Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-167 Dua Ibu


Ny.Imelda melihat lewat kaca jendela ruang perawatan itu. Airmata terus membasahi pipinya. Dia tidak menyangka wanita yang sudah dia coba hancurkan rumah tangganya adalah putri kandungnya sendiri. Kenapa dia harus menjadi ibu kandung yang jahat?


Setelah putrinya terlunta-lunta tinggal di panti asuhan dan dibesarkan oleh Bapak dan Ibu Amril dia malah menyakitinya.


Dengan tangan yang gemetar, Ny.Imelda mengetuk pintu itu beberapa kali.


Jack bangun dari duduknya lalu membukakan pintu. Dia agak terkejut yang datang ternyata Ny.Imelda. Begitu juga dengan Ara yang sedang berbaring. Dia mendadak kaku melihat wanita itu, yang ternyata ibu kandungnya.


Ny.Imelda sudah tidak bisa menutupi kesedihannya. Dia berdiri saja dengan airmata yang terus menetes dipipinya.


“Nyonya! Dengan siapa Nyonya kemari? Tadi Nyonya sudah ke rumah?” tanya Jack, bingung karena Ny.Imelda sendirian.


“Iya, aku sendiri,” jawab Ny.Imelda sambil menatap Jack.


Jack melihat airmata yang terus tumpah di pipinya Ny.Imelda. Dia membuka pintu lebar-lebar supaya Ny.Imelda masuk ke dalam. Lalu Jack kembali menutup pintunya.


Ny.Imelda mengusap airmata dipipinya, menoleh ke arah Ara.


“Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Ny.Imelda, mencoba tersenyum lalu menghampiri Ara dengan ragu.


Ara menatap wanita itu.


“I iya, aku lebih baik sekarang,” jawab Ara, dia mencoba untuk bangun. Jack buru-buru membantunya duduk.


“Hati-hati sayang,” kata Jack, lalu ikut duduk dibelakangnya Ara.


Ny.Imelda melangkah lagi.


“Maaf aku tadi ke rumah Jack, ada Inez..” ata Ny. Imelda dengan bingung harus berkata Apa.


Jack menatap wanita itu. Apa ibunya mengatakan seusuatu pada Ny.Imelda?


Ara menatapnya dengan bingung dan sedih. Dia tidak tuhu harus berkata apa. Semua sangat membingungkan. Dia merasa sedang bermimpi, mengetahui kalau dia putri kandung wanita ini, perasaannya sangat aneh.


Ny.Imelda tidak bisa menahan lagi perasaannya.  Dia duduk di pinggir tempat tidur pasien itu menghadap Ara. Menatapnya sambil berlinang airmata. Tangannya langsung mengulur mengusap rambutnya Ara.  Airmata itu terus menetes dipipinya.


Ara hanya bisa menatapnya, dia bingung kenapa Ny.Imelda menangis seperti itu? Tangan wanita itu juga menyentuh wajahnya.


“Putriku!” ucapnya Ny.Imelda tidak bisa menyembunyikan lagi perasaannya. Tentu saja Ara terkejut juga Jack.


Barulah Jack mengerti sepertinya ibunya menceritakan semuanya pada Ny. Imelda.


“Putriku!” hanya itu yang terucap dibibirnya. Ny.Imelda memeluk Ara degan erat lalu menciumi wajah putrinya, kemudian memeluknya lagi dan menangis lagi.


Ara hanya diam membisu. Wanita ini memanggil dia putrinya, apakah Ny.Imelda tahu soal hasl tes DNA itu?


Tangan Ara dengan ragu balas memeluknya. Dia benar-benar sangat bingung.


Ny.Imelda menatap Ara.


“Ny.Inez sudah mengatakan semuanya, aku baru tahu kalau kau ternyata putri kandungku, aku..aku sangat merasa bersalah juga malu…ternyata aku sudah berbuat jahat pada putriku sendiri,” kata Ny.Imelda diapun kembali terus menangis.


Ara diam menatapnya, wanita itu menunduk sedih tidak henti-hentinya menangis, lalu menatapnya lagi.


“Kau tahu, aku sangat meridukanmu, tidak ada yang aku inginkan selain bertemu denganmu, melihat kau masih hidup,” kata Ny.Imelda.


Mendengarnya membuat Ara semakin merasa bersedih, airmata mulai menetes dipipinya.


“Aku masih bingung,” jawabnya.


“Aku sungguh bingung,” ulangnya.


“Maafkan Ibu ya sayang, Ibu sudah berbuat jahat padamu,” kata Ny.Imelda. tangannya kembali mengusap rambutnya Ara, lalu dia menangis lagi.


Ara hanya bisa mengangguk saja.


“Ayahmu, Ayahmu pasti senang tahu kau masih hidup. Kau harus bertemu Ayahmu, dia sedang ada diluar negeri, nanti Ibu akan menelponnya, supaya segera pulang untuk bertemu denganmu,” kata Ny.Imelda terbata-bata.


Jack terdiam melihatnya. Dia juga merasa sedih melihatnya.


Ternyata bukan saja mereka yang bersedih. Ada sepasang mata yang menangis di dekat pintu, menatap lewat jendela ruang rawat itu, bersama seorang pria yang memeluk bahunya.


Jack melihat ke arah jendela dan dia terkejut saat melihat mertuanya sudah ada disana.


Tadi dia memang menelpon memberi tahu tentang Ara pada mertuanya, dia tidak menyangka kalau ternyata Ny.Imelda juga datang ke rumah sakit.


Pak Amril mendorong pintu ruang rawat itu perlahan, sebelah tangannya memeluk tangan istrinya yang berjalan masuk keruangan itu dengan enggan.


Mendengar ada yang membuka pintu, Ara yang sedang memeluk Ny.Imelda menoleh kearah pintu dan dia terkejut saat melihat Ibunya sudah ada disana.


“Ibu!” panggilnya, membuat Ny.Imelda melepaskan pelukannya, karena dia tahu panggilan Ibu itu bukan untuk memanggilnya.


Dilihatnya Ara menoleh kearah pintu, diapun menoleh kesana. Dia terkejut saat melihat Bu Amril, wanita yang sudah membuat rambutnya rontok itu sudah ada disana dengan berurai airmata.


Ara menatap ibunya. Bu Amril tidak bisa menahan kesedihannya. Dia melihat semua, dia mendengar semua perbicaraan di ruang ini. Hatinya sengat sedih Ara menemukan ibu kandungnya.


“Ibu!” panggil Ara, dengan airmata langsung menetes dipipinya.


Bu Amril menghapus airmatanya.


Ara menatap ibunya itu, ibunya yang sudah sangat menyayanginya selama ini. Dia tahu ibunya sudah tahu tapi mencoba untuk pura-pura tidak tahu. Diapun menoleh pada ayahnya yang tersenyum padanya.


“Ayah!” panggilnya.


Ara kembali menoleh pada ibunya.


“Ibu!” panggil Ara.Dia tahu semua ini pasti sangat berat buat ibunya.


“Ibu!” panggil Ara lagi.


“Ibu!” ulang Ara.


Ibunya tidak beranjak hanya menatapnya.


Ara mengulurkan tangannya pada ibunya.


“Ibu!” panggilnya, airmata menetes dipipinya.


Ny.Imelda tertegun melihatnya. Dia tahu putrinya sudah menganggap Bu Amril seperti ibunya sendiri. Dia tidak boleh merasa cemburu apalagi iri, dia harus berterimakasih karena wanita itu sudah membesarkan putrinya dan memberinya kasih sayang.


Melihat tangan yang terulur padanya, Ibunya Ara langsung saja menghampiri dan memeluknya,  langsung saja menangis.


“Kau putriku! Kau putriku!” ucapnya, sambil terisak.


Semuapun terdiam, pasti ini akan sangat berat buta Bu Amril yang begitu menyayangi Ara seperti anak kandungnya sendiri.


“Iya aku putrimu,” ucap Ara memeluk erat ibunya.


Jack hanya terdiam, dia menjauh memberikan ruang pada mereka, dia menghampir Pak Amril.


Pak Amril menatap Jack.


“Bapak mendengar kalau Tn.Ferdi meninggal,”kata Pak Amril.


“Iya,” jawab Jack.


Pak Amril menepuk bahunya Jack.


Ibunya Ara benar benar tidak mau melepaskan Ara. Ny.Imelda hanya diam menatap mereka.


Sudah agak reda tangisnya, barulah ibunya Ara melepaskan pelukannya, tapi masih memeluk bahunya Ara dan menoleh pada Ny.Imelda yang duduk di depan Ara itu.


Ny.Imelda menatap Bu Amril yang langsung berubah masam padanya.


“Tidak, aku tidak akan mengambil putrimu,” kata Ny.Imelda pada ibunya Ara, yang langsung terlihat melunak.


“Aku… aku sangt berterimakasih kau sudah mengurus putriku dengan baik, kau menyayanginya seperti putrimu sendiri. Aku minta maaf atas perlakuan burukku padamu, aku sangat menyesal,” kata Ny.Imelda.


Bu Amril tidak menjawab, dia menoleh lagi pada Ara.


“Namamu Arasi, bukan Arum,” ucap ibunya Ara.


Ara menengadah menatap ibunya sambil tersenyum.


“Iya, aku Arasi, putri Ibu,” jawab Ara, mengusap tangan ibunya yang memeluk bahunya.


Kemudian Ara menoleh pada Ny.Imelda yang juga menatapnya. Ny Imelda menyadari meskipun Ara adalah putri kandungnya, tapi dia sudah lama bersama Bu Amril, tentu saja Ara akan lebih dekat dengan Bu Amril.


“Bagaimana dengan bayimu?” tanya Bu Amril, membuat Ny.Imelda itu menatapnya.


“Anak itu, aku sudah memukulnya tadi!” kata Ny. Imelda.


“Siapa?” tanya Bu Amril.


“Bastian! Bastian yang mendorong Arum eh maksudku Arasi sampai jatuh dan seperti ini!” jawab Ny.Imelda.


“Anak kurang ajar itu, awas dia, akan aku pukul naniti!” umpat Bu Amril.


“Sudah, aku dan bayiku baik-baik saja, hanya perlu istirahat saja,” jawab Ara sambil tersenyum.


Bu Amril mengusap rambutnya Ara, Ny.Imelda memegang kakinya yang bersalonjor.


“Semoga kau cepat pulih,” ucapnya.


“Iya, terimakasih,” jawab Ara, sambil tersenyum.


Matanya menoleh pada Ayahnya yang berdiri saja menatapnya sambil tersenyum. Ada haru dihatinya berada di rumah sepasang suami istri yang begitu menyayanginya. Sungguh dia sangat merasa beruntung mengenal mereka.


Dilihatnya lagi suaminya yang berdiri menatapnya.


Aku mencintaimu, Jack, batinnya. Lalu mengusap perutnya perlahan, kembali menatap suaminya yang hanya tersenyum saja.


Jack merasa bahagia Arum sudah kembali dan berkumpul dengan keluarganya, meskipun Jack tetap harus kehilangan orang yang di sayanginya, yaitu ayahnya.


****