Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-55 Istriku sayang istriku malang


Ara menatap mertuanya itu dengan banyak pertanyaan. Kenapa tinggal dirumah suaminya sendiri harus ada persyaratan segala? Ny.Inezpun begitu, dia menatap tajam menantunya.


“Kau harus tahu kalau aku adalah Nyonya dirumah ini. Dan semua kekayaannya Jack sudah aku pegang lagi, jadi kau harus tahu diri dan tidak membuat keonaran sekecil apapun!” kata Ny.Inez.


Sebenarnya Ara tidak mau tinggal dirumah yang ini tapi bagaimana dengan Jack? Dia tidak bisa membiarkan Jack sendirian, dia harus selalu bersama Jack.


“Baiklah Nyonya, aku faham. Aku tidak akan membuat keributan, aku kesini karena Jack yang menginginkannya,” ucap Ara.


“Ingat, tugasmu disini hanya mengurus Jack, merawat Jack, kau hanya perawat disini. Cuma itu. Kau tidak memiliki hak apapun di rumah ini! Jika kau menjalankan tugasmu dengan baik, maka aku tidak masalah kau dan Jack tinggal lagi sini,” kata Ny. Inez.


Ara menghela nafas pendek.


“Iya Nyonya saya mengerti,” jawab Ara.


Ada perasaan tidak nyaman muncul dalam hati Jack. Ada rasa tidak suka dengan sikap ibunya memperlakukan istrinya. Ibunya benar-benar tidak menganggapnya di rumah ini hingga istrinyapun dianggap hanya sebagai seorang perawat dirinya saja.


Istrinya, istrinya sama sekali tidak punya hak apa-apa di rumah ini yang notabene ini dalah rumah warisan dari ayahnya. Kenapa ibunya begitu keterlaluan? Dan istrinya itu dengan mudahnya hanya mengatakan iya?


“Maaf Nyonya, walau bagaimanapun Nyonya Ara menantu di rumah ini, dia berhak..” Pak Beni mencoba menyela tapi Ny.Inez langsung menatapnya tajam.


“Kau diam saja!” bentak Ny. Inez.


Pak Beni pun diam dan menoleh pada Jack yang juga diam. Raut wajahnya Jack mulai berubah, Pak Beni tahu kalau Tuannya sedang kesal.


Tn.Ferdi langsung menoleh pada istrinya.


“Aku tidak setuju! Aku tidak suka mereka tinggal disini lagi!” kata Tn.Ferdi.


“Sudahlah sayang, wanita itu sudah berjanji tidak akan membuat keonaran dan menjaga Jack! Ini sudah larut, lebih baik kita tidur!” kata Ny. Inez, akhirnya mengijinkan Ara dan Jack tinggal di rumah itu lagi.


Tn.Ferdi memberengut kesal. Tiba-tiba Nyonya Inez ingat sesuatu.


“Jack, Bastian ingin melamar Kinan. Dia ingin memberikan hadiah untuk Kinan seperti yang kau berikan pada Ara,” ucap Ny.Inez menatap Jack.


Tentu saja Ara terkejut mendengarnya begitu juga Pak Beni. Jack tampak mengerutkan dahinya, dia mengingat-ingat apa yang di berikannya pada Ara?


“Tapi Nyonya, jumlahnya sangat besar!” Pak Beni angkat bicara.


“Kau tutup mulutmu! Jangan ikut campur!” maki Ny.Inez, lalu menoleh pada Jack.


“Jack, Kinan tidak akan menerima  lamarannya Bastian kalau tidak membawakan hadiah yang sama dengan yang kau bawa,” ucap Ny. Inez.


Jack masih mengingat-ingat apa yang dia berikan pada Ara.


“Nyonya aku sudah memberikan surat kuasa kekayaan Jack pada Nyonya,” ucap Ara.


“Tapi pengeluaran pribadi dalam jumlah besar tetap harus dengan persetujuan Jack. Rumah mewah yang Jack berikan padamu dan perhiasan satu koper itu kalau di total itu lebih dari 20 Milyar. Aku tidak bisa mencairkan uang dengan jumlah sebesar itu tanpa alasan yang jelas, kecuali Jack sendiri yang mengeluarkannya untuk keperluan pribadi! Aku butuh Jack mencairkan uang itu tanpa harus sidang pengacara-pengacara itu!” kata Ny. Inez.


Jack hanya mendengarkan perkataan ibunya. Jadi dia memberikan hadiah untuk Ara rumah mewah dan perhiasan satu koper? Apa saat depresi dia begitu mencintai Ara?


Ny.Inez menoleh pada Ara.


“Kau bantu Jack untuk menemui pengacara dan mencairkan uang itu secepatnya!” kata Ny. Inez.


Ara menoleh pada Jack.


“Jack, apa kau akan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk Bastian?” tanya Ara.


Ny. Inez langsung memotong.


“Tidak perlu bertanya! Kau juga tidak perlu iri! Kerjakan saja! Sudah aku katakan kau tidak punya hak apa-apa disini, kau hanya perawatnya Jack!” kata Ny. Inez dengan ketus, lalu menoleh pada Pak Beni.


“Pak Beni siapkan jadwal pertemuan dengan pengacaranya. Kau pastikan Jack mau menandatangani pencairan uang itu!” kata Ny. Inez.


Pak Benipun tidak bicara apa-apa lagi.


Jack masih diam, jadi begitu? Jadi ini yang ibunya inginkan? Menggunakan uangnya sesuka hatinya? Sebenarnya untuk masalah uang Jack merasa tidak keberatan, tapi dengan sikap ibunya yang tidak peduli padanya dan hanya mementingkan hartanya saja, itu sangat membuatnya sakit hati. Ibunya lebih mencintai Bastian dari padanya. Ternyata pulang ke sini adalah keputusan yang tepat, dia harus membereskan semuanya.


Setelah bicara begitu, Ny,Inez dan Tn.Ferdi meninggalkan ruangan itu.


Pak Beni menoleh pada Ara, tapi maksudnya ingin bicara dengan Jack.


“Kalau uang Jack masih banyak, tidak masalah, berikan saja. Aku hanya ingin Jack aman saja. Kalau soal uang aku tidak mempermalahkannya. Lagi pula aku tidak punya hak apa-apa disini, aku hanya akan mengurus Jack dan memastikannya dia baik-baik saja,” ucap Ara.


Mendengar perkataannya Ara membuat Jack semakin merasa bersalah. Dia merasa begitu tidak berarti sebagai suami yang seharusnya bisa melindungi istrinya.


Ara menoleh pada Jack.


“Ayo Jack kita istirahat,” ucap Ara, meraih tangannya Jack, meninggalkan ruangan  itu.


Jack menoleh pada Pak Beni yang juga mentapnya. Pak Beni bisa mengerti kalau Jack ingin bicara dengannya.


Jack mengikuti langkahnya Ara, arah pandangannya memperhatikan wanita yang berjalan di depannya itu yang sedang menuntunnya. Kasihan sekali istriku, batinnya.


Didalam kamar Jack kembali memperhatikan Ara yang duduk dipinggir tempat tidur membuka kopernya yang sudah dibawa masuk pelayan tadi saat tiba.


Jack yang duduk bersandar diatas tempat tidur memperhatikan Ara yang sedang merapihkan barang-barangnya. Kamar itu kembali hening karena Ara tidak bicara. Jack tidak kuat melihat istrinya diam begini. Dia merasa kasihan mengetahui istrinya yang seharusnya menjadi Nyonya di rumah ini tapi hanya dianggap perawat oleh ibunya, padahal ini adalah rumah suaminya.


Tidak disangka karena dirinya yang depresi, berimbas pada wanita yang menjadi istrinya, istrinya diperlakukan buruk ibunya. Tapi lihatlah istrinya itu, dia begitu sabar menerimanya hanya karena ingin supaya bisa bersamanya yang depresi.


Jack terkejut saat tiba-tiba Ara menoleh dan langsung tersenyum saat melihat suaminya itu sedang menatapnya.


“Jack, ini sudah larut, tidurlah!” ucap Ara, selalu berusaha tersenyum manis padanya padahal Jack tahu istrinya pasti sedang sedih.


 “Apa kau ingin minum?” tanya Ara lagi, dia merasa bingung karena Jack menatapnya focus seperti itu, padahal biasanya tatapan Jack ke sembarang arah.


Ara bangun dan mengambilkan minum diatas meja lalu kembali menghampiri Jack dan duduk di pinggir tempat tidur memberikan gelas itu pada Jack.


“Minumlah, terus tidur, aku masih ingin merapihkan barang-barang kita,” ucap Ara.


Jack merubah posisi duduknya menjadi tegak, tangannya terulur meraih gelas itu tapi ternyata Ara belum melepaskan gelas itu karena biasanya gelasnya akan diminumkan ke mulutnya. Tentu saja tangan Jack jadi menyentuh tanganya Ara.


“Tumben sekali kau mau memegang gelasnya,” ucap Ara, sambil tersenyum tidak banyak berfikir. Tentu saja Jack yang terkejut, dia lupa kalau masih pura-pura depresi.


Jack melihat tangannya yang ada diatas tangannya Ara yang memegang gelas. Merasakan tangannya menyentuh jari-jarinya Ara. Biasanya jari-jari itu melingkar di lengannya.


 Ara mendekatkan gelas itu dan meminumkannya ke mulut Jack.


“Tidurlah!” ucap Ara sambil menyimpan gelas itu, lalu dia kembali melamun.


Jack yang duduk didekat Ara hanya menatap bagian pinggir wajahnya Ara yang melihat kearah jendela yang gorden putihnya saja yang tertutup. Jack bisa melihat raut sedih diwajah istrinya.


Jack ingin sekali bicara dan menghiburnya, tapi bagaimana? Dia terpaksa harus menahan diri. Dia ingin meminta maaf karena membuat istrinya mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dirumah ini.


Ingin sekali Jack memeluknya, dia tidak bisa membiarkan istinya bersedih begini. Tapi bagaimana cara dia memeluknya? Dia sungguh bingung juga merasa gugup.


Sedang Jack berfikir begitu, tiba-tia Ara yang duduk miring didepannya menyandarkan tubuhnya ke dadanya. Sungguh membuat Jack terkejut. Dia membayangkan  ingin memeluknya, ternyata istrinya bersandar padanya.


“Hanya bersamamu saja, sudah lebih dari cukup Jack,” gumam Ara hampir tidak terdengar.


Jack merasakan tubuhnya Ara menempel di tubuhnya, rambutnya yang hitam tergerai sebagian menerpa wajahnya.


Jantung Jack terasa berdebar kencang, dia bingung dengan perasaannya ini. Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia bisa langsung memeluknya? Tentu saja nanti Ara akan curiga dengan sikapnya.


Dengan perlahan Jack menekukkan kaki kanannya dibelakang punggung Ara, menjaga Ara terjatuh ke belakang. Dengan ragu tangan kanan Jack bertumpu pada lututnya itu. Dia ragu untuk memeluk Ara. Tapi kemudian dia merasakan hembusan nafas yang teratur pada istrinya, sepertinya Ara tertidur.


Jack langsung memeluk Ara saat tubuh Ara akan terjatuh karena dia sudah tidur. Diapun menatap wajah yang sedang tertidur itu. Menatap wajah cantik yang kepalanya sedikit mendongak keatasnya semakin memperjelas  wajah yang sedang ditatapnya.


Beberapa helai rambut menutupi wajahnya Ara. Tangan Jack menyibakkan helaian rambut-rambut itu dengan pelan, supaya dia bisa melihat jelas wajah istrinya.


“Istriku,” ucap Jack, kini menyentuh pipinya Ara dengan tangan kirinya. Kulit pipinya Ara terasa  begitu lembut di jarinya.


“Sayang,” gumamnya lagi, tangannya kembali mengusap rambutnya Ara.


Entah perasaan apa ini? Semakin lama menatap wajah istrinya menimbulkan sesuatu perasaan yang lain dalam hatinya. Dia tidak ingin membuat istrinya menderita bersamanya.


“Tidurlah, aku akan menjagamu,” ucapnya lagi, sambil mempererat pelukannya. Memastikan kalau Ara merasa nyaman berada dipelukannya.


************