengikutinya.


Tn.Ferdi yang sedang berada di ruang kerjanya, merasa terkejut mendengar ada suara yang memanggilnya.


Diapun akan membuka pintu, tapi pintu itu sudah terbuka duluan. Muncullah Jack disana, di belakangnya istrinya menyusul.


Tn.Ferdi berdiri menahan tubuhnya dengan tongkatnya. Dia merasa kaget dengan kedatangan Jack yang secepat ini, tidak seperti perkiraannya, sedangkan dia baru mempersiapkan untuk melarikan diri ke Paris.


Jack berjalan mendekati Tn.Ferdi.


Ny.Inez segera mengikutinya.


Jack menghentikan langkahnya berhadapan dengan Tn.Ferdi.


“Katakan padaku, kau yang membawa Arum ke panti asuhan kan?” tanyanya dengan tegas.


Tn.Ferdi terkejut mendengarnya, apa Jack sudah menemui Bu Sinta?


“Katakan!” teriak Jack dengan keras.


“Jack, maksudmu apa?” yang bertanya Ny.Inez.


“Pria ini! Pria ini yang menyembunyikan Arum selama ini!” teriak Jack sambil menunjuk Tn.Ferdi.


Jack kembali menoleh pada ibunya.


"Atau kau juga memang terlibat?" tuduh Jack lagi pada ibunya, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ny.Inez makin shock saja mendengarnya.


“Apa maksudmu? Arum? Arum? Dia tenggelam,” kata Ny.Inez.


Jack menatap Tn.Ferdi yang terlihat memucat yang juga menatapnya, memikirkan cara lolos dari kemarahan pria ini, sedangkan dia untuk berjalan saja susah, mungkin Jack akan benar-benar membunuhnya sekarang, batin Tn.Ferdi.


“Tidak! Arum selamat dan pria ini menyerahkannya ke panti asuhan, kemudian Arum di adopsi oleh Pak Amril! Arum adalah Arasi, istriku,” jawab Jack.


Ny.Inez benar-benar terkejut tidak percaya dengan semua itu. Diapun menoleh pada suaminya.


“Ferdi, katakan padaku! Apa benar apa yang di katakan Jack? Apa Arum sebenarnya  selamat? Kau mengatakan akan mengurus percarian Constantine dan Arum, dan ternyata kau membohongi kami? Katakan!” teriak Ny.Inez.


Tn.Ferdi menarik nafas panjang, sepertinya sudah tidak bisa berbohong lagi.


Diapun menoleh pada istrinya yang menatapnya tajam.


“Iya, Arum selamat, ditemukan nelayan dan aku membawanya ke panti asuhan!” jawab Tn.Ferdi. Dan dia sangat terkejut saat tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipinya.


Plaak! Ny. Inez menamparnya dengan keras.


“Kau!” bentak Tn.Ferdi yang tidak menyangka istrinya berani menamparnya.


“Kau keterlaluan!” teriak Ny.Inez, dengan mata yang kembali memerah, sudah tidak terlukiskan bagaimana kecewanya dia pada pria ini.


Tn.Ferdi menatap Ny.Inez.


“Kau berani menamparku, setelah apa yang aku lakukan untukmu!” teriaknya, marah.


“Alasan apa itu? Aku menikahimu karena aku fikir kau pria yang baik!” balas Ny.Inez.


Tn.Ferdi menatap Ny.Inez.


“Kau tau kenapa aku melakukan itu semua?” tanya Tn.Ferdi.


Ny.Inez tidak menjawab, airmata sudah menetes dipipinya.


“Karena aku benci anak itu!” teriak Tn.Ferdi dengan keras sambil menunjuk Jack. Lalu  dia beralih menatap Jack.


“Aku benci melihat anak Constantine di hadapanku!” teriak Tn.Ferdi.


Lalu menoleh lagi pada Ny.Inez.


“Aku ingin dia gila seumur hidupnya!” teriaknya lagi.


Tubuh Ny.Inez semakin bergetar, dia benar-benar shock mengetahui kenyataan ini, dia menahan airmata yang terus menetes di pipinya.


“Kau keterlaluan Ferdi! Aku mempercayakan pengurusan Jack di RSJ padamu dan kau membohongiku, kau katakan Jack tidak ada peruabahan, kau katakan masih depresi, kau membohongiku!  Aku percaya saja padamu dan ternyata kau juga menyembunyikan Arum, kau sangat ketelaluan!” kata Ny.Inez langsung menangis.


Jack terdiam mendengarnya.


“Aku sudah sangat bodoh percaya padamu! Aku tidak pernah berfikir kalau suatu saat Jack akan sembuh dan membenciku, aku sudah melakukan kesalahan besar!” ucap Ny.Inez dan terus menangis.


Jackpun diam mendengar perkatan ibunya, jadi ibunya juga di bodohi pria ini tentang kondisi kesehatannya.


Ny.Inez kembali menatap Tn.Ferdi.


“Jadi sebenarnya kau tahu kalau Jack sudah sembuh, kau tahu itu?” tanya Ny.Inez.


“Aku tahu!” jawab Tn.Ferdi, membuat tangis itu semakin pecah.


Ny.Inez terduduk di kursi dengan lesu. Dia tidak mengira begitu besar kesalahan yang telah lakukannya. Dia begitu menyesal, karena keegoisannya dan rasa malunya memiliki anak yang depresi, dimanfaatkan oleh suaminya untuk membohonginya seumur hidupnya.


Jack menatap Ayah tirinya itu. Begitu juga dengan Tn.Ferdi.


“Memang aku yang membawa Arum ke panti asuhan itu! Aku ingin kau gila selamanya! Bahkan sebenarnya aku ingin membunuhmu dari dulu! Kalau bukan karena permintaan Inez untuk menjagamu!” kata Tn.Ferdi.


Jack menatap pria itu, hidup keluarganya sudah hancur berantakan karena pria ambisius ini.


Tn.Ferdi juga masih menatapnya dengan penuh kebencian.


“Bagaimana? Apa kau puas dengan jawabanku?” tanya Tn.Ferdi, sambil tertawa senang.


Tapi tawanya hilang saat sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Jack memukulnya dengan keras sampai sempoyongan dan hampir terjatuh kalau tidak segera memegang meja yang ada di dekatnya.


Jack melangkah lebih dekat.


 “Kau ingin membunuhku? Aku yang akan membunuhmu lebih dulu!” teriak Jack dengan marah, sambil mendorong tubuh itu sampai menabrak tembok di belakangnya.


Tn.Ferdi merasakan sakit di punggung dan dadanya. Dia pernah merasakan dipukuli oleh Jack, tenaga pria itu sangat kuat. Dia harus lolos atau dia akan mati ditangan Jack.


********