Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-65 Pergi ke cafe


Ara membukakan pintu rumah saat mendengar ada yang mengetuknya. Dia dan Jack baru saja selesai sarapan, makan pagi yang kesiangan karena bangunnya telat juga sedikit drama, mereka akan bersiap-siap pergi ke café.


Ara menatap pria yang berambut putih itu berdiri dipintu dengan sebuah koper ditangannya.


“Pak Beni! Kau membawa baju ganti Jack?” tanya Ara.


“Benar Nyonya,” jawab Pak Beni.


“Baiklah, silahkan masuk. Baju Ayahku tidak ada yang muat,” ucap Ara, tangannya mengulur mengambil kopernya Pak Beni dibawa masuk.


“Jack, ada Pak Beni membawa baju ganti, ikut aku  ke kamar, kita ganti bajumu!” seru Ara, menoleh pada Jack yang duduk diruang tamu lalu pergi ke kamarnya dengan menarik koper bawaanya Pak Beni.


Pak Beni menoleh kearah Jack. Dia hanya berdiri didekat kursi kursi tamu itu.


“Apa Tuan baik-baik saja?” tanya Pak Beni. Dia ingat kalau Jac menunggu di luar rumah tadi malam.


“Aku baik-baik saja,” jawab Jack.


Pak Beni melirik kearah perginya Ara lalu menoleh lagi pada Jack. Pria tampan itu langsung bangun dan menghampiri Pak Beni.


“Ada kabar penting Tuan, sangat penting!” ucap Pak Beni.


“Soal apa? Ibuku menyuruh pulang?” tanya Jack, berdiri di dekat Pak Beni dan bicara berbisik-bisik jangan sampai terdengar oleh Ara maupun Ibunya yang Jack tahu sedang mencuci pakaian dibelakang rumah.


“Benar, Nyonya menyuruh pulang,” jawab Pak Beni.


“Tumben sekali? Tidak mungkin ibuku rindu padaku kan?” keluh Jack.


“Tuan Ferdi dan Ny.Inez akan mempertemukan Tuan dengan Arum,” ucap Pak Beni, membuat Jack terkejut dan menatap Pak Beni.


“Apa? Kau tidak bercanda kan? Mereka serius akan mepertemukan aku dengan Arum?” tanya Jack, benar-benar terkejut.


Perasaannya Jack langsung gelisah saja. Apa benar Arum masih hidup? Bagaimana keadaan Arum sekarang? Apakah dia baik-baik saja atau dia mengalami hal buruk di lautan? Kenapa baru sekarang mendengar kabar Arum masih hidup?


Apakah Arum memang baru di temukan sekarang atau memang dirahasiakan keberadaannya? Dan kalau dia bertemu dengan Arum, apa yang akan dilakukannya pada Arum?  Apakah Arum akan membencinya? Ya, pasti Arum akan membencinya.


“Itu yang dikatakan Tuan dan Nyonya. Tapi sepertinya Nyonya juga tidak terlalu tau pasti soal kebenarannya, Tuan Ferdi masih merahasiakan sesuatu,” jawab Pak Beni.


Ada keringat dingin muncul di keningnya Jack, dia terlihat cemas dan gelisah. Fikirannya mulai kacau memikirkan kemungkinan Arum masih hidup.


“Apa yang harus kulakukan kalau Arum benar masih hidup?” tanya Jack.


“Kita tidak tahu apa benar itu Arum asli atau tidak. Tuan coba saja bertemu dengan Arum, coba kenali apakah itu benar Arum yang asli atau hanya wanita yang berpura pura menjadi Arum?” jawab Pak Beni.


Jack tidak menjawab, saat dia menoleh ternyata Pak Beni sedang memperhatikannya dari atas sampai bawah.


Jack melihat pada dirinya yang memakai kaos yang ketat dan celana yang juga ketat karena kekecilan. Pak Beni sebenarnya ingin tertawa tapi ditahannya.


“Aku memakai baju mertuaku yang kekecilan, istriku yang memakaikannya, aku hanya bisa pasrah saja,” ucap Jack, bukan keluhan tapi dia mengatakannya sambil tersenyum, membuat Pak Beni ikut tersenyum. Meskipun keaadan darurat dan Tuannya tidak pernah hidup susah dia melihat raut bahagia dari setiap kata yang di ucapkannya.


“Dia sangat menyayangiku,” ucap Jack, menolah pada Pak Beni dengan tangan yang masih mengusap baju yang di pakainya.


“Iya, Nyonya sangat menyayangi Tuan,” ucap Pak Beni, dengan senyum mengembang dibibirnya, dia sangat bahagia Tuannya menemukan wanita yang menyayanginya dengan tulus.


“Jack! Kenapa kau tidak kemari? Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu!” terdengar suara Ara berteriak dan langkahnya menghampiri ruang tamu itu.


Jack berdehem sebentar lalu dia kembali mematung. Munculah Ara diruangan itu.


“Kenapa kau masih daim saja, ayo ganti baju dulu,” ajak Ara, tangannya mengulur menarik tangannya Jack.


Ara menoleh pada Pak Beni.


“Pak Beni, aku mau mengajak Jack ke tempat café yang dulu aku bertemu dengan Jack itu, aku mau mentraktirnya membeli eskrim,” ucap Ara.


“Ke café?” tanya Pak Beni, keheranan.


“Iya. Setelah itu kita bisa pergi ke taman kota. Aku ingin mengajak Jack jalan-jalan biar tidak suntuk dan Jack merasa segar,” jawab Ara.


“Baiklah, saya akan mengantar Nyonya,” ujar Pak Beni.


“Terimakasih,” ucap Ara, lalu menoleh pada Jack dan memeluk tangannya Jack.


“Ayo Jack,” ajak Ara, beranjak menuju kamarnya bersama Jack.


Pak Beni hanya memperhatikan mereka. Hati kecilnya merasakan akan ada sesuatu yang terjadi dengan pertemuan Jack dengan Arum. Semoga saja Tuannya tetap bahagia bersama istrinya.


Ara mengganti pakaiannya Jack dengan pakaian yang dibawa Pak Beni. Setelah selesai, mereka pergi ke café tempat Jack dan Ara bertemu pertama kalinya.


Kembali melihat café itu membauat Jack teringat masa lalu. Café itu sudah berusia puluhan tahun, dari sejak dia kecil cafe itu masih berditi. Tidak ada yang berubah hanya memang interior dan exterirnya dibuat lebih modern, selebihnya tidak beda jauh dengan saat dia kecil.


“Reserve Tn. Jack Delmar,” ucap Pak Beni saat membuka pintu dan di sambut satpam.


Seorang pelayan langsung menghampiri.


“Silahkan Tuan!” kata pelayan wanita itu, dengan tangan terulur menunjukkan sebuah tempat meja kursi yang sudah dipesan Pak Beni tadi lewat ponsel.


“Jack!” panggil Ara yang sudah berdiri di dekat kursi yang ditunjuk oleh pelayan tadi.


Jack menoleh kearah Ara. Dia melihat sebuah meja dan dua kursi disana. Letak meja kursi itu dekat jendela, memungkinkan mereka melihat keluar café.


“Tuan!” Pak Beni menarik kursi buat Jack, sementara Ara sudah duduk duluan.


Jack menghampiri Pak Beni lalu duduk dikursi itu.


Dia menatap kedepan, yang ada dihadapannya adalah seorang wanita yang menjadi istrinya sekarang. Dulu Arum yang duduk disana, sekarang Ara yang duduk mengggantikan Arum.


Wanita itu tersenyum padanya, istrinya selalu tersenyum padanya, wanita itu selalu momotivasinya dan berusaha membahagiakannya.


Tidak berapa lama pelayan datang dengan membawa dua mangkuk eskrim, satu coklat dan satu strawberry lalu disimpannya yang coklat diatas meja depan Jack, lalu pelayan itu terdiam dan menoleh pada Pak Beni.


“Eskrim strawberynya Pak?” tanya pelayan itu.


Pak Beni menoleh pada Jack yang hanya diam.


“Tentu saja buatku, kenapa kau bertanya?” ujar Ara, tangannya mengulur kearah pelayan tu.


“Maaf, Nyonya,” ucap pelayan itu lalu menyimpan mankuk eskrim diatas meja di depannya Ara.


Ara menatap Jack yang sedang menunduk melihat eskrim coklatnya.


“Dulu kita pernah kesini membeli eskrim tapi eskrimnya belum habis kau makan, keburu ada hal yang tidak mengenakkan. Sekarang, tidak ada akan ada lagi yang mengganggu kita, kita habiskan eskrimnya!” ucap Ara bersemangat dan langsung memakan eskrimnya.


“Hemm..sangat enak!” ucapnya.


Jack menatap Ara yang memakan eskrimnya dengan semangat. Ara hanya tersenyum padanya dan kembali makan eskrimnya.


“Jangan dilihat saja, makan!” ucap Ara, keheranan Jack hanya menatapnya saja.


Ara menoleh pada Pak Beni.


“Ternyata eskrim stawberrynya sangat enak! Kenapa Pak Beni hanya diam saja? Kau juga boleh memesan eskrim! Ayo pesanlah! Kau boleh duduk bergabung bersama kami,” seru Ara.


Tangan Ara akan menarik sebuah kursi kosong yang ada di sebelah mereka duduk tapi Pak Beni menggeleng.


“Biar saya duduk disana,” ucap Pak Beni, menunjuk kursi kosong tidak jauh dari mereka. Diapun menuju kursi itu.


Ara menoleh lagi pada Jack yang malah menatapnya.


“Kenapa kau diam saja? Ayo makan eskrimnya!” ucap Ara, mengambil sendok eskrim Jack lalu disiukkan dan di sodorkan ke mulutnya Jack.


“Ayu makanlah, waktu itu kau makan eskrimnya lahap sekali, bahkan kau tidak mempedulikanku, eskrim lebih menarik daripada kehadiranku buatmu!” ucap Ara.


Jack menatap wanita itu. Apa benar ucapannya itu? Buatnya eskrim lebih menarik dari dirinya? Tidak, sekarang wanita itu lebih menarik dari ribuan mangkuk eskrim yang ada dihadapannya.


“A, ayo makan!” ucap Ara, keheranan Jack yang malah menatapnya tanpa bicara.


Bukannya makan eskrim itu, Jack malah mengambil tisu dan mengulurkan tangannya melap bibirnya Ara yang ada sedikit eskrim menempel di bibirnya.


Ara langsung tertawa.


“Aku terlaku bersemangat!” ucapnya, sambil mengambil tisu dari tangan Jack dan melap mulutnya dengan tangan kiri.


“Ayo makanlah,” ucap Ara. Tapi Jack masih diam menatapnya.


“Kalau kau tidak mau buatku saja,” ucap Ara dan sendok eskrim coklat itu masuk ke mulutnya.


“Ini juga enak, pantas saja kau suka membeli eskrim disini,” ucap Ara lalu menyiukkan lagi eskrim dan disodorkan pada Jack.  Kali ini Jack mau membuka mulutnya dan makan eskrim dari tangannya Ara.


Ada rasa bahagia dalam hatinya Jack saat makan eskrim itu.  Ada sebagian memori yang muncul di kepalanya, rasa yang dirasanya saat duduk dicafe ini. Rasa sepi dan dingin kala itu tapi tidak dengan hari ini, dia merasa hangat meskipun yang dimakannya rasanya dingin. Ada senyum hangat seorang wanita yang selalu menemaninya.


Jack mengambil sendok ditangan Ara, diapun mulai makan eskrimnya. Dilihatnya istrinya itu hampir menghabiskan eskrim strawberrynya.


Terdengar suara pintu café dibuka.


“Selamat datang!” sapa satpam café yang membukakan pintu.


Kemudian terdengar langkah-langkah kaki ke meja kursi yang kosong, diantarkan pelayan café.


“Mau pesan apa?” Terdengar suara pelayan menawarkan menunya.


“Kau masih suka eskrim strawberry kan, sayang? Dulu kau sangat menyukainya dan kita sering makan disini, kau masih ingat?” Kini terdengar suara seorang wanita berbicara.


Ara menghentikan makan eskrimnya, dia seperti mengenal suara itu termasuk Jack dan Pak Beni.


***************


Jangan lupa like, gift dan vote nya….Yang udah ngasih tips terimakasih banyak.


**************