Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-117 Kedatangan Ny. Imelda


Jack keluar dari ruang kerjanya bersama Pak Beni yang membawa berkas ditangannya.


“Pak Beni sudah mengundang semua jajaran manajeman diperusahaan?” tanya Jack.


“Sudah Tuan,” jawab Pak Beni.


Jack menghentikan langkahnya menatap Pak Beni.


“Siapkan juga semua pengacaraku, aku ingin semua urusan disini beres sebelum aku pergi ke Paris,” kata Jack.


“Baiklah Tuan, akan saya jadwalkan nanti sore setelah rapat manajemen,” jawab Pak Beni.


Jack kembali melanjutkan langkahnya tapi saat membalikkan badannya, ternyata istrinya sudah berdiri menatapnya sambil cemberut.


“Sayang, kenapa kau keluar kamar? Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan untukmu di kamar,” kata Jack.


Ara tidak menjawab, menatap pria itu dengan tajam. Melihat sikap Ara begitu, Jack menoleh pada Pak Beni, yang segera pergi meninggalkan mereka.


“Kau akan ke Paris tanpa bicara padaku?” tanya Ara dengan ketus.


Jack terkejut Ara marah seperti itu.


“Aku tidak ada rencana ke Paris dalam waktu dekat ini,” kilah Jack. Dia mendekati Ara, tangannya meraih tangan Ara tapi istrinya malah menjauh.


“Kenapa kau selalu merahasiakan banyak hal dariku?” keluh Ara.


“Tidak ada yang dirahasiakan, setelah urusan disini selesai, aku memang akan kembali ke Paris, tentunya denganmu juga,” kata Jack, mencoba menenangkan Ara supaya tidak curiga yang berlebihan.


Arapun diam.


“Kau sedang lelah, istirahatlah!” kata Jack, meraih tangan Ara.


“Jangan berfikiran yang macam-macam, kau fikir aku akan pulang ke Paris sendirian? Tentu saja aku akan membawamu,” lanjut Jack lagi.


Ara masih diam, tapi hati kecilnya berkata lain, Jack sedang menyembunyikan sesuatu.


“Kenapa lagi?” tanya Jack saat Ara menatapnya.


“Kau tidak sedang berbohong padaku kan? Suami istri itu harus saling jujur, terbuka,” kata Ara.


Jack tersenyum mendengarnya, dia langsung memeluk Ara dan mencium keningnya.


“Aku bicara yang sebenarnya,” ucap Jack. Tapi Ara tetap merasa Jack menyembunyikan sesuatu.


Terdengar suara langkah mendekati mereka. Jack dan Ara menoleh kearah yang datang, ternyata Pak Beni.


“Ada apa lagi?” tanya Jack.


“Ada Ny.Imelda, dibawah!” jawab Pak Beni, membuat Jack dan Ara terkejut.


“Ny.Imelda? Mau apa?” tanya Ara, dengan nada tidak suka.


Jack menoleh pada istrinya. Dia tahu Ara tidak suka dengan Arum.


“Kau kembali ke kamar, aku akan menemui Ny.Imelda,” kata Jack.


“Tidak, aku harus ikut, aku ingin tahu Ny.Imelda ada perlu apa? Apa masalah Arum lagi?” kata Ara dengan wajahnya yang semakin masam.


“Baiklah,” jawab Jack, langsung menggendong Ara, dia tidak mau istrinya berlama-lama marah seperti itu.


“Jack! Aku bisa jalan sendiri!” seru Ara, dengan kaget dan langsung memeluk lehernya Jack. Tapi pria itu sama sekali tidak mendengarnya, tetap mennggendongnya menuruni tangga menuju ruang tamu.


Saat mereka masuk ke ruang tamu, raut muka Ny.Imelda langsung berubah, dia tidak suka melihat pemandangan ini. Melihat Jack yang sudah sembuh terlihat hidup bahagia dengan istrinya, sedangan putrinya tidak pernah bisa kembali lagi. Dia tidak rela melihat Jack bahagia.


“Jack! Aku dengar dari ibumu kau sudah sembuh! Syukurlah! Aku senang mendengarnya!” kata Ny.Imelda berbasa basi.


Jack mendudukkan Ara dikursi. Ny. Imelda melirik Ara dengan tidak suka, lalu menoleh pada Jack yang berdiri menatapnya.


“Jack kau harus menolong Arum! Kasihan dia!” kata Ny. Imelda langsung memegang tangan Jack.


“Kenapa dia?” tanya Jack.


“Ternyata selama ini Arum mengalami trauma kejadian dilaut itu! Hanya saja untung Arum tidak depresi sepertimu. Dia suka mengigau dan histeris, aku baru tahu kalau dia suka seperti itu! Kau tengok dia ya,” kata Ny. Imelda, membuat Jack dan Ara terkejut.


“Istrimu sudah mendorong Arum jatuh ke kolam, katanya kau juga tidak menolongnya, jadi dia kembali trauma. Kenapa kau tega seperti itu pada Arum? Kau sudah membuat hidupnya menderita!” kata Ny.Imelda lagi mulai dramatis.


“Apa kau tahu, Arum itu tinggal dipantai dalam keadaan ekonomi keluarga pungutnya yang kekurangan. Hidupnya sangat berat, apa kau tega membiarkan dia menderita seumur hidupnya?” lanjut Ny Imelda panjang lebar.


Jackpun diam mendengar perkataan Ny.Imelda. Dia tidak yakin itu Arum.


“Kau harus menolongnya Jack! Berikan perhatian padanya! Kasihan dia!” kata Ny.Imelda.


Melihat gelagat seperti itu membuat Ara merasa tidak terima. Apa arti dari semua ini? Apakah ini awal gunjang ganjing dalam pernikahannya? Arapun berdiri menatap Ny.Imelda.


“Nyonya! Itu bukan tanggung jawab Jack, bawa Arum ke Dokter!” kata Ara.


Ny.Imelda menoleh pada Ara.


“Tapi Jack yang membuat hidup Arum menderita! Kau fikir aku tidak menderita kahilanganputriku? Sudah sewajarnya Jack memperhatikan Arum! Jack harus bertanggung jawab!” kata Ny.Imelda dengan nada tinggi.


 “Dia bisa berenang,” kata Jack, tiba-tiba membuat Ny. Imelda menoleh.


“Tidak, dia tidak bisa berenang! Kau tahu kan dari dulu Arum takut air,” ujar Ny.Imelda.


“Nyonya, aku tidak yakin kalau itu Arum putrimu,” kata Ara.


“Sudah aku katakan, kami sudah tes DNA! Sudahlah tidak perlu berdebat soal itu lagi, aku kesini hanya minta Jack untuk menengok Arum,” ujar Ny.Imelda dengan ketus.


Arapun diam. Dia tidak masalah kalau gadis itu Arum teman kecilnya Jack cuma dia tidak suka kalau urusan Arum harus melibatkan Jack. Dia takut Jack lebih perhatian pada Arum daripada kepada istrinya.


“Kau mau kan menjenguknya?” tanya Ny.Imelda pada Jack.


Jack tampak berfikir sejenak, dalam benaknya dia harus melihat apakah Arum itu memiliki tahi lalat itu atau tidak.


“Baiklah, aku akan menjenguknya, tapi nanti setelah aku selesai meeting di kantorku,”jawab Jack.


“Jack kau serius akan menengok Arum?” tanya Ara.


“Iya, aku ingin melihatnya,” jawab Jack.


Mendengarnya membuat Ara diam. Tentu saja Jack punya ikatan kuat pada Arum, dia pasti tidak akan tega membiarkan Arum sakit.


“Baiklah kalau begitu aku tunggu di rumah,” kata Ny.Imelda.


Jack menoleh pada istrinya yang menatapnya, Ara tidak suka Jack menengok Arum, tapi dia juga tidak bisa melarang jika benar Arum itu sakit.


“Sayang aku berangkat dulu,” kata Jack, mendekati Ara lalu memeluk dan mencium bibirnya.


Ny. Imelda memperhatikan mereka.


“Maaf Jack aku tidak bisa membiarkan kau bahagia dengan istrimu,” batin Ny. Imelda.


Setelah berpamitan pada istrinya, Jackpun keluar dari ruangan itu. Diluar Pak Beni sudah menunggunya. Ara hanya mengantar sampai pintu menatap kepergian mobil itu.


Setelah mobil itu menghilang dari pandangannya, Ara membalikkan badannya menatap Ny.Imelda yang masih ada diruangan itu.


“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Ny.Imelda.


“Aku tidak tahu apa yang ada dalam fikiranmu, Nyonya. Seharusnya Nyonya tidak melibatkan Arum pada kehidupan Jack lagi, siapa Arum? Dia bukan siapa-siapa Jack, dia hanya masalalu!” jawab Ara.


Ny. Imelda mendekati Ara, sangat dekat dan menatap mata istrinya Jack itu. Ara juga membalas tatapannya.


“Arum memang masa lalu Jack, tapi masa lalu yang buruk yang tidak akan pernah terlupakan olehnya! Lambat laun kau akan menyadarinya!” kata Ny.Imelda.


“Apa kau ingin menghancurkan rumah tanggaku?” tanya Ara, terus terang.


“Terserah kau mau bilang apa, yang pasti aku tidak suka melihat Jack bahagia, sedangkan putriku menderita,” kata Ny.Imelda.


Lama mareka saling pandang, Ara melihat sorot kebencian di matanya Ny.Imelda. Ibunya Arum itu sangat membenci Jack.


Beberapa saat kemudian Ny. Imelda memalingankan mukanya, entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan tatapannya Ara itu.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Ny. Imelda keluar dari ruangan itu. Sedangkan Ara duduk di sofa mencoba menenangkan dirinya. Dia fikir dengan sembuhnya Jack maka tuntas sudah masalah dalam pernikahannya tapi ternyata tidak seperti itu. Hatinya semakin gelisah, apakah akan ada badai dalam rumah tangganya?


*****


Di rumah orang tuanya  Ara.


Pak Amril tampak sibuk balik-balik ke mobilnya yang sedang dipanaskan. Pakaiannya sudah rapih akan berangkat bekerja.


“Pak Amril! Mau berangkat kerja?” terdengar suara seseorang memanggilnya.


Pak Amril menoleh kearah jalan raya. Seorang pria sebayanya berdiri di gerbang rumahnya, melihat stelan baju olahraga yang dipakainya, menunjukkan pria itu sudah lari pagi.


“Pak Agus! Ada disini?” tanya Pak Amril sambil menutup pintu mobil, tersenyum ramah pada orang yang menyapanya itu.


“Iya Pak!” jawab Pak Agus, sambil tersenyum senang.


Pak Amril langsung menghampiri dan menyalami Pak Agus.


“Kapan datang?” tanya Pak Amril.


“Kemarin, Ayahku kan sakit-sakitan, jadi mulai sekarang aku harus sering menengoknya,” jawab Pak Agus.


“Iya, bagaimana kabar Pak Toto, sudah lebih baik?” tanya Pak Amril menanyakan tetangga kompleknya itu.


“Seperti biasa, kalau anak cucu datang, beliau langsung sehat, jadi saya sekeluarga harus sering datang kemari,” jawab Pak Agus.


Pak Amril menganggukk-anggukkan kepalanya.


“Bagaimana Kartu Keluarganya sudah beres semua?” tanya Pak Agus.


“Kartu Keluarga? Kartu Keluarga apa?” tanya Pak Amril, tidak mengerti.


“Loh, bukannya Pak Amril minta pengacara untuk membuatkan KK yang baru? Sebenarnya untuk KK bisa langsung ke Desa atau Kelurahan saja, tapi pengacara Pak Amril malah datang ke kantorku, minta keterangan lahirnya putri Bapak, Arasi,” kata Pak Agus, yang bekerja di instansi pemerintahan data penduduk di Ibu kota.


“KK baru? Pengacara? Keterangan lahir Arasi?”Pak Amril semakin bingung, dia tidak merasa menunjuk pengacara untuk membuat KK baru.


*********


Readers, maaf upnya telat, aku ngurus kebun dulu. Baru pulang langsung nulis.


Yang kemarin ngasih tips terimakasih banyak. Jangan lupa like dan gift juga ya.


*********