Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-73 Rencana bertemu Arum


Ara kembali menyimpan obat-obatan itu di laci. Dia masih bingung dengan fakta ini, apakah Jack sudah mulai pulih? Bukankah itu hal yang bagus? Dia harus lebih semangat mengurus kesembuhannya Jack.


Ara mengambil koper dan membereskan barang-barang bekal Jack di Paris, sebenaratnya tidak perlu juga karena di Paris semuanya sudah tersedia, tapi sebagai istri yang baik, Ara tetap harus memastikan kebutuhan suaminya tersedia.


Terdengar suara pintu kamar dibuka, Ara menoleh ke arah pintu, ternyata suaminya sudah selesai ngegym. Dia datang bertelanjang dada tanpa menggunakan bajunya lagi. Melihat Jack seperti itu setiap kali juga Ara teringat kalau dia pernah berada dalam pelukannya.


“Jack, aku menyiapkan baju untukmu, apa kau yakin kau ke Paris tanpa ku temani?” tanya Ara, masih melipat bajunya Jack.


Jack tidak menjawab, dia masuk saja menghampiri Ara.


“Seharusnya kau menutup pintunya,” ucap Ara, lalu bangun dan berjalan menuju pintu kamar yang terbuka lalu menutupnya.


Jack berdiri menatap koper diatas tempat tidur itu. Sebenarnya dia ingin mengajak Ara ikut tapi dia harus mengurus pekerjaannya yang sangat penting. Dia harus tahu siapa yang ingin membuatnya gila.


“Kau mau mandi?” tanya Ara, menatap Jack yang masih berdiri.


“Mandi,” jawab Jack, dengan semangat. Kenapa dia malah menyukai dimandikan istrinya? Sepertinya dimandikan istrinya sudah menjadi candu buatnya.


“Iya, ayo,” ajak Ara mengulurkan tangannya mengajak Jack mandi.


Selama Ara memandikannya, Jack termenung, mungkin ini salah satu yang akan dirindukannya jika dia pergi ke Paris beberapa hari. Tapi mengajak Ara ke Parispun bukan hal yang bagus, karena dia punya urusan penting dengan pekerjaannya.


Begitu juga saat Ara mendandaninya. Jack membiarkan apapun yang dilakukan Ara pada dirinya. Pakaian apapun yang dipakaikan istrinya akan dia terima tapi ternyata istrinya tahu pakaian apa yang cocok buatnya.


“Apa Pak Beni sudah menyiapkan keberangkatanmu? Bagaimana dengan Ibumu? Apa Nyonya Inez tahu kau akan ke Paris?” tanya Ara.


Tentu saja Jack tidak menjawabnya. Dia hanya memperhatikan istrinya menyelesaikan mendandaninya.


“Kau tunggu dulu disini, aku mau mandi, nanti kita makan,” kata Ara, mendudukkan Jack di sofa, kemudian pergi.


Jack menoleh kearah Ara pergi, sepertinya ada yang Ara lupakan, kenapa istrinya sampai lupa? Tapi Jack buru-buru berpaling pura-pura tidak memperhatikan Ara saat Ara kembali lagi menghampirinya.


Ara mencondongkan tubuhnya mendekati Jack, lalu dia mencium pipinya Jack. Ternyata istrinya tidak lupa untuk menciumnya!


“Aku tidak menciummu karena aku belum mandi,” ucap Ara, seakan mengerti apa yang Jack fikirkan.


“Apa kau tidak tahu, meskipun kau belum mandi aku selalu menanti ciuman darimu,” batin Jack.


Setelah mencium Jack, Ara segera pergi ke kamar mandi.


Sambil menunggu istrinya mandi, Jack pergi keluar balkon kamar. Berdiri memegang pagar balkon dan melihat kebawah, ke kolam renang yang luas. Ternyata kalau dia berenang akan terlihat jelas dari sana.


Banyak sekali yang Jack fikirkan. Menemukan orang yang mencoba membuatnya gila,  masalah keluarganya, Ara juga Arum yang belum dia temui lagi, dan dia harus menyelesaikan semuanya satu demi satu, setelah itu dia akan membawa Ara ke Paris dan tinggal disana bersama anak-anak mereka. Anak-anak? Jack mengerutkan keningnya, kenapa dia memikirkan anak-anak segala?


Jack mengangkat kedua tangannya keatas lalu ke pinggangnya dan memutar kepalanya, dia merasakan pegal ditubuhnya. Lama tidak berolah raga membuat tubuhnya terasa kaku.


Jack membalikkan badannya dan agak terkejut karena ternyata istrinya sedang berdiri memandangnya.


Istri cantiknya itu sudah mandi dan berdandan minimalis, semakin membuat hatinya merasa berat saja meninggalkannya. Terbersit dalam fikirannya, apakah dia akan membawa Ara pergi saja ke Paris? Daripada nanti di Paris dia merindukannya? Tapi kasihan juga Ara harus bolak-balik keluar negeri dengan perjalanan yang cukup jauh, Jack tidak mau istrinya sakit.


Ara tersenyum padanya. Wanita itu sangat cantik kalau tersenyum, seharusnya dia memeluknya dan menciumnya mencium bau wangi sabun mandinya.


“Kau harus makan sebelum berangkat,” ucap Ara.


Jack tidak menjawab, istrinya sangat giat sekali mengurus makannya. Benar-benar dia harus berolah raga supaya tidak menjadi gemuk.


“Supaya kau tidak masuk angin di jalan, kau juga harus minum obat,” ucap Ara, tangannya terulur meraih tangan Jack. Jack merasakan lembutnya kulit tangan istrinya, tanpa bicara dia mengikuti langkah Ara keluar dari kamar itu.


Ternyata di meja makan sudah ada Ny. Inez dan Tn.Ferdi juga Bastian.


“Jadi kalian akan berangkat ke Paris?” tanya Ny. Inez menoleh  pada Jack dan Ara yang duduk bergabung bersama mereka.


“Iya Nyonya, saya ada janji dengan Dokter Atlantes.” Pak Beni yang menjawab.


“Tapi jangan lama-lama, aku butuh tanda tangan Jack,” kata Tn.Ferdi, mengejutkan.


Ara menoleh pada Tn.Ferdi.


“Tanda tangan untuk apa?” tanya Ara.


“Aku membuka kantor cabang baru jadi butuh tanda tangan Jack untuk biaya pembangunan dan segala macamnya,” jawab Tn.Ferdi, sambil melanjutkan makannya.


Ara mengerutkan keningnya, dia merasa Tn.Ferdi merencanaan sesuatu dengan kekayaannya Jack. Sedangkan Jack hanya diam saja pura-pura tidak peduli dengan apa yang dikatakan Tn. Ferdi. Pria tampan itu mengambil sendok dan mulai makan dari pering yang sudah Ara isi makanan.


“Ini urusan perusahaan,” jawab Tn.Ferdi dengan ketus.


“Lagi pula kenapa kau cerewet? Kau harus ingat kau disini hanya untuk merawat Jack saja, kau tidak perlu ikut campur!” kata Ny. Inez.


 “Bukan begitu Nyonya, kalau jumlah uang itu sangat besar, sebaiknya menunggu Jack sembuh saja,” ucap Ara.


Ara merasa yakin keluarganya Jack mulai akan mengeruk kekayaannya Jack. Seharusnya Jack cepat sembuh jadi bisa melakukan sesuatu pada mereka. Sudah dipastikan Tn.Ferdi sedang membuat scenario membuka kantor cabang untuk menguras uangnya Jack dan perusahaan itu hanya fictive.


“Kenapa tidak tunggu Jack sembuh saja, sekarang Jack sudah lebih baik,” ucap Ara.


“Kau ini selalu bermimpi! Jangan dikira karena Jack bisa mengajakmu berdansa berarti dia sudah sembuh,” keluh Ny. Inez.


“Tapi..” perkataan Ara terpotong.


“Kau benar, kita akan menunggu Jack sembuh dan aku yakin Jack akan segera sembuh,” ucap Tn. Ferdi, membuat semua orang menatapnya.


“Maksud Tuan apa? Kenapa Tuan begitu yakin Jack akan sembuh?” tanya Ara


“Tentu saja karena aku akan meminta Arum untuk merawat Jack,” jawab Tn.Ferdi sambil tersenyum, senyum yang penuh dengan akal bulus.


Tentu saja jawaban Tn.Ferdi itu membuat Ara terkejut bukan main begitu juga Jack dan Pak Beni.


“Omong kosong apa ini?” Ara mulai kesal.


 “Sepulang Jack dari Paris, dia akan bertemu dengan Arum. Aku yakin kehadiran Arum akan membut Jack sembuh lebih cepat. Arum akan merawat Jack sampai sembuh,” jawab Tn.Ferdi.


“Apa-apaan ini Tuan? Kau menyuruh Arum untuk merawat Jack? Aku istrinya Jack, aku yang akan merawat Jack, tidak ada yang lain!” kata Ara dengan nada tinggi, menatap ayah mertuanya itu.


 “Mana hasil kau merawatnya? Dia masih sepeti itu, tidak sembuh-sembuh! Beda kalau Arum yang merawatnya, Arum yang menyebabkan Jack depresi, kehadiran Arum akan mengobati rasa bersalahnya dan dia akan cepat sembuh,” ujar Tuan Ferdi.


“Tidak Tuan, aku tidak akan mengijinkan Jack dirawat oleh siapapunam meskipun itu adalah Arum! Apa Tuan tidak lihat, Jack sudah lebih baik sekarang, dia juga sudah bisa makan dengan rapih,” kata Ara, sambil menoleh pada Jack dan memegang tangannya.


Tiba-tiba Bastian tertawa.


“Cuma begitu saja dibilang akan sembuh!” ujarnya disela tawanya, membuat Ara kesal saja.


“Lama sembuhnya kalau kau yang mengurusnya! Kau sendiri yang bilang kalau mengeluarkan uang perusahaan dalam jumlah besar harus menunggu Jack sembuh kan? Itu adalah cara yang tepat untuk membuat Jack sembuh lebih cepat,” kata Tn. Ferdi.


“Aku tidak percaya wanita itu adalah Arum! aku yakin Tuan berencana busuk kan? Tuan berbohong menyewa seorang wanita untuk mengaku-ngaku Arum kan? Arum itu sudah meninggal dilaut!” ujar Ara dengan nada tinggi. Dia tidak terima kalau suaminya akan dirawat oleh Arum.


Tn.Ferdi minum air minumnya, dia bersikap tenang saja melihat kemarahannya Ara.


“Maaf Tuan, apa benar Arum masih hidup?” tanya Pak Beni penasaran.


“Tentu saja, dia baru ditemukan beberapa waktu lalu, dia sudah ada di rumah orangtua kandungnya. Kau boleh bawa Jack ke Paris, sepulang dari sana aku akan mempertemukan Jack dengan Arum,” jawab Tn. Ferdi.


”Sayang, aku ingin bertemu dengan Imelda juga Arum,” ucap Ny. Inez, menoleh pada suaminya.


“Iya!” jawab Tn.Ferdi.


“Aku ikut!” ucap Ara.


“Apa? Kau mau ikut?” tanya Ny. Inez, menatap Ara.


Jack yang mendengarkan percakapan di ruang makan sedari tadi mencoba untuk bersikap tidak peduli.  Dia juga harus memastikan wanita yang bersama Ny. Imelda itu Arum atau bukan. Tapi dia harus mengurus pekerjaannya dulu ke Paris.


Terdengar lagi suara Ara bicara.


“Aku adalah istrinya Jack, aku tidak bisa membiarkan suamiku bertemu dengan wanita lain meskipun wanita itu adalah Arum!” Seru Ara dengan tegas.


“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Ny. Inez.


“Siapa yang akan menjamin kalau Jack bertemu dengan Arum dia akan sembuh? Bagaimana kalau sebaliknya? Bisa saja Jack malah semakin depresi! Kalian harus ingat, perilaku kalian sudah berada dalam pengawasan pengacara pidana, sekecil apapun yang terjadi pada Jack akan membawa masalah itu keranah hukum,” jawab Ara.


Tentu saja perkataannya Ara itu sangat membuat Tn.Ferdi dan Ny, Inez kesal.


 “Baik, baiklah kalau kau mau bertemu Arum! Kau boleh ikut! Lama-lama kau semakin menjengkelkan!  Aku harus cepat-cepat menendangmu dari sini!” bentak Tn.Ferdi dengan kesal, lalu menyimpan serbetnya ke atas meja dan beranjak meninggalkan ruangan itu padahal makannya belum selesai.


************