
Pak Beni meninggalkan ruang kerja itu, dia berjalan dilorong lantai atas, tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan pelan.
“Pak Beni! Pak Beni!” panggil suara itu.
Pak Beni menghentikan langkahnya, dicarinya sumber suara, ternyata Ara bersembunyi di balik tembok melambaikan tangannya.
Pak Benipun menghampirinya.
“Ada apa Nyonya?” tanya Pak Beni.
“Ada yang ingin ku tanyakan,” jawab Ara.
“Soal apa?” tanya Pak Beni.
“Itu, soal Jack,” jawab Ara.
“Kenapa dengan Tuan?” tanya Pak Beni.
“Sebenarnya Jack itu sudah sembuh belum? Tadi dia terlihat sangat normal,” tanya Ara, menatap Pak Beni dengan serius.
“Mungkin karena dosis obatnya yang ditambah Dokter Mia tadi. Tuan masih bergantung pada obat itu. Jika dia terlambat meminum obat itu, Tuan akan tidak stabil, tidak focus dan tidak bisa konsentrasi, jadi minum obatnya harus rutin dan tidak boleh telat,” ujar Pak Beni, menjelaskan.
“Apa Jack tidak bisa normal terus tanpa obat itu?” tanya Ara.
“Mungkin masih butuh waktu,” jawab Pak Beni.
“Bagaimana kalau ada yang mengambil obatnya atau menukarnya? Disini sepertinya banyak orang-orang yang berbahaya,” ucap Ara, merendahkan nada suaranya.
“Kita harus waspada saja, karena Tuan masih bergantung pada obat itu,” kata Pak Beni.
“Baiklah, aku akan pastikan Jack minum obatnya teratur, biar dia terus bersikap normal. Kalau begitu dia terlihat lebih mempesona,kan?” ucap Ara, di akhiri dengan menutup mulutnya. Dia keceplosan, memuji Jack.
Pak Beni tampak kaget lalu tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu aku harus selalu menemani Jack, bagaimana dengan pekerjaanku?” tanya Ara.
“Saya akan mengurus pengunduran diri Nyonya,” ucap Pak Beni.
“Apa aku harus berhenti bekerja? Pekerjaan itu aku dapatkan dengan susah payah, aku sudah lama bekerja diperusahaan itu,” ujar Ara.
“Tuan Delmar lebih membutuhkan Nyonya,” kata Pak Beni.
“Iya benar, menjaga Jack jauh lebih penting,” ucap Ara.
Pak Beni mengangguk.
“Nyonya bisa minta apa saja pada Tuan,” ucap Pak Beni kemudian.
Arapun diam, benar kata Pak Beni, tanpa bekerjapun dia sudah memiliki segalanya sekarang.
“Baiklah sepertinya sekarang sudah lewat makan malam kan? Tidak ada yang makan? Jack belum makan,” tanya Ara.
Pak Beni menggeleng. Arapun diam, pasti Ny.Inez, suaminya dan Bastain sedang tidak selera makan. Terus dimana Jack?
“Jack harus minum obat. Dia sedang ada di kamar,” gumam Ara.
“Aku akan mengambil makanan dulu, dimana obatnya?” tanya Ara, kemudian.
“Dilemari laci paling atas,” ucap Pak Beni.
Arapun mengangguk lalu dia bergegas menuruni tangga munuju ruang makan.
Pak Beni hanya menatap istri Tuannya itu, kemudian diapun pergi dari tempat itu.
Setelah menyimpan piring-piring makanan diatas nampan, Ara kembali ke kamarnya Jack. Dilihatnya Jack tidak ada dikamar itu, tempat tidurnya kosong.
“Kemana dia?” gumam Ara.
“Jack!” panggil Ara. Tidak ada yang menjawab.
Dilihatnya pintu menuju Balkon kamar terbuka. Apa Jack ada diluar? Gorden tampak bergerak-gerak tertiup angin. Udara malam terasa begitu dingin.
Ara menyimpan nampan makannya diatas meja. Diapun bejalan perlahan menuju jendela, dia menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang dicarinya sedang duduk sendirian menatap lurus kedepan.
“Sedang apa Jack diluar sendirian? Padahal ini jam makan malam, biasanya dia makan banyak, apa tidak lapar?” gumam Ara, diapun mengintip dikaca jendela.
Dilihatnya Jack sedang menunduk lalu menatap lagi kedepan. Ara langsung tertegun, saat Jack seperti menghapus airmatanya. Jack menangis? Apa dia tidak salah lihat? Jack menangis!
Arapun terpaku. Ternyata Jack sedang menangis, pria itu menangis, pasti Jack merasa sedih Ibunya mengabaikannya, ibunya lebih mementingkan hartanya daripada menyayanginya. Kasihan sekali kau Jack, batin Ara. Dia malah ikut-ikutan ingin menangis.
Ara duduk dipinggir tempat tidur, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dilihatnya makanan diatas nampan itu. Kata Dokter Mia, Jack harus selalu bahagia, apa yang harus dilakukannya supaya Jack bahagia?
Ara kembali berjalan menuju pintu balkon yang terbuka itu.
“Jack!” panggilnya dengan hati-hati. Dilihatnya Jack seperti menghapus air matanya.
“Jack, apa kau baik-baik saja?” tanya Ara, berdiri dipintu keluar balkon.
Jack tidak menjawab, dia menoleh kearah Ara muncul.
“Kau belum makan kan? Aku membawakan makanan untukmu,” ucap Ara, lalu kembli masuk kedalam kamar mengambil nampan berisi makanan itu lalu kembali lagi.
“Ayo makanlah,” kata Ara, menyiukkan sendok itu lalu disodorkan pada Jack.
“A!” ucap Ara, membuka mulutnya.
Jack malah menatapnya.
“Makan,” ucap Ara, sambil membuka mulutnya lagi.
Jack melihat pada sendoknya yang berisi makanan itu.
“Kenapa?” tanya Ara melihat sendoknya.
Jack tidak menjawab.
“Special malam ini saja aku menyuapimu, besok besok kau makan sendiri, ayo makanlah,” kata Ara, sendoknya didekatkan kemulutnya Jack.
“Apa kau sudah makan?” tanya Jack.
“Belum sih, aku membawakannya untukmu. Melihat kejadian ini kau pasti tidak merasa laparkan? Tapi kau harus tetap makan dan minum obat, supaya kau tetap sehat,” jawab Ara.
Tiba-tiba Jack mengambil sendoknya.
“Eh kenapa?” tanya Ara, keheranan.
Jack tidak menjawab, sebelah tangannya malah meraih dagunya Ara dan mendekatkan sendoknya itu.
“Makan,” ucap Jack.
“Ah tidak, aku kan membawa makanan ini untukmu, kenapa jadi aku yang makan,” ucap Ara, menepiskan tangan Jack yang memegang dagunya.
“Makan,” ulang Jack, memaksa.
“Apa kau akan senang kalau aku makan?” tanya Ara, asal saja bicara. Pertanyaan konyol, batinnya. Ternyata Jack menaggapinya serius.
“Iya, aku senang,” jawab Jack, membuat Ara terkejut dan menatapnya.
Jack kembali menyodorkan sendok itu ke mulut Ara.
“Ya baiklah, demi membuatmu senang,” ucap Ara, sambil membuka mulutnya, karena dia lapar jadi Ara mengunyah makanan itu juga.
Belum habis makanan di mulutnya, tiba-tiba satu sendok lagi sudah ada di depannya.
“Kau terlalu banyak mengisinya Jack, sedikit-sedikit kalau makan,” ucap Ara, sambil membuka mulutnya lagi.
Pria itu tidak menjawabnya, kembali menyuapi Ara.
“Jack, kata Dokter Mia, kau harus selalu bahagia, bagaimana kalau kita buat jadwal bersama?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab, dia mengisikan sendok yang sudah kosong tadi.
“Pertama bagaimana kalau kau mengajariku bahasa Perancis? Aku sangat terkesan kau bisa bahasa Perancis,” usul Ara, dengan mulutnya kembali penuh makanan.
Jack tidak menjawab, kembali mengisi sendok yang kosong itu
“Ah kau mulai sedikit bicara lagi. Kau tidak suka mengajariku bahasa Perancis? Ya sudah, bagaimana kalau kau mengajakku ngegym? Kata Pak Beni disini ada ruangan buat ngegym kan? Aku juga ingin perutku rata sepertimu, tubuhku tidak bagus,” ucap Ara, sambil memegang perutnya sendiri. Jack melihat kearah yang dipegang
istrinya itu, lalu pada wajahnya Ara yang terus saja bicara sambil makan. Tapi pria itu tidak bicara apa-apa.
Ara mendekatkan wajahnya lagi membuka mulutnya. Tapi Jack ternyata hanya diam saja.
“A! Aku masih lapar!” ucap Ara, lalu menoleh pada piring itu ternyata isinya sudah habis.
“Ternyata sudah habis, cepet amat habisnya? Apa aku terlalu sedikit mengisinya? Aku pasti akan tambah gemuk. Kau benar-benar harus mengajakku ngegym,” ucap Ara, kembali memegang perutnya.
Tapi ternyata apapun yang dikatakan Ara tidak membuat Jack bicara. Arapun akhirnya diam, maksud hati ingin membuat Jack bahagia ternyata tidak berhasil, pria itu hanya diam saja.
Tiba-tiba Ara menatap Jack.
“Jack!” panggilnya. Jack balas menatapnya.
“Jack kau diam saja dari tadi!” keluh Ara dengan lesu tapi sedetik kemudian dia berdiri menghadap Jack.
“Jack! Aku tahu kenapa kau diam saja!" Seru Ara. Jack hanya menatapnya.
"Sepertinya pengaruh obat itu sudah mulai hilang! Kau harus minum obat!” seru Ara lagi, bersemangat.
Diapun langsung mengambil piring yang sudah kosong itu pergi meninggalkan Jack. Pria itu hanya diam saja.
Selang beberapa waktu kemudian Jack mengambil gelas yang ada dimeja itu yang akan diminumnya tapi baru juga menempel di mulutnya, ada suara-suara mengagetkannya.
Geruduk geruduk! Terdengar suara roda berisik. Jackpun menoleh kearah suara. Istrinya itu muncul bersama seorang pelayan membawa meja beroda yang penuh dengan makanan.
************
Yang slow dulu ya..maaf aku potong ternyata ga cukup satu episode..next episode..
***********