
Di rumah Ny. Imelda…
Terdengar suara ketukan dipintu kamar itu. Seorang gadis cantik duduk didepan cermin sedang menyisir rambutnya.
“Masuk!” ucapnya.
Ny. Imelda membuka pintu itu, dilihatnya Arum, putrinya yang baru ditemukan itu sedang duduk di depan cermin.
“Kau masih bersiap-siap?” tanya Ny. Imelda, berjalan mendekati Arum lalu berdiri dibelakangnya, mengambil sisirnya dan melanjutkan menyisir rambutnya Arum.
“Kita akan berkunjung ke rumahnya Ny.Inez, kau akan bertemu Jack, dia sudah pulang dari Paris,” kata Ny. Imelda.
Arum tidak menjawab, hanya menatap wajahnya di cermin. Dalam benaknya dia tidak begitu mengingat sedekat apa dirinya dengan Jack.
“Kau sudah melihat foto kalian saat kecil. Apa sekarang kau sudah mengingat siapa Jack?” tanya Ny. Imelda.
“Entahlah Bu, aku tidak mengingat siapapun dimasa laluku, aku hanya tahu orangtua angkatku di pantai,” jawab Arum.
“Ada yang perlu kau tahu tentang Jack,” kata Ny. Imelda.
“Maksud ibu apa?” tanya Arum.
“Ny. Inez dan Tn. Ferdi butuh bantuanmu untuk memisahkan Jack dengan istrinya itu,” jawab Ny. Imelda.
Arum menatap ibunya lewat cermin.
“Alasannya apa?” tanya Arum.
“Istrinya Jack itu berniat jahat pada Jack. Dia memanfaatkan kondisi Jack yang depresi untuk mengeruk harta kekayaannya Jack. Ny.Inez yakin wanita itu pasti punya selingkuhan diluar dan tidak benar-benar mencintai Jack, istrinya itu pasti akan meninggalkan Jack kalau tujuannya sudah tercapai,” jawab Ny. Imelda, masih menyisir rambutnya Arum.
“Apa benar begitu?” tanya Arum lagi, dia tampak bingung.
“Benar. Jack itu sangat kaya, harta warisan dari ayahnya yang bangsawan di Perancis itu sangat banyak,” jawab Ny.Imelda.
Arum terdiam tidak bicara.
“Jadi mereka memintamu untuk melakukan sesuatu,” kata Ny. Imelda.
“Melakukan apa?” tanya Arum.
“Kau adalah teman kecilnya Jack, kau sangat disayangi oleh Jack, kau harus bisa membuat Jack meninggalkan wanita itu,” jawab Ny. Imelda.
“Bagaimana kalau Jack memang menyukai istrinya, makanya mereka menikah,” kata Arum.
“Jack itu depresi, dia tidak tahu apa artinya cinta, mereka baru bertemu dan dia langsung melamarnya dengan memberikan wanita itu rumah mewah dan perhiasan satu koper, dari situ saja bisa kelihatan kalau Jack memang gila!” ujar Ny. Imelda.
“Jadi maksud ibu aku harus membuat Jack meninggalkan istrinya?” tanya Arum.
“Iya seperti itu. Aku tahu Jack yang menyebabkanmu tenggelam waktu itu. Tapi ya sudahlah kita lupakan masa lalu, kau juga sudah kembali kerumah ini. Apalagi Jack sudah depresi sangat lama, tidak tega juga kalau dia dimanfaatkan oleh istrinya,” kata Ny. Imelda.
“Iya kasihan juga Jack, sudah depresi sekarang dimanfaatkan oleh istrinya,” gumam Arum.
“Makanya, kau mau ya mendekati Jack. Dia itu tampan loh, kaya lagi, kau pernah bertemu dengannya di café itu tempo hari. Ya meskipun dia depresi, siapa tahu karena bertemu denganmu Jack sembuh dan kau bisa menikah dengannya,” kata Ny. Imelda, terus menghasut Arum.
Arum tampak berfikir keras.
“Demi Jack, sayang, Jack itu sangat menyayangimu saat kalian masih kecil. Kalian sangat cocok. Kalau kau masih tidak ingat, nanti setelah bertemu Jack lambat laun akan ingat,” kata Ny. Imelda.
“Tapi aku tidak mau menikah dengan pria yang depresi, meskipun dia temanku,” keluh Arum.
“Tapi Jack itu kaya, sangat kaya. Apa kau tidak mau hidup enak? Selama ini kau tinggal dipantai bersama orang tua angkatmu yang ekoniminya pas-pasan. Ibu saja tidak tega membayangkan kau hidup dalam kekurangan,” ucap Ny. Imelda, sambil membalikkan tubuhnya Arum menghadapnya, lalu memeluknya.
“Apa aku bisa membuat Jack meninggalkan wanita itu?” tanya Arum.
“Tentu saja kau bisa, kau sangat cantik,” seru Ny.Imelda, kini memegang tangannya Arum.
“Dan yang terpenting, kau itu sudah disayangi Jack lebih dulu, banyak peluang buatmu untuk mendapatkan Jack, semoga saja dia sembuh, lalu kau menikah dengannya kau tidak lagi mempunyai suami yang depresi,” kata Ny.Imelda memberi semangat.
“Ya sebenarnya kasihan juga Jack kalau dimanfaatkan wanita itu,” gumam Arum.
“Ibu yakin, wanita itu pasti punya selingkuhan diluar, lihat saja nanti juga pasti akan terbongkar,” kata Ny. Imelda lagi.
Arum tidak menjawab lagi, dia hanya menatap ibunya itu.
“Kau bersiap-siap, sebentar lagi kita berangkat menemui Jack,” kata Ny. Imelda.
Arumpun mengangguk.
Setelah ibunya keluar kamarnya, Arum tampak merenung. Kasihan sekali Jack yang depresi dimanfaatkan oleh istrinya. Memang benar sih, bagaimana mungkin Jack bisa mengenal cinta kalau dia depresi? Jack pasti asal saja saat menikahi istrinya itu.
Arumpun bergegas menyelesaikan berdandannya.
*****
Ara gelisah terus mondar mandir didalam kamarnya, rasa sakit di kakinya tidak di rasakannya. Sebentar lagi Jack akan bertemu dengan Arum, apakah hati Jack akan beralih pada Arum?
Ara berhenti di depan cermin menatap dirinya. Ingatannya melayang pada Arum yang ditemuinya dirumah Ny.Imelda. Arum sangat cantik, dia takut Jack terpikat oleh Arum.
Ara kembali menatap wajahnya dicermin. Memiliki suami yang tampan dan kaya sungguh berat, perasaan was-was selalu muncul, perasaan suami akan digoda wanita lain terus ada, karena secara alamiah, wanita juga pasti menyukai sosok pria tampan seperti suaminya. Apalagi kalau wanita-wanita itu lebih cantik dan menggoda darinya. Hati Ara semakin resah saja memikirkannya.
Tangannya Ara memegang perut juga pinggangnya, sejak menikah dengan Jack, badannya sepertinya agak lebih besar, tidak selangsing dulu. Pipinya juga terlihat lebih penuh.
Saking sibuknya mengukur tubuhnya, tidak didengarnya suara pintu dibuka dan Jack sudah masuk ke kamar itu, melihat istrinya yang sedang berkaca di depan cermin.
Jack keheranan dengan apa yang dilakukan istrinya. Diapun berjalan menghampiri Ara yang terkejut saat tahu-tahu didepan cermin tidak sendiri lagi tapi ada Jack disampingnya.
“Kau mengagetkanku saja,” ucap Ara.
Jack tidak menjawab, malah menatapnya masih dengan tatapan heran.
Ara menoleh pada Jack.
“Sejak aku menikah denganmu, aku baru sadar kalau aku bertambah gemuk, kau lihat pipiku? Sepertinya pipiku jadi gembul,” ucap Ara sambil memegang pipinya, lalu menoleh lagi ke cermin.
Jack semakin heran saja, ada apa dengan istrinya?
“Pria itu pasti suka pada wanita yang memiliki tubuh yang bagus. Aku sudah memintamu untuk mengajakku ngegym tapi kau tidak mengajakku juga,” keluh Ara.
“Gym?” tanya Jack.
“Iya,” jawab Ara.
“Cantik,” ucap Jack.
“Apa? Cantik? Maksudmu siapa? Aku? Aku tidak lebih cantik dari Arum,” ucap Ara keceplosan.
Barulah Jack mengerti sekarang, ternyata istrinya sedang gelisah karena dia akan bertemu dengan Arum. Sebenarnya dia ingin tertawa tapi di tahannya, dia masih belum jujur soal kesembuhannya pada Ara.
Ara menoleh pada Jack.
“Baiklah aku mengaku, aku khawatir dengan kedatangan Arum ini,” ucap Ara.
“Aku takut kau menyukai Arum, Arum itu yang kita temui di café itu, kau pernah melihatnya, itulah Arum. Dia sangat cantik,” lanjut Ara, lalu menunduk lesu.
Melihat sikap istrinya semakin membuat Jack geli saja, apa ini? Istrinya sedang cemburu? Arum hanya teman kecilnya dan istrinya cemburu?
“Aku tidak suka kau bertemu Arum, aku takut kau tertarik pada Arum, karena walau bagaimanapun kau sangat menyayangi Arum kan?” ucap Ara, sambil kembali mengangkat wajahnya menatap Jack.
Pria itu tidak menjawab, hanya menatap wajah cantik didepannya. Kata siapa istrinya tidak cantik? Dia mau disuguhi wanita secantik apapun meskipun model internasional sekalipun, yang dicintai adalah istrinya ini satu-satunya.
Jack terdiam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya pada Ara, yang langsung saja menahan nafas, apa Jack akan menciumnya lagi. Tubuhnya mendadak tegang.
Jack semakin mendekatkan wajahnya, tapi ternyata melewati bibirnya Ara, dia malah berbisik ke telinganya Ara.
“Kau cantik, paling cantik,” ucap Jack.
Kata-kata yang sangat membuat hati Ara berbunga-bunga. Senyum langsung mengembang dibibirnya. Dan senyum itu langsung hilang saat sebuah ciuman mendarat dipipinya. Sebuah kecupan manis dari Jack.
Aah Jack ini, kalau mau depresi ya depresi saja kalau mau sembuh ya sembuh, kau membuatku gila! Kau depresi tapi sangat manis, batin Ara, menggeremet dalam hati.
Tok Tok Tok! Terdengar suara ketukan dipintu.
“Siapa itu,” ucap Ara, berjalan sedikit tertatih menuju pintu lalu membukanya. Pak Beni sudah ada disana.
“Ny. Imelda dan Arum sudah datang,” kata Pak Beni.
Ara menoleh pada Jack yang juga menatap Pak Beni yang menatap Jack.
“Jack, Arum sudah datang,” kata Ara pada Jack.
Jack tidak menjawab, dia berjalan menuju pintu. Tiba-tiba Ara meraih tangannya Jack, membuat pria itu menoleh kearahnya.
“Aku akan menemanimu,” ujar Ara.
Jack terdiam lalu melirik kakinya Ara.
“Kakiku sudah baik, aku bisa berjalan sendiri,” ucap Ara.
Tiba-tiba Jack berjongkok, membuat Ara terkejut.
“Kau akan menggendongku lagi?” tanya Ara, wajahnya langsung merah dan menoleh pada Pak Beni yang menduduk saja pura-pura tidak melihat.
Ara kembali tersenyum lalu naik kepungung Jack. Dia jadi kerasan digendong- gendong Jack terus.
Pria itu kembali berdiri sambil menopang tubuh istrinya dipunggungnya. Melirik sekilas pada Pak Beni lalu berjalan meninggalkan kamar itu diikuti Pak Beni.
********
Readers aku nulis 2 bab nih sampe begadang gadang tidur jam 3 pagi, jangan lupa like, gift , vote, yang sudah ngasih tips makasih…
*****