
Bastian dan Ny.Inez duduk dengan wajah yang masam.
“Seharusnya ibu mencari wanita yang bisa ibu kendalikan!” kata Bastian.
“Ibu mana tahu kalau kakakmu hanya ingin menikah dengan wanita itu! Ibu benar-benar kecolongan!” gerutu Ny.Inez.
“Jadi apa yang akan kita lakukan?” tanya Bastian.
“Kalau pengacara itu datang kita terpaksa mengikuti aturan mereka,” jawab Ny. Inez.
“Bagaimana kalau kita sogok saja pengacaranya?” usul Bastian.
“Tidak segampang itu, karena pengacaranya juga ada yang dari Perancis, karena sumber kekayaan ayahnya Jack itu ada di Perancis,” kata Ny. Inez.
Bastianpun diam.
“Kita lihat saja nanti, apa yang akan dikatakan pengacara itu,” kata Ny.Inez.
Jack membawa Ara ke kamarnya, mengajaknya duduk dipinggir tempat tidur. Ara menghapus airmata yang masih menetes dipipinya. Dia benar-benar tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Belum cukup dengan Jack yang memiliki kekurangan tapi ternyata keluarganya juga menyerangnya.
Ara menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Dia menoleh pada Jack yang menatapnya dengan khawatir, diapun tersenyum, tangannya menyentuh pipinya Jack.
“Aku tidak menangis lagi,” ucapnya.
Jack meraih tangan Ara lalu mencium tangan itu, entah kenapa dia merasa sangat begitu mencintai wanita ini meskipun mereka hanya beberapa kali bertemu.
Terdengar ketukan dipintu. Ara segera bangun dan membukakan pintunya ternyata Pak Beni dengan membawa sebuah nampan kecil berisi obat-obatan dan satu gelas air putih.
“Ini Dosis baru yang diberikan Dokter Mia, tolong berikan padaTuan Delmar,” kata Pak Beni.
Ara menatap Pak Beni lalu menerima nampan itu yan berisi obat yang tadi Pak Beni ambil diapotek dengan resep dari Dokter Mia, saat perjalanan pulang tadi.
Ara kembali menatap Pak Beni, Pak Beni juga menatapnya.
“Apa aku harus menerima semua ini?” tanya Ara.
“Tentu saja, itu sudah menjadi hakmu, kau Nyonya di rumah ini,” jawab Pak Beni.
Ara merasakan sesak didadanya, dia masih merasa shock dengan masalah yang akan dihadapinya dirumah ini.
“Jack membutuhkanmu,” ucap Pak Beni, mencoba memberi semangat pada Ara.
“Aku tidak tahu apa aku sanggup,” ucap Ara dengan mata yang kembali memerah.
“Aku tidak menyangka semua ini akan begitu rumit,” keluhnya lagi.
“Tetaplah disamping Jack,” kata Pak Beni.
“Kenapa kalian?” terdengar suara Jack yang keheranan karena Ara tidak segera kembali padanya.
“Ini Pak Beni membawakan obat untukmu, mulai sekarang aku yang akan memberikannya padamu,” ucap Ara sambil menoleh pada Jack dan tersenyum, sambil mengusap airmatanya yang tadi tumpah.
Ara menoleh pada Pak Beni.
“Sebentar lagi pengacara akan datang, jadi buatlah dirimu tenang, dampingi Jack,” ucap Pak Beni.
Ara menatap Pak Beni. Sungguh pria itu sangat berbakti pada Jack.
“Terimakasih kau sudah menjaga Jack,” ucap Ara.
“Itu sudah jadi kewajiban saya, Nyonya,” jawab Pak Beni.
“Setelah Tuan Delmar meminum obatnya, usahakan dia istirahat, supaya ketika pengacara itu datang, kondisinya membaik,” kata Pak Beni lagi.
“Baiklah,” ucap Ara, mengangguk.
“Saya permisi,” ucap Pak Beni, lalu pergi.
Ara menutup pintu kamar itu lalu menghampiri Jack sambil tersenyum, menunjukkan pada Jack kalau semuanya baik-baik saja.
“Kau harus minum obatnya, supaya kau sehat,” kata Ara, sambil duduk dipinggir Jack dan menyimpan nampan diatas tempat tidur.
Jack hanya memperhatikannya.
“Setelah minum, kau istirahat ya,” kata Ara, menyodorkan obat itu pada Jack.
Suaminya itu langsung meminumnya. Arapun tersenyum menatap Jack. Lalu dia berdiri menyimpan nampan itu diatas meja kemudian menoleh ke tempat tidur, dilihatnya Jack hanya diam saja menatapnya.
“Kenapa? Kau harus beristirahat, hari ini sangat melelahkan,” kata Ara.
“Tidurlah bersamaku,” ucap Jack.
“A apa?” Ara terkejut mendengar perkataan Jack.
“Ti, tidur?” gumamnya dengan bingung. Apa maksud Jack mengatakan tidur, apakah maksudnya tidur sebagai pasangan suami istri?
“Kau sakit, tidurlah,” ucap Jack.
Ara baru sadar kalau dirinyapun dalam keadaan sakit, kepalanya yang terasa perih tidak dirasanya karena masalah yang dihadapinya sekarang menyita seluruh energinya dan melupakan rasa sakitnya.
“Iya, aku juga akan beristirahat,” kata Ara.
Jack naik ketempat tidur, dan menepuk tangannya pada bantal yang ada disisinya, meminta Ara untuk tidur.
“Tidurlah,” ucap Jack lagi.
“I iya,” jawab Ara,pendek.
Dengan ragu, Ara naik ke tempat tidur lalu berbaring dibantal yang sudah Jack siapkan tadi. Tapi ternyata Jack tidak berbaring disampingnya, dia malah duduk bersandar dengan tangannya yang memegang kepalanya Ara.
Arapun menengadah menatap Jack.
“Jack kau harus tidur,” ucapnya, dia ingat perkataannya Pak Beni, Jack harus tidur setelah minum obat supaya saat pengacara itu datang, kondisinya membaik.
“Aku akan menjagamu,” ucap Jack.
“Tidak Jack, aku baik-baik saja,” ucap Ara, tapi sepertinya perkataannya tidak didengar Jack, dia masih duduk bersandar dengan tangannya terus mengusap- usap kepalanya Ara.
Terpaksa Arapun diam membiarkan Jack seperti itu tapi lamba laun tangan yang mengusap- usap kepalanya itu berhenti bergerak. Arapun menengadah melihat kearah Jack, ternyata pria itu sudah tertidur dengan kepala yang bersandar ke sandaran tempat tidur.
Ada senyum di bibir Ara, pria itu menyuruhnya tidur malah dia sendiri yang tidur duluan, mungkin karena kandungan obat itu sangat keras, batin Ara.
Ara segera bangun dan membantu Jack untuk berbaring ditempat tidur. Karena tubuhnya yang berat, Ara bingung cara membaringkannya. Ditariknya tubuh Jack perlahan tapi kemudian, gudubrak! Tubuh itu tidak tertahankan olehnya, membuat Jack malah tidur dipangkuannya.
Ara terkejut mendapati kepala Jack ada dipangkuannya.
Dia mencoba memindahkan kepalanya Jack, tapi pria itu malah memelek pinggangnya. Ara terkejut karenanya tapi pelukan Jack sangat kuat, kalau dia mencoba melepaskannya, Jack akan bangun jadi akhirnya Ara membiarkannya.
Tangan Ara menyentuh rambutnya Jack, pria itu tidur dengan wajah yang menghadap ke perutnya.
“Tidurlah Jack,” ucapnya, mengusap rambut itu perlahan-lahan.
Arapun kini yang bersandar di sandaran tempat tidur, membuat dirinya nyaman. Berbagai fikiran muncul dibenaknya.
Apa yang akan dilakukannya sekarang? Dia tidak mungkin menolak semua ini, kaena sudah takdirnya dia menjadi istrinya Jack. Tapi dia juga tahu ibu mertuanya tidak akan semudah itu membiarkannya di rumah ini. Ibu mertuanya sudah terbiasa menguasai hartanya Jack, kalau tiba-tiba semua itu lenyap dari tangannya, sudah dipastikan Ny.Inez tidak akan membiarkannya begitu saja.
Ditatapnya kembali pria yang ada dipangkuannya itu. Diapun tersenyum.
“Kau sangat baik Jack, mana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?” gumam Ara.
“Semoga kau cepat sembuh, aku ingin kita bisa hidup normal,” lanjutnya, sambil mengusap rambutnya Jack.
“Aku tahu semua ini akan sangat sulit, tapi aku harus kuat. Aku tidak mungkin meninggalkan Jack sendirian,” gumamnya lagi.
Ara memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan diri dan lambat laun diapun tertidur.
Dua jam kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya Jack.
Ara yang mendengar suara ketukan itu langsung membukakan matanya, dan dia terkejut saat mendapati dirinya bebaring disamping Jack yang masih terlelap, perasaan dia tadi tidur sambil duduk, kenapa sekarang jadi berbaring? Apa Jack tadi bangun dan membetulkan posisi tidurnya?
Terdengar suara ketukan dipintu berulang kali. Arapun segera turun, merapihkan baju dan rambutnya lalu menuju pintu dan membukanya. Disana sudah berdiri Pak Beni.
“Para pengacara sudah datang, Tuan dan Nyonya ditunggu diruang kerjanya Ny.Inez,” kata Pak Beni, matanya melihat kearah tempat tidur ternyata Jack masih tidur.
“Jack masih tidur,” kata Ara.
Pak Beni melihat jam tangannya.
“Kalau begitu biarkan Tuan tidur, jangan dibangunkan,” kata Pak Beni.
“Tapi pengacara sudah menunggu,” ucap Ara.
“Pengacara-pengacara itu yang membutuhkan Tuan Delmar, bukan Tuan Delmar yang membutuhkan pengacara,” jawab Pak Beni.
Arapun diam, dia tidak menyangka orang kaya bisa bebas semaunya.
“Saya permisi,” ucap Pak Beni.
Arapun mengangguk, setelah menutup pintu, dilihatnya kearah Jack. Pria itu masih terlelap, kata Pak Beni jangan membangunkan Jack.
Ara duduk dipinggir tempat tidur, dia kembali mencoba membuat hatinya setenang mungkin. Hidup bersama Jack sangat tidak mudah, dan dia harus kuat menghadapi semua ini. Hidup pria ini bergantung padanya, entah kalau Jack sudah sembuh, mungkin semuanya akan berubah.
Kalau melihat sikapnya Jack, sebenarnya dia pria yang penuh kasih sayang, justru karena dia sangat penyayang itu makanya Jack menyalahkan dirinya dan mengalami depresi.
Lamunan Ara langsung bubar saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
“Jack!” panggilnya, terkejut.
Kedua tangan kokohnya Jack sudah melingkar di perutnya.
“Kau sudah bangun?” tanya Jack, menempelkan wajahnya ke rambutnya Ara.
Melihat sikap Jack seperti ini membuat jantung Ara berdebar kencang, ini pertama kalinya Jack memeluknya begini. Meskipun Jack tidak normal, dia memiliki wajah yang sangat tampan dan tubuh yang keren, baru sekarang Ara merasakan dipeluk pria dengan tubuh sekeren itu, benar-benar membuatnya menjadi gugup.
“Jack, kata Pak Beni para pengacara sudah menunggu di ruang kerja ibumu,” kata Ara.
Ara merasakan Jack mencium rambutnya.
“Ya beri aku waktu sebentar lagi,” ucap Jack malah mempererat pelukannya, membuat Ara semakin tidak bisa bernafas saja.
Beberapa menit Jack seperti itu, Ara hanya bisa membiarkannya, karena walau bagaimanapun ternyata pelukan Jack terasa sangat nyaman. Dia merasa dilindungi dalam pelukan tubuhnya yang kekar.
“Aku bersiap-siap sebentar,” ucap Jack kemudian, sambil melepaskan pelukannya lalu turun dari tempat tidur, pergi menuju toilet.
**************