
Ny.Inez menatap ponselnya yang ditutup itu. Ada sedih di hatinya, hari demi hari sikap Jack yang acuh padanya terasa menyakitinya, rasa sakit itu seakan menggerogoti jiwanya. Tubuhnya sehat tapi di dalam jiwanya terluka parah. Dia semakin terpuruk oleh rasa bersalah yang amat dalam, samua ini karena ulahnya sendiri yang membuat Jack membencinya.
Ny.Inez kemudian memikirkan apa yang Jack butuhkaan tadi, dia tidak terlalu memperhatikan apakah Ara itu mirip dengan Arum atau tidak. Jack adalah suaminya Ara tentunya Jack lebih tahu dengan apa yang dia lihat dan dia rasakan tentang kemiripan Ara dengan Arum.
Ny.Inezpun menyalakan ponselnya menelpon Ny.Imelda.
“Ada apa?” tanya Ny.Imelda.
“Bagaimana kalau besok kita ke salon, aku mau potong rambut,”jawab Ny.Inez.
“Aku baru kemarin ke salon potong rambut, rambutku acak-acakan karena wanita itu, mertuanya Jack itu menjambakku!” kata Ny.Imelda sambil mengerutu teringat bagaimana Bu Amril menjambaknya.
Ny.Inez terdiam, dia berfikir bagaimana kalau ternyata Ara itu putrinya Imelda? Meskipun mustahil tapi keajaiban itu selalu ada. Temannya itu sudah bertengkar dengan Ibunya Ara. Benar kata Jack, semuanya akan runyam.
Orangtua Ara belum tentu mau menerima kenyataan ini apalagi Imelda bersikap buruk pada Ara, Imelda sudah menyakiti putri kandungnya sendiri, ah dia tidak bisa membayangkan hal itu. Mungkin Ara juga tidak akan menerima Imelda sebagai Ibunya, setelah apa yang Imelda perbuat untuk merusak rumah tangganya dengan Jack.
“Halo!” terdengar suara Ny.Imelda memanggil, membuyarkan lamunannya Ny.Inez.
“Potongan rambutmu jelek! Kau harus ganti model, rambutmu bisa dipotong sedikit lagi,” kata Ny.Inez.
“Yang benar? Kemarin katamu bagus,” ucap Ny.Imelda, sambil langsung melihat kaca yang ada di dekatnya dan berkaca.
“Itu karena aku hanya menghiburmu, sebenarnya kau tidak cocok dengan model itu,” kata Ny. Inez.
“Apa benar begitu?” tanya Ny.Imelda.
“Iya, sebaiknya kau potong lebih pendek saja, kau akan terlihat lebih muda, sakalian aku juga mau potong rambut,” jawab Ny.Inez.
“Begitu ya? Ya sudahlah kalau begitu, aku ganti model rambut, sambil menemanimu potong rambut,” kata Ny.Imelda.
“Aku jemput besok,” ujar Ny.Inez.
“Oke!” jawab Ny.Imelda.
Ny.Inez menutup ponselnya. Dia tidak tahu akan sampai kapan Jack membencinya, hanya saja dia berusaha menjadi ibu yang baik, dia akan membantu semua yang Jack butuhkan.
Ny.Inez kembali ke kamarnya dan ternyata Tn.Ferdi belum tidur.
“Kenapa lama sekali? Siapa yang menelpon?” tanya Tn.Ferdi.
“Imelda, kami mau ke salon besok, aku mau merapihkan rambutku, dia juga mau ganti model rambut,” jawab Ny.Inez.
Tn.Ferdi tidak bicara lagi diapun merapihkan selimutnya.
Ny.Inez segera naik ke tempat tidur dan berbaring.
Tn.Ferdi pura-pura tidur, rasanya sangat mencurigakan menerima telpon Imelda harus keluar dari kamar segala, biasanya menelpon saja langsung, fikir Tn.Ferdi.
Saat malam semakin larut dan Ny Inez sudah tertidur. Tn.Ferdi pergi ke meja tempat Ny.Inez menyimpan telponnya, dia menggunakan tongkatnya perlahan jangan sampai istrinya itu terbangun.
Tn.Ferdi mengambil ponsel itu lalu melihat history panggilannya. Memang ada panggilan keluar ke Imelda tapi bukan panggilan masuk, panggilan masuk justru hanya nomor saja tidak ada namanya.
Siapa yang menelpon ini? Sunguh aneh, mengangkat telpon yang tidak ada namanya tapi kemudian keluar kamar? Siapa? Siapakah ini? Apakah Jack? Apa mungkin Jack yang menelpon? Mau apa Jack menelpon?
Entah kenapa setiap kali berhubungan dengan Jack, hati Tn.Ferdi semakin gelisah saja. Sudah dipastikan Jack akan marah besar kalau tahu Arum masih hidup dan selama ini di sembunyikan di panti asuhan apalagi kalau ternyata Arum itu istrinya.
Jack pasti akan memasukkannya ke penjara dan dia akan dihukum seumur hidup, atau mungkin Jack yang akan menghukumnya dengan tangannya sendiri?
Bisa dibayangkan kalau Jack sendiri yang menghakiminya, dia bisa memukul dan menendangnya sampai mati, seperti yang telah Jack lakukan padanya . Siap-siap saja Jack akan membunuhnya sekarang! Tapi sebelum itu terjadi dia yang harus melenyapkan Jack lebih dulu, batin Tn.Ferdi. Diapun menyimpan kembali ponselnya Ny. Inez diatas meja.
*****
Jack sedang ada di kantornya saat ada telpon masuk. Jack melihat nomor yang tidak ada namanya itu tapi dia hafal itu nomor ibunya, dia sengaja tidak mengsave nomor ibunya dengan harapan dia tidak akan menelponnya lagi.
“Jack, Ibu sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan, dimana kita bisa bertemu?” kata Ny.Inez.
“Terserah kau saja,” jawab Jack.
“Kita bertemu di rumah makan lesehan saja,” kata Ny.Inez, lalu memberikan alamat rumah makannya.
Tidak perlu menunggu lama lagi, begitu telpon ditutup, Jack langsung meninggalkan kantornya tanpa Pak Beni. Dia segera datang ke tempat yang di sebutkan Ny.Inez.
Ny.Inez sudah memilih satu tempatnya makan yang agak terpencil supaya mereka bisa bicara dengan Jack tanpa gangguan. Saat melihat mobilnya Jack parkir di halaman parkir rumah makan lesehan itu, Ny Inez langsung berdiri dan memperhatikannya, ada haru dihatinya, tidak disadarinya airmata menetes di pipinya.
Kenapa dia baru sadar kalau putranya sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat tampan dan gagah. Dan selama ini dia telah menyia-nyiakannya.
Ada rasa sesal dalam hati Ny.Inez, sesal yang tidak bisa memutar waktu kembali ke masa lalu. Seharusnya dia tidak terlena dengan sibuk mengurus peninggalannya Constantine sampai menerlantarkan Jack sang ahli warisnya sendiri. Jadi pantas kalau Jack sekarang membencinya, dan dia harus menerima itu dengan lapang dada karena itu kesalahannya sendiri.
“Jack!” panggilnya, saat melihat putranya itu mengedarkan pandangannya ke lokasi yang di janjikan.
Jack mendengar namanya di panggil langsung pergi menghampiri Ibunya.
“Duduklah, kau mau minum apa?” tanya Ny.Inez sambil duduk di salah satu kursi diikuti Jack.
“Tidak usah,” jawab Jack.
Ny. Inez tidak bicara lagi, dia mengambil kantong yang ada di atas meja dan mengeluarkan isinya.
“Ini sample yang aku butuhkan, dan ini adalah data medisnya Ny Imelda dan Arum waktu lahir barangkali dibutuhkan untuk tes DNA, kalau ada yang kurang kau bias minta tolong pada Ibu, selama Ibu bisa membantumu, Ibu akan bantu,” kata Ny. Inez, menyodorkan berkas itu ke depan Jack.
Jack membuka berkas itu dan membacanya, sepertinya data ini cukup untuk mencocokkan apa Ara itu putrinya Ny. Imelda atau bukan. Tentu saja dia juga harus memberikan datanya Ara.
“Aku minta kau merahasiakan hal ini dari siapapun termasuk pada Ara,” kata Jack.
“Istrimu tidak akan kau beritahu?” tanya Ny.Inez.
“Tidak, untuk sementara ini tidak, aku belum tahu hasilnya. Dia akan marah kalau tahu aku melakukan ini, dia tidak suka aku membanding-bandingkannya dengan Arum,” jawab Jack.
Ny. Inezpun diam.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi, terimakasih atas bantuanmu, tolong rahasiakan juga pada Ny.Imelda dan suamimu itu,” kata Jack, dengan ketus dan tidak mau menatap Ny.Inez.
Jack bangun dari duduknya akan pergi tapi tangannya dipegang oleh Ny.Inez.
“Jack,” panggil Ny.Inez, sambil berdiri.
Jack diam, sama sekali tidak menoleh.
“Ibu, Ibu minta maaf,” ucap Ny.Inezn dengan suara yang bergetar, matanya sudaa mulai memerah.
“Tolong maafkan Ibu. Ibu tahu kesalahan Ibu tidak termaafkan, kesalahan Ibu terlau besar untuk kau maafkan. Tapi setidaknya Ibu ingin kau tahu kalau Ibu menyesal, Ibu minta maaf sudah menelantarkannu, bahkan Ibu tidak tahu kalau kau sudah berhasil menggapai cita-citamu menjadi seorang Jendral seperti Ayahmu. Ibu minta maaf,” ucap Ny.Inez, dengan terbata-bata. Sudah tidak bisa menahan lagi tangisnya, dan airmata itu menetes dipipinya.
“Maafmu sudah sangat terlambat,” jawab Jack, lalu tanpa menoleh lagi meninggalkan Ibunya, di biarkannya Ibunya menangis seorang diri ditempat makan itu.
Jack mengendarai mobilnya dengan hati yang teriris-iris, bukan Ibunya saja yang merasa sakit, dia juga, dia tidak bisa memaafkan Ibunya. Hatinya sudah terlalu sakit oleh kelakuan Ibunya. Di usapnya airmata yang juga menetes di pipinya.
Jackpun menjalankan mobilnya semakin cepat menuju rumah sakit yang direkomendasikan oleh Pak Beni. RS yang terpercaya dan akan menghasilkan data yang akurat, tidak akan ada istilah dipalsukan.
********