Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-142 Jack Menyelidiki Silsilah Ara


Keesokan harinya, Jack membukakan matanya sedikit terkejut karena yang pertama dilihatnya adalah wajah istrinya. Wanita itu tersenyum padanya.


“Pagi Jack,” ucap Ara.


Jack terdiam menatap wajah cantik yang berada persis didepannya. Melihat senyum itu, melihat mata itu, tatapan mata yang mengingatkannya pada Arum ternyata dia memang Arum.


“Sayang,” panggil Ara.


Jack masih diam menatapnya.


“Kau terus memelukku semalaman, aku tidak bisa bangun,” kata Ara, tangannya mengelus pipinya Jack. Pria itu memiliki kulit yang halus, perasaan Ara tidak pernah melihat Jack ke salon.


Jack masih tidak bicara, dia tidak bosan menatap wajah itu, seperti yang tidak pernah bertemu berpuluh tahun lamanya, dia begitu merindukannya. Semua seperti mimpi, apa memang sebenarnya mimpi? Hasil tes DNA itu menyatakan Ara memang putrinya Ny.Imelda. Berarti dia adalah Arum, Arum teman kecilnya? Sungguh tidak bisa dipercaya.


Jack kembali memeluk Ara, kemudian mencium bibirnya dan mengusap rambutnya.


“Apa kau lebih baik sekarang?” tanya Ara, balas mengelus rambutnya Jack.


Jack masih menatapnya, dia bertanya-tanya apakah Ara mengingat masa kecilnya? Mungkin Ara tidak ingat, Ara terlalu kecil saat tragedi itu terjadi, dia merasa kasihan dengan nasibnya Ara, untung saja Ara tinggal bersama orang tua yang begitu menyayanginya.


“Kau diam saja semalaman, aku merasa khawatir,” ucap Ara lagi, menyentuh bahunya Jack.


“Kau juga tidak mengganti pakaianmu, kau pasti tidak mandi, badanmu bau keringat,” ucap Ara lagi, sambil mengendus hidungnya ke wajah suaminya.


Jack malah balas mendekatkan hidungnya dan mencium pipinya Ara.


“Aku mencintaimu,” ucap Jack, mulai mau bicara.


“Aku juga,” jawab Ara, mengusap wajah Jack dengan perlahan dengan jarinya, menyentuh mata pria itu yang semalam memerah dan airmata disana.


“Maaf aku sangat mengantuk, tadi malam aku jadi tidak menunggumu,” kata Ara.


“Aku kan sudah mengatakan jangan menungguku, kau tidur duluan,” jawab Jack.


Ara tersenyum mendengarnya, bukan itu yang ingin dengar, dia hanya senang suaminya mau bicara.


“Aku senang kau mau bicara, semalam kau hanya diam saja memelukku,” ucap Ara. Tangannya kembali mengusap-usap pipinya Jack.


Jack masih betah menatap wajah itu. Dia teringat ada pekerjaan besar yang harus dia lakukan, dia tidak mau menundanya lagi. Dia harus meenyelidiki dimana Ara tinggal sebelum bersama Pak Amril. Dia harus tahu kenapa Ara tiba-tiba jadi ada di kota ini.


“Apa hari ini kau akan ke kantor? Kalau kau lelah, kau dirumah saja menemaniku,” kata Ara.


Jack tersenyum mendengarnya.


“Apa kau sedang menggodaku?” tanya Jack.


“Tidak, aku hanya sedang rindu saja,” jawab Ara.


Jack kembali tersenyum dan langsung menciumnya lagi. Dalam hati dia berkata dia lebih lebih merindukannya.


“Hari ini aku ada pekerjaan penting, setelah itu aku akan menemanimu seharian,” kata Jack. Bukannya dia tidak mau menemani Ara, tapi ada yang ingin dia bereskan secepatnya.


Ara mengangguk dan tersenyum, mencoba mengerti kesibukannya Jack. Suaminya itu kembali memeluknya dan menciumnya lagi


***


Hari ini Jack tidak langsung pergi ke kantor. Dia  ada diruang kerjanya bersama Pak Beni.


“Pak Beni, kau tidak perlu ikut ke kantorku sekarang.  Aku minta kerahkan orang untuk mendatangi semua panti asuhan yang ada di kota ini, cari data di panti asuhan mana Arasi sempat tinggal,” kata Jack.


“Arasi pasti tinggal di Panti Asuhan sebelum bersama Pak Amril,” ujar Jack lagi.


“Bagaimana kalau kita tanya Pak Amril saja?” usul Pak Beni.


“Jangan dulu, kalau kita tidak menemukannya terpaksa aku akan menemui mertuaku, dan menjelaskan semua ini agar mertuaku mau mengatakannya,” kata Jack.


“Sebenarnya aku tidak mau orang tua Ara tahu soal ini, mereka sudah hidup tenang dan bahagia, aku tidak tega merusaknya,” kata Jack lagi.


Pak Benipun mengangguk.


“Baiklah Tuan, saya akan segera mencari tahu,” kata Pak Beni, kemudian keluar dari ruangan itu.


Setelah Pak Beni pergi, Jack kembali ke kamarnya, dilihatnya istrinya tidak ada, entah sedang kemana.  Dicarinya ponsel istrinya itu, tenyata ada di meja yang biasa dia menyimpan ponselnya


Jack membuka ponsel yang tanpa password itu dan menyimpan nomornya Pak Amril ponselnya, lalu meletakkannya kembali.


Setelah mendapatkan nomornya Pak Amril, barulah Jack berangkat  ke kantornya tanpa Pak Beni.


Selama dikantornya dia sangat gelisah, tidak sabar menunggu hasil laporan dari Pak Beni.


Seharian Pak Beni mencari data-data dikantor pusat, juga orang-orang kaki tangannya ditugaskan datang langsung ke panti asuhan sekitar ibu kota.


Sore harinya Pak Beni langsung menelpon Jack.


“Bagaimana?” tanya Jack, tida sabar.


“Maaf Tuan, sampai detik ini kami tidak menemukan panti asuhan yang menampung Nyonya waktu kecil,” jawab Pak Beni.


“Jadi istriku tidak tercatat?” tanya Jack.


“Saran saya Tuan bertanya langsung pada Pak Amril, itu jalan yang paling cepat, dan menghemat waktu,” jawab Pak Beni.


Jackpun diam, dia menimbag-nimbang apakah ini jalan yang terbaik? Dia terpaksa bicara dengan Ayah mertuanya soal Ara? Kalau memang Ara korban kejahatan seseorang, orang itu harus dihukum.


Jack pun menelpon Pak Amril.


“Halo!” terdengar suara Pak Amril disana.


“Ada apa kau menelponku? Aku sedang bekerja,” tanya Pak Amril.


“Aku ingin bertemu Ayah, segera, apa bisa?” tanya Jack.


“Memangnya ada apa? Apa tidak bisa lewat telpon?" tanya Pak Amril.


“Tidak Ayah, aku harus bicara langsung,” jawab Jack.


“Baiklah, setengah jam lagi aku pulang, kau datang ke rumah saja,” kata Pak Amril


“Tidak Ayah, kita bertemu diluar saja,” ucap Jack menyebutkan sebuah rumah makan.


Sore harinya, Jack dan Pak Amril bertemu di rumah makan yang Jack sebutkan itu.


“Kenapa harus bertemu disini segala? Kita tidak akan makan kan? Ibunya Ara selalu menyiapkan makan kalau Ayah pulang, nanti tidak ada yang makan makanannya,” kata Pak Amril, sambil duduk di sofa itu, sambil melihat ke sekeliling, ternyata Jack memesan ruangan VIP.


 Jack tidak menjawab, dia hanya duduk di sudut sofa sebrangnya Pak Amril.


“Maaf Ayah, aku tidak bisa berbasa-basi lagi,” ucap Jack.


“Soal apa?” tanya Pak Amril, menatap Jack.


“Sebelumnya aku minta maaf Ayah, aku sudah lancang,” jawab Jack.


“Maksudmu apa? Ayah tidak mengerti,” kata Pak Amril, menatap menantunya.


“Aku melakukan tes DNA Ara dengan Ny. Imelda, dan ini hasilnya,” ujar Jack sambil memberikan amplop berlogo pada Pak Amril.


Tentu saja Pak Amril terkejut mendengarnya, dia langsung mengambil surat itu dan membacanya.


“Apa ini?” bentaknya.


“Kau ingin menghancurkan keluargaku?” tanya Pak Amril dengan marah, dan melempar amplop itu ke atas meja.


“Ayah jangan marah dulu, aku melakukan ini semua karena aku ingin membuktikan kalau Ara itu Arum atau bukan, aku minta maaf,” kata Jack.


Pak Amrilpun diam, wajahnya tampak memerah. Selama ini dia dan istrinya begitu rapih merahasiakan semua ini dan selalu mengatakan kalau Ara adalah putri kandungnya dan sekarang Jack malah mengacak-acaknya.


“Aku ingin tahu dimana Ayah mengadopsi Ara? Aku ingin tau kenapa Ara ada di ibukota ini? Siapa yang membawanya kesini? Sedangkan jelas-jelas dia tenggelam di laut di Perancis, aku harus tahu itu,” kata Jack.


“Kau sudah mengacaukan keluarga kecilku,” keluh Pak Amril.


“Aku minta maaf Ayah, aku minta maaf. Apa Ayah tidak berfikir kalau Ara bisa saja jadi korban kejahatan? Aku ingin orang itu dihukum!” kata Jack.


Pak Amrilpun diam.


“Aku minta maaf, Ayah,” ucap Jack.


Pak Amril menatap Jack.


“Menurutmu apa semua ini yang terbaik? Kau sudah merusak semuanya, kau tidak memikirkan perasaan Ibunya Ara juga Ara, dia sangat menyayangi Ibunya, apa kau akan memisahkan Ibu dan anak itu?” tanya Pak Amril dengan kecewa.


Jackpun diam, dia sama sekali tidak bermaksud begitu.


“Kami mengasuhnya dari kecil dengan penuh kasih sayang, kalau sudah seperti ini semua akan berubah, mungkin kami akan kehilangan putri kecil kami,” ucap Pak Amril dengan sedih.


Jack pindah duduknya dekat Pak Amril.


“Ayah aku benar-benar minta maaf, aku sudah lancang, aku minta maaf, tapi jika Ara korban kejahatan, aku tidak bisa membiarkan orang itu berkeliaran bebas, aku harus tahu apa yang terjadi dengan Arum,” kata Jack.


Pak Amril diam membisu. Semuanya sudah terbongkar, tidak bisa ditutup-tutupi lagi.


“Ara belum tahu masalah ini,” ucap Jack.


“Aku juga kasihan padanya, aku takut kalau dia tahu akan membuka lagi luka lamanya yang mungkin sudah dilupakannya. Sebenarnya aku merasa berat melakukan ini,” ucap Jack.


Pak Amril menatapnya.


“Apa kau akan merahasiakannya?” tanya Pak Amril.


“Iya, aku akan merahasiakannya,” jawab Jack.


“Ara diadopsi di Panti Asuhan Permata Hati,” jawab Pak Amril.


“Kepala panti itu mengatakan kalau orangtua Ara meninggal dunia,” kata Pak Amril lagi, dengan lesu.


Dia tidak tahu apa yang terjadi kalau istrinya dan Ara tahu soal ini. Apalagi Ibunya Ara sangat membenci Ny.Imelda yang sudah mencoba merusak rumahtangganya Ara dan Jack.


“Baiklah, itu dimana Ayah? Aku akan kesana,” tanya Jack lagi.


“Aku akan mengantarmu,” jawab Pak Amril.


“Baiklah,” ucap Jack mengangguk.


Jack kembali mengambil surat hasil tes DNA itu. Merekapun pergi menuju panti asuhan Permata Hati.


*********