
Selang beberapa waktu kamar itu terasa begitu hening. Tidak ada lagi celoteh cerewetnya Ara yang berbicara seharian. Jack merasakan pelukan ditangannya begitu erat. Wanita itu juga menggosok-gosokkan hidungnya ke bahunya.
Sebenarnya dia merasa risih tidur dipeluk seperti ini meskipun bukan memeluk tubuhnya. Dia benar-benar merasa tidak nyaman. Biasa tidur sendirian bebas, sekarang tempat tidur terasa begitu sempit karena ada mahluk lain yang tidur bersamanya. Apalagi mahluk itu berani sekali memeluk dan menciumnya tanpa perintah darinya. Benar-benar wanita ini tidak sopan!
Jack mencoba melepaskan tangannya dari pelukannya Ara, tapi pelukan itu malah lebih erat lagi. Diapun memiringinkan tubuhnya menghadap Ara, berusaha melepaskan tangannya lagi, tapi pelukan itu masih begitu erat. Kalau dia memaksa pasti Ara akan bangun. Akhirnya Jack kembali tidur terlentang.
Mata Jack terhenti pada foto pernikahan itu. Benar kata Ara bingkai foto itu posisi yang pas mengarah ke tempat tdiur. Sambil berbaring begini dia bisa melihat foto itu.
Matanya beralih lagi menoleh pada wanita yang sudah terlelap itu. Dia bertanya tanya dalam hati apakah wanita itu benar-benar mencintainya? Melihat sikapnya Ara memperlakukannya, sebenarnya dia tidak terlihat akan mencelakainya, hanya saja wanita ini terlalu berani menyentuh-menyentuhnya, membuatnya merasa tidak nyaman.
Jack merasa tidak yakin akan ada wanita yang mencintainya disaat dia depresi. Kalau kondisi sekarang, siapa wanita yang tidak menggelu-elukannya? Dia bisa memberikan apapun yang wanita butuhkan. Benar apapun? Tidak, tidak dengan hatinya. Hatinya penuh dengan Arum, selalu merindukan teman kecilnya itu. Setiap saat setiap waktu perasaan bersalah itu tidak pernah hilang dari hatinya. Begitu juga dengan ayahnya. Dia sangat merindukan ayahnya. Hidup tanpa orang-orang yang dicintainya sungguh terasa begitu sepi dan hampa.
Jack melirik lagi pada Ara yang bergerak-gerak kedinginan, dia baru sadar kalau wanita itu hanya memeluk lengannya tapi tidak berselimut.
Ditatapnya wajah yang tertidur itu. Wanita itu cantik, juga sebenarnya wanita yang lembut dan perhatian hanya saja cerewet, agresif dan genit, ah kenapa dia menikahi wanita seperti itu? Ara kembali bergerak memeluk lengan Jack semakin erat.
Jack menghela nafas sebentar, sebenanya dia malas untuk menyelimutinya, tapi mengingat wanita itu juga menyelimutinya, masa dia tega membiarkannya kedinginan seperti itu?
Jack menarik selimut yang digunakannya dan diselimutkan pada tubuhnya Ara dari ujung kaki sampai ke bahunya. Istrinya itu terlihat tidak bergerak lagi, mungkin sudah merasa lebih hangat sekarang.
Tapi sejurus kemudian Jack jadi terdiam karena baru teringat, dia menyelimuti Ara dengan selimut yang dipakainya, itu artinya dia akan tidur dengan wanita itu berdua dibawah satu selimut? Apa-apaan ini? Ah tidak, dia tidak mau berselimut berdua-duaan!
Jack akan menarik lagi selimutnya Ara, tapi dia melihat Ara yang sepertinya nyaman dibawah selimutnya, dia kembali tidak tega akhirnya dibiarkannya Ara berselimut dengannya. Diapun kembali berbaring.
Dilriknya lagi Ara yang masih terlelap, memeluk tangannya seperti tidak akan penah melepaskannya. Tidak ada lagi yang Jack bisa lakukan selain akhirnya berbaring lagi, menurunkan egonya membiarkan wanita itu memeluk lengannya, dan sesekali menggosok-gosokkan hidungnya kebahunya. Ah kenapa wanita
itu melakukan itu? Mau protes tidak mungkin, terpaksa harus berselimut berdua. Besok dia akan bacara pada Pak Beni supaya menambah satu selimut lagi.
Malam semakin larut, Jack hanya merasakan pelukan itu semakin erat, akhirnya diapun tertidur tanpa bisa melepaskan tangannya dari pelukannya Ara.
*****
Keesokan harinya…
Jack bangun lebih awal dari Ara. Melihat tangannya masih dipeluk istrinya itu, diapun mecoba melepaskannya dan karena pelukannya suduh lpnggar, Jack berhasil melepaskannya. Dia tidak mungkin berdua-dua terus disini dan menunggu Ara sampai melepaskan pelukannya.
Jack segera turun dan pergi ke kamar madi. Setelah beres dia menuju walk in closet, di tangannya sudah ada sebuah kunci lemari pakaian dinasnya. Dibukanya lemari itu. Disana tergantung banyak baju dinasnya, diambilnya salah satu dan dipakainya.
Di pakaian itu terdapat banyak atribut menempel dengan tiap atribut memiliki arti dan prestasi yang Jack raih, sungguh pakaian yang sangat gagah apalagi dikenakan oleh Jack yang memiliki tubuh tinggi atletis, terlihat begitu sempurna dan kharismatik. Jack juga mengambil topinya, hari ini dia akan kembali bertugas.
Saat keluar dari ruangan itu, dilihatnya Ara masih terlelap. Jack mengambil sebuah guling dan diapitkan ke tangannya Ara yang langsung begerak memeluknya serasa masih memeluk tangannya Jack.
Tidak ada kata yang terucap dari Jack. Setelah melihat Ara merasa nyaman dengan gulingnya, dia pun keluar dari kamar itu.
Matahari sudah meninggi saat Ara terbangun ditempat tidur sendirian. Dia memeluk guling dan berselimut, siapa yang menyelimutinya? Apakah Jack? Pria itu tidak ada disampingnya.
“Kemana Jack?” gumamnya.
Matanya Ara langsung tertuju pada foto pernikahan, diapun tersenyum, dia senang setiap bangun tidur melihat foto itu. Tapi kemana suaminya itu? Dilihat kearah balkon pintunya tertutup rapih, hanya jendelanya sudah terbuka dan udara segar masuk keruangan itu.
“Mungkin dia sedang bersama Pak Beni,” gumamnya, lalu bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
*******
Mobilnya Jack memasuki area markas besar GIGN di Satory, sebuah pasukan elit unit operasi khusus angkatan bersenjata Perancis yang sangat diperhitungkan di negaranya juga di dunia. Pasukan yang dilatih untuk misi- misi penyelamatan di Perancis dan diberbagai belahan dunia.
Dihalaman tampak prajurit-prajurit sedang melakukan pemanasan berlari-lari berkeling disekitar halaman gedung.
Seorang prajurit bersenjata menghampri Jack dan menyambutnya dengan memberi hormat saat Jack turun dari mobilnya.
“Selamat pagi, Jendral!” sapa prajurit itu.
“Pagi,” jawab Jack, lalu bergegas masuk ke gedung itu. Beberapa prajurit yang berjaga didepan pintu masuk memberinya hormat dan menyapanya. Jack berbincang sebentar dengan mereka.
Jack berjalan dilorong-lorong gedung menuju sebuah ruangan, diikuti seorang prajurit yang dipintu masuk tadi hingga berhenti sebuah pintu. Prajurit itu berbicara dalam bahasa Perancis, terdengar ada jawaban dari dalam, lalu prajurit itu membukakan pintu buat Jack yang langsung masuk ke ruangan itu dan prajurit itu kembali menutup pintu setelah memberi hormat pada Jack.
Pria itu bangun dari duduknya, menghampiri Jack dan merentangkan kedua tangannya.
“Paman Favier!” panggil Jack langsung membalas pelukan pria itu.
“Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?” tanya pria yang di panggil Paman Favier.
“Aku sudah lebih baik,” ucap Jack.
“Apa paman sudah tahu siapa yang mencoba mencelakaiku?” tanya Jack.
“Bukan mencelakaimu tapi tepatnya ingin membuatmu gila,” jawab paman Favier, sambil berjalan kearah sofa dan mereka duduk disana. Jack melepaskan topinya di simpan diatas meja.
Paman Favier menatap keponakannya yang tampan dan gagah itu.
“Sungguh tidak aku sangka kau sembuh lebih cepat tanpa perawatan khusus,” kata Paman Favier.
“Semua terjadi begitu saja. Kejadian masalalu terulang dihadapanku, aku hampir gila!” ucap Jack.
“Maksudmu apa?” tanya Paman Favier.
“Istriku hampir tenggelam di tempat kejadian yang dulu dan Pak Beni berusaha menyelamatkannya. Aku melihat mereka seperti Arum dan ayahku. Aku berhasil menyelamatkan istriku, tapi aku merasa aku telah menyelamatkan Arum,” jawab Jack.
“Begitu ceritanya? Bukankah itu bagus? Artinya istrimu sudah membawa kehidupan baru untukmu,” ucap Paman Favier.
“Tidak Paman, istriku bukan Arum, tapi dia memiliki mata seperti Arum. Aku menikahinya karena aku merindukan tatapan matanya Arum, aku merasa Arum masih hidup itu mengurangi rasa bersalahku,” kata Jack.
“Tidak, tidak, Jack, jangan selalu terkungkung dalam masa lalu. Istrimu bukan Arum, dia berbeda dengan Arum, dia masa depanmu,” kata Paman Favier.
Jack tidak menjawab.
“Ada satu hal lagi yang harus aku urus, Paman” ucap Jack.
“Maksudmu?” tanya Paman Favier.
“Aku harus kembali pulang, banyak hal terjadi disana,” jawab Jack.
“Kau mengingat sesuatu saat kau depresi? Maaf Paman sengaja meminta Pak Beni untuk membawamu tinggal disana, karena khawatir dengan keselamatanmu,” tanya Paman Favier.
“Banyak kejadian disana tapi ingatanku terpotong-potong. Makanya aku harus kembali,” jawab Jack.
Paman Favier menatap Jack.
“Kau sudah bertemu dengan keluargamu?” tanya Paman Favier.
“Aku sudah bertemu ibuku, ayah tiriku dan adik tiriku,” jawab Jack. Raut wajahnya berubah sedih saat mengatakannya.
“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Paman Favier.
“Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu ibuku juga. Ibu yang membuangku ke RSJ dan tidak memperdulikanku,” jawab Jack seperti sebuah keluhan.
“Sayang aku pulang dalam keadaan sakit,” lanjut Jack.
“Tapi kau berhasil menikahi seorang gadis, itu bagus,”ucap Paman Favier sambil tersenyum.
“Iya. Dia memiliki mata yang mirip dengan Arum, jadi aku menikahinya,” ucap Jack.
“Seharusnya kau menikahinya karena mencintainya jangan karena mirip dengan Arum. Arum itu masa lalumu, kau harus realistis. Arum sudah meninggal dan istrimu bukan Arum, itu yang harus kau tanamkan dalam hatimu, cintai dia sebagai istrimu bukan Arum,” kata Paman Favier.
Jack tidak menjawab, dia menyandarkan punggungnya ke kursi.
***********