Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-59 Kedatangan ayahnya Ara


Sejak pembicaraan Ara di ponsel dengan ayahnya itu, Ara merasa malu jika Jack menatapnya. Padahal belum tentu Jack mengerti dengan apa yang dikatakannya. Tapi tetap saja dia merasa malu.


Apa lagi saat sore hari memandikan Jack, dia merasa sangat gugup kalau harus mengurus bagian privasi itu. Dan yang anehnya saat memandikan Jack,  bagian yang sangat privasi itu hanya dalam satu kali siulan sudah terdengar suara air ke toilet. Sepertinya bagian itu sudah menurut padanya dan mengenal suara siulannya.


“Bagus Jack,” hanya itu yang diucapkan Ara saat siulannya berhasil membangunkan bagian itu. Tentu saja berhasil karena tanpa diberi siulanpun Jack bisa buang air sendiri.


Ara membalikkan badannya dan memejamkan matanya setiap kali menutup bagian itu kembali. Jack yang sedari awal meminta Pak Beni untuk pura-pura memandikannya, kini malah merasa terbiasa dimandikan oleh Ara.


Jack hanya akan menatap wajah istrinya itu yang menggosok-gosok tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tangan-tangan lembut itu menyusuri seluruh tubuhnya tidak ada yang terlewat. Sepertinya Jack sudah rela kalau tubuhnya disentuh istrinya sepuasnya.


Apalagi masih terngiang ditelinganya kalau Ara mengatakan mereka sering berhubungan. Sungguh sebuah teka-teki yang membutuhkaan jawaban! Tapi dari cara Ara yang tidak mau melihat ‘Jendral kecilnya’ itu menunjukkan kalau sebenarnya mereka belum pernah melakukannya. Jangankan berkali-kali sekalipun tidak, istrinya itu hanya menghindari supaya ayahnya tidak menyuruhnya meninggalkannya.


Keesokan harinya…


Ruang kerja Jack kembali penuh dengan anggota keluarga dan para pengacara yang kini ditambah dengan Pengacara bidang hukum pidana.


Dengan wajah yang muram, Ny. Inez, Tn. Ferdi dan Bastian terpaksa menandatangani surat pernyataan kalau mereka tidak akan mengganggu Jack lagi dan dari pihak pengacara akan memonitir kondisi Jack secara berkala, jika terlihat ada insikasi yang mengarah pada pidana mereka akan secepatnya mengkasuskan masalah itu dan melaporkannya ke kepolisian.


“Baiklah, Tuan dan Nyonya, semua  sudah beres. Surat pernyataan sudah dibuat dan di tandatangani oleh semua anggota keluarga Tuan Delmar. Jadi kita akan memproses pencairan uangnya,” kata Pengacara.


Pengacara itu memberikan bollpoint untuk Jack menandatangani berkas itu. Dan kali ini Jack mau menandatangani berkas-berkas itu juga ceknya.


Sebenarnya ini bukan masalah uang, Jack masih memikiran kalau mereka adalah bagian dari keluarganya dan Bastian adalah adiknya. Tentu saja sebagai kakak yang memilki banyak uang, tidak masalah bagi Jack untuk membiayai biaya pernikahan adiknya meskipun dengan cara seperti ini.


Ara merasa lega meskipun Jack mengeluarkan uang begitu banyak, yang paling penting baginya adalah mereka tidak akan mengganggu Jack lagi, Ini juga sebagai peringatan pada keluarga Jack untuk tidak coba-coba mencelakai Jack lagi.


 Malam telah tiba, saat semua anggota keluarga sedang makan malam.


“Jack, belajar makan sedikit-sedikit ya,” ucap Ara, sambil memegang tangan Jack, menyiukkan makanan  di piringnya Jack seukuran sendok. Biasanya Jack akan makan dengan sendok yang penuh dan berjatuhan.


Jack melirik sebentar pada tangannya yang dipegang istrinya itu, barulah dia makan.


“Bagus begitu, sekarang kau semakin pintar,” ucap Ara.


Bastian tertawa mengejek. Ara menoleh pada Bastian, menatap tajam.


“Kau mulai lagi Bastian!” maki Ara.


“Melihatnya saja sudah membuat orang lain merasa malas untuk makan,” ucap Bastian.


“Jack sudah berubah, dia sudah mau makan lebih sedikit dan teratur, kau lihat kan? Dia makan tidak tergesa-gesa lagi,” ujar Ara, sambil kembali membantu Jack menyiukkan makanan lagi secukupnya seukuran sendok.


“Biarkan saja, itu memang sudah tugasnya dia mengurus Jack,” ucap Ny. Inez.


“Kapan rencananya kita akan kerumahnya Kinan?” tanya Tn.Ferdi menatap Bastian.


“Secepatnya setelah uang itu cair, tapi aku tidak mau kakakku yang gila itu ikut, aku malu,” ucap Bastian.


Ara langsung menoleh pada Bastian.


“Walau bagaimanapun Jack kakakmu, tidak seharusnya kau bersikap begitu! Kau juga bisa memberikan hadiah buat Kinan dari uangnya Jack!” ucap Ara, dengan kesal. Dia heran dengan keluarga ini, sebegitunya membenci Jack tapi uangnya mau.


“Alah sudahlah tidak perlu di besar-besarkan! Itu tidak seberapa kalau dibanding dengan uang yang kakak punya!  Belum persyaratan ngeyelmu itu! Kalau bukan karena aku tidak mau lamaranku gagal aku tidak mau tandatangan! Lagi pula dia kalau ikut juga tidak ada gunanya,” kata Bastian.


“Bastian! Kau tidak ada terimakasihnya!” bentak Ara.


Tapi Bastian tidak peduli dan kembali makan.


“Kalian jangan ribut!” ujar Ny.Inez, membuat Ara dan Bastian diam.


Ara menatap Jack lalu tersenyum, tangan kanannya mengusap punggungnya Jack.


“Kau yang sabar,” ucap Ara.


“Sudahlah tidak perlu lebay!” gerutu Bastian.


“Kau memang keterlaluan Bastian!” keluh Ara.


“Kau membuat tidak berselera!” ucap Bastian, lalu menyimpan sendoknya dan berdiri.


“Kau mau kemana? Makanmu belum habis,” ucap Ny. Inez.


“Aku mau makan diluar saja dengan Kinan!” jawab Bastian, lalu meninggalkan ruang makan itu.


Ny. Inez menoleh pada Ara.


“Kenapa kau masih saja membuat keributan?” keluh Ny. Inez.


Ara tidak menjawab, dia juga sama tidak mau berdebat dengan mertuanya. Dilihatnya Jack yang makan dengan teratur, dia merasa senang. Tadinya dia fikir Jack  akan makan seperti dulu lagi, ternyata tidak.


Untuk urusan makan, Jack merasa bingung, dia tidak bisa makan sebanyak yang diberikan Ara padanya.


“Nyonya Ara, ada tamu sudah menunggu di ruang tamu,” kata Pak Atam.


Semua mata menoleh kearah Pak Atam kecuali Jack.


“Siapa?” tanya Ara.


“Pak Amril,” jawab Pak Atam, membuat Ara terkejut dan menghentikan makannya. Semua mata beralih menatap Ara.


“Ada apa Ayahmu kemari?” tanya Ny. Inez.


Wajah Ara langsung saja pucat, kenapa ayahnya tiba-tiba datang kerumah padahal dia sudah bilang kalau dia sedang ada di Paris.


“Jack kau selesaikan makanmu, aku mau menemui Ayahku,” ucap Ara, lalu bangun dari duduknya dan meninggalkan ruang tamu itu.


Jack mengaduk-aduk makannya, hatinya merasa tidak nyaman, apakah ayahnya Ara akan menjemput Ara? Apa yang harus dilakukannya? Dia tidak mungkin bicara pada ayahnya Ara kalau dia sudah sembuh, pada Ara saja dia masih merahasiakannya. Ini terlalu dini untuk mengatakan kalau dia sudah sembuh.


Ny. Inez dan Tn.Ferdipun menyelesaikan makannya.


“Aku ingin tahu ada apa Pak Amril datang kemari?” ujar Ny. Inez, sambil melirik pada suaminya lalu mereka berdua kekuar dari ruang makan itu.


Jack tidak mau ketinggalan tapi dia berusaha untuk pura-pura tidak peduli dulu, makan sampai makannya habis, diapun mempercepat makannya. Dia tidak bisa membiarkan ayahnya Ara membawa Ara pergi.


Ara memasuki ruang tamu itu. Dilihatnya Ayahnya sudah duduk di sofa ruang tamu.


“Ayah!” panggil Ara.


Pak Amril langsung berdiri saat milihat putrinya menghampirinya.


“Kau berbohong pada Ayah?” tanya Pak Amril dengan raut tidak suka.


“Maaf Ayah, aku…” Ara merasa bingung harus bicara apa.


“Kau keterlaluan! Kau berani membohongi Ayahmu!” maki Pak Amril.


“Ayah aku tidak bermaksud begitu,” ucap Ara mendekati ayahnya.


“Ayah tidak suka dengan sikapmu ini! Kita perlu bicara, ayo kita pulang! Kita bicarakan dirumah,” kata Pak Amril.


“Tapi Ayah,” Ara kebingungan lagi.


“Ada besan!” terdengar suara Tn.Ferdi masuk keruangan itu, tersenyum dipaksakan sambil menghampiri Pak Amril.


“Tuan, maaf aku tidak bisa basa-basi lagi, aku kesini akan membawa putriku pulang!” ucap Pak Amril membuat Tn.Ferd dan Ny. Inez terkejut.


“Apa? Membawa pergi putrimu? Kenapa?” tanya Tn.Ferdi pura-pura peduli padahal dalam hatinya merasa senang.


“Saya baru tahu kalau ternyata Tn. Jack Delmar itu depresi! Saya kecewa kalian tidak mengatakan keadaannya sebelum pernikahan! Kalau dari awal saya tahu soal itu saya tidak akan menikahkan putri saya dengan Tn.Jack,” kata Pak Amril.


“Hem. itu sih kesalahan kalian sendiri. Kenapa kalian tidak mencari tahu soal Jack dari awal? Begitu mendapatkan hadiah banyak kalian langsung saja mau menikahkan putrimu dengan Jack, jangan salahkan kami!” kata Ny. Inez.


“Tapi kalau kau ingin membawa putrimu, kami tidak keberatan, silahkan dengan senang hati,” ucap Tn. Ferdi.


Jack yang sudah menyelesaikan makannya segera bangun dan pergi ke ruang tamu, tapi dia tidak bisa langsung nimbrung, tapi dia bersembunyi dipntu, mengintip mereka. Dia bingung harus bagaimana mencegah Ara dibawa ayahnya? Nanti siapa yang akan memandikannya? Kenapa dia memikirkan mandi?


“Tuan!” Terdengar suara Pak Beni memanggilnya.


Jack langsung menoleh pada Pak Beni lalu melambaikan tangannya pada Pria beramhut putih itu.


“Pak Beni, bantu aku supaya istriku jangan dibawa pulang oleh Ayahnya!” kata Jack, dengan mata yang melihat ke sekeliling jangan sampai ada yang melihat dia bicara dengan Pak Beni.


“Semua CCTV sudah dimatikan, Tuan,” ucap Pak Beni.


Pak Beni tampak terkejut, diapun lansung mengangguk, dan tangannya langsung memegang tangan Jack membawanya masuk ke ruang tamu itu.


Melihat Jack datang, Ara langsung menghampiri Jack.


“Jack, ini Ayahku bertamu,” ucapnya dengan gugup, sambil memeluk tangannya Jack dibawa  mendekati ayahnya.


“Ayah,” ucap Jack.


Pak Amril menatap Jack, memperhatikannya dari atas sampai bawah.  Selain tampan, suami putrinya itu terlihat tidak seperti Depresi, dia terlihat sangat normal.


******


Readers, ingat ya jika aku up sehari 2 bab likenya di tiap bab. Sayang kan cape cape  nulis tidak di like.


*******