Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-189 Keluarga Kecil Bahagia ( part 1 )


Mobil mewah itu menyusuri jalan lebar yang licin. Kanan kirinya terlihat perbukitan yang menghijau.


Jack duduk di mobil itu dengan putrinya yang duduk dipangkuannya. Sedari tadi dia bicara terus dengan putrinya itu sambil sesekali mereka tertawa. Sedangkan Galand sibuk dengan mobil-mobilannya di kursi yang terpisah.


Ara hanya memperhatikan putranya yang terlihat sangat sibuk dengan banyak mainan yang dibawanya. Dilihatnya kesampingnya itu suaminya yang tampak bahagai bercanda dengan putrinya. Rubiena sangat manja sekali pada ayahnya. Sungguh pemandangan yang begitu menyenangkan.


Merasa ada yang memperhatikan, Jack menoleh pada istrinya.


“Apa kau  cemburu karena sekarang Rubiena yang ada dipangkuanku?” tanyanya menatap istrinya sambil tersenyum.


“Tentu saja, sekarang perhatianmu terbagi-bagi,” jawab Ara, mencondongkan tubuhnya ke bahu Jack dan mendekatkan wajahnya.


“Kau sisakan berapa persen perhatianmu padaku?” tanya Ara.


Jack balas mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya lalu mencium bibirnya.


“Perhatianku padamu tidak akan berubah, meski kau memberikan banyak anak padaku,” jawab Jack.


“Kau selalu mengatakan itu, dua anak tidak cukup?” tanya Ara, sambil memeluk lengan Jack yang memeluk Rubiena, lalu Ara menyandarkan kepalanya ke bahunya Jack.


“Sangat kurang sayang,” ucapnya, langsung mencium rambut istrinya.


“Aku pernah menjadi anak yang sangat kesepian, selebihnya aku ingin rumah dan hatiku hangat dan ramai,” lanjut Jack, membuat Ara menengadah menatapnya.


Jack mencium keningnya.


“Harus berapa bayi lagi aku lahirkan?” tanya Ara.


“Dua, cukup dua lagi,” jawab Jack, lalu kembali mencium kening istrinya.


“Bukannya itu terlalu banyak, Jack,” keluh Ara.


“Tidak sayang, anak dua itu kurang ramai, kurasa empat cukup,” kata Jack.


“Kau kan sudah membuat taman bermain, setiap week end tempat itu sangat ramai,” ujar Ara.


Jack kembali menciumnya.


“Aku tidak akan memaksamu,” ucap Jack, sambil tersenyum, kembali mencium kening Ara, tidak bosan-bosan menciumnya padahal setiap hari bertemu.


Lalu Jack menoleh pada putranya yang sibuk dengan mainannya. Hatinya merasa bahagia bisa berkumpul seperti ini. Ada istrinya dan putra putrinya. Kebahagiaannya lengkap sudah. Dia seperti tidak menginginkan apa-apa lagi sekarang, dia sangat bahagia.


“Apa rumahnya Pak Beni masih jauh?” tanya Ara.


“Sepertinya sebentar lagi, kau lihat disana?” jawab Jack sambil menunjuk ke arah jendela.


Ditanah yang lapang itu ada sebuah rumah besar terpencil, tapi sepertinya sangat ramai , karena ada bebarapa mobil diluar, juga ada anak-anak kecil belarian.


“Apa itu rumahnya Pak Beni? Sangat indah bukan? Tempatnya begitu hijau, pantas Pak Beni ingin menikmati masa tuanya disini.


“Sepertinya ada danau juga disana,” seru Ara, melihat dikejauhan, tidak jauh dari rumah itu ada sebauh danau yang tidak terlalu besar.


“Sepertinya danau buatan, untuk menyiram tanaman,” kata Jack.


“Iya,” jawab Ara, dia merubah posisi duduknya karena Rubiena merengek mau bersamanya.


“Kenapa sayang? Kau bosan digendong Ayah?” tanya Ara, langsung memeluk Rubiena.


“Bagaimana mungkin dia bosan denganku, mungkin dia  lapar,” kata Jack.


Ara mengusap rambut putrinya itu lalu mencium keningnya juga mengusap pipinya yang basah karena menangis.


“Kau lelah? Sebentar lagi kita turun!” kata Ara, menghibur putrinya.


Jack menatap putrinya itu, dia tidak pernah berfikir akan memiliki putra dan putri menbayangkannya saja tidak pernah terbayang. Wajah putranya seperti apa, wajah putrinya seperti apa.


Mobilpun semakin mendekati tempat itu. Saat mereka turun, Pak Beni dan istrinya menyambut mereka dengan gembira.


“Tuan, saya senang Tuan mau melihat ke temat tinggal saya dan istri,” kata Pak Beni.


Jack meraih tangan Galand karena anak itu sudah mau kabur saja berlarian dipadang rumput yang hijau itu.


Kemudian Pak Beni memperkenalkan anak-anaknya Pak Beni juga cucunya yang sudah berdatangan, rumah itu terlihat sangat ramai.


Setelah itu Pak Beni mengajak merekapun masuk ke rumahnya Pak Beni, memperlihatkan bagian-bagian rumah barunya itu.


Rumah itu tidaklah sebesar dan semewah rumahnya Jack, tapi Jack bisa melihat begitu hangatnya rumahnya Pak Beni ini yang ramai oleh anak menantu dan cucunya.


Dibagian belakang rumah itulah ada sejenis danau yang tidak terlalu luas, disana itu terlihat sangat cantik dengan berbagai tanaman bunga dipinggirnya.


“Jack, tempat ini sangat indah kan?” tanya Ara.


“Kau senang?” tanya Jack.


“Iya, aku juga ingin nanti dimasa tua kita, kita tingagl ditempat terbuka seperti ini, serasa dekat dengan alam,” jawab Ara.


“Iya nanti kita cari lokasi yang sejuk,” kata Jack.


Rubiena tampak ingin turun dari gendongannya Ara.


“Kau kenapa?” tanya Ara.


“Ada apa sayang?” tanya Jack pada Rubiena.


“Kupu-kupu,” jawa Rubiena, menunjuk kupu-kupu yang ada diatas tanaman bunga yang berjajar.


“Kau ingin menangkap kupu-upu?” tanya Jack, tangannya langsung mengulur pada putrinya dan menggendongnya, lalu diajaknya ke taman bunga yang berwarna-warni itu.


“Ayah aku ikut!” teriak Galand sambil berlari mengejar ayahnya.


“Jangan berlari, nanti kau jatuh! Hati-hati!” teriak Ara pada putranya.


“Mereka anak-anak yang lucu,” terdengar suara Bu Paula berdiri disamping Ara.


“Iya, mereka sangat mirip dengan Ayahnya, seakan aku tidak andil dengan kelahiran mereka,” ucap Ara, memberengut lalu tertawa, begitu juga dengan Bu Paula.


Ara menoleh pada istri Pak Beni itu.


“Bolehkah aku bertanya?” tanya Ara.


“Silahkan,” jawab Bu Paula.


“Pak Beni selalu mendampingi Jack, kalian terpisah jauh dan jarang bertemu, bagaimana perasaanmu? Apa kau tidak khawatir Pak Beni tidak pulang-pulang menjengukmu dan anak-anak?” tanya Ara.


Bu Paula tersenyum mendengarnya.


“Tidak ada yang aku khawatirkan pada suamiku. Aku percaya suamiku mencintaiku, dia pergi bukan meninggalkanku tapi demi pekerjaan untuk menafkahi anak dan istrinya. Aku tahu dan yakin suamiku akan kembali berkumpul dengan kami suatu saat nanti,” jawab Bu Paula.


Ara terdiam mendengarnya, dia tidak menyangka kalau pekerjaan Pak Beni sangat berat, dia rela meninggalkan anak dan istrinya demi mejaga Jack. Sedangkan dirinya ditinggal beberapa bulan saja rasanya sudah tidak sanggup berpisah dari Jack. Begitu banyak ketakutan yang dirasanya.


“Aku sering kali merasa resah dan gelisah saat Jack keluar rumah meskipun hanya ke kantornya,” ucap Ara.


Bu Paula menoleh pada Ara menatap wanita itu yang sedang menunduk.


“Nyonya!” panggilnya membuat Ara mengangkat wajahnya menatapnya.


“Tuan Delmar sangat gagah dan tampan, dia juga sangat kaya pastilah banyak wanita yang menyukainya. Tapi Nyonya tidak perlu khawatir, Nyonya harus yakin dan percaya kalau Tn.Delmar mencintai Nyonya, mencintai anak anak kalian, dia akan pulang dengan kesetiaannya,” kata Bu Paula.


Ara tersenyum mendengarnya.


“Iya kau benar, aku harus percaya pada suamiku,” ujar Ara.


Kini Ara menoleh pada Jack, ternyata dia duduk disebuah kursi besi diatas bukti itu. Rubiena tampak berlari-lari  mengejar kupu-kupu sedangkan Galand malah mengusir-usir kupu-kupu yang akan ditangkap Rubiena.


******