Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-85 Obsesi Tn.Ferdi


Meskipun Ara merasa canggung digendong Jack, apalagi dengan tatapan malu prajurit yang berpartroli di beberapa titik tempat yang mereka lewati. Tidak ada yang bisa Ara lakukan selain hanya bisa menyembunyikan wajahnya di rambutnya Jack. Ternyata rambut pria itu sangat harum dan lembut.


Karena Jack tidak mau menurunkannya, Ara terpaksa juga memeluk lehernya Jack, menikmati digendong pria itu. Kadang terbersit dibenaknya tinggal mencekik lehernya saja kalau ingat pria itu membohonginya, tapi rasa sayangnya melarangnya untuk melakukan itu.


Bukannya melihat pemandangan taman yang indah, Ara hanya memikirkan pria yang sedang menggendongnya itu, sesekali mengintip wajah sampingnya Jack, menatap pipi yang sering diciumnya. Kalau tahu Jack sudah sembuh tentu saja dia akan sangat malu kalau mencium pipi itu lagi.


Rasanya begitu aneh digendong pria yang tadi sudah membuatnya menangis dan kakinya lecet-lecet.  Sikap perhatiannya Jack sedikit mengikis kekesalannya atas kebohongannya Jack. Tapi cuma sedikit, kalau Jack belum jujur dan benar-benar mengungkapkan cintanya secara langsung Ara tetap menganggap perhatiannya Jack belum seberapa.


Tidak ada yang bicara. Pria itu sama sekali tidak bicara, terus berjalan mengitari taman yang luas sebelum menuju gerbang. Ara juga diam menikmati kokoh punggungnya Jack. Dalam benaknya terlintas pasti banyak sekali wanita yang menginginkan sedekat ini dengan Jack. Apa dia termasuk yang beruntung? Ah tidak, Jack sduah mengecewakannya. Bibir Ara kembali cemberut.


Pak Beni sedang berada diruang kerjanya sedang mengerjakan sesuatu. Terdengar ponsel yang ada diatas meja itu berbunyi, terlihat nomornya Ny.Inez disana. Pak Beni segera mengangkatnya.


“Ya, Nyonya,” ucap Pak Beni.


“Kapan Jack pulang? Bukannya kalian hanya akan berobat saja sebentar, kenapa belum pulang juga?” tanya Ny. Inez.


Pak Beni tampak berfikir, tumben sekali Nyonya Inez menanyakan kapan Tuannya pulang, pasti ada sesuatu.


“Tuan, saya harus bicara dulu dengan Dokter kapan Tuan bisa pulang, Tuan sedang terapi,” jawab Pak Beni, berbohong.


“Apa tidak bisa dilanjutkaan disini? Jack bisa diurus Dokter Mia,” kata Ny. Inez.


“Saya coba bicara dengan Dokter, juga Tuan,  karena sepertinya Tuan juga sedang betah tinggal disini,” ujar Pak Beni.


“Tidak, tidak, kalian secepatnya harus pulang, atau aku akan bicara dengan Dokternya!” kata Ny. Inez.


“O tidak tidak Nyonya, biar saya saja yang bicara dengan Dokternya,” ujar Pak Beni.


“Ya sudah, kalian harus pulang secepatnya. Banyak urusan yang harus dikerjakan disini,” kata Ny. Inez lalu menutup telponnya.


“Kapan anakmu itu pulang?” tanya Tn.Ferdi yang sedang berada dikamar mereka. Hari sudah larut karena perbedaan beberapa jam dengan Paris.


“Katanya Jack sedang betah disana,” jawab Ny. Inez.


“Terlalu lama ditunda-tunda akan buruk,” kata Tn.Ferdi.


Ny. Inez menatap suaminya yang berdiri di dekat jendela kamar yang gordennya terbuka.


“Jangan sampai wanita itu hamil, nanti akan jadi masalah lagi, aku ingin segera mengalihkan kekayaannya Jack, kita terlalu mengulur ulur waktu,” ucap Tn.Ferdi.


“Sebenarnya aku tidak mau membuat masalah baru. Apa yang sudah kita miliki dari hartanya Jack sudah lebih dari cukup. Istrinya Jack itu bahkan sama sekali tidak memegang uang,” kata Ny. Inez.


Tn.Ferdi membalikan badannya menatap Nyonya Inez.


“Kau ini selalu plin plan, kau harus teguh pendirian untuk memindahkan seluruh peninggalannya Constantine pada kita!” ujar Tn.Ferdi dengan kesal.


“Aku tidak mau terlalu banyak masalah saja. Istrinya Jack bawa-bawa pengacara pidana saja sudah membuatku ketar ketir, aku tidak mau dipenjara,” ucap Ny Inez.


“Itulah makanya kita harus cepat menyingkirkannya dari kehidupan Jack selamanya! Jack harus bisa meninggalkannya! Lewat Arum kita bisa mengendalikan Jack,” kata Tn.Ferdi.


Ny. Inez tidak menjawab, dia menarik selimutnya dan berbaring.


Tn.Ferdi menatap istrinya itu.


“Kau terlalu lemah! Terlalu banyak yang kau takutkan! Constantine sudah mati, sekarang anaknya yang jadi penghalang!” keluh Tn.Ferdi.


“Apa maksudmu kau bicara begitu?” tanya Ny.Inez menatap suaminya.


“Apa kau yang menyebabkan Constantine meninggal?” tanya Ny. Inez lagi, yang tadi berbaring jadi bangun lagi.


“Tidak, kau tahu sendirikan Constantine mati tenggelam, kenapa kau jadi menudingku yang menyebabkannya meninggal? Kau aneh-aneh saja,” jawab Tn. Ferdi lalu berjalan lagi menuju Jendela membelakangi istrinya.


Ny. Inez menatap punggung suaminya itu. Entah kenapa dia merasa sikap suaminya mencurigakan.


“Aku hanya tidak mau tindakanmu terlalu jauh dan akhirnya terjerumus dalam kriminal,” kata Ny. Inez.


“Semuanya sudah serba terlanjur! Tidak mungkin aku berhenti ditengah jalan,” kata Tn.Ferdi.


Ny. Inez kembali berbaring dan berselimut.


“Kalau Jack sembuh, malah kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kita sudah terlalu lama mengurus warisan Constantine, buat apa? Kita terlalu terlena! Kita menganggap keberadaan Jack yang gila tidak akan mengancam kita, ternyata lihatlah sekarang, gara-gara Jack menikah banyak sekali masalah yang muncul. Sebelum Jack sembuh semua kekayaannya harus sudah beralih pada kita,” kata Tn. Ferdi, panjang lebar.


“Aku tidak mau seumur hidupku ada dibawah bayang-bayang Constantine,” lanjut Tn.Ferdi.


"Aku hanya minta kau jangan menyakiti Jack. Apa yang kau lakukan dengan Bastian sudah cukup memukul jiwanya, jangan ditambah lagi yang lain,” ucap Ny. Inez.


“Karena walaubagaimanapun dia anakku. Kau selalu melarangku untuk menjenguknya, sampai dewasa aku tidak pernah melihatnya tumbuh,” ujar Ny. Inez, yang niatnya mau tidur terpancing lagi berdebat dengan suaminya.


“Anakmu itu sangat mirip Constantine, aku tidak suka! Anak itu mengingatkanku kalau kau memilih menikah dengan Constantine karena dia sangat kaya,” kata Tn.Ferdi.


Ny. Inezpun diam, dia memang mengakui selain Constantine tampan, ayahnya Jack itu sangat kaya. Dia hanya merasa beruntung dinikahi pria sekaya Constantine.


 “Aku khawatir istrinya Jack hamil. Bayi itu akan jadi pewarisnya kekayaan Jack, semuanya akan tambah sulit saja,” keluh Tn.Ferdi.


Ny. Inez tidak menanggapi lagi, dia juga bingung menghadapai obsesi suaminya untuk memindahkan kekayaannya Jack. Tapi apa yang dikatakan suaminya benar. Dia bisa melihat kalau Jack mencintai istrinya. Belum tentu juga Arum bisa menarik perhatiannya tapi kalau Ara sampai hamil, menantunya itu pasti tidak akan tinggal diam untuk menuntuk kekayaan Jack dikembalikan.


 


***


Ara merasa heran, sepertinya Jack tidak mengenal lelah, pria itu sudah mengajaknya berkeliling taman yang luas. Dia yang digendongnya enak-enak saja menempel dipungungnya Jack, sedangkan yang menggendongnya pasti kelelahan tapi pria itu sama sekali tidak mengeluh, mungkin Jack sudah terbiasa mengangkat yang berat-berat saat berlatih militer.


“Jack, kita sudah berjalan-jalan jauh, apa kau tidak lelah menggendongku?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab, dia tidak akan berhenti berjalan jika istrinya memang belum puas untuk berjalan-jalan.


“Kau pasti lelah, kita pulang saja, hari juga sudah gelap,” ujar Ara.


Jack menggerakkan kepalanya kesamping. Hatinya merasa senang kalau melihat istrinya bahagia.


“Kita pulang, kau pasti lelah dan haus,” ucap Ara lagi, menatap wajah tampan didekatnya itu.


Dia membayangkan kalau orang-orang tahu Jack tidak depresi, sudah dipastikan banyak sekali wanita yang menyukai Jack.


Karena Ara memintanya untuk pulang, akhirnya Jack kembali melangkahkan kakinya meninggalkan taman yang indah itu, tentu saja sambil menggendong Ara yang sesekali harus menyembunyikan wajahnya ke rambut Jack jika ada prajurit yang patroli.


Sesampainya di ruang tamu, Pak Beni sudah menyambutnya.


“Tuan, Nyonya tadi menelpon, Tuan diminta pulang secepatnya,” kata Pak Beni.


Ara sangat terkejut mendengarnya. Apa itu artinya Jack akan dipertemukan dengan Arum? Bagaimana ini? Dia tidak suka Jack bertemu Arum.


Jack terdiam mendengarnya, dia memang belum bertemu Arum yang entah benar Arum teman kecilnya atau bukan.


Jack tidak menjawab, dia hanya berhenti sebentar mendengarkan perkataannya Pak Beni lalu berjalan lagi. Ara kembali menyembunyikan wajahnya kerambutnya Jack,dia malu dilihat Pak Beni.


Sesampainya di kamar mereka, Jack menurunkan Ara ditempat tidur.


“Terimakasih,” ucap Ara, Jack hanya berdiri menatapnya.


Ara berfikir apakah dia harus mengatakan pada Jack kalau dia tahu Jack sudah sembuh? Tapi difikirnya lagi, dia ingin tahu sejauh mana Jack akan membohonginya?


“Tidur,” ucap Jack.


“Kau menyuruhku tidur? Tapi aku sudah tidur terus tadi. Aku hanya akan menonton televisi saja,” kata Ara.


Mendengar jawabannya Ara, Jack pergi mengambil remote lalu menyalakan televisi sambil duduk disamping Ara, memilihkan chanel kemudian menyimpan remote didekat Ara.


Ara menatap layar televisi yang berukuran besar itu. Apaan? Jack memilihkan film kartun untuknya? Memangnya dia anak kacil? Ara langsung cemberut.


Dilihatnya Jack bangun tanpa bicara lagi lalu pergi keluar kamar, Ara hanya menatap punggungnya saja lalu terhalang pintu yang menutup.


Tiba-tiba terlintas difikiran Ara untuk mengintip Jack, pasti Jack akan bicara dengan Pak Beni. Dengan tertatih-taih karena kakinya yang sakit, Arapun turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar itu.


Dia mencari-cari kemana Jack pergi. Benar saja perkiraannya, Jack pergi menemui Pak Beni tidak jauh dari kamarnya. Ara segera menyelinap dibalik tembok.


“Bagaimana Tuan, kita akan pulang?” tanya Pak Beni.


“Iya, kita pulang, aku juga ingin bertemu Arum,” jawab Jack.


Mendengar kata Arum disebut oleh Jack, langsung saja hati Ara mendadak dibakar cemburu, dia tidak suka kalau Jack bertemu Arum. Entah kenapa hatinya merasa seakan-akan ada hal yang buruk jika Jack bisa bertemu Arum.


Tapi Ara juga tidak bisa melarangnya, kalau memang Jack ingin bertemu Arum.


***********


Readers maaf ya membaca novel ini harus dibarengi sabar karena lambat, authornya cuma bisa nulis satu bab satu bab dulu.


**********