Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-27 Aku akan selalu disampingmu


Setelah kepergian Bastian, ada ketukan lagi dipintu.


Ara membuka pintu itu, sekarang yang sudah berdiri disana adalah Pak Beni dan Dua orang pria yang tidak Ara kenal.


“Tuan, Ini penasihat dan kepala bagian keuangan perusahaan,” kata Pak Beni.


Jack menatap Pak Beni lalu pada kedua orang itu.


“Mereka akan memberikan laporan keuangan dan keadaan perusahaan, karena nanti siang ada rapat seluruh pemegang saham,”lanjut Pak Beni.


Jack mengangguk lalu pergi kekursi kerjanya diikuti mereka. Arapun menjauh.


“Jack!” panggil Ara, kini Jack menoleh kearahnya.


“Sepertinya kau sedang sibuk, aku keluar dulu, aku tidak mau mengganggumu,” ucap Ara, juga menoleh kearah Pak Beni.


“Iya,” jawab Jack.


Arapun segera keluar dari ruangan itu, karena dia memang tidak mau mengganggu urusan pekerjaannya Jack.


Ara berjalan menyusuri lorong-lorong di lantai atas itu, dia ingin lebih mengenal rumah ini. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar ada percakapan di ruang kerjanya Ny.Inez.


“Sayang, bagaimana ini? Aku tidak mau keluar dari perusahaannya Jack. Siang ini ada rapat seluruh pemegang saham. Pasti pengacara-pengacara itu sudah membuat laporan pada management soal pemilik yang sahnya sudah kembali. Aku tidak mau Jack mengambil alih perusahaan dan mendepakku,” kata Tuan Ferdi.


"Jack tidak mungkin mendepakmu, dia tidak bisa bekerja, dia sakit, dia masih belajar mana bisa menjalankan perusahaan,” kata Ny.Inez, duduk di kursi meja rias menghadap cermin.


“Aku fikir Jack akan gila selamanya dan tidak pernah kembali lagi. Tahu begitu aku sudah membuat perusaahaan sendiri dari dulu, tapi walaubagaimanapun perusahaanku tidak akan sebesar perusahaannya Jack. Tetap saja ujung ujungnya aku jadi pengusaha kecil, aku tidak mau, aku gengsi, aku malu, aku sudah terbiasa dipandang orang sebagai pengusaha besar,” kata Tuan Ferdi.


“Ya mau bagaimana lagi? Itu kan memang perusahaannya Jack, aku tidak bisa apa-apa selain menerimanya,” kata Ny.Inez.


“Aku tidak mau jadi pengusaha kecil, apalagi kerja diperusahaan orang lain, kau harus melakukan sesuatu, sayang,” kata Tn, Ferdi, menatap Ny.Inez.


“Ini kan untuk masa depan kita juga,” lanjutnya.


“Melakukan apalagi? Kita tidak bisa menuntut apa-apa, malah nantinya akan kebongkar kalau kita selalu menggunakan uangnya Jack untuk keperluanmu, Bastian, dan segala macam. Selama ini kita hidup pakai uangnya Jack,” lanjut Ny. Inez.


“Apa


salahnya? Jack punya uang begitu banyak sedangkan dia gila, orang gila butuh


apa? Dia tidak butuh apa-apa, sayang uangnya kalau tidak kita pakai,” kata Tn,Ferdi.


“Tapi pengacara


sudah mengantongi surat sehatnya Jack dan mengembalikan semuanya pada Jack,”


ucap Ny.Inez.


“Aku yakin Pak Beni merencanakan sesuatu, dia yang bikin ulah, pria itu harus diberi pelajaran karena ikut campur urusan kita,” kata Tn. Ferdi.


“Jangan main-main dengan Pak Beni, dia orang kepercayaannya ayahnya Jack, dia punya


banyak koneksi,” kata Ny. Inez.


“Kalau kau takut padanya biar aku yang menghabisinya,” ucap Tn.Ferdi.


“Jangan bertindak sembarangan! Aku juga  kesal sekarang yang memegang keuangan istrinya Jack, tapi aku juga tidak mau membuat banyak masalah,” kata Ny.Inez.


“Kita pakai cara yang halus!” ujar Tn.Ferdi, membuat Ny,Inez menatapnya.


“Aku tahu caranya! Aku harus membuat orang-orang melihat sisi gilanya Jack dan mereka pasti menolak bekerjasama dengan perusahaan ini lagi. Buat mereka menolak Jack memimpin perusahaan. Tidak ada orang yang mau bekerjasama dengan perusahanan yang dipimpin orang gila!” kata Tn.Ferdi.


Ny. Inez menatap Tn.Ferdi.


“Kau mau memperlihatkan kalau Jack gila didepan orang banyak?” tanya Ny. Inez, terkejut.


“Iya,” kata Tn. Ferdi.


“Jangan! Aku tidak mau orang tahu kalau anakku gila!” tolak Ny.Inez.


“Harus! Supaya orang-orang keberatan dan tidak percaya pada Jack,  dengan begitu Jack akan tersingkir dengan mudah, perusahaan akan kembali ku pegang,” kata Tn.Ferdi.


Ny.Inez kembali menatap wajahnya dicermin, dia hanya melihat suaminya menuju pintu.


Ara yang mendengar percakapan mereka sungguh merasa kesal dan marah, kenapa mereka begitu tega ingin menyakiti Jack?


Terdengar langkah mendekati pintu. Tn Ferdi membuka pintu itu dan terkejut saat melihat Ara sudah berdiri di depan pintu.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Tn. Ferdi, wajahnya langsung pucat jangan-jangan Ara mendengar percakapannya.


Mendengar Tn.Ferdi bicara dengan seseorang, Ny, Inez bangun dari duduknya setelah selesai menyindir rambutnya. Dia heran melihat Ara sudah berdiri di depan pintu berhadapan dengan suaminya.


“Kau mau apa?” tanya Ny. Inez, langsung menghampiri.


Ara menatap Ny. Inez.


“Nyonya! Maaf aku harus lancang, tapi aku harus mengingatkanmu!” kata Ara.


“Hei-hei, kau ini mau apa? Berani sekali kau bicara seperti itu padaku!” hardik Ny. Inez.


Ara masih menatap Ny.Inez.


“Nyonya, kau kan ibu kandungnya Jack, kenapa Nyonya tega menyakitinya? Dan membiarkan suami Nyonya ingin mempermalukan Jack di rapat pemegang saham?” tanya Ara.


Ny.Inez terkejut mendengar perkataannya Ara, jadi Ara mendengar apa yang dibicarakannya dengan suaminya.


“Kau menguping?” tanya Tn. Ferdi.


Ara menoleh pada Tn.Ferdi.


“Aku sudah tahu akal busukmu Tuan! Seharusnya Tuan malu, selama ini kau menggunakan uangnya Jack dan sekarang tidak mau melepaskan miliknya Jack?” kata Ara.


“Kau siapa? Kau baru beberapa hari disini dan kau berani ikut campur urusanku?” tanya Tn.Ferdi.


“Tuan jangan lupa, aku istrinya Jack. Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Jack. Jack harus tahu semua kejahatan kalian, atau kalau perlu, aku akan minta Jack untuk mengusir kalian dari rumah ini!” kata Ara.


“Kau! Kau berani mengatakan itu? Aku ini ibu kandungnya Jack!” teriak Ny.Inez dengan kesal.


Ara menoleh pada Nyonya Inez.


“Nyonya, kalau Nyonya tahu kalau Nyonya adalah ibu kandungnya Jack, seharusnya Nyonya membela Jack, melindungi Jack dari orang-orang seperti suami Nyonya ini!” kata Ara dengan nada tinggi.


Tn.Ferdi sangat kesal mendengarnya, dia mengangkat tangannya akan menampar Ara tapi langkahnya terhenti saat Ara bicara.


“Kau berani menyentuhku, maka aku pastikan kau tidak akan mendapatkan sepeserpun tunjangan dari Jack! Kau harus ingat sekarang aku berkuasa pada hartanya Jack, jadi kau jangan main api denganku!” ancam Ara menatap Tuan Ferdi.


Mendengar perkataan Ara itu tentu saja Tn.Ferdi semakin kesal tapi dia menurunkan tangannya.


Tn.Ferdi menatap Ara yang juga menatapnya.


“Sepertinya aku sudah tidak perlu berpura-pura lagi padamu. Kita lihat saja siapa yang akan keluar dari rumah ini!” kata Tuan Ferdi, tersenyum penuh ancaman.


Ny.Inez menatap Ara.


“Sebaiknya kau urus saja Jack daripada mengurus urusan yang bukan urusanmu!” kata Ny.Inez.


“Urusan Jack berarti urusanku juga Nyonya, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Jack, termasuk ibunya sendiri!” kata Ara, balas menatap Ny.Inez lalu beranjak meninggalkan mereka saat terdengar suara Jack memanggilnya.


Ny.Inez dan Tn.Ferdi menatap kepergian Ara dengan menahan marah.


Ara segera menuju ruang kerja Jack lagi. Pria itu ada dipintu dengan Pak Beni, sepertinya tamunya sudah pulang.


“Jack kau memanggilku?” tanya Ara.


“Iya,” jawab Jack, menatap Ara.


“Bersiap-siaplah Nyonya, dampingi Tuan menghadiri acara rapat pemegang saham siang ini,” kata Pak Beni.


Ara menolah pada Jack yang sedang menatapnya. Ara tidak tahu apakah Jack mengerti dengan kondisi ini atau tidak, pria itu tidak banyak bicara.


“Baik aku akan bersiap-siap,” ucap Ara lalu mendekati Jack, mengulurkan tangannya menyentuh tangan Jack.


“Aku akan selalu selalu ada disampingmu, Jack,” ucap Ara.


Tangan Jack menyentuh pipinya. Ara tersenyum dan memegang tangannya Jack yang ada dipipinya. Entah ini rasa kasihan atau dia mulai menyayangi Jack, hanya  melihat kondisi keluarga Jack yang seperti ini, dia merasa tidak tega membiarkan Jack sendirian menghadapi keluarganya yang akan berbuat jahat padanya.


“Ayo, aku akan membuatmu bersiap-siap,” ucap Ara.


“Ini hari special untukmu, kau harus tampil keren kan?” kata Ara lagi, sambil menarik tangannya Jack pergi menuju kamarnya.


Pak Beni hanya tersenyum lalu diapun beranjak dari sana.


Ara membuka-buka lemari bajunya Jack, ternyata stelan jas punya Jack hanya ada beberapa saja, sepertinya Ny.Inez memang tidak mempersiapkan Jack untuk sering memakai Jas. Diambilnya salah stau stelan jas itu, lalu kembali ke kamar.


“Jack, aku memilihkan stelan jas yang cocok untukmu,” kata Ara, sambil mendekati Jack yang baru keluar dari kamar mandi.


“Terimakasih,” ucap Jack.


Pria itu langsung saja membuka kemaja yang sedang dipakainya. Ara langsung membalikkan badannya, dia tidak mau melihat tubuh telanjangnya Jack. Padahal dia pernah berada dalam pelukan pria itu, tapi melihat Jack telanjang tetap saja membuatnya malu, karena Jack juga belum pernah memeluknya dengan bertelanjang dada.


Ups! Ara menutup mulutnya dengan tangannya. Kenapa dia malah memikirkan Jack memeluknya bertelanjang dada? Diapun menggelengkan kepalanya menghilangkan fikiran buruknya.


“Apa kau sudah selesai Jack?” tanya Ara.


 “Sudah,” jawab Jack.


Arapun membalikkan badannya dan dia langsung tertegun melihatnya. Pria itu terlihat sangat gagah dengan memakai stelan jasnya yang bermerk. Dia terlihat sangat maskulin, ah dia sangat keren! Seperti pria-pria kaya dalam film. Rasanya tidak percaya pria sekeren itu adalah suaminya.


“Kau kenapa?” tanya Jack membuat Ara terkejut.


“Tidak, kau sangat tampan Jack,” jawab Ara, sambil berjalan mendekati Jack.


“Aku akan memakaikan dasimu,” ucap Ara, sambil tangannya meraih dasi di di tangan Jack.


“Sebenarnya aku tidak tahu cara memasang dasi, cuma aku pernah menggunakanya saat sekolah, semoga aku tidak lupa,” ucap Ara mulai memasukkan dasi ke kerah kemejanya Jack.


“Dulu aku pernah bermimpi jika suatu saat akan memakaikan dasi untuk suamiku,” kata Ara sambil tersenyum.


Tangannya  Ara terus mengikat dasi dilehernya Jack, sambil sesekali memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri memikirkan apa dia tidak salah mengikat dasinya?


Jack hanya menatap wajah didepannya itu. Wajah yang ingin dilihatnya setiap hari disaat dia  bangun tidur.


“Sudah selesai,” ucap Ara, sambil mengusap dadanya Jack, lalu menengadah menatap Jack yang ternyata sedang menunduk menatapnya.


“Jack,” gumam Ara.


Jack tidak bicara, hanya saja beberapa detik kemudian Ara menahan nafasnya saat pria itu mencium bibirnya dengan lembut. Spontan kedua tangannya memegang kerah jasnya Jack, merasakan bibir pria tampan itu ******* habis bibirnya.


Beberapa detik kemudian Jack melepaskan ciumannya perlahan seakan berat untuk melepaskan ciumannya. Diapun kembali menatap Ara. Rona wajah Ara langsung memerah, tidak menyangka Jack akan menciumnya semesra itu.


“Tetaplah disampingku,” bisik Jack.


 “Aku akan selalu disampingmu,” balas Ara, hampir tidak terdengar, karena masih terhipnotis dengan ciumannya Jack.


Tok tok tok! Terdengar suara ketukan dipintu.


***********


Jangan lupa like dan votenya ya.


******