
Tubuh Ara semakin terbawa arus laut terombang ambing dilautan semakin jauh. Hati Pak Beni sudah tidak bisa tergambarkan betapa sedihnya. Dia bisa merasakan bagaimana Jack dulu begitu tertekannya dengan tuduhan padanya padahal dia juga yakin apa yang dia rasakan saat ini sama dengan yang dirasakan Jack saat melihat ayahnya dan Arum terbawa arus.
Tapi Pak Beni tiba-tiba terkejut dengan suara ceburan air, dalam sekejap matanya melihat sosok Tuannya sudah berenang melewatinya.
“Tuan!” gumamnya.
Sungguh tidak ada kata yang bisa dia ucapkan lagi, dia bertanya-tanya, apakah Tuannya sedang menyelamatkan istrinya? Dia menoleh kearah pantai dan sosok Tuannya memang tidak ada disana. Pak Beni kembali melihat kearah laut dan ternyata memang Tuannya sedang berenang menyusul terbawanya tubuh Ara oleh ombak.
Tubuh Ara sudah tidak bertenaga lagi, saat tidak sadarkan diri tubuh itu semakin tidak berdaya terbawa arus laut. Ombak kembali bergulung-gulung menghantam tubuh yang mulai tenggelam itu. Tapi sebelum ombak selanjutnya benar-benar menenggelamkannya, sebuah tangan kokoh berhasil meraih pinggangnya Ara dengan erat.
Ombak sempat menerpa tubuhnya Jack yang memeluk tubuh Ara. Sementara waktu Jack harus bergelut dengan sebelah tangannya supaya dia dan wanita dalam pelukannya tidak terhempas terbawa ombak. Tapi kepiawaiannya berenang bertahun tahun membuat tubuh Jack seperti sudah menyatu dengan ombak, tubuhnya mengikuti arah ombak dan dengan mudahnya kemudian terlepas dari ombak saat ombak itu mulai menjauh.
Jack kembali muncul dipermukaan air dengan satu tangannya memeluk tubuh Ara dengan erat.
“Arum Bertahanlah!” ucapnya. Dia berenang dengan sebelah tangannya.
Pak Beni begitu bahagia melihat Tuannya berenang menghampirinya dengan membawa tubuh istrinya Tuannya yang terkulai.
Jack langsung membawa Ara ke darat, menidurkannya di pasir. Menatap wanita itu dan kedua tangannya langsung menepuk- nepuk pipinya Ara dan menekan dadanya mencoba mengeluarkan ari laut yang masuk ketubuhnya Ara.
Pak Beni segera kembali ke darat dengan perasaan yang masih tegang. Sedih dan bahagia bercampur aduk. Dia senang Tuannya sudah menyelamatkan istrinya dari maut. Tapi dia tertegun saat Tuannya mulai bicara.
“Arum, sadarlah! Arum! Sadarlah!” teriak Jack dengan histeris.
Dia terus menepuk- nepuk pipinya Ara, lalu tanpa ragu-ragu menempelkan mulutnya ke mulut Ara, wanita yang dipanggilnya Arum itu, memberikan nafas buatan berkali-kali.
“Arum! Arum! Sadarlah!” ucap Jack, sambil kembali menepuk pipinya Ara.
Beberapa menit kemudian Ara terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya. Jack langsung tersenyum senang, wajahnya terlihat tegang karena khawatir dengan keadaan wanita itu.
Ara bangun dari duduknya dan terus batuk. Jack memeluk pinggangnya Ara supaya tidak terjatuh.
“Arum! Aku berhasil menyelamatkanmu!” ucap Jack, menatap wanita yang ada dalam pelukannya.
Ara merasakan udara mulai terhisap olehnya setelah mengeluarkan air laut dari mulutnya, rasa sesaknya mulai berkurang.
Dia menoleh kearah suara yang bicara didekat telinganya.
“Arum! Kau selamat!” ucap suara itu.
Dia tahu itu suaranya Jack, tapi Arum, kenapa Arum?
Mata Ara menatap Jack yang sedang menatapnya.
Jack melihat dua mata cantiknya Arum tepat didepan matanya. Betapa bahagianya, mata yang sangat dirindukannya kini sedang ada di depannya, bukan lagi tatapan sedih minta pertolongan.
“Jack!” panggil Ara.
“Arum, aku berhasil menyelamatkanmu!” ucap Jack.
Ara terdiam dengan bingung. Apa ini mimpi? Dia baru saja melewati hal yang sangat menakutkan, berjuang dengan maut dan tiba-tiba dia terbangun dengan seseorang yang memanggilnya Arum?
“Aku Ara, bukan Arum,” ucap Ara, menatap Jack.
Jack terdiam mendengar kata yang terucap dari bibirnya Ara.
“Aku Ara Jack, bukan Arum,” ucap Ara, mencoba menjelaskannya pada Jack.
Jackpun terdiam.
“Terimakasih kau sudah menyelamatkanku,” ucap Ara.
Pria itu masih diam menatapnya.
“Aku senang Jack, aku senang bisa melihatmu lagi,” ucap Ara.
Jack masih terdiam dan tertegun.
“Aku kira aku akan mati di lautan,” gumam Ara lagi.
Jack perlahan melepaskan pelukan tangannya di pinggang Ara, diapun berdiri dan menjauh. Berdiri menatap wanita yang terduduk dan kembali terbatuk-batuk.
Pak Beni langsung berjongkok mendekati Ara.
“Nyonya, kau selamat!” kata Pak Beni.
“Tuan sudah menyelamatkanmu!” ucap Pak Beni lagi.
Beberapa orang dengan memakai seragam pengamanan pantai berlarian kesana.
“Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” tanya salah seorang yang menghampiri Ara, dalam bahsa Perancis.
Ara tidak menjawab, hanya menoleh kearah mereka. Ara baru sadar ternyata sudah banyak orang yang berkumpul menyaksikan kejadian itu.
Ara menoleh pada Pak Beni yang segera mengangguk supaya mau dibawa mereka. Ara merasakan tubuhnya begitu lemas, salah seorang membantu Ara bangun dan berjalan meninggalkan pantai.
Pak Beni menoleh pada Jack yang terdiam melihat kepergian Ara lalu menatap laut. Diapun menghampirinya.
“Tuan!” panggil Pak Beni.
Jack tidak menjawab, dia memegang kepalanya sebentar.
“Dia bukan Arum?” tanya Jack, mengagetkan Pak Beni.
Melihat reaksi Jack seperti itu, Pak Beni menatapnya dengan takjup.
“Jendral!” panggil Pak Beni.
“Sudah aku katakan jangan memanggilku seperti itu kalau kita sedang berdua,” ucap Jack.
“Jendral!” panggil Pak Beni lagi, dengan mata yang langsung berkaca-kaca, rasa sedih dan bahagia bercampur aduk.
“Jendral! Kau sudah sembuh?” tanyanya.
“Kau selalu tidak mau mendengar apa yang aku katakan,” keluh Jack.
“Jendral!” panggil Pak Beni lagi sambil tersenyum, tidak menghiraukan keluhan Jack, dia sangat bahagia sekali.
“Pak Beni!” Keluh Jack.
“Tuan!” ucap Pak Beni, senyum itu tidak lepas dari bibirnya. Dia merasa senang Tuannya mengalami perubahan yang sangat drastic.
“Aku merasa lelah Pak Beni, kepalaku pusing, aku butuh iatirahat,” ucap Jack.
“Iya Tuan! Tuan pasti lelah. Kita ke posko petugas pantai, Nyonya sudah dibawa mereka!” ujar Pak Beni.
Jack menoleh pada Pak Beni.
“Arum, dia bukan Arum?” tanya Jack.
“Bukan Tuan, dia Ara, dia istrimu, kau sudah menyelamatkan istrimu,” ucap Pak Beni.
Jack tampak berfikir. Semua kejadian ini benar-benar membuatnya bingung, masa lalu dan masa sekarang bermunculan di kepalanya.
“Jadi aku bukan menyelamatkan Arum?” tanyanya,seperti pada diri sendiri, dia masih bingung dengan semua ini. Karena tadi dia melihat Arum hanyut dan ayahnya mencoba menyelamatkan Arum.
“Bukan Tuan, yang kau selamatkan adalah istrimu,” jawab Pak Beni.
“Istri!” gumam Jack.
“Benar Tuan, Tuan ingatkan kalau Tuan menikahinya?” ucap Pek Beni menatap Jack.
“Ya aku ingat, tapi aku bingung kenapa aku menikahinya. Aku benar-benar butuh istirahat Pak Beni, aku butuh menenangkan diri. Kenapa aku merasa bingung seperti ini? Kepalaku sangat sakit,” ucap Jack lagi.
Dia memegang kepalanya, dia sunguh bingung dengan kenyataan yang ada dihadapinya. Ingatannya bercampur aduk.
“Kita ke posko, Tuan!” ucap Pak Beni sambil memegang tangannya Jack dibawa ke posko pantai.
Tenda itu terletak cukup jauh dari sana, kerena memang itu adalah daerah rawan yang seharusnya tidak bolah dikunjungi pengunjung. Mereka berjalan cukup jauh melewati batas aman pantai.
Jack dan Pak Beni berhenti ditenda itu.
Jack menghentikan langkahnya dekat tiang tenda, melihat wanita memakai baju ganti pasien, dengan rambutnya yang masih basah. Di tangannya ada segelas air hangat.
Ara menoleh kearah pria tampan yang berdiri di dekat tiang itu. Pria itu hanya menatapnya, Jack hanya menatapnya. Arapun langsung tersenyum.
“Jack! Masuklah! Kau juga kedinginan!” ucap Ara.
Jack tidak menjawab, dia hanya mematung dalam kebingungan. Dia merasa asing dengan wanita yang menatapnya itu. Ternyata wanita itu bukanlah Arum.
Ara menoleh pada perawat-perawat itu.
“Tolong bantu Jack, dia pasti kedinginan,” ucapny,a membuat para perawat itu menoleh kearah Jack, lalu menghampiri Jack bicara dalam bahasa Perancis, menarik tangan pria itu supaya duduk di kursi yang tidak begitu jauh dari Ara duduk.
Perawat itu memberikan handuk dan selimut menyelimuti tubuhnya Jack, Pak Benipun mendapatkan perlakuan yang sama.
Pak Beni menoleh pada Jack lalu menoleh pada Ara. Banyak pertanyaan yang timbul dibenaknya. Apakah dengan kesembuhannya Jack ini dia akan menyadari kalau dia memang sudah menikahi Ara, bukan Arum?
***********
Readers maaf ya aku nulis sedikit. Sedang tidak mood. Nulis engga dapet feelnya, hampa, maaf ya. Asal up dulu buat yang udh nunggu..
Biar author semangat, jangan lupa vote juga ya.
*************