
Ara menarik tangan Jack diajak masuk ke rumah.
“Kau harus istirahat. Seharusnya aku melihatmu terapi tadi, kau juga harus bicara dengan Doktermu tentang perkembangan kondisimu. Kau mau bicara sedikit saja aku merasa senang berarti kau ada perkembangan,” ucap Ara, tangannya masih memeluk lengannya Jack, terus menaiki tangga menuju kamar mereka.
“Rumah ini sangat besar, kalau kau tidak ada dirumah, aku merasa sangat kesepian,” ucap Ara lagi.
Jack hanya mendengarkan celoteh istrinya saja. Berjalan di dalam rumahnya menyusuri lorong-lorong ruangan menuju kamarnya sambil mendengarkan istrinya bicara, menjadi sesuatu yang baru bagi Jack.
Istrinya benar, rumah ini sangat sepi dan ternyata dia juga merasakan kehangatan saat pulang kerumah sudah disambut istrinya dan meskipun sambil diomeli dan dicereweti ternyata malah menunjukkan rumahnya mulai terasa ramai dan tidak sepi lagi.
Baru juga mereka masuk kamar mereka, terdengar suara ponselnya Ara yang ada dimeja kamar itu. Arapun mengambil ponsel dimeja dan dilihatnya, ternyata nomor ibunya.
Jack duduk disofa memperhatikan istrinya itu.
“Ibu yang menelpon,” ucap Ara pada Jack.
Sepeti biasa Jack tidak bicara apa-apa, dia mencoba mendengarkan percakapan Ara dengan ibunya.
“Ya, Bu!” jawab Ara.
“Kau dimana?” tanya ibunya.
“Aku sedang ada di Paris Bu,” jawab Ara.
“Di Paris? kau bulan madu? Jangan lupa pulangnya bawakan ibu oleh-oleh, seharusnya kau mengajak Ibu juga,” seru Ibunya.
Ara akan menjawab tapi terdengar suara seorang pria.
“Ara! Ayah mau bicara!” ternyata suara ayahnya Ara.
“Ayah!” Panggil Ara.
Mendengar Ara menyebut ibu dan Ayah, Jack meruncingkan pendengarannya, apakah yang menelpon adalah orang tuanya Ara?
“Sayang, Ayah minta kau pulang ke rumah secepatnya dan tinggalkan Jack!” kata Ayahnya membuat Ara terkejut.
“Apa? Meninggalkan Jack?” tanya Ara terkejut.
Tentu saja Jack yang mendengarnya lebih terkejut. Dia semakin meruncingkan pendengarannya karena Ara berjalan menjauh kearah jendela.
“Apa maksud ayah?” tanya Ara.
“Ibumu sudah menceritakan semuanya tentang Jack. Ayah tidak setuju kau meneruskan pernikahanmu dengan Jack. Meskipun Jack orang kaya, ayah tidak rela kau bersuamikan pria depresi, bagaimana dengan masa depanmu?” kata Pak Amril, ayahnya Ara.
“Aku tidak bisa meninggalkan Jack,” ucap Ara.
Jack mencoba menebak-nebak apa yang dibicarakan Ara dengan ayahnya? Apa ayahnya Ara meminta Ara meninggalkannya? Apakah ini berarti baik atau buruk?
“Ayah tidak mengijinkanmu menikah dengan orang gila! Kau harus berpisah dari Jack! Itu yang terbaik buatmu dan masa depanmu!” kata ayahnya Ara agi.
“Tapi ayah..” belum selesai perkataan Ara, ayahnya sudah memotong lagi.
“Jangan membantah! Kau pulang secepatnya! Ayah tunggu dirumah!” ucap ayahnya Ara dengan nada tinggi lalu menutup telponnya.
Ara menatap bingung ponselnya. Ayahnya tidak pernah semarah ini, dia tidak menyangka ayahnya akan mengatakan itu semua.
Jack hanya diam, dalam hatinya bertanya-tanya apakah Ara akan meninggalkannya? Bagaimana jika iya? Apakah dia akan senang jika Ara meninggalkannya? Bukankah selama ini dia merasa risih disentuh-sentuh wanita itu? Apalagi cara wanita itu memandikannya yang sangat aneh.
Jack melihat Ara berbalik berjalan mendekatinya dengan kepala menunduk dan tangannya yang masih memegang ponsel. Wanita itu duduk disofa disebrangnya, masih menunduk dan menimang-nimang ponselnya.
Jack yang duduk disebrangnya leluasa menatapnya dan menilai seperti apa istrinya itu. Kenapa hatinya jadi merasa khawatir kalau Ara akan meninggalkannya?
Dia terkejut saat Ara tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatapnya.
“Sekarang sudah waktunya kau mandi,” ucap Ara, lalu bangun dari duduknya dan menyimpan ponselnya diatas meja. Jack bisa melihat raut wajah muramnya Ara.
Arapun duduk disamping Jack, mengulurkan tangannya meraih kemejanya Jack lalu membuka kancingnya satu persatu. Tidak ada yang diucapkan dari bibirnya Ara, dia hanya diam membisu, melepaskan pakaian yang dikenakan Jack satu persatu. Entah kenapa Jack malah merasa rindu mendengar Ara berceloteh saat bersamanya. Tapi sepertinya Ara memang sedang tidak ingin bicara.
“Ayo Jack,” ajak Ara menarik tangan Jack bangun dari kursinya .
Jack hanya mengikuti langkah Ara yang membawanya ke kamar mandi. Saat memandikannyapun Ara tidak bicara apa-apa.
“Kau mau buang air atau tidak?” tanya Ara.
Tentu saja pertanyaan itu membuat wajah Jack memerah, lagi-lagi wanita itu akan bersiul-siul memanggil ‘Jendral kecil’nya. Tapi ternyata dugaannya salah, Ara sama sekali tidak bersiul.
“Kau beri tanda jika ingin buang air, aku akan memandikanmu,” ucap Ara.
Jack sejenak terdiam, tidak ada siulan di kamar mandi saat ini. Apakah itu bagus? Atau itu tandanya Ara sudah tidak peduli lagi padanya? Bagaimana kalau dia ingin buang air?
Tangan Ara menarik Jack masuk ke bathub lalu berjongkok, mengosok-gosok tubuh suaminya itu perlahan. Jack membiarkan wajah cantik itu menggosok-gosok seluruh tubuhnya.
Sesekali wajah Ara berada dekat wajahnya dengan menunduk karena menggosok bagian dadanya. Jack hanya menatapnya. Dia bisa melihat istrinya sedang bersedih.
Apakah istrinya benar-benar mencintainya? Seharusnya dia setuju kalau ayahnya memintanya meninggalkan dirinya, bukankah itu bagus? Ara akan mendapatkan harta yang banyak dari pernikahannya yang kilat ini.
Geraian rambut panjang itu melambai-lambai mengenai wajah Jack, rambutnya terasa begitu lembut dan harum dicium Jack.
Ara sama sekali tidak menyadari kalau pria itu sedang memperhatikannya dibalik sikap diamnya. Ara masih sibuk memandikannya. Sungguh, lama semakin lama Jack justru merasa rindu Ara berceloteh. Ara diam seperti itu membuat kamar mandinya terasa sangat dingin dan sepi.
Tiba-tiba Ara menariknya naik dari bathub lalu menyelimuti tubuhnya dengan piyama handuk. Ara juga mengambil handuk kecil dan menggosokkan rambutnya Jack yang basah.
Karena Tubuhnya Jack lebih tinggi dari Ara, Ara terpaksa harus berjinjit supaya kedua tangannya bisa menyentuh seluruh rambutnya Jack. Dengan spontan, Jack sedikit menundukkan kepalanya supaya Ara bisa menggapai kepalanya dan menggosok seluruh rambut basahnya dengan handuk.
Lagi-lagi Jack menatap wajah yang begitu seriusnya mengeringkan rambutnya.
“Sudah,” gumam Ara, mulai ada suara di kamar mandi itu, lalu berjalan menuju pintu kamar mandi dan membukanya.
Jack masih diam memperhatikannya, kenapa hatinya ikut merasa sedih melihat istrinya seperti itu. Apa Ara memang benar-benar berat meninggalkannya?
Tiba-tiba Ara menoleh pada Jack lalu menghampirinya dan menarik tangannya.
“Ayo,” ajaknya.
Jack seperti kambing yang dicocok hidungnya, dia masuk saja kedalam kamar mengikuti langkah kakinya Ara.
Jack bertanya-tanya apakah Ara diminta meninggalkannya karena dia gila? Orang tuanya Ara tahu kalau dia depresi?
Setelah memakaikan bajunya Jack, Ara mendudukkan Jack di sofa dan menyalakan televisi. Dillihatnya di chanel itu ada upacara hari besar nasional yang entah acara apa, Ara tidak tahu karena beritanya juga dalam bahasa Perancis.
Jack terkejut saat melihat layar televisi itu, ada liputan upacara militer yang dihadirinya tadi. Bagaimana kalau Ara melihatnya? Tapi bagaimana cara dia mengalihkan chanel televisinya?
“Apa ini hari besar nasional?” gumam Ara ,sambil matanya menonton televisi masih dalam posisi berdiri.
Jack semakin terkejut saat kamera wartawan mengarah kepadanya yang memimpin upacara itu. Tangannya buru-buru meraih pas bunga yang kebetulan ada di dekatnya dibelakang Ara berdiri dan menjatuhkannya. Tentu saja Ara terkejut mendengarnya, diapun menoleh kearah suara bersamaan dengan sorot kamera yang mengshoot Jack di televisi.
“Kenapa pas bunganya tiba-tiba jatuh begitu?” guma Ara keheranan.
Diapun menyimpan remote televisinya diatas meja, lalu berjongkok memungut pas bunga yang sekarang menjadi retak.
Jack melihat lagi televisi, ada beberapa tayangan wawancara darinya berkomentar seputar hari kebesaran militer di Perancis watuktu tadi. Hati Jack gelisah, khawatir Ara akan menoleh dan melihatnya, pasti dia akan bingung.
“Sayang sekali pas bunganya retak, ini pasti sangat mahal,” gumam Ara, lalu berdiri.
Jack bernafas lega karena siaran di televisi itu berganti acara.
Ara menyimpan pas itu diatas meja lagi dan merapihkan bunganya.
Terdengar lagi suara ponselnya berdering. Ara diam saja, dia seperti enggan untuk mengangkat. Tapi karena ponsel itu berdering terus, Ara segera meraih ponselnya yang ternyata dari ayahnya lagi.
“Kau sudah bersiap-siap pulang kan?” tanya Ayahnya.
“Ayah aku…” Ara tidak bisa meneruskan bicaranya.
“Jangan tidak pulang!” seru ayahnya lagi, lalu menutup telponnya.
Jack melihat raut wajah sedihnya Ara lagi. Kini Ara menatapnya. Mata yang mengingatkannya pada Arum itu menatapnya.
“Ayah memintaku meninggalkanmu Jack,” ucap Ara.
Jack masih menatapnya.
“Ayahku tahu dari ibuku kalau kau depresi,” lanjut Ara, lalu berjalan mendekati Jack dan duduk disamping Jack.
Jack merasakan tubuhnya Ara begitu dekat disampingnya dan menempel ditangannya.
“Aku tidak mau meninggalkanmu Jack, aku sudah terlanjur menyayangimu,” gumam Ara, sambil menyandarkan kepalanya kebahu Jack, menatap lurus ke depan.
Jack menoleh pada kepala Ara yang menempel dibahunya. Jadi istrinya benar-benar menyayanginya? Dan tidak mau meninggalakannya?
“Kau lihat foto pernikahan kita? Dari sekian foto kenapa aku suka foto ini?” tanya Ara.
Tentu saja Jack tidak menjawab, dia hanya merasakan kepala istrinya bergerak sedikut menatap foto pernikahan yang menempel di dinding.
“Aku suka tatapanmu, kau selalu menatapku dipernikahan kita, kau juga menyatakan cinta padaku,” ucap Ara.
“Entah kapan kau akan mengatakan kau mencintaiku lagi, Jack,” gumam Ara lagi.
Hati Jack semakin merasa tersentuh. Apa itu alasan kenapa dia menikahi Ara? Karena dia mencintainya? Bukan karena matanya mirip Arum? Apakah perasaan seorang pria yang depresi bisa dipercaya?
“Ayahku memintaku pulang secepatnya, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin pernikahanku sekali seumur hidup Jack, aku masih berharap kau sembuh,” ucap Ara bicara pada diri sendiri, tidak disadarinya pria yang disampingnya itu mendengarkan apa yang dikatakannya.
Jack masih diam, ternyata Ara sangat mencintainya, wanita itu bersedih sambil bersadar di bahunya. Apa yang harus dilakukannya untuk menghiburnya?Apa dia harus memeluknya dan mengatakan kalau dia sudah sembuh? Dan tentu saja itu akan membuat ayahnya Ara tidak akan meminta Ara untuk meninggalkannya lagi?
***********
Masih yang slow ya readers, kurang focus, ngantuk. Maaf kalau banyak typo.
*****