Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-104 Rasa marah Jack


Jack kembali menatap Ibunya dengan tatapan nanar.


“Ibu tidak pernah menyayangiku! Jangan-jangan memang Ibu juga tidak pernah menginginkan aku lahir kedunia ini! Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya di RSJ sendirian? Tidak pernah menengok, tidak tahu aku sakit atau tidak, tidak tahu perkembanganku seperti apa? Aku sekolah dimana! Sama sekali Ibu tidak peduli padaku!” kata Jack.


Ara yang mendengar keluhan Jack langsung berkaca-kaca saja karena sedih, dia merasa kasihan dengan nasibnya Jack.


“Jack, bukan maksud Ibu begitu. Ibu sangat sibuk. Ayah tirimu selalu mengecek keberadaanmu dan melaporkan kalau kau masih tetap harus di rawat di RSJ,” ujar Ny. Inez.


“Ibu tidak percaya pada kesetiaan Pak Beni yang mengabdi pada ayahku sekian lama tapi percaya pada perkataan pria itu? Huh!” Jack menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Dia ayah tirimu tentu saja dia peduli padamu!” kata Ny. Inez, masih membela suaminya.


“Huh!”  Jack menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, dia tidak habis fikir Ibunya bisa saja dibodohi oleh suaminya, Ibunya sudah dibutakan cinta ayah tirinya.


“Ada yang ingin aku tanyakan! Dan aku ingin Ibu menjawab dengan jujur,” kata Jack, kemudian.


“Kau mau bertanya apa?” tanya Ny.Inez menatap putranya.


“Apa Ibu berselingkuh saat masih menjadi istri ayahku?” tanya Jack, pandangannya tidak lepas dari Ibunya, dia menuntut kejujuran dari Ibunya.


“Kau ini bicara apa?” tanya Ny.Inez, wajahnya langsung pucat mendapat pertanyaan seperti itu.


Jack masih menatap Ibunya.


“Ibu jawab saja iya atau tidak?” teriak Jack dengan kesal.


Ny. Inez terdiam.


“Ibu berselingkuh disaat ayahku masih hidup kan?” tebak Jack.


“Jack, ini semua tidak seperti yang kau fikirkan,” kata Ny. Inez.


“Jujur padaku!” teriak Jack lagi, membuat Ny.Inez semakin pucat dan gemetaran.


“Ibu…” gumam Ny.Inez, tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.


“Baiklah! Aku sudah tahu jawabannya!” kata Jack.


Ny. Inezpun diam, wajahnyapun memerah menahan tangisnya.


Ara tampak shock melihat pemandangan itu. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaannya Jack mengetahui kalau Ibunya berselingkuh saat ayahnya masih hidup.


“Paman Favier menemukan foto-foto Ibu ada pada pria itu!” kata Jack, matanya terlihat memerah. Terlihat sekali Jack sangat kecewa pada Ibunya.


“Foto? Foto apa? Kami memang berteman dari dulu,” kata Ny. Inez, berjalan mendekati Jack, tangannya terulur mau memegang tangan Jack.


“Jack, Ibu akan menjelaskaannya!” kata Ny.Inez


“Sudah cukup,aku tidak perlu penjelasan apa-apa lagi!” ujar Jack, menepiskan tangan Ibunya.


Jack melangkahkan kakinya mendekati Ibunya.


“Dengarkan aku baik-baik Bu! Aku akan menarik surat kuasa kekayaanku pada Ibu. Aku juga menarik semua fasilitas yang keluarga Ibu pakai. Ibu bisa mendapatkan semua itu dari suami Ibu itu, bukan dariku, bukan dari warisan ayahku!” kata Jack dengan tegas.


Ny. Inez terkejut bukan main mendengarnya! Fasilitas juga dicabut? Otomatis kehidupan keluarganya tidak akan semewah sebelumnya! Dia tidak bisa harga dirinya didepan lingkungan teman-temannya jatuh karena hal ini.


Saat dilihatnya Jack membalikkan badannya akan keluar ruangan itu, Ny. Inez berusaha menyusul Jack.


“Jack! Tunggu! Kau tidak bisa melakukan ini pada Ibu!” Seru Ny.Inez.


Ara yang melihat Jack akan keluar ruangan, akan mengikuti Jack tapi langkahnya terhenti saat melihat Tn.Ferdi masuk keruangan itu.


Jack juga menghentikan langkahnya menatap pria itu. Dia tidak menyangka ayah tirinya itu akan masuk keruangan itu.


Tn.Ferdi yang membawa amarahnya dari ruang meeting itu menatap Jack dengan tajam begitu juga dengan Jack. Merekapun berdiri berhadapan


Jack yang sedang tersulut emosi karena perselingkuhan Ibunya dengan pria ini dimasa lalu membuatnya semakin meradang dan naik darah, tanpa bicara apa-apa lagi dia langsung memukul Tn. Ferdi dengan keras, sampai pria itu jatuh tersungkur ke lantai.


Ny. Inez berteriak melihat suaminya jatuh.


“Jack! Jangan!” teriak Ny.Inez.


“Hei, anak gila! Kenapa kau memukulku?” teriak Tn Ferdi, memegang bibirnya yang berdarah.


Tn.Ferdi tidak tahu apa yang terjadi antara istri dan anak tirinya. Dengan menahan sakit diwajahnya, dia mencoba bangun tapi belum juga bisa berdiri sebuah tendangan mendarat diperutnya bertubi-tubi, membuatnya kembali terjerembab dan terbatuk-batuk merasakan sakit diperutnya.


“Kau! Ugh! Ugh! Kau!” maki Tn.Ferdi menatap tajam pada Jack tapi tidak bisa bicara karena sesak menahan sakit di perutnya.


“Jack!” teriak Ny.Inez, menarik tangan Jack tapi Jack menepiskannya.


Jack berjalan lebih dekat lagi pada ayah tirinya itu, meraih kerah kemejanya dan memukulnya lagi bertubi-tubi, sampai Tn Ferdi tersudut ke tembok tidak ada kesempatan melawan ataupun menghindar.


Ny. Inez berteriak-teriak pada security.


Tn.Ferdi yang sudah babak belur, menahan sakit diseluruh tubuhnya, akhirnya hilang keseimbangan dan terjatuh ke lantai. Jack menghampiri tubuh dilantai itu dan menendangnya berkali-kali.


“Jack, hentikan!” teriak Ny. Inez, tapi Jack tidak peduli, dia masih menendang tubuh ayah tirinya.


Melihat teriakan Ny. Inez tidak didengar oleh Jack, Ara segera menghampiri Jack dan menarik tangannya.


 “Jangan Jack, sudah cukup! Kau bisa membuatnya mati!” teriak Ara.


Ny. Inez shock melihat kondisi suaminya begitu. Di terus berteiak memanggil satpam.


“Satpam! Satpam!” teriaknya.


Arap yang melihat kondisi Tn.Ferdi yang parah, segera mendekati Jack dan memeluk tubuhnya Jack menahannya untuk tidak meraih tubuhnya Tn. Ferdi yang terjatuh ke tanah.


“Jack sudah, Jack, dia bisa mati! Jangan membuat orang lain mati ditanganmu! Cukup Jack!” teriak Ara, membuat Jack terdiam.


“Cukup Jack,” ucap Ara lagi sambil menatap Jack.


Beberapa orang satpam masuk keruangan itu dan segera menghampiri tubuhnya Tn.Ferdi begitu juga dengan Ny.Inez.


“Bawa ke rumah sakit,” kata Ny.Inez pada satpam yang segera membawa tubuhnya Tn.Ferdi keluar dari ruangan itu.


Saat Ny. Inez melewati Jack, putranya itu menghentikan langkah Ibunya.


“Tunggu!” ucap Jack.


Ara segera melepaskan pelukannya membiarkan Jack menghampiri Ibunya.


“Kalian segera keluar dari rumahku! Aku tidak mau melihat kalian lagi!”  bentak Jack, lalu beranjak keluar dari ruangan itu.


Ara juga segera keluar dari ruangan itu menyusul Jack. Ternyata Jack pergi ke toilet.


Ara menghentikan langkahnya di depan toilet, dia hanya bisa menunggunya diluar, dia tidak mungkin masuk ke dalam toilet pria. Tidak berapa lama tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dan pecahan kaca berjatuhan ke lantai.


Arapun panik dan segera berlari masuk ke toilet itu.


“Jack!” panggilnya, dia khawatir dengan keadaaannya Jack.


Dilihatnya pria itu berdiri menunduk di depan cermin yang retak itu, kedua tangannya mengepal diatas keramik depan cermin itu. Beberapa kaca berserakan didekat tangannya Jack. Sepertinya Jack sudah memukul cermin itu sampai pecah. Wajah pria itu memerah terlihat sekali kalau dia sangat marah.


“Jack!” panggil Ara dengan pelan dan menghampiri Jack.


Ara terkejut melihat tetesan darah keluar dair tangannya Jack, dan jatuh ke lantai.


“Jack! Kau berdarah!” pekik Ara, langsung meraih tangan Jack yang tertusuk beberapa pecahan kaca.


Matanya Ara langsung berkaca-kaca saja, airmatapun menetes dipipinya. Dia merasa sedih melihat Jack seperti ini.


Beberapa orang yang mendengar suara berisik di toilet segera berdatangan, mereka tidak mengerti  dengan apa yang terjadi. Tapi mereka tidak bisa masuk karena Pak Beni menghalangi pintu toilet.


Jack masih diam disana. Menatap cermin yang masih menempel sebagian didinding. Hatinya sangat hancur seperti hancurnya kaca didepannya.


Pandangannya terhenti pada bayangan istrinya di cermin retak yang sedang melepaskan pecahan-pecahan kaca yang menempel ditangannya sambil sesenggukan menahan tangisnya yang tidak tertahanan, airmata itu terus menetes dipipinya.


Jack beralih menatap istrinya yang sedang menangisinya. Tidak dirasanya luka-luka ditangannya, meskipun beberapa kaca menancap dalam ditangannya.


Melihat wanita ini hatinya yang tersulut amarah itu sedikit menyejuk. Rasa kecewanya yang begitu dalam tertumpuk bertahun tahun itu, sedikit terobati dengan kasih sayang wanita ini.


“Aku baik-baik saja,” ucap Jack dengan lirih. Dia merasa bersalah membuat istrinya menangis.


“Bagaimana bisa kau bicara begitu? Tanganmu berdarah! Itu pasti sangat sakit sekali,” kata Ara, disela tangisnya. Tangannya mengambil tisu lalu melap darah yang ada di jemarinya Jack.


Jack tidak menjawab, hanya memperhatikan tangan Ara yang melap jemarinya.


Ara menarik tangan Jack ke wastefel lalu mencuci luka-luka ditangan Jack dengan perlahan, tapi sepertinya Jack tidak merasakan sakit apapun, meringis juga tidak. Dia hanya diam saja, membiarkan istrinya membasuh lukanya, memeriksa tangannya sekali lagi.


Ara merasa sedih, ini adalah yang kedua kalinya melihat Jack menghancurkan kaca seperti ini. Ara bisa tahu perasaan Jack, ada banyak amarah kekecewaan yang terpendam pada ibunya, bukan hanya pada ibunya saja tapi juga pada hidupnya.


Jack mengalami kehilangan orang-orang yang disayanginya, juga penderitaannya selama depresi, tinggal di RSJ bertahun-tahu, hidup di Paris tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, tumbuh menjadi pria yang kuat dan seorang Jendral yang berprestasi. Itu sungguuh perjuangan hidup yang sangat berat.


Mengingat hal itu membuat Ara semakin sedih saja. Airmatanya terus saja tumpah.


 “Jangan menangis,” kata Jack.


Tangan yang sudah dicuci dan sedang di lap tisu itu malah mengusap pipinya Ara.


Ara kembali meraih tangan Jack, sambil mengangkat wajahnya menatap Jack.


 “Tidak, aku tidak menangis,” ucapnya, dipaksakan tersenyum dan menghapus airmatanya.


Mendapat jawaban itu, Jack melangkah lebih dekat dan langsung memeluk Ara dengan erat. Kehadiran wanita ini bagaikan lampu penerang baginya. Dia sangat mencintainya.


“Aku baik-baik saja,” ucap Jack semakin mempererat pelukannya. Dia tahu istrinya sangat menghawatirkannya.


Pak Beni masih menghalangi orang-orang yang ingin masuk ke toilet.


Ara kembali mengangkat wajahnya menatap Jack. Sebelah tangan Jack merapihkan rambut Ara.


“Aku akan selalu bersamamu Jack,” ucap Ara.


Jack tersenyum melihat wajah yang pucat itu, kata-kata istrinya itu begitu menenangkan jiwanya.


“Tetaplah bersamaku,” ucap Jack, menatap mata cantik didepannya itu, lalu mencium keningnya.


************