
Ara menatap Paman Favier dengan perasaan yang harap-harap cemas, sudah tidak sabar ingin mendengar kabar soal Jack. Ternyata cukup lama Paman Jack itu mencari informasi soal keberadaan Jack.
Tapi tidak berapa lama kemudian Paman Favier menutup telponnya.
“Bagaimana Paman?” tanya Ara, menatap Paman Favier.
Paman Favier menatapnya dengan serius.
“Ada kabar baik dan kabar buruk,” jawab Paman Favier.
“Kabar baik dan kabar buruk?” tanya Ara.
Paman Favier mengangguk, membuat Ara semakin tegang saja.
“Kabar baiknya, pasukannya Jack sudah sampai ke perbatasan, kemungkinan akan segera ditarik dan kembali ke Perancis,” jawab Paman Favier.
Mendengarnya membuat Ara tersenyum senang.
“Kabar buruknya…” ucap Paman Favier.
“Apa Paman?” tanya Ara, semakin deg degan saja.
“Mungkin dalam beberapa hari ini Jack akan sampai di Paris,” jawab paman Favier.
Mendengarnya membuat Ara tersenyum senang, Paman Favier juga, termasuk Pak Beni.
Ada butiran bening muncul dimatanya.
“Mungkin sekitar beberapa hari lagi Jack tiba di Paris,” lanjut Paman Favier.
Ara mengangguk, dengan derai airmata yang langsung jatuh ke pipinya. Tapi ini bukan tangis sedih tapi tangis bahagia, Jack akan pulang. Dipegangnya perutnya itu lalu di usapnya perlahan.
“Sayang, Ayahmu akan pulang,” ucap Ara dengan senang hati, airmata terus menetes dipipinya, dia sangat rindu pada suaminya.
“Kau bisa menyambutnya pulang saat pesawat mereka tiba di Paris, sebaiknya kau jangan pulang dulu. Kau bisa datang ke acara penyambutan kedatangan pasukan GIGN,” kata Paman Favier.
Ara langsung mengangguk senang. Bahagianya mendengar semua itu. Hatinya sangat lega mendengarnya. Diapun menoleh pada Pak Beni yang mengangguk dan tersenyum, ikut bahagia.
“Tapi kenapa Jack tidak menghubungiku?” tanya Ara.
“Mungin lokasinya tidak memungkinkan untuk komunikasi, banyak jaringan alat komunikasi yang rusak, banyak hal terjadi dalam kondisi konflik seperti itu,” jawab Paman Favier.
“Aku sangat merindukan Jack,” ucap Ara menatap Paman Favier.
Pamannya Jack itu mengangguk, dia memahami perasaannya Ara.
“Sayang, apa yang Jack lakukan adalah tugas mulia, mengevakuasi banyak orang di lokasi yang darurat seperti itu. Akan banyak doa dan ucapkan terimakasih buat suamimu. Pengorbananmu tidak akan sia-sia, kelak doa-doa mereka akan membawamu dalam kebahagiaan,” ucap Paman Favier.
Arapun menganguk.
“Kau tunggu kabar dariku, nanti aku antar ke lokasi penyambutan kedatangan mereka,” kata Paman Favier.
Ara menatap Paman Favier itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iya Paman,” jawabnya.
“Kau tenanglah sekarang, Jack akan pulang,” ucap Paman Favier.
Ara kembali mengangguk.
Sepulangnya dari rumah Paman Favier, hati Ara begitu bahagia, dia sangat senang mendengar kabar Jack akan pulang beberapa hari lagi, dan Paman Favier mengajaknya untuk menyaksikan penyambutan kembalinya pasukan GIGN ke Perancis. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jack.
Tidak lupa, Ara menelpon Ny. Inez juga kedua orangtuanya.
***********
Di sebuah ruangan…
Pria itu duduk bersandar di kursi warna hitam yang sedikit bergerak gerak.
“Ini sudah terlalu lama aku menunggu dan kalian sama sekali tidak ada gunanya,” kata pria itu.
“Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk membayar kalian!” bentaknya, tiba-tiba menggebrak meja.
“Maaf Tuan, kita tidak bisa mengikuti pasukannya Jendral Jack Delmar, mereka melewati jalanan yang terbuka, kita tidak bisa mengikutinya terus, tadi ada tempat untuk kita bersembunyi, kita harus menunggu Jendral kembali,” kata pria yang berdiri didepan meja itu.
“Terus ada kabar apa lagi?” tanyanya.
“Mereka akan kembali ke Paris beberapa hari lagi,” jawab pria itu.
Pria yang duduk itupun bangun dari kursinya, berjalan dengan satu tongkatnya, dengan tertatih, berjalan ke tengah ruangan itu.
“Kau lihat ini?” tanyanya sambil menunjuk kakinya.
“Sudah berbulan-bulan aku seperti ini! Dan aku dinyatakan cacat selamanya! Aku tidak terima semua itu!” kata pria itu yang tiada lain Tn.Ferdi.
Pria yang berdiri itu tidak menjawab. Tn.Ferdi kembli ke mejanya lalu duduk di tempatnya yang tadi, dikeluarkannya sesuatu didalam laci meja itu. Sebuah senjata api disimpan diatas meja.
“Karena kerja kalian tidak becus, aku sendiri yang akan menghabisinya dengan tanganku!” ucap Tn.Ferdi, sambil memegang senjata itu, tersenyum sinis.
“Kau kerjakan tugasmu dengan baik, bawa dia kehadapanku, aku tidak akan membiarkan dia kembali ke Paris! Jendral itu akan membusuk di negera orang! Selamanya!” kata Tn.Ferdi penuh dendam.
“Baik Tuan!” jawab pria itu lalu keluar dari ruangan itu.
Tn.Ferdi menatap senjata api yang ada ditangannya.
“Aku akan puas kalau kau mati ditanganku, Jendral!” ucapnya, sambil mengusap- usap senjata api itu.
**********
Beberapa hari kemudian…
Pasukan mobil militer itu memasuki perkotaan. Sorak sorai kegembiraan terpancar di wajah mereka, tidak henti-hentinya mereka bernyanyi sepanjang jalan, sungguh mereka sedang berbahagia.
Jack duduk dimobil yang terpisah, disamping ajudannya yang menyetir. Diapun mengeluarkan ponselnya.
“Ponselku sudah rusak, apa data nomor-nomor masih bisa diselamatkan?” tanya Jack.
“Kita cari layanan ponsel, Jendral! Barangkali datanya masih bisa diselamatkan,” jawab ajudannya.
“Aku ingin menelepon istriku,” jawab Jack.
“Anak-anak akan langsung ke hotel?” tanya Jack.
“Iya Jendral, mereka sangat lelah,” jawab ajudannya.
“Ya istirahat beberapa hari disini, sebelum pulang ke Paris,” ucap Jack.
“Kita langsung mencari tempat untuk layanan ponsel, Jendral?” tanya ajudannya.
Matanya melihat kesamping jalan yang mulai terlihat rumah-rumah penduduk. Lega rasanya dia sudah melewati masa-masa beratnya di tempat tugas dan akhirnya akan kembali pulang ke negaranya, terutama kembali menemui istri tercintanya. Dia sudah rindu ingin memeluk dan menciumnya.
Dilihatnya ponsel yang ada ditangannya itu yang sebagian sudah remuk. Dan tidak hafal nomor istrinya, dia ingin cepat-cepat mendengar suara istrinya itu.
Jalur yang mereka lewati terpisah dengan pasukan anak buahnya Jack yang langsung ke hotel tempat mereka beristirahat, sedangkan Jack dan ajudannya mencari-cari tempat service ponsel di sekitar pertokoan.
Mobilpun berhenti didepan sebuah kantor layanan seluler. Merekapun turun.
Selama pasukan kendaraan itu memasuki perkotaan, sebuah mobil sudah mengikuti mereka. Disaat mobil-mobil pasukan anak buahnya Jack berbelok kearah yang berbeda, mobil itu mengikuti kemana mobil yang dikendarai Jack dan ajudannya berbelok ke arah lain. Mobil itu terus membuntuti.
Jack dan ajudannya berada di sebuh layanan customer service.
“Chipnya rusak, apakah datanya bisa diselamatkan? Aku ingin menelpon istriku,” kata Jack.
“Ditunggu sebentar Tuan, kita cek dulu,” kata petuga customer service itu, seorang wanita muda berambut hitam, sambil menerima ponselnya Jack lalu memeriksanya dan mencoba mengeluarkan kartunya.
Wanita itu menatap Jack lalu pada ajudannya kemudian pada ponselnya.
“Ponselnya sangat hancur Tuan, apa karena tertembak dalam peperangan?” tanya wanita itu sambil tersenyum, karena melihat dua pria yang berseragam ini.
“Ya seperti itulah. Kalau peluru itu tidak mengenai ponselku mungkin aku sudah mati,” jawab Jack sambil mengangguk.
Wanita itupun tertawa, mengira Jack berkelakar, diapun memeriksa chipnya.
Jack menunggunya dengan rasa tidak sabar, sebelum dia pulang menemui istrinya, dia ingin menelpon istrinya dulu, mengabarkan kalau dia akan pulang.
“Bisa?” tanyanya lagi.
“Bisa Tuan. Sebentar saya pindahkan datanya ke chip yang baru,” jawab wanita itu lalu mengambil kartu baru dan dimasukkan kesebuah alat pemindahan data.
Jack senang mendengarnya, dia sudah membayangkan bagaimana istrinya akan kaget kalau mendengar suaranya dan mengabarinya akan pulang. Rindu didadanya rasanya sudah tidak tertahankan.
“Istriku, aku akan pulang!” ucapnya dalam hati.
“Kalau ponsel barunya ada?” tanya Jack.
“Ada Tuan, tinggal masuk melewati pintu itu, Tuan bisa membeli ponsel diruangan samping,” kata wanita itu menunjuk pada sebuah pintu yang ada diruangan itu, yang tembus ke sebuah ruangan yang khusus menjual berbagai ponsel.
“Datanya sudah pindah Tuan. Tuan tinggal memasangnya saja di ponsel,” kata wanita itu.
“Apa nomor istriku ada?”tanya Jack.
“Memakai nama apa, Tuan?” tanya wanita itu, sambil memberikan data yang sudah terpindah ke chip baru.
“My Wife,” jawab Jack.
Wanita itu mengeceknya.
“Ada,” jawabnya, membuat Jack sangat merasa lega.
“Ini sudah selesai Tuan. Datanya sudah pindah semua, Tuan tinggal memasangnya di ponsel,” kata wanita itu, sambil memberikan sebuah amplop yang berisi Chip baru.
Jack menerimanya dengan hati senang.
“Terimakasih,” ucapnya.
"Dan ini ponsel Tuan yang rusak, Tuan bisa memperlihatkannya pada istri Tuan nanti," ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.
Jack menerima ponsel rusaknya yang sudah diberi kantong oleh wanita itu, diapun menerimanya. Dia memang harus memperlihatkannya pada istrinya soal ini.
"Terimakasih," ulang Jack pada wanita itu.
Lalu Jack dan ajudannya pergi ke ruangan sebelah layanan ponsel itu untuk membeli ponsel baru. Dia tidak perlu ponsel yang bagaimana-bagaimana, dia hanya ingin ponsel yang bisa menghubungkannya dengan istrinya.
“Jendral! Saya mencari toilet dulu sebentar,” kata ajudannya.
“Ya pergilah, aku tunggu dimobil,” jawab Jack, berdiri di depan seorang pria yng menawarkan beberapa model ponsel.
Tidak berapa lama, Jack keluar dari pintu toko ponsel itu, dia bejalan menuju mobilnya sambil mengotak- atik ponselnya, saking tidak sabarnya ingin menelpon istrinya. Tidak ada yang di fikirkan Jack lagi, dia hanya ingat istrinya, istri tercintanya dan ingin menelponnya sekarang juga.
Dilihatnya nomor istrinya, hatinya langsung saja merasa sedih, istrinya pasti menangisinya terus karena tidak memberinya kabar.
“Sayangku,” gumamnya, saat melihat nomor My wife di ponselnya.
Seluruh hati dan fikirannya hanya tertuju pada nomor ponsel itu, tidak ada yang lain. Tidak diperhatikannya yang ada disekitarnya tempat berdiri. Jack hanya focus melihat ponselnya dan menekan nomor ponsel itu, terdengarlah nada sambung.
Beberapa nada panggil terdengar.
Ara sedang berada diruang tengah rumahnya Jack di Paris sambil menselonjorkan kakinya menonton televisi, saat suara ponselnya itu berbunyi.
Dengan agak susah, merasakan perutnya yang sedang kram, tangannya mengulur mengambil ponselnya. Dan dia terkejut saat melihat nomor Jack muncul di ponsel itu. Perasaan bahagia dan sedih bercampur aduk.
“Jack!” panggil Ara hampir berteriak, menerima panggilan itu.
Jack mendengar ada suara istrinya memanggilnya, sudah tidak terlukiskan bahagia hatinya. Dia akan menjawab, tapi sebelum dia menjawab, sesuatu sudah menutup mulutnya dan membuatnya tidak sadarkan diri.
“Jck! Jack! Akhirnya kau menelponku! Aku merindukanmu!” teriak Ara, dengan airmata berlinang dipipinya.
“Jack! Jack!” panggilnya, tapi ternyata Jack sama sekali tidak menjawab.
“Jack! Jack!” teriaknya.
Ponselnya Jack tergeletak dipinggir jalan raya, mengeluarkan suara panggilanya Ara yang tidak berhenti memanggil Jack.
“Jack! Jack!” teriak Ara dengan histeris karena tidak mendapat jawaban hanya suara bising tidak jelas.
Diapun lalu bangun, dengan tangan yang gemetaran memegang ponsel.
“Jack! Jack! Kenapa kau diam saja?” tanyanya, kebingungan, airmata itu semakin banyak jatuh ke pipinya.
***********
Readers maaf ya baru up, kemarin filenya kehapus jadi harus nulis lagi.
***********