
Jack menyimak apa yang dikatakan pamannya.
“Aku tidak tahu dia mencintaiku atau menginginkan hartaku. Sungguh mustahil ada yang mencintaiku dalam keadaan sakit,” ucap Jack.
“Apa yang kau katakan itu benar, tapi kau juga harus mempertimbangkan praduga tidak bersalah, bagaimana kalau dia benar-benar mencintaimu? Kau juga berhak mendapatkan wanita yang tulus mencintaimu,” ujar Paman Favier.
“Sampai detik ini dia terlihat baik, tapi aku tidak tahu, beberapa hari ini mengenalnya tidak cukup untuk membuat sebuah penilaian kalau dia baik,” kata Jack.
“Kau terlalu curiga,” ucap Paman Favier.
“Dia muncul disaat aku depresi, ingatanku sungguh buruk, itu sungguh sesuatu yang harus dipertanyakan, apalagi dengan kejadian insiden yang sangat buruk terjadi pada anak buahku itu, aku harus selalu waspada,” kata Jack.
“Jack, kau harus ingat kau masuk pasukan khusus GIGN karena kau ingin menyelamatkan banyak orang, kau ingin mengobati penyesalanmu karena tidak bisa menyelamatkan ayahmu dengan Arum. Kau sudah banyak melakukan operasi penyelamatan di beberapa negara, sampai menjadi seorang Jendral diusia muda sekarang! Kau sudah mewujudkan cita-citamu dan pastinya ayahmu sangat bangga! Seharusnya kau sudah bisa melepaskan rasa bersalahmu! Tatalah masa depanmu, jangan melihat kebelakang, kau berhak bahagia dengan pasanganmu,” ucap Paman Favier, panjang lebar.
Jackpun terdiam. Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat usianya 12 tahun dia dinyatakan sembuh dan bisa keluar dari RSJ tapi karena ibunya sudah tidak pernah menengoknya bertahun-tahun selama di RSJ, Jack memutuskan untuk tidak menemui ibunya sampai ibunya datang menjemputnya. Dan ternyata sampai dia dewasa ibunya tidak pernah kunjung menjemputnya dan hanya mengirimkan uang lewat Pak Beni.
Keluar dari RSJ Pak Beni membawa Jack pada Paman Pavier, adik ayahnya Jack, yang juga seorang pejabat militer di GIGN. Pamannyalah yang mensupport Jack supaya berhasil dengan pendidikannya dan cita-citanya.
Jack sebenarnya tidak memberatkan siapapun, Jack memiliki kekayaan sendiri dari peninggalan ayahnya. Akhirnya Jack memutuskan untuk merahasiakan kesembuhannya pada ibunya. Keputusan yang sangat sulit sebenarnya tapi itulah takdirnya, di buang ibunya yang tidak menginginkannya karena dia mengalami depresi.
Jack remaja mengambil jurusan pendidikan militer menjadi pasukan khusus GIGN, dia mendedikasikan dirinya untuk banyak melakukan penyelamatan pada orang banyak .Tapi ternyata mentalnya masih sangat rapuh saat dihadapkan pada gagalnya penyelamatan insiden tenggelamnya kapal anak buahnya diperairan.
Rasa bersalah karena gagal menyelamatkan anak buahnya terus menghantuinya seperti yang dirasanya saat gagal menyelamatkan Arum dan membuat ayahnya juga ikut meninggal, hingga akhirnya membuat Jack kembali depresi.
Untuk menjaga keselamatannya Jack, Pamannya meminta Pak Beni untuk menyembunyikan Jack dirumah ibunya. Tidak disangka dia akhirnya bisa menikah dengan Ara, dan wanita itu pula yang memulihkan kondisinya.
“Apa kau tidak ingin mengajak istrimu menemui paman?” tanya Paman Favier, membuyarkan lamunannya Jack tentang perjalanan hidupnya.
“Tidak paman, sementara ini tidak, istriku tidak tahu aku sudah sembuh,” ucap Jack.
“Kau merahasiakannya?” tanya Paman Favier.
“Sebelum semua urusan beres aku harus merahasiakan ini pada siapapun. Aku harus kembali pulang, urusanku dengan keluargaku belum selesai. Mereka tidak tahu aku sembuh,” jawab Jack.
“Baiklah terserah padamu, paman juga masih menyelidiki siapa dibalik kejadian tenggelamnya kapal anak buahmu itu,” ucap Paman Favier.
“Tentu saja seseorang yang tahu kalau aku pernah mengalami gangguan kejiwaan, dan orang itu mendapatkan keuntungan dari itu,” jawab Jack.
“Kau benar, kau sudah mempunyai kecurigaan pada seseorang?” tanya Paman Favier.
“Aku belum tahu pasti,” jawab Jack, menggelengkan kepalanya.
Jack tidak bicara lagi, dia teringat pada keluarganya, pada ibunya, seharusnya dia pulang dalam keadaan baik supaya bisa bicara dengan ibunya. Dan sekarang dia sudah merasa lebih baik, dia akan pulang, ya dia akan pulang.
********
Ara merasa bosan seharian tanpa ada Jack di rumahnya. Pak Beni hanya mengatakan kalau Jack sedang terapi dan sore akan menjemputnya.
“Seharusanya Pak Beni mengatakan padaku, supaya aku bisa menemani Jack terapi,” kata Ara.
“Maaf Nyonya, Tuan berangkat pagi-pagi dan saya tidak mau mengganggu Nyonya,” ujar Pak Beni berbohong.
“Tentu saja tidak mengganggu Pak Beni, sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga Jack dan merawatnya, kalau dia pergi sendiri justru aku merasa khawatir,” kata Ara.
“Saya minta maaf Nyonya, lain kali saya akan mengatakan pada Nyonya jika Tuan ke tempat terapi,” ujar Pak Beni.
Arapun meninggalkan Pak Beni dengan cemberut, dia merasa khawatir dengan keadaannya Jack. Padahal dia sama sekali tidak marasa keberatan untuk menemani Jack terapi.
Pak Beni hanya menatap istri Tuannya itu. Seharusnya Tuannya tahu kalau istrinya sangat menyayanginya.
Sore harinya Pak Beni menjemput Jack ke markas besar GIGN.
Jack berganti pakaian di dalam mobilnya, saat mobil kembali menuju rumahnya.
“Nyonya mencari-cari Tuan,” kata Pak Beni.
Jack tidak menjawab, menyelesaikan berganti pakaiannya.
“Nyonya sangat khawatir, Nyonya minta setiap Tuan keluar dia diajak serta,” ucap Pak Beni lagi.
“Pak Beni, siapkan jadwal kepulanganku,” kata Jack tidak menimpali perkataannya Pak Beni.
“Pulang? Tuan yakin akan pulang?” tanya Pak Beni.
“Iya, aku merasa banyak sekali urusanku disana,” jawab Jack.
“Tapi..”
“Kenapa?” tanya Jack.
“Orang-orang disana sangat tidak bersahabat, saya merasa khawatir” jawab Pak Beni.
“Tidak perlu begitu, aku baik-baik saja,” ucap Jack.
“Kapan kita pulang?” tanya Pak Beni.
“Besok,” jawab Jack.
“Saya harus beralasan apa pada Nyonya Ara juga Nyonya Inez dirumah?” tanya Pak Beni.
“Katakan aku mengamuk ingin pulang,” jawab Jack.
“Baiklah Tuan,” jawab Pak Beni.
Tidak berapa lama mobilpun memasuki halaman rumahnya Jack.
“Jack, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau terapi begitu lama? Sampai sesore ini kau baru pulang! Kau juga tidak mengajakku, seharusnya kalau aku masih tidur kau bangunkan aku,” kata Ara terus saja bicara, sambil mengusap-usapkan tangan Jack.
“Apa kau lebih baik sekarang? Kenapa terapinya sampai seharian? Aku sangat khawatir,” ucapnya lagi, lalu mengusap dadanya Jack.
Mendengar Ara terus bicara membuat Jack merasa pusing, istrinya itu sangat cerewet, sepertinya dia sedang diomeli.
Ara menoleh pada Pak Beni.
“Pak Beni, lain kali kalau Jack keluar rumah harus bersamaku,” kata Ara.
“Baik Nyonya,” jawab Pak Beni.
“Apa kau sudah makan, Jack? Kau juga sudah minum obat?” tanya Ara sambil mengusap pipinya Jack.
Jack merasa risih tangan itu menyentuh pipinya. Kenapa wanita itu menyetuh-nyentuhnya lagi, malah sekarang mengusap pipinya.
“Tuan sudah makan, Nyonya,” jawab Pak Beni.
“Syukurlah aku merasa tenang, kau juga sudah minum obatnya?” tanya Ara lagi.
“Sudah Nyonya,” jawab Pak Beni lagi.
Jack tidak bicara apa-apa.
“Nyonya, bersiap-siaplah, besok kita pulang,” kata Pak Beni.
“Apa? Pulang? Maksud Pak Beni apa?” tanya Ara menatap Pak Beni.
“Tadi Tuan mengamuk saat terapi, Tuan ingin pulang. Menurut Dokter Tuan boleh pulang,” kata Pak Beni.
“Tidak-tidak, aku tidak yakin itu hal yang baik aku khawatir keluarga Jack akan menyakitinya,” ucap Ara, menoleh pada Jack.
“Tapi Tuan ingin pulang,” ucap Pak Beni.
Ara mendekati Jack dan menatapnya, memegang kedua tangan Jack.
“Jack, apa kau benar-benar ingin pulang?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab, dia hanya melihat tatapan kekhawatiran dari istrinya. Istrinya jelas-jelas sangat mengakhawatirkannya.
“Aku tidak setuju, mereka membuatmu begini, mereka membiarkan Bastian membakar Jendral-Jendralmu! Aku sudah mengalihkan surat kuasa kekayaanmu pada ibumu, itu semata-mata karena aku ingin selalu bersamamu menemanimu sampai kau sembuh,” ucap Ara, matanya mulai memerah, sudah tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata dia begitu ingin melihat suaminya sembuh.
Jack terkejut mendengarnya, ingatannya yang terpotong-potong itu mulai tersambung.
“Mereka membuat kondisimu memburuk, mereka ingin membuatmu gila selamanya demi mendapatkan hartamu. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu Jack, biarkan saja keluargamu memiliki semua hartamu asalkan kau sembuh. Kau masih memiliki harta yang lain, biarkan mereka,” kata Ara, kini butiran airmata mulai menetes dipipinya.
Jack semakin tertegun melihat istrinya menangis. Apakah airmata itu tanda ketulusan perhatiannya Ara? Apa benar istrinya memang menyayanginya meskipun dia depresi?
“Kita tidak usah pulang ya Jack, aku merasa tinggal disini lebih baik,” ucap Ara menatap Jack yang sedang menatapnya. Dia tidak tahu kalau yang di tatapnya sedang menatapnya dengan benar, dengan tatapan seorang pria normal.
Jack balas menatap istrinya dan menyimak apa yang dikatakan Ara. Istrinya itu memberikan hak kuasa kekayaannya pada ibunya demi ingin bersama dengannya yang sedang sakit depresi? Apa dia tidak salah dengar? Ara bisa mendapatkan kekayaannya kalau menjadi jandanya tapi Ara jusru memberikan hak kuasa kekayaanya pada ibunya, sungguh diluar dugaan!
Jack melihat tatapan tulus dimatanya Ara, mata yang sudah tergenang oleh airmata. Ara cepat-cepat mengusap airmata yang kembali jatuh ke ipinya. Melihatnya membuat hati Jack tersentuh, wanita itu terlihat begitu menyayanginya. Tatapannya penuh kasih. Ada rasa menyesal dalam hatinya karena meragukan perhatiannya Ara.
Jack berfikir, apakah dia juga yang selama ini membuat Ara menangis sampai tidak mau pulang? Kalau itu benar, mulai detik ini dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti istrinya dan membuatnya menangis.
“Apa kau yakin kau ingin pulang Jack? Aku ingin kau sembuh,” ucap Ara, masih menengadah menatap Jack.
“Pulang,” jawab Jack, menunduk menatap wajah istrinya.
“Kau benar ingin pulang?” tanya Ara lagi.
“Pulang,” jawab Jack.
Ara kembali menunduk sedih, dia tidak setuju Jack ingin pulang, diapun menoleh pada Pak Beni.
“Pak Beni, apa ini yang terbaik? Kita akan pulang?” tanya Ara.
“Benar Nyonya, karena mamaksakan Tuan tinggal disini juga akan membuat Tuan tertekan karena hatinya ingin pulang, Tuan ingin berada dilingkungan keluarganya,” jawab Pak Beni.
“Tapi mereka sangat jahat, aku tidak mau mereka menyakiti Jack,” ucap Ara, sambil menoleh pada Jack.
“Kau serius ingin pulang Jack?” tanya Ara.
Jack tidak menjawab. Arapun menghela nafas sebentar.
“Baiklah Jack, jika kau ingin pulang, kita pulang,” ucap Ara, lalu menoleh pada Pak Beni lagi.
“Pak Beni, tolong bantu aku supaya tidak ada yang menyakiti Jack disana,” kata Ara.
Pak Beni mengangguk. Ara kembali menoleh pada Jack dan tersenyum.
“Baiklah Jack, kita akan pulang, kau senang?” tanya Ara masih dengan senyumnya dan memegang tangan Jack.
Jack tidak menjawab, hanya bisa menatap istrinya, kenapa sekarang senyum istrinya itu terlihat begitu indah?
**************
Jangan lupa like, hadiah gift dan votenya ya…
**************