
Beberapa hari ini Ara merasakan tubuhnya selalu lemas, rasa sedih yang berkepanjangan membuatnya tidak nafsu makan, penantiannya mengharapkan Jack cepat pulang berpengaruh pada jiwanya.
Pagi ini entah berapa kali Ara bolak balik ke kamar mandi, dia merasakan tubuhnya semakin tidak nyaman, pusing dan mual tidak berhenti-henti sedari malam, sepertinya dia akan benar-benar sakit.
Ara keluar dari kamarnya dengan lesu. Menyusuri lorang lantai atas yang terasa begitu sunyi. Setelah menuruni tangga, dia bertemu dengan Ny.Inez yang baru keluar dari ruang makan. Ibu mertuanya itu tampak sudah rapih dan cantik seperti biasanya.
“Kau terlambat sarapan lagi, kenapa? Pola makanmu sudah tidak teratur, nanti kau sakit,” tanya Ny.Inez, menatap wajah menantunya yang pucat.
“Beberapa hari ini aku hanya merasa tidak enak badan saja,” jawab Ara sambil duduk di sofa ruang keluarga.
“Kalau begitu kita ke Dokter sekarang, kau sangat pucat,” kata Ny.Inez, merasa khawatir.
“Tidak perlu, mungkin karena aku kurang tidur,” jawab Ara.
“Ayo makanlah, kau harus menjaga kesehatanmu,” kata Ny.Inez, menghampiri ke dekat sofa.
Ara hanya mengangguk saja dengan lesu.
“Ada kabar dari Jack?” tanya Ny.Inez, menatap Ara.
“Tidak ada, sudah satu bulan dia pergi tanpa ada menelponku, ponsel tidak pernah bisa dihubungi. Apa dia tinggal dihutan sampai tidak bisa menelponku?” jawab Ara seperti keluhan.
“Mungkin memang daerahnay tidak ada sinyal. Kalau sudah ada pasti dia kan menelponmu,” kata Ny.Inez, mencoba menghibur Ara.
“Aku sangat merindukannya, tiap hari aku mengharapnya cepat pulang, tapi kabarpun tidak ada, apa dia sudah lupa padaku?” ucap Ara, menunduk lesu.
Ny.Inez menatapnya, menantunya terlihat sangat pucat, beberapa hari ini susah sekali makan. Jack sudah menitipkan istrinya ini padanya, dia tidak mau terjadi apa-apa pada menantunya.
Ny.Inez tidak bicara lagi, di pergi keruang lain dan mengeluarkan ponselnya menelpon Dokter.
“Iya, Dokter, langsung ke rumah saja sekarang. Menantuku sakit tapi di tidak mau di bawa ke berobat,” ucapnya.
Tidak berapa lama telpon pun ditutup. Saat kembali keruang tengah ternyata Ara tidak ada, dicarinya lagi menantunya itu ke ruangan lain, ternyata Ara baru masuk lagi ke rumah, sepertinya sudah dari teras, pasti melihat lagi barangkali Jack pulang.
“Ayo cepatlah makan, jangan ditunda-tunda, nanti kau tambah sakit,” kata Ny.Inez.
“Iya,” jawab Ara, tapi tidak pergi ke ruang makan, dia malah duduk lagi di kursi ruang tamu dengan lesu.
Melihatnya membuat Ny.Inez merasa sedih. Sepertinya dia sudah tidak pernah melihat menantunya tersenyum lagi, Ara selalu terlihat murung dan bolak balik ke teras, melihat barangkali Jack pulang.
Ara menoleh pada mertuanya yang hanya diam memntung menatapnya.
“Nyonya mau kemana?” tanya Ara.
“Sepertinya aku sudah harus mulai mengurus pekerjaanku. Ferdi juga sudah tidak ada kabarnya lagi, aku harus melanjutkan perusahaan kami yang baru setelah lepas dari perusahaannya Jack,” jawab Ny.Inez.
Arapun terdiam.
“Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan terlalu sibuk, aku tetap harus menemanimu dirumah supaya kau tidak kesepian,” kata Ny.Inez lagi.
Ara menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah dan berhenti di depan rumah. Kemudian terdengar suara langkah masuk dan suara orang menggerutu.
“Ibu! Ibu! Apa-apaan ini? Aku di depan dilarang masuk oleh orang-orang itu! Mereka memeriksa identitasku juga mobilku!” teriaknya, langkahnya terdengar berat masuk kedalam rumah.
Ny.Inez dan Ara menoleh kearah suara.
“Bastian!” panggil ibunya, terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
“Kenapa masuk kerumah ini begitu sulit? Siapa orang-orang itu?” tanya Bastian dengan ketus.
Ny.Inez menatap putranya itu yang baru datang.
“Kau kemana saja? Menghilang tidak ada kabar beritanya! Kau ingat pulang juga?” bentak Ibunya.
“Kenapa Ibu harus marah aku tidak pulang? Kakak juga di Paris tidak pernah Ibu tengok bertahun-tahun biasa saja! Aku baru sebulan pergi sudah diomeli!” keluh Bastian.
Wajah Nyonya Inez langsung berubah memerah.
“Aku hanya berlibur keluar negeri! Aku patah hati Kinan membatalkan pernikahan kami karena aku sudah tidak sekaya dulu, jadi aku mencari hiburan ke luar negeri! Sekarang uangku habis, jadi aku pulang tapi ternyata rumah kosong! Kata satpam Ibu tinggal dirumah Kakak,” ujar Bastian, menatap Ibunya lalu pada Ara yang sedang duduk dikursi itu lalu menoleh pada ibunya lagi.
“Kau tidak ada dewasa-dewasanya!” keluh Ny.Inez, menatap Bastian dengan kesal.
“Katakan padaku, kenapa Ibu ada disini?” tanya Bastian.
“Kakakmu yang mengajak Ibu tinggal disini, “ jawab Ny.Inez.
“Buat apa? Bukannya dia sudah mengusir kita?” tanya Bastian keheranan.
“Kakakmu sedang tugas keluar negeri, jadi Ibu diminta menemani istrinya,” jawab Ny.Inez.
“Kenapa harus ditemani segala? Memangnya dia anak kecil? Dia punya banyak uang untuk menyewa orang untuk menemaninya,” kata Bastian dengan sinis.
“Bastian, jangan seperti itu!” maki Ny.Inez.
“Ayo kita pulang Bu!” ajak Bastian.
“Tidak bisa!” kata Ny.Inez.
“Kenapa?” tanya Bastian, semakin heran.
Ny.Inez terdiam, dia tidak mungkin bercerita soal kejadian itu. Ara juga tidak tahu apa yang menyebabkan pertengkaran Jack dengan suaminya. Jack masih merahasiakan soal identitasnya Ara, jadi diapun harus merahasiakannya biar Jack sendiri yang menjelaskannya.
“Ayah juga, kemana Ayah?” tanya Bastian.
“Ayahmu meninggalkan Ibu, pergi ke luar negeri, entah kemana,” jawab Ny.Inez.
“Benar-benar tidak mengerti, aku pulang rumah kosong, Ayah pergi, Ibu tinggal disini, terus bagaimana denganku? Aku tidak mau tinggal dirumah sendirian! Siapa yang akan mengurusku?” keluh Bastian.
Ny.Inez merasa bingung, kalau dia kembali pulang kerumahnya, Jack memintanya untuk menemani istrinya selama bertugas, dan dia juga takut kalau suaminya tiba-tiba pulang dan menyanderanya juga mencelakainya lagi. Kalau Bastian tinggal disini apa Ara mengijinkannya?
Ny.Inez menoleh lagi pada Ara yang sedang menatap mereka.
Jack membawa ibunya untuk tinggal disini, dia tidak bisa menyuruh mertuanya pindah tanpa seijin Jack, tepaksa dia mengijinkan adik iparnya yang menyebalkan itu tinggal dirumahnya Jack.
“Jadi aku boleh tinggal disini?” tanya Bastian dengan senang.
“Iya!” jawab Ara.
“Akhirnya! Aku kembali lagi ke rumah ini! Kamarku masih ada kan? Aku rindu kamarku! Aku lelah, aku mau istirahat!” teriak Bastian, lalu bergegas berlari masuk kedalam rumah.
“Bastian! Jaga perilakumu!” teiak Ny.Inez, tapi Bastian sudah menghilang.
Ny.Inez menoleh pada Ara.
“Terimakasih kau sudah mengijinkan Bastian tinggal disini,” kata Ny.Inez.
“Iya, lagian tidak ada yang mengurusnya dirumah itu kan?” ujar Ara.
Ny.Inez mengangguk.
Terdengar lagi suara mobil berhenti didepan pintu rumah.
“Tamu siapa?” Ara langsung saja berdiri, hatinya harap-harap cemas setiap kali ada suara mobil masuk rumah, berharap Jack yang datang.
“Sepertinya itu Dokter!” kata Ny.Inez.
“Dokter?” tanya Ara.
“Iya, aku memanggil Dokter!” jawab Ny.Inez, lalu tersenyum saat melihat seorang pria berbaju putih dan seorang wanita muda muncul di pintu.
“Dokter masuklah, ayo masuk!” sambutnya pada Dokter yang datang itu bersama seorang asistennya.
Ara menoleh pada Dokter itu.
“Ini menantuku, dia beberapa hari ini tidak enak badan,” kata Ny.Inez.
Ara terkejut ternyata Ny.Inez memanggil Dokter untuk memeriksanya! Diapun menoleh pada ibu mertuanya.
“Aku khawatir dengan keadaanmu, kau sangat pucat,” kata Ny.Inez, membuat Ara diam.
“Mari Nyonya, saya periksa,” kata Dokter itu, tidak banyak basa-basi.
Ny.Inez langsung menghampiri Ara, mengulurkan tangannya membantu Ara berdiri. Sebenarnya Ara tidak mau diperiksa tapi Dokter sudah datang, jadi mereka segera pergi ke kamarnya.
“Apa keluhannya Nyonya?” tanya Dokter itu, saat Ara sudah berbaring ditempat tidur.
“Beberapa hari ini aku merasa tubuhku lemas saja, pusing dan mual-mual. Aku kurang tidur dan suka telat makan, sepertinya masuk angin dan asam lambungku naik,” jawab Ara.
Dokter langsung memeriksanya dengan teliti. Tidak berapa lama setelah melakukan pemeriksaan, Asistennya memberikan catatannya.
“Saya akan berikan resep. Jangan terlau capek, Nyonya badannya lemah karena kurang asupan giji, meskipun tidak nafsu makan, harus diusahakan tetap ada makanan yang masuk,” kata Dokter.
Ny.Inez mengangguk, sambil mengikuti Dokter yang duduk di kursi dan menuliskan resep.
“Jangan lupa minum susu untuk ibu hamil supaya perkembangan janinnya bagus,” kata Dokter.
Mendengar perkataan Dokter membuat Ara terkejut juga Ny.Inez.
“Susu hamil?” tanya Ara, bangun dari tidurnya, duduk menatap Dokter.
“Menantuku hamil Dok?” tanya Ny.Inez.
“Iya, selamat ya Nyonya, ini anak pertama?” jawab Dokter.
“Iya,” jawab Ara dengan gugup, dia menoleh pada Ibu mertuanya, rasanya tidak percaya kalau dia hamil. Ara langsung mengusap perutnya.
Ny.Inez tersenyum lebar, dia senang sekali akan mempunyai cucu.
“Ini resepnya Nyonya, ingat jangan terlalu capek, badan Nyonya masih lemah,” kata Dokter itu, memberikan resep pada Ny.Inez.
“Iya Dokter pasti-pasti,” kata Ny.Inez tersenyum senang.
“Untuk control selanjutnya, bisa langsung datang ke klinik saja, biar bisa di USG melihat perkembangan janinnya,” ujar Dokter, sambil berdiri.
“Iya, Dok, nati kita datang ke klinik,” kata Ny.Inez, mengangguk.
Dokterpun pamit, bersama Ny.Inez keluar kamar, mengantar Dokter itu keluar sampai depan rumah.
Ara duduk di tempat tidur sambil memegang perutnya, dia tidak menyangka kalau dia benar-benar hamil. Tapi kemudian matanya merah berkaca-kaca, dia jadi teringat pada Jack.
Matanya menatap foto pengantin di dinding itu.
“Jack, Jendral kecilmu sudah datang, tapi kau tidak ada bersama kami untuk menyambutnya,” ucapnya. Butiran air bening menetes dipipinya.
“Aku hamil Jack, tapi aku tidak tahu harus memberitahumu kemana? Kau sama sekali tidak bisa kuhubungi,” ucap Ara lagi, dan mulai terisak, menunduk sambil mengusap perutnya.
Terdengar suara pintu kamar itu dibuka, Ny.Inez melihat menantunya yang sedang menangis, dia juga menjadi sedih melihatnya
Ara menoleh kearah Ny.Inez.
“Aku tidak tahu kemana aku harus memberitahu Jack tentang kehamilanku?” ucapnya dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
Ny.Inez tidak menjawab, dia hanya duduk disamping Ara dan memeluknya.
“Kau harus yakin Jack pasti pulang!” kata Ny.Inez, mencoba menghibur padahal dia juga sedih.
“Yang penting sekarang bayimu. Kau jangan terlalu meratapi kepergiannya Jack, itu akan mempengaruhi janinmu. Kau harus selalu bahagia, Ibu hamil tidak boleh sedih, jika kau bahagia bayimu juga akan bahagia dan tumbuh sehat. Jika waktunya telah tiba, aku yakin Jack pasti pulang,” ujar Ny.Inez terus berusaha menghibur Ara, meskipun dia juga tidak tahu kapan Jack akan pulang.
Ara tidak menjawab, dia hanya memeluk Ibu mertuanya dengan airmata yang tidak bisa berhenti menetes di pipinya.
******