Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-28 Rapat Umum Pemegang saham ( part 1 )


Jack membuka pintu kamarnya, Pak Beni sudah berdiri disana. Saat melihat Jack sudah rapih dengan stelan jasnya, diapun tersenyum, dia merasa terharu.


“Kau kenapa?” tanya Jack.


“Istri Tuan benar-benar sudah membuat Tuan terlihat keren,” jawab Pak Beni.


Jack mengangguk, sambil menyentuh dasinya. Dia senang Ara memasangkan dasinya.


“Aku sudah siap, Istriku masih bersiap-siap,” ucap Jack, sambil melangkah keluar pintu dan menutup pintu kamarnya. Diapun meninggalkan ruangan itu bersama Pak Beni.


Dibawah tangga mereka berpapasan dengan Tuan Ferdi. Ayah tirinya Jack itu menatap Jack, melihatnya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum sinis.


“Kau serius akan datang ke tempat rapat?” tanya Tn.Ferdi.


“Iya,” jawab Jack.


“Sampai bertemu disana,” ucap Pak Ferdi, diapun meninggalkan ruangan itu.


“Mari Tuan!” ajak Pak Beni pada Jack.


Jack menoleh keatas tangga. Dia belum melihat istrinya menyusulnya. Tanpa bicarapun Pak Beni sudah bisa menebak Tuannya menunggu istrinya turun.


“Saya tunggu di mobil, Tuan!” kata Pak Beni.


Jack tidak menjawab. Dibiarkannya Pak Beni keluar duluan. Tidak berapa lama, Ara bergegas menuruni tangga itu.


“Maaf aku lama,” ucapnya, melihat Jack masih ada diruangan itu menunggunya.


Jack tidak menjawab, dia hanya mengulurkan tangannya meraih tangan Ara, mengajak keluar dirumah itu.


*************


Mobil melaju dijalanan yang ramai. Jalan yang tidak pernah sepi 24 jam. Siang dan malam selalu ramai lalu lalang kendaraan roda empat.


Dari jendela mobil Ara melihat ke angkasa, dari kejauhan terlihat gedung  menjulang tinggi ada tulisan besar di atapnya dengan megahnya, sebuah nama perusahaan besar yang terkenal di Ibukota.


“Kau tahu Jack, aku sudah lama tinggal di ibukota. Itu adalah gedung terbesar di kota ini. Aku dengar disana hanya ada satu perusahanaan besar, tidak seperti pada umumnya dalam satu gedung tedapat berbagai perusahaaan. Tapi gedung itu selain milik sendiri juga didominasi oleh perusahaan besar yang ada di atas itu, ada beberapa kantor anak perusahaannya juga disana,” ucap Ara.


Jack hanya diam saja melihat lurus kedepan.


“Karena kantor gedung itu didominasi oleh pemilik gedung, jadi aku tidak pernah menginjakkan kakiku kegedung itu hanya sekedar ke atm atau melamar pekerjaan ke perusahaan lain,” gumam Ara.


Jack melipat kedua tangannya melirik kearah Ara yang masih melongokkan kepalanya dikaca jendela.


“Kabarnya bekerja disana gajinya sangat besar. Aku tidak pernah mencoba melamar kesana, karena terlalu banyak yang berniat bekerja disana, saingannya sangat banyak,” ucap Ara.


Jack masih diam saja. Arapun menoleh kearah Jack.


“Dari semalam kau banyak diam Jack, apa kau baik-baik saja?” tanya Ara.


“Aku baik-baik saja,” ucap Jack.


“Kau harus tenang, Jack! Kau harus mendapatkan apa yang seharusnya kau miliki!” ucap Ara, membuat Jack menoleh dan menatapnya.


“Jangan menatapku begitu Jack, apalagi menciumku, aku tidak mau keluar mobil lipstikku belepotan,” ucap Ara, begitu saja, kemudian diapun diam.


Kenapa dia merasa ge’er kalau Jack akan menciumnya? Ah ah ada apa dengan kepalanya? Yang terlintas hanya ciuman Jack tadi. Setiap Jack menatapnya serasa pria itu akan menciumnya.


Ara melihat mobilnya berbelok dan berhenti di depapn pos satpam, mobilnya sudah memasuki area gedung dan langsung ke parkiran di depan pintu masuk gedeng itu. Seorang satpam menyingkirkan tulisan area parkir khusus.


Pak Beni duluan turun dari mobil itu diikuti Ara dan Jack.


Beberapa mobil tampak melintas didepan pintu masuk dan penumpangnya turun lalu memasuki pintu loby. Merekapun memasuki pintu loby setelah melewati pemeriksaan dengan detector oleh beberapa petugas.


Ara tidak sengaja melihat ID Card yang dipakai petugas satpam itu. Dia terkejut saat melihatnya, disana tercantum nama sebuah perusahaan yang dibicarakannya tadi pada Jack.


Diapun menoleh pada Jack. Apakah Jack pemilik perusahaan besar itu?  Apa dia tidak salah? Dia menikahi


seorang pria pemilik gedung besar ini? Dan sekarang dia sedang berada digedung perusahaan besar itu? Dia tidak memperhatikan saat mobil Jack belok.


“Nonya! Nyonya! Tas anda!” kata satpam wanita itu, sambil memberikan tasnya Ara. Saking terkejutnya Ara sampai tidak mendengar suara satpam itu.


“Terimakasih,” ucapnya, sambil menerima tas itu.


Dia mendadak gugup, salah tingkah, dan berkeringat dingin. Langkah kakinya mengikuti kakinya Jack dan Pak Beni masuk kedalam.


Saat masuk kedalam lift khusus, Ara menoleh pada Jack yang berdiri disampingnya. Dia benar-benar merasa gugup, ternyata suaminya itu pemilik perusahaan besar ini, dia benar-benar menikahi pria kaya.


Sampailah mereka dilantai tempat ruang meeting itu. Diluar tampak masih ada beberapa orang  berkerumun.  Pak Beni mengajak Jack memasuki sebuah ruangan yang luas. Ternyata disana sudah banyak yang hadir dan duduk mengelilingi sebuah meja besar berbentuk persegi panjang. Ara bisa melihat mereka adalah orang-orang penting.


Ara tiba-tiba menarik tangannya Pak Beni untuk keluar dari ruangan itu, membuat Pak Beni terkejut.


“Ada apa Nyonya?” tanya Pak Beni saat mereka sudah diluar ruangan.


“Benar,” jawab Pak Beni mengangguk.


Arapun terdiam, dia semakin gugup dan gemetaran saja, mengetahui siapa Jack sebenarnya. Sama sekali tidak pernah bermimpi pemilik perusahan besar di ibukota ini adalah suaminya.


“Pak Beni, ada yang ngin aku katakan,” ucap Ara.


“Soal apa?” tanya Pak Beni.


“Tuan Ferdi, dia ingin mempermalukan Jack didepan seluruh pemegang saham itu, dia ingin menunjukkan kalau Jack gila! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Jack,” ucap Ara.


“Nyonya tenang saja, Nyonya membawa obatnya Tuan kan?” tanya Pak Beni, sambil melihat jam tangannya.


“Ada waktu setengah jam lagi untuk Tuan minum obat yang siang hari. Saya akan mengulur waktu meetingnya supaya Tuan bisa lebih tenang dan acara berjalan lancar,” kata Pak Beni.


“Kau benar, usahakan  acara dimulai setelah Jack meminum obat,” ucap Ara dengan tatapan yang khawatir.


Pak Beni menatap Ara dan mengangguk, dia merasa senang melihat sikap istri Tuannya yang perhatian pada Tuannya.


“Mari kita masuk,” ajak Pak Beni.


Arapun mengangguk lalu mereka masuk ke ruangan itu.


“Pak Beni!” terdengar seseorang menghampiri, semua orang tampak memperhatikan mereka, karena kedatangan Jack sangat mencolok.


Dari postur tubuhnya saja sudah menyita perhatian orang banyak. Kulitnya lebih putih dari orang kebanyakan dan tubuhnya tinggi tegap, dengan wajah tampan dan hidung mancungnya juga mata yang kebiruan.


Pak Beni tampak berbasa basi dengan yang hadir, berbicara sambil berdiri memperkenalkan Jack dan Ara pada orang-orang. Ara hanya mengikutinya dan tersenyum saja saat Pak Beni memperkenalkannya pada orang-orang yang menghampiri mereka sambil mengobrol.


Ara merasa cemas, melihat Jack yang tidak banyak bicara, hanya seperlunya saja. Diliriknya jam di di dinding, Pak Beni sengaja mengulur waktu untuk acara dimulai supaya Jack bisa minum obatnya dulu.


Setengah jam kemudian…


“Bapak-Bapak yang ada diluar silahkan masuk, kita mulai sekarang, Tuan Jack Delmar sudah hadir,” terdengar suara seseorang memanggil para tamu yang masih diluar ruangan. Ara mengenalinya sebagai Pak Faisal, salah satu kepala bagian menejerial di perusahaannya Jack.


Jack duduk di dekat siku sisi kanan meja itu, disebelah Pak Beni dan sisi kanannya ada Ara.


Ara kembali melihat jam didinding. Sudah waktunya Jack minum obat.


“Jack, saatnya minum obat,” ucap Ara pada Jack. Diapun mengeluarkan obat dari tasnya dan diberikan pada Jack yang melihat kearah tangannya Ara.


“Minumlah,” ucap Ara. Jackpun mengambilnya dan minum obat itu.


Ara menatap Jack sambil tersenyum.


“Apa kau merasa lebih baik?” tanya Ara.


“Kepalaku sedikit pusing,” jawab Jack.


“Kau jangan khawatir, setelah minum obat, kau akan lebih baik,” ucap Ara sambil memegang tangannya Jack, memberi semangat.


Dilhatnya orang-orang menoleh pada arah pintu saat terdengar suara langkah- langkah kaki memasuki ruangan itu.


Ara jadi ikut ikutan melihat kearah pintu, ternyata Tn.Ferdi dan Ny.Inez juga beberapa orang lagi tidak dikenal Ara. Beberapa orang menayap mereka.


Tn.Ferdi menoleh kearah kursi di depan yang kosong, biasanya dia yang duduk dikursi puncak pimpinan itu, tapi kini kursi itu diperuntukkan buat Jack, hatinya semakin panas saja.


Saat matanya bertemu dengan Ara, yang menatapnya dengan tajam, pria itu pun duduk dikursi yang sisi kiri berhadapan dengan tempat duduknya Ara dan Jack.


Terdengar suara Pak Faisal yang berdiri di sebelah kanannya Tuan Ferdi.


“Selamat siang, semuanya,” sapanya.


“Terimakasih atas kehadiran Bapak-Bapak semua dalam acara Rapat Umum Pemegang Saham ini yang diadakan sangat mendadak,” kata Pak Faisal.


Suasa langsung hening.


“Kami pihak management perusahaan sudah mendapatkan surat masuk dari firma hukum di ibukota dan firma hukum dari Perancis, tentang peralihan hak milik perusahaan pada pemilik sahnya,” ucap Pak Faisal.


Suasana terasa begitu tegang. Tuan Ferdi tampak menatap Jack dengan tatapan tidak suka meskipun dia mencoba untuk rileks.


“Seperti yang kita ketahui bahwa selama ini perusahaan dipimpin oleh Tuan Ferdi. Sekarang kita kedatangan pemilik perusahaannya yaitu putra dari Tuan Constantine Delmar, Tuan Jack Delmar dari Perancis!” urai Pak Faisal, tangannya mengarah pada Jack yang ada disebrangnya.


Terdengar tepuk tangan riuh hadirin, semua mata menatap kearah Jack Delmar.


“Kepada Tuan Jack Delmar, silahkan!” kata Pak Faisal, mempersilahkan Jack maju ke depan.


Ara menoleh pada Jack, memegang tangannya lalu tersenyum memberi semangat. Tuan Ferdi tersenyum sinis, sedangkan Ny. Inez tampak pucat, takut Jack membuatnya malu.


Jackpun bangun dari duduknya dan berjalan kearah depan ke tempat kursi puncak pimpinan yang kosong.


************