
Ara merasakan bantalnya tidak seempuk biasanya, tubuhnya tidak sebebas biasanya. Udara dingin dari Ac juga terasa menyentuh kulitnya. Dia mencoba membukakan matanya meskipun sebenarnya dia masih merasa ngantuk. Saat matanya sedikit terbuka, dia agak terkejut karena apa yang dilihatnya sekarang berbeda.
Bukan lagi sinar matahari yang menyilaukan, tapi dada telanjang seorang pria ada tepat didepan matanya, dada yang semalaman menempel ditubuhnya.
Ara mengerjapkan matanya berkali-kali, melirik apa yang ada disekitarnya. Tubuhnyapun yang tidak berpakaian berbaring miring menempel ditubuh pria itu. Sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka.
Diliriknya keatas, tangan pria itu melintas melewati bahunya, melirik ke bawah, ternyata dia berbantal bahunya Jack.
“Kau sudah bangun?” terdengar suara Jack dari atas kepalanya, merasakan ada pergerakan dipelukannya.
Ara langsung mendongak menatap pria itu. Kedua tangannya Jack terasa mengusap punggungnya. Sepertinya semalaman dia tidur dipelukannya Jack.
Tangan yang memeluk Ara itu berpindah mengusap rambutnya.
“Apa kau bangun dari tadi?” tanya Ara, menatap mata pria itu yang malah menempelkan wajahnya ke keningnya.
“Iya,” jawab Jack.
“Kenapa kau masih berbaring?” tanya Ara.
Tidak biasanya Jack sesiang ini masih ditempat tidur. Biasanya pria itu bangun lebih pagi darinya.
“Kau tidur nyenyak di tanganku, mana mungkin aku tega menggangu tidurmu?” jawab Jack membuat Ara terkejut. Memang benar dia tidur diatas lengannya Jack. Ah pria itu kenapa dia selalu melindunginya?
“Maaf, kau pasti sangat pegal!” ucap Ara sambil Ara sambil mengangkat tubuhnya.
Tangan Jack terlepas dari Ara, tapi dia malah bangun dan membaringkan Ara lagi langsung memeluknya.
“Kenapa kau selalu mengatakan maaf padaku?” tanya Jack, menatap wajah dibawahnya.
“Apa lagi yang harus aku katakan?” Ara balik bertanya.
“Aku milikmu, aku tidak keberatan memelukmu semalaman,” jawab Jack, mengecup keningnya Ara. Menatap lagi wajah yang pucat itu, tidak ada lagi lipstick babypink mengkilatnya. Ciumannya semalam menghapus semua riasan diwajah itu.
Ara tidak menjawab, menatap wajah tampan itu. Dia selalu merasa tidak yakin kalau dia menikahi pria itu. Dari pertemuan yang begitu singkat membuatnya terikat dengan pria ini dalam ikatan pernikahan.
“Terimakasih,” ucap Jack.
“Terimakasih untuk apa?” tanya Ara.
“Terimakasih karena kau sudah menjadi istriku,” jawb Jack, kembali mengusap rambutnya Ara.
“Aku senang menjadi istrimu,” jawab Ara, menatap pria itu, pria terbaik yang pernah ditemuinya dalam hidupnya.
“Aku mencintaimu,” ucap Jack, dia gemar sekali mengatakan kata-kata itu, dian ingin menunjukkan pada istrinya kalau dia benar-benar menyayanginya.
Tangan Jack kembali menyusuri tubuh telanjang itu yang sebagian tertutup selimut. Ada beberapa tanda yang dia tinggalkan disana, lalu kembali diciumnya bibir pucat itu. Sepertinya waktu semalam tidak cukup untuk mencumbunya.
Ara bergerak mencari posisi nyaman dalam pelukannya Jack. Tangannya memeluk lengan Jack yang ditidurinya tadi. Berada dalam kungkungan tubuh kekar itu membuatnya tidak akan bisa lepas begitu saja.
Jack menyibakkan rambut Ara kebelakang dan mencium lehernya, dia kembali melihat tahi lalat dibelakang rambut istrinya itu. Meskipun itu mengingatkannya pada Arum, dia tidak mau merubah momen bersama dengan istrinya menjadi suram, dia hanya kembali mencium lehernya.
Terdengar suara ketukan dipintu beberapa kali.
“Siapa yang mengetuk pintu? Aku malas bangun,” keluh Ara.
“Kau tidurlah, biar aku yang membukanya,” kata Jack, sambil melepaskan pelukannya dengan enggan, itupun sambil kembali mengecup bibir istrinya. Lalu ditariknya selimut menutupi tubuhnya Ara.
“Tunggu sebentar!” jawab Jack pada si pengetuk pintu.
Ara melihat Jack turun dari tempat tidur, berjalan telanjang menuju walk in closet. Ah pria itu tidak malu-malunya melenggang di dalam kamar dalam keadaan telanjang bulat.
Pria itu memang tidak tahu malu, kenapa tidak memakai selimut berjalan kesana, tapi kalau memakai selimut, tubuhnya yang akan terexpose kemana-mana. Sudahlah lebih baik melihat Jack saja yang telanjang.
Jack keluar dari walk in closet dengan mengenakan mantel panjang menutupi tubuhnya. Ara hanya memperhatikannya, pria itu terlihat sexy. Rasanya tidak percaya kalau pria sesexy itu adalah suaminya.
Seperti merasa ada yang memperhatikan, Jack menoleh pada Ara yang segera memejamkan matanya pura-pura tidak memperhatikan Jack.
Jack tersenyum melihat tingkah istrinya, diapun berjalan mendekati tempat tidur. Duduk dipinggir tubuh Ara lalu tangannya mengusap tubuh yang berselimut itu.
“Kau kenapa?” tanya Jack.
“Aku masih mengantuk, aku mau tidur,” jawab Ara, tapi wajahnya memerah.
Jack bukannya menjauh, Ara malah merasakan pria itu mendekati tubuhnya.
“Kau sudah terbiasa melihatnya dan merasakannya, tidak perlu malu,” ucap Jack, membuat Ara membelalakkan
matanya dan langsung menatap Jack.
“Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang memalukan?” protesnya.
“Aku mengatakannya pada istriku jadi aku tidak perlu malu,” ucap Jack sambil tersenyum, melihat wajah Ara semakin merah.
“Kau selalu menggangguku,” keluh Ara.
Jack malah kembali memeluknya dan mencium bibirnya. Ara mengusap rambutnya Jack perlahan.
“Kau akan membukakan pintu, kasihan yang menunggu diluar,” kata Ara, karena pria itu tidak habis-habisnya menciumnya.
Ara tidak bisa melihat siapa yang mengetuk pintu, hanya saja dia mendengar suara Pak Beni.
“Ada tamu dari Paris,” kata Pak Beni.
Mendengar kata Paris membuat Ara menoleh kearah pintu. Dia hanya melihat punggungnya Jack dan pintu yang hanya terbuka sedikit.
Tendengar lagi suara seorang pria dengan tegas dan suara hentakan sepatu.
“Hormat Jendral!” kata suara itu dalam bahasa Perancis, tentu saja Ara yang mencoba tidur lagi langsung menajamkan pendengarannya.
Seseorang memanggil Jack 'Jendral', siapa tamu itu?
Sekarang terdengar suara Jack dalam bahasa perancis.
“Siap Jendral!” suara itu kembali terdengar masih dalam bahasa Perancis, lalu terdengar langkah-langkah menjauh dan pintu ditutup.
Ara menoleh kearah pintu. Suaminya itu menghampirinya.
“Siapa?” tanya Ara.
Jack tidak langsung menjawab, dia duduk dipinggir tempat tidur, mencondongkan tubuhnya ke tubuh Ara, mengusap tubuh berselimut itu.
Ara menatapnya.
“Ada tamu,” ucap Jack.
“Tamu siapa?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab, membuat Ara diam dan hanya menatapnya.
“Kau istirahatlah. Aku ke ruang kerja dulu sebentar. Jika kau ingin mandi, bilang padaku, aku akan memandikanmu,” kata Jack.
Ara tersenyum, pria itu mau memandikannya?
“Kenapa?” tanya Jack.
“Kau serius akan memandikanku?” tanya Ara.
“Tentu saja, giliran aku memandikanmu,” jawab Jack. Ara hanya membalasnya dengan tertawa kecil.
“Aku pergi dulu sebentar,” ucap Jack. Kembali mencium pipi Ara, mengusap punggungnya lagi lalu keluar dari kamar itu.
Ara memikirkan tamunya Jack berbahasa Perancis dan kalau tidak salah dengar tamu itu memanggil Jack dengan sebutan ‘Jendral’. Jack juga tidak mengatakan tamunya siapa.
Siapa tamunya itu? Apakah dari kantornya Jack di Paris? Kenapa jauh-jauh datang kesini, apa ada yang penting?
Ara merubah posisi tidurnya jadi terlentang menatap langit-langit, ketika terbersit suatu ide dia bergegas turun dari tempat tidurnya sambil berselimut. Pergerakannya yang cepat membuatnya meringis merasakan sakit diantara kakinya. Tapi dia harus pergi ke ruang kerjanya Jack, melihat siapa tamunya Jack itu.
Sambil masih meringis menahan perih dan kaki yang lemas juga gemetaran, Ara menuju walk in closet, memakai mantel panjang seperti yang Jack pakai, dan bergegas keluar lagi.
Ara melihat ke sekeliling kamar, dilihatnya ponselnya ada di atas meja, diapun segera mengambilnya, lalu keluar dari ruangan itu.
Sebenarnya tubuhnya juga terasa lemas dan mengantuk, tapi dia bergegas menuju ruang kerjanya Jack, atau dia tidak akan mendengar apapun dari sana.
Saat berada di depan pintu, Ara mendengar suara percakapan didalam. Diapun segera menyalakan ponselnya, menyalakan alat perekam, kemudian ponsel itu didekatkan ke pintu. Terdengar suara percakapan dalam bahasa Perancis.
“Saya mengantarkan surat ini, Jendral!” kata suara di dalam. Ara tidak mengerti artinya. Dia benar-benar harus belajar bahasa Perancis.
Di dalam ruang kerja itu, Jack menerima surat itu lalu membacanya.
"Kami datang untuk menjemput Jendral!" kata suara itu.
“Aku masih banyak urusan disini,” ucap Jack, kembali melipat surat itu lalu dimasukkan kembali ke amplopnya.
“Kapan Jendral siap, kami akan segera menjemput,” kata pria itu.
Ara mengerutkan keningnya, dia tidak tahu arti percakapan itu.
Jack tampak diam, baru juga tadi malam dia bermesraan dengan istrinya, kenapa ada tugas seperti ini? Dia tidak mungkin meninggalkan istrinya.
“Kau tunggu sebentar,” ucap Jack, sambil berjalan ke meja kerjanya lalu menuliskan sesuatu disana.
“Aku tidak bisa ikut denganmu sekarang, kau bawa surat ini!” kata Jack setelah selesai. Surat itu diberikan pada prajurit itu.
Ara masih terus merekam, tapi tidak ada percapakan lagi di dalam, hanya suara tegas dari tamu itu.
“Siap Jendral!” kata suara itu.
Saat terdengar suara hentakan kaki mendekati pintu, Ara segera pergi dari tempat itu dengan menahan rasa perih diantara kakinya yang tidak hilang-hilang. Dia buru-buru kembali ke kamarnya.
Ara duduk dipinggir tempat tidur, menyetel rekaman tadi. Dia memikirkan apa yang dikatakan Jack dengan tamu dari Paris itu, tapi dia tetap tidak mengerti.
Setelah puas mendengarkan dan tidak tahu artinya, Arapun segera membuka kontak di ponselnya, mencari orang yang kira-kira bisa membantunya menerjemahkan percakapan itu. Yang pasti bukan Pak Beni. Pak Beni tidak boleh tahu kalau dia menguping dan merekam pembicaraan Jack dengan tamunya di ruang kerja.
*************