Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-87 Asing


Malam itu adalah malam paling mencekam buat Ara. Gara-gara Jack menciumnya sore itu membuatnya panas dingin. Bibir pria itu terasa masih menempel dibibirnya.


Setelah seorang perawat masuk kedalam kamar, beberapa orang pelayan juga masuk membawakan berbagai macam makanan. Sepertinya Pak Beni yang menyuruh mereka karena tahu kalau kakinya sakit susah untuk berjalan.


Ara hanya memperhatikan perawat laki-laki itu selesai memandikan Jack dan memakaikan bajunya. Dia heran


kenapa Jack tidak memilih jujur saja padanya dan mengakhiri kebohongannya? Dia malah masih bersikap pura-pura depresi, membuat hati Ara kesal juga. Apa maunya sih Jack itu?


Sesekali dia mencuri pandang pada pria itu yang sedang dipakaikan bajunya oleh perawat laki-laki itu. Bukankah suatu kebahagiaan tersendiri memiliki suami yang super tampan dan kaya? Lagi-lagi dia teringat ciuman itu. Jack juga mengatakan cinta padanya. Apa benar Jack cinta padanya?


Lamunannya langsung hilang saat tiba-tiba Jack sudah duduk disampingnya, langsung saja membuat Ara kembali salah tingkah. Dia merasa aneh dengan hatinya yang kesal pada pria itu kadang sebal bukan main karena tidak jujur kalau sudah sembuh tapi juga dia membuat jantungnya berdebar setiap didekatnya.


“Jack, aku makan disini saja, sepertinya Pak Beni sudah membawakan makan untukku, dia tahu kakiku sakit.” ucap Ara, dia akan mencoba turun, dia merasa gugup didekat Jack.


Ara semakin merasa jantungnya mau copot saja karena Jack menarik tangannya. Jangan-jangan Jack mau menciumnya lagi! Ternyata dugaannya salah, Jack bukan mau menciumnya, tapi menarik meja beroda itu yang berisi makanan untuk  ke dekat tempat tidur, membuat Ara menjadi lega.


Bukannya dia tidak mau dicium Jack, hanya saja jiwanya belum benar-benar sadar tidak percaya Jack sudah menciumnya seperti itu. Jack sekaranag bukanlah Jack yang dulu, dia merasa canggung lagi seperti mengenal sosok yang berbeda.


Jack tidak banyak bicara, dia hanya memasukkan beberapa menu ke piring.  Lagi-lagi Ara terkejut saat sudah ada sendok didepan mulutnya. Diapun menoleh pada Jack.


“Kau mau menyuapiku? Ah tidak, aku tidak sakit, aku bisa sendiri,” ucap Ara. Tapi Jack tidak bergeming.


“Makan,” kata Jack, tidak memindahkan sendoknya.


“Baiklah aku makan,” ucap Ara, membuka mulutnya dan langsung makan makanan itu.


Tidak ada yang bicara, Jack hanya diam, terus menyuapi Ara sambil sesekali menatapnya, tentu saja dia tidak keberatan untuk selalu menyuapi Ara, mengingat bagaimana istrinya begitu telaten menyuapinya dan mengajarinya makan yang baik.


Ara juga hanya makan saja tanpa bicara. Biasanya dia bicara sepanjang masa meskipun sedang makan, dia akan terus mengajak  Jack bicara saat depresi, tapi sekarang tidak, dia bingung harus bicara apa pada Jack, apa dia sedang Jaim? Ah tidak, kenapa Jaim? Jaim karena ada Jendral tampan disampingnya yang sedang menyuapinya?


“Jack kenapa kau diam saja? Bicaralah! Jujurlah padaku!” batin Ara.


“Jack kau juga harus makan,” itu yang keluar dari mulutnya Ara.


Tangan Ara mengambil sendok ditangan Jack lalu diisinya makanan dan didekatkan ke mulutnya Jack.


“Kau juga makan,” ucapnya.


Jack menatap sendok itu sebentar lalu dia membuka mulutnya dan makan makanaa disendok itu.


Ara mengambil tisu akan melap bibirnya Jack tapi tiba-tiba tangannya berhenti saat Jack menatapnya, dia sadar Jack sudah sembuh sekarang, dia tidak perlu memperlakukan Jack seperti orang depresi tapi... bukanlah dia juga pura-pura tidak tahu kalau Jack sudah sembuh?


“Jack kenapa kalau kau makan masih saja tidak rapih,” keluh Ara, menghilangkan rasa canggungnya.


Ara melanjutkan melap bibir pria itu. Bibir **** pria itu yang sudah menciumnya tadi. Jack membiarkan istrinya membersihkan mulutnya, dia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu, kalau tidak rasanya ada yang kurang.


Sampai makan mereka habis tidak ada yang dibicarakan, Ara sungguh merasa sangat canggung, bingung mau bicara apa. Dia mendadak merasa salah tingkah sekarang.


“Jack, sepertinya aku akan langsung tidur saja, aku lelah,” kata Ara mencoba melarikan diri dari suasana yang mendadak tidak menentu ini.


“Kalau kau ingin nonton TV atau bicara dengan Pak Beni, kau boleh pergi. Oh iya obatmu ada di Pak Beni, sebentar lagi pasti Pak Beni kemari mengantarkan obatmu,” lanjut Ara lagi, keringat dingin sudah mulai bermunculan lagi.


Jack mengerutkan dahinya, apakah istrinya sedang menghindarinya?


Sungguh malam yang sangat menegangkan bagi Ara. Tidur dengan pria yang serasa asing baginya. Padahal dia sudah terbiasa satu tempat tidur dengan Jack tapi sejak tahu Jack sembuh, rasanya semuanya seperti berjalan dari awal lagi, dia butuh mengenal Jack untuk yang kedua kalinya.


Ara langsung saja berbaring dan menarik selimutnya, tidur membelakangi Jack.


Jack hanya menatap sikap istrinya yang terlihat menghindarinya, tapi dia tidak bicara banyak, tangannya hanya merapihkan selimut itu.


Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat dipipinya. Pria itu mencium pipinya. Ternyata dugaan Ara salah lagi, dia sudah kegeeran pria itu akan tidur memeluknya.


“Selamat malam,” bisi Jack ke telinganya Ara.


Sepertinya jadi jantung Ara copot, kenapa bisikan itu terdengar begitu merdu ditelinganya? Jack aku marah padamu tapi aku juga sayang padamu, batin Ara.


Setelah itu kembali derit tempat tidur terdengar, diikuti langkah-langkah kaki keluar dari kamar itu, juga suara pintu dibuka dan ditutup lagi, sepertinya Jack sudah keluar kamar.


Hati Ara merasa plong tahu Jack sudah pergi, dia langsung membuka selimutnya, dia tidak merasa dingin tapi terasa semakin gerah di kamar ini. Kemudian dia kembali berselimut. Tidur, tidur, dia harus tidur daripada bangun dan harus berduaan terus dengan Jack, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya kalau tidak tidur.


***********


Pak Beni sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kembali pulang. Meskipun sampai detik ini Jack masih bersikap diam, tidak mau bicara jujur  pada Ara, tapi pria itu masih begitu perhatian padanya. Selama diperjalanan, kemana mana selalu menggendong istrinya. Naik turun mobil, naik pesawat, Jack selalu menggendongnya. Padahal Ara sudah mengatakan kakinya sudah lebih baik, tapi tidak didengarnya juga tetap saja menggendongnya.


Ara merasa heran saja pria itu tidak mengeluh sedikitpun padahal badannya lumayan berat tapi bagi Jack sepertinya hanya menggendong anak kecil saja.


Akhirnya Ara membiarkan Jack menggendongnya terus. Dia hanya merasakan punggung Jack yang kokoh, mencium harum rambutnya yang lembut, diam-diam mengintip wajah sampingnya Jack, menatap pipi yang sering diciumnya jika Jack sudah mandi dan berpakaian.


Melihat kedatangan Jack yang menggendong Ara, membuat Ny. Inez keheranan. Melihat begitu mesranya mereka, rasa was-was Ara akan cepat hamil semakin muncul dibenaknya. Menantunya itu akan menimbulkan masalah lagi dengan kehamilannya.


“Kau pulang Jack! Kau kenapa?” tanya Ny. Inez pada Ara yang di gendong Jack.


Ara akan menurunkan kakinya tapi tangan Jack tidak mengendorkan menahan tubuhnya.


“Kakiku sedang sakit,” jawab Ara, padahal rasa sakit di kakinya sudah mulai berkurang hanya saja Jack masih menggendongnya terus.


Ny, Inez melihat kearah kakinya Ara yang ditutup plester sebentar lalu menatap Jack.


“Jack kebetualn sekali kau sudah tiba, beristirahatlah sebentar, nanti malam Arum akan kemari dengan ibunya,” kata Ny.Inez, membuat Ara menatapnya. Baru juga sampai rumah mau langsung dipertemuan dengan Arum, keluhnya dalam hati.


“Arum akan kesini?” tanya Ara.


“Iya,” jawab Ny. Inez.


“Secepat itu? Kita baru juga sampai,” ucap Ara, protes.


“Cuma bertemu saja, apa salahnya?” kata Ny. Inez.


“Arum?” ucap Jack.


“Iya Arum, kau akan bertemu teman kecilmu yang tenggelam, dia masih hidup, sehat dan cantik. Pasti istrimu tidak menceritakannya kan?” kata Ny.Inez melirik pada Ara.


Jack tidak menjawab, Ara memang tidak menceritakan kalau sudah bertemu Arum, seperti apa Arum dan sebagainya.


Ara hanya memberengut saja kalau sudah membahas masalah Arum. Dia tidak suka dengan Arum meskipun  dia tahu Jack yang menyebabkan Arum tenggelam, kenapa dia merasa wanita itu akan merebut Jack darinya? Ah sudahlah, itu hanya fikiran jeleknya saja tapi dia perlu waspada juga. Selain itu Ara juga ingin tahu apa yang akan dilakukan Jack jika bertemu Arum nanti.


“Baiklah Jack, sebaiknya kau antar aku ke kamar, aku lelah,” kata Ara, tidak mau bicara panjang lebar dengan ibu mertuanya.


Jack menatap ibunya sebentar, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada ibunya tapi dia harus menunggu saat yang tepat. Diapun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ibunya di ruang tamu.


Ny.Inez hanya menatap kepergian mereka, lalu menoleh pada Pak Beni yang sedari tadi ada diruangan itu, tapi tidak bicara apa-apa. Pak Benipun segera pergi meninggalkan Ny.Inez.


Kemudian mertuanya Ara itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


“Kau jadi kan datang kerumah? Jack baru tiba dari Paris. Iya, ditunggu,” kata Ny. Inez lalu menutup telponnya.


*******