
Jack duduk dikursi didepan itu. Ara menatapnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Dia sangat senang melihat Jack ada disana, dengan memakai stelan jas yang dipilihkannya, pria itu sangat keren.
Seluruh hadirin diruangan itu menatap Jack.
“Selamat siang semuanya!” sapa Jack memulai bicaranya. Para hadirin membalas sapaannya.
Tn.Ferdi tidak menjawab, dia memberengut terus. Ny. Inez mengusap tangan suaminya supaya lebih tenang, tapi tangannya ditepiskan oleh Tn.Ferdi.
“Aku Jack Delmar, putra tunggal ayahku, Costantine Delmar,” lanjut Jack.
“Selama ini aku tinggal di Perancis, aku baru kembali kesini sebulan yang lalu,” kata Jack lagi.
Ara merasa senang Jack berbicara lancar.
“Karena aku sudah kembali jadi mulai hari ini pimpinan perusahaan aku ambil alih, tapi aku belum tahu sebesar apa peran kalian dalam perusahaanku,” kata Jack menatap semua yang hadir.
Seorang pria yang duduk paling ujung yang ada disebrangnya Jack, tampak mendekatkan mulutnya kemicrofon yang ada di mejanya.
“Perkenalkan, aku Pak Agus, Tuan Jack! Aku memilki saham 10 persen di salah satu anak perusahaan ini,” kata pria itu.
“Anak perusahaanku sangat banyak. Bisa disebutkan dengan detil dimana saja itu? Kalian perkenalkan diri dan sebutkan satu-persatu dimana kalian bergabung,” kata Jack.
Merekapun secara bergilir memperkenalkan dirinya dan menyebutkan berapa persen saham yang mereka tanam di perusahaan utama dan anak-anak perusahaannya Jack.
Jack mendengarkan perkataan mereka dengan seksama. Tapi lambat laun dia merasakan suara-suara itu semakin berbaur dan kacau.
“Saya Pak Tirta, seya memiliki saham di…”
“Saya Pak Joni, saya….”
“Saya Pak Karmin…”
“Saya Pak Nana…”
Saya…dan seterusnya.
Secara bergiliran orang-orang itu memperkenalkan diri. Suara-suara yang keluar dari microfon itu tampak mulai mengganggu pendengarannya Jack. Dia mulai terlihat bingung dan menunduk, sesekali menggelngkan kepalanya, lalu serius mendengarkan sambil mengernyitkan dahinya seperti sedang memahami sesuatu.
Ara yang melihat perubahan sikapnya Jack sangat terkejut diapun menoleh pada Pak Beni.
“Pak Beni, kenapa Jack menggeleng-gelengkan terus kepalanya?” tanya Ara, menoleh pada Pak Beni.
Pak Beni tidak menjawab, dia juga heran dengan sikap Jack, padahal dalam ruangan ini tidak ada sesuatu yang membuat Jack marah dan mengamuk. Jack juga tidak terlihat sedang marah hanya dia terlihat tidak focus, cemas dan tidak konsentrasi. Kentara sekali Jack berusaha keras memahami apa yang dikatakan hadirin di microfon.
“Apa Nyonya sudah memberikan obatnya?” tanya Pak Beni.
“Sudah tadi,” jawab Ara.
Jack mulai merasakan kepalanya semakin pusing, pendengarannya semakin tidak jelas, suara-suara di microfon itu begitu mengganggu telinganya. Tangannya memegang dua telinganya. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan orang-orang itu.
Ny.Inez tampak terkejut melihat sikap Jack begitu. Sedangkan para hadirin masih berputar menyebutkan nama mereka dan berapa saham yang mereka miliki di perusahaannya Jack.
“Tuan, apa kau baik-baik saja?” tanya Pak Faisal yang duduk disiku sebelah kirinya Jack.
“Aku tidak apa-apa,” ucap Jack, sambil melepas kedua tangannya dari telinganya diapun menoleh kearah yag memperkenalkan diri itu.
Tapi ternyata semuanya tidak baik baik saja. Jack benar-benar tidak menangkap dengan penjelasan apa yang dikatakan orang-orang itu yang didengarnya hanya dengungan suara microfon itu yang kini seperti diikuti dengan suara deburan ombak yang keras.
“Apa didekat gedung ada laut?” tanya Jack pada Pak Faisal.
Sontak hadirin terdiam karena suara Jack terdengar jelas di microfon yang ada diatas mejanya.
“Tidak, Tuan,” jawab Pak Faisal.
Jack mengerutkan keningnya lagi, dengan jelas dia mendengar suara deburan ombak.
“Teruskan!” ucapnya.
Orang yang sedang menperkenalkan diri itu kembali berbicara memperkenalkan diri. Lagi-lagi Jack mendengar dengungan microfon yang memekakkan telinganya, disusul suara deburan ombak menghantam karang yang keras.
Kening Jack mulai berkeringat dingin, konsentrasinya terpecah. Dia merasa pusing, suara di microfon itu kini berubah menjadi suara deburan ombak yang semakin jelas.
“Stop!” teriaknya tiba-tiba lalu berdiri. Jack mencoba menenangkan dirinya, menunduk sambil kedua telapak tangannya menahan diatas meja. Kini dia merasa berada di tengah laut dengan ombak yang terus menerjang karang.
Semua orang terkejut melihatnya.
Ara menatap Jack keheranan. Suaminya itu terlihat sangat pucat dan padangannya tidak focus juga sikapnya yang kebingungan, sebelah tangan bertolak pinggang dan sebelah lagi memegang kepalanya.
“Tuan Delmar! Apa kau baik-baik saja?” tanya Pak Beni, diapun langsung berdiri.
“Aku..aku baik-baik saja,” ucap Jack, lalu kembali duduk.
Pak Benipun kembali duduk, Ara semakin khawatir saja melihatnya. Dia merasa Jack tidak baik-baik saja.
“Lanjutkan!” ucap Jack, dia bingung kenapa dia tidak mendengar jelas apa yang terdengar diruangan ini?
Hingga habis pembicara terakhir. Pak Faisal memberikan secarik kertas pada Jack.
“Semua sudah memperkenalkan diri Tuan, ini rekapan daftar perusahaan yang bergabung dengan perusahaan kita,” ucap Pak Faisal.
Jack mengangguk, tangannya terulur mau mengambil kertas yang ada ditangannya Pak Faisal tapi tangan Jack itu malah gemetaran, bahkan tidak berhasil mengambil kertas yang dipegang Pak Faisal. Tangan Jack selalu mengambil arah yang kosong.
Ara sampai terkejut melihatnya begitu juga dengan semua orang yang mulai keheranan.
Pak Faisal menatap Jack kebingungan. Jack mencoba meraih kertas itu kini dapat di raihnya tapi setelah itu terjatuh kemeja. Tangannyapun mencoba mengambil berkas itu diatas meja lagi-lagi Jack meraih bagian meja yang
kosong.
Pak Faisal meraih tangan Jack lalu mengambilkan kertas itu dan ditempelkan ketangannya Jack.
“Ini berkasnya Tuan,” kata Pak Faisal.
“Pak Beni, ada apa dengan Jack?” tanya Ara, memiringkan tubuhnya kearah Pak Beni. Hatinya sangat gelisah melihat Jack seperti itu.
“Nyonya yakin sudah memberikan obatnya lengkap?” tanya Pak Beni yang mulai panic.
“Sudah Pak Ben,” jawab Ara.
Jack menatap lembar kertas yang ada di depannya itu, keringat dingin muncul di keningnya, diapun melapnya dengan ujung lengan kemejanya
“Jack apa kau baik baik saja?” gumam Ara.
“Tuan apa anda baik-baik saja?” tanya Pak Faisal.
“Aku..Aku..” Jack tampak bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa, semua yang ada dibenaknya mendadak hilang. Dia bingung untuk bicara.
Pak Beni langsung berdiri.
“Para hadirin semua, sebaiknya kita break sebentar. Sepertinya Tuan Delmar sedang kurang sehat,” kata Pak Beni.
“Kurang sehat, apa gila?” terdengar suara Pak Ferdi bicara dengan nyaring. Perkataannya membuat semua mata tertuju pada Tuan Ferdi.
Tuan Ferdi berdiri sambil merapihkan jasnya.
“Tuan-Tuan semua, ada yang harus kalian ketahui tentang Tuan Jack Delmar!” kata Tuan Ferdi.
Ny.Inez memegang tangannya Tuan Ferdi sambil menggelengkan kepalanya tapi Tuan Ferdi tidak menggubrisnya.
Semua mata menatap kearah Tuan Ferdi. Suasana terasa begitu tegang.
“Tuan Jack Delmar ini kenapa sekarang baru muncul disini? Karena selama ini Tuan Jack Delmar tinggal diperancis. Kalian tahu tepatnya dimana?” tanya Tuan Ferdi.
Tidak ada yang menjawab, semua penasaran apa yang akan disampaikan Tuan Ferdi.
Ny.Inez kembali memegang tangannya Tn. Ferdi yang lagi-lagi menepisnya.
“Tuan Jack Delmar di Perancis itu tinggal di Rumah sakit jiwa anak-anak,” ucap Tn.Ferdi, sontak membuat suasana gemuruh.
***************
Readers, dimohon untuk tidak komen nyinyir atau mengatakan ini tidak masuk akal. Aku pernah mengenal seseorang dengan kondisi seperti ini dan aku pernah membelikannya obat juga menemaninya konsultasi ke Dokter jiwa.
Jangan lupa like ditiap bab.
***********