
Jack menuruni tangga masih dengan menggendong Ara. Saat sampai diruang tamu, semua orang menatapnya terkejut melihat pria itu mengendong istrinya.
Diruang tamu itu sudah ada Ny.Inez dan Tn.Ferdi juga Ny. Imelda dan Arum.
Tn. Ferdi langsung berubah masam saja melihat Jack menggendong Ara, kekhawatirannya Ara akan cepat hamil membuatnya merasa resah.
Ny. Imelda juga terkejut tapi tidak bicara apa-apa, termasuk Arum yang hanya menatap pria tampan itu yang datang dengan menggendong istrinya. Sungguh pemandangan yang membuat iri wanita yang melihatnya.
“Jack duduklah,” kata Ny. Inez pada Jack.
Pria itu mendudukkan Ara di sofa panjang, lalu diapun duduk disampingnya. Jack tahu dan mengerti perasaan istrinya, dia ingin membuat istrinya nyaman.
Meski merasa malu dilihat semua orang, terkesan dia wanita yang manja, tapi disisi lain hati Ara merasa tenang setidaknya itu menunjukkaan pada semua orang kalau pria itu memang menyayanginya.
Mata Jack langsung tertuju pada Arum, karena wanita asing diruangan ini hanyalah Arum. Gadis itu cantik, dia memiliki beberapa hal yang mirip dengan Arum kecil, meski belum tentu juga dia Arum kecilnya.
Ditatap pria tampan itu membuat Arum merasa gugup. Dia tidak menyangka Jack akan setampan itu, dengan postur tubuhnya yang sempurna. Arum memang pernah melihat Jack waktu di cafe tapi dia tidak terlalu memperhatikannya, ternyata Jack sangat tampan.
Arum membayangkan Jack depresi itu dengan penampilan seperti orang gila yang kotor dan tidak terurus ternyata malah lebih menarik dari pria normal umumnya.
Melihat Jack yang menatap Arum, membuat hati Ara mulai menyala-nyala cemburu, dia tidak suka suaminya memperhatikan wanita lain. Bibirnya mulai mengerucut.
“Jack, dia adalah Arum. Teman kecilmu yang tenggelam dulu, tenryata Arum masih hidup, sehat dan cantik,” kata Ny. Inez.
Jack tidak menjawab, memorinya berputar ke masa lalu, apa benar ini Arum kecilnya?
“Tante juga sudah tes DNA, kalau Arum ini benar anak tante yang tenggelam itu. Dia diselamatkan seorang nelayan yang tinggal disekitar pantai,” ujar Ny. Imelda.
Jack masih diam, ternyata Ny. Imelda sudah melakukan tes DNA kalau ternyata itu Arum, putrinya.
“A Arum,” ucap Jack, menatap Arum.
“Halo Jack, aku Arum,” sapa Arum, tersenyum ramah. Ara tidak suka melihatnya.
Ditatap pria itu membuat Arum merasa salah tingkah, benar kata ibunya Jack sangat tampan, bukan tampan lagi tapi sangat mempesona.
Jack masih menatap Arum. Tidak berkedip, dia meneliti detil wanita itu. Memang benar wanita itu memiliki beberapa hal yang mirp Arum kecil, bahkan saat melihatnya di café, Jack mengira itu adiknya Arum. Tapi memikirkan Arum, entah kenapa Jack justru teringat pada istrinya.
Jack menoleh pada Ara yang juga jadi menatapnya heran. Jack melihat mata cantik itu. Saat pertama kali bertemu Ara, tatapan mata itu seperti tatapannya Arum, bahkan saat Ara terbawa arus laut, yang muncul dibenaknya adalah tatapan putus asanya Arum saat tragedi itu terjadi.
Itulah yang membuatnya mengira dia telah menyelamatkan Arum dan membuatnya tersadar akan depresinya dan melihat kenyataaan yang dihadapinya.
Jack juga merasa heran entah kenapa aura tatapan mata Arum itu malah ada pada istrinya?
“Jack,” panggil Ara, karena keheranan Jack malah menatapnya.
Melihat sikap Jack, membuat Arum merasa diabaikan, ternyata semua tidak sesuai ekspektasinya. Tidak ada tanda-tanda dia sangat berarti bagi Jack, yang menyebabkan kejiwaan Jack terguncang.
Jack kembali menatap Arum. Melihat Jack kembali menatap Arum, membuat Ara khawatir, Jack tidak boleh terus-terusan menatap Arum, bagaimana kalau dia tertarik? Arapun sengaja menendang kaki meja.
“Aduh!” tiba-tiba Ara mengaduh, Jack langsung menoleh lagi kearahnya.
Ara meniup kakinya yang sakit. Jack langsung saja menunduk memegang lutut Ara.
“Kakiku kena kaki meja,” ucap Ara.
Ny.Inez jadi mencibir melihatnya.
”Manja amat,” ucap Ny. Inez dalam hati.
Beda lagi kata Tn.Ferdi,” ternyata wanita ini tidak sebodoh yang aku kira,” batinnya.
“Kau kenapa?” tanya Ny.Imelda.
“Tidak apa apa kakiku hanya lecet-lecet saja,”jawab Ara, sambil tersenyum.
Jackpun menatapnya.
“Tidak apa-apa Jack, sudah lebih baik,” ucap Ara, padahal dia tidak suka Jack menatap Arum dengan lama, dia takut Jack tertarik pada Arum yang cantik.
Tangan Jack langsung mengusap rambutnya Ara, dia tahu istrinya sengaja mencari-cari perhatian.
Arum tampak tersenyum kecut, pria itu yang katanya teman kecilnya yang sangat menyayanginya, ternyata apa buktinya? Bahkan reaksinya hanya begitu saja, dan malah sibuk mengurus istrinya.
“Arum!” panggil Ny. Inez.
Arum menoleh pada ibunya Jack itu.
“Jack, memang depresi, jadi dia terkadang tidak focus dengan beberapa hal. Aku harap kau mau sering-sering kesini, supaya Jack bisa melihat kenyataan kalau kau selamat dari tragedi itu dan memulihkan rasa bersalah Jack, jadi Jack bisa cepat sembuh,” kata Ny. Inez.
Mendengar perkataan mertuanya, Ara langsung memotong.
“Aku ingin Jack sembuh,” kata Ny.Inez.
“Arum itu bukan Dokter, kenapa harus dia yang membantu kesembuhannya Jack?” protes Ara.
Ny. Imelda tampak menghela nafas panjang, padahal tawaran dari Tn.Ferdi sangat menggiurkan kalau sampai Arum bisa menyingkirkan wanita ini, tapi sepertinya wanita ini tidak selemah yang dia kira.
“Jack adalah suamiku dan aku tidak mengijinkan siapapun menemui Jack, termasuk Arum!” Seru Ara, lalu menoleh pada Arum.
“Maaf Arum, aku tidak mengijinkan kau dekat dengan suamiku. Aku senang kau selamat dari tragedi itu, itu sudah cukup! Kau urus saja dirimu sendiri! Jack bukan urusanmu! Dia suamiku sekarang! Aku tahu yang terbaik buat Jack,” kata Ara dengan tegas.
Perkataan Ara itu membuat semua orang kesal, termasuk Ny. Imelda.
“Inez, aku kemari karena permintaan kalian untuk mempertemukan Jack dengan Arum, supaya Arum bisa membuat Jack sembuh, tapi ternyata mendapat perlakuan seperti ini!” gerutu Ny.Imelda.
“Tenanglah Imelda, abaikan saja wanita itu! Dia memang tidak mau Jack sembuh,” ujar Ny. Inez.
Ara menatap Ibu mertuanya itu. Apa tidak terbalik? Mereka yang tidak ingin Jack sembuh. Semua ini hanya palsu.
Ny. Imelda menoleh pada Arum.
“Sayang, ayo pulang! Tidak ada gunanya kita disini!” ajak Ny. Imelda sambil berdiri menarik tangannya Arum.
“Arum, besok kau boleh kesini lagi, jangan pedulikan wanita itu,” kata Ny. Inez.
Arum hanya menoleh pada Jack, pria itu hanya melihatnya saja tanpa ekspresi apapun. Lalu pada Ara, ya, dia merasa iri melihat sikap perhatiannya Jack pada istrinya.
Sungguh beruntung yang menjadi istrinya Jack. Padahal Jack depresi tapi tidak seperti yang dibayangkannya, pria itu sangat menarik.
“Ayo sayang!” ajak Ny.Imelda lagi, mengabaikan perkataannya Ny. Inez, membawa Arum keluar dari ruangan itu.
Ny. Inez menoleh pada Ara.
“Kau lihat apa yang kau lakukan? Kau menyakiti mereka! Arum sudah bersedia membantu kesembuhannya Jack, kau malah menghardiknya,” kata Ny. Inez, lalu menoleh pada Jack.
“Jack, asal kau tahu, Aram itu sangat menderita sejak tragedi itu. Dia hidup dalam kemiskinan, itu semua karena apa? Karena ulahmu, justru sekarang kau harus bertanggung jawab padanya. Kau harus membuatnya bahagia, untuk mengganti masa bahagia Arum yang hilang,” kata Ny. Inez.
Jack tampak terkejut mendengarnya, apa benar begitu? Selama ini hidup Arum menderita?
Ara menoleh pada Jack.
“Jack, semua itu bukan salahmu, itu hanya sebuah kecelakaan,” ujar Ara.
Tuan Ferdi bangun dari duduknya dan menghampiri Ara, raut mukanya terlihat merah.
“Sepertinya benar kau tidak ingin suamimu sembuh, kau sengaja ingin Jack terus depresi,” kata Tn. Ferdi.
Ara juga bangun dari duduknya dan menatap Tn.Ferdi.
“Apa tidak sebaliknya Tuan? Bukankah kalau Jack depresi itu menguntungkan Tuan?” tanya Ara.
“Kau berani-beraninya bicara begitu!” potong Ny. Inez, yang ini berdiri menatap Ara dengan tajam.
Ara balas menatap Ny dan Tn.Ferdi.
“Sudahlah Nyonya, tidak perlu ditutup-tutupi lagi, Nyonya dan Tuan sengaja mendekatkan Arum dengan Jack supaya Jack jauh dariku,” kata Ara.
Ny. Inez akan bicara tapi didahului Tn. Ferdi.
“Iya kau benar, posisimu tidak layak untuk Jack, Arum lebih baik,” kata Tn.Ferdi.
“Maksud Tuan apa? Tuan membahas status sosial? Aku dan Jack sudah menikah,” ujar Ara.
“Tentu saja dengan status sosialmu kau ingin menguasai hartanya Jack,” kata Tn. Ferdi.
“Tuan, jangan maling teriak maling! Lihatlah diri Tuan, Tuan yang memanfaatkan kekayaannya Jack! Kalian tidak ada yang menyayangi Jack!” ujar Ara dengan nada tinggi.
Mendengar perkataan Ara, Tn. Ferdi naik pitam.
“Kau kurang ajar!” bentak Tn.Ferdi.
Tn. Ferdi mengangkat tangannya akan menampar Ara, tapi tamparan itu tertahan karena ada yang memegang tangannya Tn.Ferdi dengan kuat, tangannya Jack. Pria itu sudah berdiri diantara Tn.Ferdi dan Ara.
Tentu saja Tn.Ferdi sangat terkejut juga Ny.Inez, termasuk Pak Beni juga yang sedari tadi ada diruangan itu berdiri tidak jauh dari kursi mereka berkumpul.
Tn. Ferdi melihat pada tangannya yang dipegang Jack dengan kuat. Diapun tersenyum sinis lalu menatap Jack.
*********