
Hari itu cuaca sangat cerah dipantai itu, Jack kecil berlarian bemain pasir dengan Arum di pinggir pantai. Air laut sesekali membasahi kaki mereka.
Jack melihat pada orang tuanya yang tidak jauh dari sana berkumpul bersama teman-temannya, bersenda gurau sambil menikmati makanan yang ada. Dilihatnya juga ayahnya yang menoleh kearahnya, melambaikan tangan sambil tersenyum. Ayahnya terlihat gembira hari itu begitu juga dengan ibunya.
“Jack!” panggil Nyonya Inez.
Jack kecil kembali menoleh kearah yang berkumpul itu.
“Jangan terlalu dekat laut!” teriak Ny.Inez.
“Iya Bu,” jawab Jack.
“Jaga Arum Jack! Jangan diajak berenang!” terika sebarang wanita yang duduk dekat ibunya, dia dalah Ny.Imelda, ibunya Arum. Ayahnya Arum juga ada bersama mereka, termasuk Tn.Ferdi yang menjadi ayah tirinya sekarang.
“Iya tante,” ucap Jack.
Dilihatnya orangtua mereka kembali terlibat perbincangan seru dengan teman-temannya yang lain.
Jack dan Arum begitu gembiranya membangun rumah-rumahan dari pasir itu. Sedang asiknya bermain, tidak dirasanya air ombak semakin pasang.
“Rumahnya sudah selesai, kita buat lagi disana yuk? Yang pasirnya lebih halus,” kata Jack, sambil berdiri duluan lebih dekat ke air.
Arum juga berdiri dan mengikuti Jack. Lalu mereka berdua kembali membuat lagi rumah-rumahan pasir.
“Aku ingin berenang tapi kata ibu tidak boleh berenang,” kata Jack, menatap air yang mengenai kakinya.
“Aku tidak bisa berenang,” ucap Arum.
“Ya sudah aku saja yang berenang,” kata Jack, lalu diapun mendekati air yang sedikit lebih dalam dan langsung berenang. Jack memang suka sekali berenang. Dilihatnya Arum masih membuat rumah pasir.
Arum menoleh pada Jack yang berenang sendirian, lalu matanya melihat sandalnya ada diatas air mengambang terbawa arus.
Arum bangun dan berlari mangambil sandalnya, satu sandal didapatnya tapi satu lagi mengambang semakin jauh. Diapun mengikuti sandal satunya lagi tapi tiba-tiba Arum merasaka kakinya sudah tidak bisa menginjak lagi pasir, membuat tubuhnya terjatuh ke air.
Arum terperosok masuk ke bawah laut dan air menutupi wajahnya, membuatnya panic tidak bisa bernafas. Tangannya menggapa-gapai diatas air merasakan air masuk kedalam hidung dan mulutnya. Diapun terbatuk-batuk. Bukannya air keluar, malah semakin banyak air yang terminum olehnya, membuatnya semakin sesak.
Jack yang sedang asik berenang sendirian, terkejut saat melihat kearah tempat Arum membuat rumah-rumahan ternyata temannya itu tidak ada, diapun menghentikan berenangnya lalu melihat ke sekeliling, dan betapa terkejutnya saat Jack melihat Arum terbawa arus.
“Arum!” teriaknya.
“Arum!” teriaknya lagi lalu berenang mengejar Arum yang terbawa ombak yang pasang.
Tn. Constantine yang sedang berbicang dengan teman-temannya tidak sengaja melihat ke arah laut dan dia terkejut saat melihat Jack berenang bersama Arum yang terpisah jauh.
“Jack! Arum!” teriaknya dengan kencang membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arah ayahnya Jack.
Ayahnya Jack langsung bangun dan melepas sepatunya, berlari kearah air laut.
Seketika terdengar teriakan histeris orang-orang yang sedang berkumpul itu.
Ny.Imelda dan suaminya, juga Ny.Inez dan semua temannya berlarian menuju air laut.
Ayahnya Arum dengan cepat mencebur ke air, berenang menyusul ayahnya Jack yang duluan berenang.
“Arum!” teriak Tn.Constantine, berusaha berenang lebih cepat.
“Jack! Kembali Jack!” teriaknya pada Jack, melarang Jack untuk mengejar Arum.
Jack akan terus berenang tapi terdengar lagi suara teriakan ibunya.
“Jack! Kembali Jack!” teriak Ny.Inez hysteris.
Ayahnya Arum terus berenang menyusul Tn.Constantine.
Tn.Constantine semakin cemas melihat Arum terbawa jauh dan gadis kecil itu tampak tidak bisa bernafas tangannya menggapai-gapai diatas air.
“Arum! Bertahanlah nak!” teriak Tn. Consntantine terus berusaha menyelamatkan Arum.
“Arum! Putriku!” Ny. Imelda langsung saja menangis sajadi-jadinya.
Dia semakin shock melihat putri kecilnya yang semakin tidak terlihat diatas air laut yang luas.
“Aruuuum!” ayahnya Arum juga terus berenang menyusul Tn.Constantine yang sudah lebih jauh.
Jack terpaksa kembali, berlari mendekati ibunya yang langsung memeluknya.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengajak Arum berenang?” teriak Ny. Imelda.
Jack tidak bisa bicara, dia shock!
Tn.Constantine berenang semakin jauh dan tiba-tiba ombak besarpun datang menghantam tubuhnya. Dia sedang kondisi tidak siap karena matanya terus mencari Arum, membuat tubuhnya terbawa ombak.
Melihat ombak besar datang membuat semua orang khawatir dan beteriak-teriak histeris. Ombak besarpun seketika menjauh dan semua orang tertegun saat ombak itu pergi, Arum dan Tn.Constantine juga menghilang.
Ayahnya Arum menghentikan berenangnya, melihat kesekitarnya.
“Constantine!” teriak ayahnya Arum.
Tapi saat air sudah kembali tenang, ombak sudah pergi tapi yang dicarinya tidak ada. Lidahnya mendadak kelu, hatinya terass beku. Putrinya hilang terbawa ombak begitu juga dengan sahabatnya.
Jerit histeris dan teriakan di pesisir begitu jelas terdengar. Semua orang shock.
Ny.Imelda menangis sambil berlari menuju air laut, berteriak-teriak memanggil Arum. Ny.Inez dan teman-temannya menyusul Ny.Imelda.
“Imelda! Tenanglah! Imelda tenanglah!” teriak mereka. Sebagian memegang tangan Ny.Imelda supaya tidak nekat masuk ke air.
Beberapa teman pria langsung mencari- cari keberandaannya Arum dan Tn.Constantine. Mereka juga memanggil bagian pengamanan pantai, yang segera bergerak mencari dua orang itu di laut.
Ny.Inez juga termangu, suaminya tidak datang lagi ke darat. Dia berdiri mematung, dengan airmata yang sudah tumpah membasahi pipinya.
“Sayang!” gumamnya dengan bibir gemetar dan tiba-tiba melepaskan Jack. Diapun berlari kearah laut dan berteriak-teriak.
“Constantine! Constanatine!” teriaknya sambil menangis histeris. Teman-temannya segera menyusulnya menariknya kembali ke darat dan menenangkannya.
Ayahnya Arum sudah kembali ke darat dan menghampiri Jack.
“Kau, apa yang kau lakukan pada putriku!” teriaknya. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Jack.
Jack menatap ayahnya Arum dengan ketakutan dan gemetaran.
“Aku..aku…” belum selesai Jack bicara, tiba-tiba Ny.Imelda menghampirinya dan memukulnya.
“Dasar anak nakal! Kembalikan putriku!” teriak Ny. Imelda, memukuli Jack sambil menangis histeris.
Teman-temannya segera menariknya supaya tidak memukuli Jack.
Jack memegang tubuhnya yang sakit dipukul Ny.Imelda.
“Kau harus bertanggung jawab, kembalikan putriku!” teriak Ny.Imelda lagi.
Bukan orangtuanya Arum saja yang marah, Ibunyapun menatapnya tajam.
“Bu..ayah!” gumam Jack.
“Iya! Kau sudah mencelakakan Ayahmu dan Arum! Kau memang nakal! Aku sudah melarangmu jangan berenang! Jangan mangajak Arum berenang! Dia tidak bisa berenang!” teriak Ny.Inez memarahi Jack.
Semua menyalahkan Jack, semua menatapnya tajam menghakimi, tidak ada yang mengerti bahwa hatinyalah yang paling hancur! Dia telah melakukan kesalahan, tidak menjaga Arum, dia juga yang menyebabkan ayahnay terbawa arus. Dua orang yang dicintainya menghilang ditelan air laut di depan matanya.
Jack merasakan tubuhnya menggigil gemetaran, rasa takut dan rasa bersalah juga penyesalan menyelimuti hatinya. Senyum Arum yang manis sudah hilang, senyum ayahnya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya itu juga hilang.
Tubuh Jack semakin gemetaran. Ombak besar kembali datang bagaikan maut yang akan kembali merenggut orang-orang yang dicintainya.
“Arum! Ayaah!” teriak Jack.
Suara ombak menghantam batu karang terdengar begitu memekakkan telinganya dan serasa gendang telinganya mau pecah, Jackpun menutup kedua telinganya.
“Arum! Ayaaah!” teriaknya lagi terus menerus.
Orang-orang menghampirinya, telunjuk-telunjuk menunjuknya dengan wajah yang marah, mulut mereka bergerak-gerak entah apa yang mereka katakan, suaranya sudah tidak terdengar lagi, hanya suara ombak yang terus berdebur kencang meskipun ombak itu telah pergi.
Jack kecill terduduk dipasir sambil menutup kedua telinganya dengan tubuhnya yang semakin gemetaran.
Terdengar lagi suara orang beteriak.
“Nyonya! Nyonya!” teriak suara itu.
Jack mendengar suara ayahnya berteriak-teriak. Diapun menurunkan tangannya dan melihat kearah laut. Dilihatnya ayahnya sedang berenang dan tangan Arum melambai lambai di laut semakin menjauh.
Ara yang melihat Jack dikejauhan, merasakan sesak di dadanya, dia sudah merasa tidak kuat lagi bernafas. Hatinya semakin sedih, saat melihat sosok suaminya itu masih berdiri dan tidak berniat menyelamatkannya.
Hatinya erasa begitu sakit, dalam kondisi jiwanya terancam, suaminya tidak memperdulikannya meskipun dia tahu mungkin Jack tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Airmata menetes menyatu dengan air laut.
Ara berusaha berenang tapi dia tidak bisa, malah merasakan tubuhnya semakin jatuh kebawah lalu terombang ambing ombak.
Pak Beni terus mencoba berenang tapi dia juga tidak mungkin mengikuti terus arus laut. Usia tuanya tidak memungkinnya untuk bisa bertahan lama berenang di laut.
Pak Beni menghentikan berenangnya, dia merasa lelah. Dia juga sedih, ini adalah orang ketiga yang hanyut didepan mata Tuannya. Dan Tuannya hanya berdiam diri saja. Dia tidak bisa menyalahkan Tuannya, karena Tuannya sedang sakit dan tidak mengerti apa-apa.
Ara merasakan tubuhnya semakin lemas sudah tidak bertenaga lagi. Matanya nanar manatap ke darat. Menatap Pak Beni dan Jack yang semakin mengecil. Air laut sudah tidak tertahankan masuk kedalam mulut dan hidungnya, membuatnya semakin sesak dan benar-benar tidak bisa bernafas.
Hanya satu kalimat yang bisa dia ucapkan, disaat dia merasa sudah benar-benar letih berjuang untuk keluar dari air laut yang membawanya.
“Selamat tinggal,Jack,” ucapnya perlahan, dan dia tidak ingat apa-apa lagi.
***********
Jangan lupa like dan vote ya..
Buat readers yang setia dengan karyaku mau yang lama atau yang baru, yang mau ikut gabung GC RR Maesa, boleh ya jangan sungkan. Meski aku tidak selalu on, GC ku sudah mulai aktif, ada banyak teman disana. Yuk gabung yuk!
***********