Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-76 Rindu


Ny. Inez menoleh pada Ny.Imelda.


“Imelda, mungkin putrimu butuh waktu untuk berfikir, tolong berilah pengertian padanya untuk bertemu dengan Jack dan merawat Jack sampai sembuh. Aku tahu Jack yang menyebabkan Arum tenggelam, tapi sekarang kan Arum sudah ditemukan dan masih hidup, aku minta bantuanmu untuk membujuk Arum supaya merawat Jack,” kata Ny.Inez.


Ara memperhatikan Ny.Inez dan Tn.Ferdi, dia tahu mereka tidak ada niat benar-benar membuat Jack sembuh, mereka hanya berpura-pura saja untuk mendekatkan Arum pada Jack. Pasti seperti itu, mereka hanya berpura-pura peduli, mereka tidak menyayangi Jack, mereka hanya mengincar hartanya.


“Baiklah, aku akan bicara dengan Arum,” kata Ny.Imelda.


Ny.Inez menoleh pada Arum.


“Aku senang kau masih hidup. Aku yakin Jack juga akan senang bertemu denganmu,” ucapnya, lalu menoleh pada suaminya.


“Sayang, ayo kita pulang, biarkan Arum menenangkan diri, dia sangat shock melihat kedatangan kita,” ucap Ny.Inez.


“Kau tunggu di mobil, aku mau bicara dengan Imelda sebentar,” kata Tn.Ferdi.


Ny. Inez menoleh pada Ara.


“Ayo pulang!” Ajak Ny. Inez.


“Tunggu sebentar aku ingin bicara dengan Arum,” ujar Ara berjalan mendekati Arum yang menatapnya dengan bingung.


“Kau mau apa? Sudah, ayo pulang!” ajak Ny.Inez menarik tangan Ara, tapi Ara menepis tangannya, dia masih menatap Arum.


“Aku istrinya Jack, aku..” ucap Ara, dia tidak bicara lagi tapi Ny.Inez terus menarik tangannya.


“Ayo!” ajak Ny. Inez.


“Nyonya! Aku harus bicara dengan Arum!” kata Ara, tapi Ny.Inez tidak mendengar, dia tetap menarik tangan Ara keluar dari rumah itu. Kalau bukan mengingat Ny.Inez adalah ibu suaminya, Ara bisa bersikap kasar padanya tapi teringat kalau dia mertuanya, Ara menahan diri dan terpaksa ikut mertuanya menuju mobil mereka.


Tn.Ferdi menoleh pada Ny.Imelda, lalu menarik tangan Ny.Imelda menjauh dari Arum, keluar dari ruangan itu masuk ke ruangan lain.


“Kita perlu bicara,” kata Tn.Ferdi, menatap Ny.Imelda.


“Kau harus bisa membujuk Arum untuk merawat Jack,” lanjut Tn.Ferdi.


“Kau dengar sendiri kan Arum tidak mau,” ujar Ny. Imelda.


“Kau bujuk dia! Jack memiliki kekayaan yang sangat banyak, jangan disia-siakan, siapa wanita yang tidak mau hidup enak?” kata Tn.Ferdi.


“Bagaimana dengan istrinya?” tanya Ny. Imelda.


“Abaikan saja dia, dia hanya parasit, aku yakin Jack akan menyukai Arum. Jack gila karena Arum,” jawab Tn.Ferdi.


Ny. Imelda tidak bicara lagi, Tn.Ferdi langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan rumah itu.


Ny. Imelda terdiam sebentar, lalu masuk keruang tamu dan melihat Arum masih mematung disana.


“Sayang, kau pasti kaget dengan kedatangan mereka, kau tenang saja, bagaimana kalau Ibu perlihatkan foto-fotomu dulu sama Jack?” ujar Ny. Imelda.


Sebenarnya Ny. Imelda masih benci pada Jack  tapi mengingat kekayaan Jack yang berlimpah, dia rasa tidak ada salahnya dia mengikuti keinginanya Tn.Ferdi.


“Pokoknya aku tidak setuju kalau Arum merawat Jack, aku tidak setuju!” kata Ara begitu sampai dirumah.


“Kau ini bikin repot saja!” hardik Ny. Inez.


“Jack boleh bertemu Arum tapi bukan untuk dirawat Arum! Itu sudah jadi keputusanku!” seru Ara, lalu pergi meninggalkan Ny.Inez dan Tn.Ferdi.


Ny.Inez merasa kesal bukan main melihat menantunya itu, lalu menoleh pada Tn.Ferdi yang tampak masih bersikap santai.


“Istrinya Jack itu benar-benar keras kepala,” keluhnya.


Ara masuk ke kamarnya, tidak ada Jack dikamar itu rasanya begitu sepi. Belum lama Jack pergi dia sudah merasa rindu saja.


Baru juga Ara masuk ke dalam kamar, seseorang mengetuk pintu. Ara segera membukanya. Seorang pelayan sudah berdiri disana.


“Nyonya, saya menemukan ini disaku celana Tuan,” kata pelayan itu, memberikan sebuah plastik bening.


Ara segera menerimanya. Dia terkejut saat melihat isi plastik itu, obat-obatan Jack ada di plastik itu.


Tangannya langsung gemetar saja melihat obat-obatan itu.


“Kau dapat dari mana ini?” tanyanya.


“Dari saku celana Tuan yang kotor, Nyonya! Saya yang mengisikannya pada plastic, biar tidak tercecer,” ucap pelayan itu.


“Iya terimakasih,” kata Ara. Pelayan rumah itupun pergi.


Ara masih mematung memegang plastik itu, dia merasa bingung kenapa obat-obatan ini ada disaku celananya Jack? Apa Jack tidak meminumnya? Kenapa Jack tidak meminumnya? Tidak mungkin Jack sudah sembuh, karena dia masih minum obat tadi di ruang makan. Sepertinya inilah alasannya kenapa Jack tidak sembuh-sembuh, pasti Jack sudah bosan minum obat dan suka membuang obatnya.


Arapun mulai menggeledah seisi kamar itu, dia harus memastikan apakah selama ini Jack selalu membuang obatnya?


Semalaman ini Ara begitu sibuk membongkar semua barang-barang yang ada di kamar itu, lemari-lemari, laci-laci, tempat sampah, tempat tidur dan sudut-sudut ruangan tidak luput dari pencariannya.


Tidak terasa malam semakin larut dan hampir pagi tapi tidak ditemukan obat yang tercecer atau dibuang. Sungguh membuatnya bingung. Apakah obat ini hanya kebetulan saja Jack masukkan kesaku karena Jack bosan, atau iseng mungkin? Kepalanya terasa pusing memikirkannya. Arapun terus menguap saat melihat keluar ternyata hari sudah mau pagi, diapun akhirnya tertidur.


**********


Pagi di Paris..


Jack sedang memakai seragam dinas nya, dia mematut dirinya di depan cermin. Dia  menghentikan tangannya yang sedang memasang kancing bajunya. Ingatannya langsung pada Ara, biasanya istrinya yang memakaikan baju untuknya. Baru sehari berpisah rasanya sangat rindu melihat wajahnya.


Dia ingin video call tapi bagaimana caranya?


Terdengar suara ketukan dipintu, Jack langsung menjawab.


“Masuk!” Jawab Jack.


Pintupun terbuka, Jack hanya melirik sekilas, terlihat Pak Beni sudah berdiri disana dengan seorang pria muda berseragam, ajudannya.


“Jendral!” Sapa Pak Beni.


"Pagi Jendral!" Ajudannya memberi hormat padanya.


Jack kembali melanjutkan memakai bajunya.


“Kendaraan sudah siap, Jenderal!” kata ajudannya Jack itu.


Jack tampak menyelesaikan berpakaiannya, diapun membalikkan badannya menatap Pak Beni lalu pada pria muda itu.


“Sebentar lagi aku siap,” ucap Jack.


“Baik Jendral!” jawab ajudannya, lalu meninggalkan tempat itu.


“Pak Beni, bisa bantu aku?” tanya Jack, menoleh pada Pak Beni.


“Bantu apa, Tuan?” tanya Pak Beni mengerutkan keningnya.


Jack duduk disofa dan memakai sepatunya, lalu menatap Pak Beni.


“Mm,” Jack tampak berfikir sejenak.


Pak Beni menatap Jack penuh tanda tanya. Wajah pria itu terlihat memerah membuatnya keheranan.


“Video call?” tanya Pak Beni.


“Dengan istriku,” jawab Jack.


Pak Beni terdiam.


“Tapi bagaimana caranya?” tanya Jack.


“Tuan ingin Video call dengan Nyonya?” tanya Pak Beni, memastikan.


“Iya, aku ingin melihatnya, dia sedang apa sekarang?” jawab Jack, dengan wajah yang masih memerah.


Pak Beni mengerti sekarang, Tuannya sedang rindu pada istrinya. Diapun tersenyum lalu memperhatikan Jack yang sudah berpakaian dinas, membuat Jack melihat tubuhnya yang berseragam dan mengerti arti tatapannya Pak Beni.


“Bagaimana kalau aku berselimut saja?” tanya Jack, sambil menunjuk tempat tidur, lalu naik dengan masih menggunakan sepatunya.


“Pak Beni pura-pura menelepon dan berdiri didekatku, arahkan ponsel ke dekatku, bagaimana? Aku hanya ingin melihat wajahnya,” kata Jack, dia merasa serba salah dan konyol dengan semua ini, tapi dia tidak bisa menutup-nutupi kalau dia memang merindukan wajah istrinya.


“Baiklah, Tuan,” ucap Pak Beni.


Jack segera menyusun bantal, duduk berselonjor dan menyelimuti dirinya supaya baju dinasnya tidak terlihat.


Pak Beni duduk dipinggir tempat tidur membelakangi Jack dengan ponsel diarahkan padanya tapi bisa terlihat oleh Jack yang ada dibelakangnya.


“Oke sudah cukup, cepatlah menelpon! Disana jam berapa sekarang?” Kata Jack, tidak sabar.


“Sudah siang Tuan,” jawab Pak Beni.


“Berarti Ara sudah bangun kan?” ucap Jack.


Pak Beni mengangguk dan melakukan panggilan video call. Jack masih duduk berselonjor merapihkan selimutnya. Sejenak dia terdiam, untuk video call dengan istrinya saja kenapa begitu repot? Ah sudahlah! Dibetulkannya lagi selimutnya.


Sementara itu Ara masih tidur di ruangan kamar yang berantakan. Di dengarnya telponnya terus berdering sangat bising.


Jack menatap Pak Beni.


“Pak Beni, sudah tersambung belum?” tanyanya tidak sabar.


“Belum, Tuan,”jawab Pak Beni, membuat Jack kecewa dan besandar lagi di tumpukan bantal.


“Kemana dia? Disana pasti sudah tengah hari masa dia masih tidur?” gerutu Jack.


Ara mendengar ponselnya terus berdering, diambilnya ponselnya meski masih terkantuk-kantuk.


“Ada apa Pak Beni?” tanya Ara, melihat wajah Pak Beni di layar ponsel.


Remang-remang dilihatnya Jack berselimut sedang bersandar di tempat tidur, diapun langsung bangun.


“Jack! Jack! Kau kenapa? Kau sakit? Sudah aku bilang aku ikut dengamu! Bagaimana ini? Aku harus menyusulmu! Aku tidak bisa membiarkan kau sakit sendirian disana!” seru Ara dan langsung turun dari tempat tidurnya.


Tentu saja melihat reaksi Ara begitu Pak Beni terkejut begitu juga Jack.


“Nyonya! Nyonya!” panggil Pak Beni tapi camera ponsel sudah goyang-goyang tidak jelas.


Pak Beni menutup ponelnya dengan telapak tangannya dan menoleh pada Jack.


“Nyonya mengira Tuan sakit!” kata Pak Beni.


“Ha?” Jack terkejut


Ara kembali muncul dilayar ponsel.


“Jack! Jack! Aku akan ke Paris sekarang, kau tunggu ya! ”seru Ara.


Tentu saja membuat Jack dan Pak Beni semakin terkejut.


“Tidak Nyonya, Tuan baik-baik saja, disini cuacanya dingin jadi Tuan berselimut,” kata Pak Beni.


“Oh,” gumam Ara dengan lega.


Jack menoleh kearah ponselnya Pak Beni, ada wajah istrinya disana, wajahnya terlihat pucat, rambutnya kusut acak-acakan, terlihat sekali kalau baru bangun tidur sesiang itu disana tapi belum mandi.


Meskipun keadaannya seperti itu, Jack sangat merindukannya. Bukan wanita cantik berlipstik merah yang bertubuh **** aduhai yang dia rindukan, cukup istrinya dengan apa adanya saja, meskipun wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan dan belum mandi, tidak mengapa.


“Jack, apa kau baik-baik saja?” tanya Ara, menatap wajah Jack yang ada di ponselnya, dengan khawatir terlihat jelas diwajahnya.


Jack merasa semakin cinta saja pada wanita ini, dicintai Ara sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.


Pak Beni mengarahkan ponsel pada Jack.


“Apa disana sedang musim dingin? Seharusnya kau pakai baju yang tebal,” ucap Ara.


“Dingin,” ucap Jack.


“Ya, dingin, jangan lupa makan dan minum obat,” ucap Ara, dia jadi teringat kalau semalaman dia mencari obat yang tercecer yang tidak diminum Jack.


“Baik Nyonya.” Yang menjawab Pak Beni.


“Kau menelpon ada apa Pak Beni?” tanya Ara, ditanya begitu Pak Beni terkejut dan bingung tadi belum dipersiapkan alasannya.


“Saya hanya mengabarkan saja kalau Tuan sudah sampai di Paris,” jawab Pak Beni.


“Ya, jaga Jack dengan baik,” ucap Ara.


“Baik Nyonya,” jawab Pak Beni.


“Baiklah Pak Beni, aku mau mandi dulu,” kata Ara.


“Jack aku mandi dulu, nanti kau dimandikan perawat pria kan? Kau tidak boleh dimandikan perawat wanita!” Seru Ara.


“Ingat Pak Beni! Jack jangan di mandikan perawat wanita!” lanjut Ara lagi.


“Baik, Nyonya,” jawab Pak Beni.


Setelah itu telpon terputus.


Jack bernafas lega, hanya melihat wajah itu sebentar membuatnya bahagia dan bersemangat untuk berangkat bekerja.


Sementara itu Ara menyimpan ponselnya di meja, dia terdiam ketika teringat sesuatu. Jack itu baru bangun tidur, berselimut, tapi…dia memakai sepatu? Bahkan sepatunya bukan sepatu yang biasa dia pakai, ini sepatu hitam  bertali. Jack tidur memakai sepatu bertali dan itu bukan sepatu olahraga! Sangat aneh!


**********


Yang sudah bosan, maaf ya aku mampunya nulis alur seperti itu, diluar kalian suka atau tidak suka. Imajinasi orang berbeda-beda.


Yang masih setia, meski alurnya lambat dan rumit tapi masih mau baca, maaf belum bisa up crazy, waktunya belum memungkinkan buat nulis banyak, sabar ya, kalau ada waktu pasti up lagi.


Jangan lupa kalau up 2 bab itu dilike tiap bab, jangan ujungnya doang.


Yang udh like, ngasih gift, vote dan tips makasih ya.


***********