Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-143 Ke Panti Asuhan


Jack dan Pak Amril pergi ke panti asuhan Permata Hati. Sebenarnya hati Jack merasa tidak nyaman karena telah membuat keluarga Pak Amril tidak tenang. Dia juga tidak tahu kalau seandainya Ara tahu soal ini, pasti dia akan sulit menerimanya. Apalagi Ny.Imelda sudah mencoba merusak rumah tangga mereka dengan menghadirkan Arum yang ada dirumahnya. Belum ibunya Ara yang tidak menyukai Ny.Imelda. Sungguh itu suatu yang sulit untuk kedepannya.


Di Panti Asuhan Permata Hati…


Bu Sinta baru tiba di panti. Saat memasuki ruang penerima tamu,  seorang wanita yang masih muda sekitar usia 20 tahunan menghampiri.


“Bu! Bu Sinta!” panggilnya.


Bu Sintapun menoleh.


“Ada apa Nia?” tanyanya


Wanita yang dipanggil Nia itu menghentikan langkahnya di depan Bu Sinta.


“Tadi ada tamu Bu, cuma karena Ibu tidak ada jadi saya yang menerimanya,” kata wanita itu.


“Tamu siapa?” tanya Bu Sinta.


“Tamunya sangat aneh, Bu, mencari anak panti yang pernah tinggal di panti ini lebi dari 20 tahun yang lalu,” jawab Nia.


Mendengarnya membuat Bu Sinta terkejut.


“Siapa tamunya?” tanya Bu Sinta.


“Namanya Pak Firman dan Pak Aji, katanya mereka pengacara Bu,” jawab Nia.


“Pengacara? Mereka mencari siapa?” tanya Bu Sinta dengan hati yang langsung berdebar kencang.


“Mencari anak adopsi yang bernama Arasi Mayang, tapi aku cari datanya di computer tidak ada anak dengan nama itu,” jawab Nia.


Bu Santi semakin kaget saja.


“Pengacara ada kepentingan apa?” tanya Bu Sinta.


“Dari keluarganya Arasi katanya Bu. Tapi ya karena datanya tidak ada, jadi mereka pulang,” jawab Nia.


Bu Sinta terdiam mendengarnya. Sebenarnya ini sungguh aneh, kemarin Tn.Ferdi yang datang menanyakan keberadaan Arasi di adopsi siapa, sekarang ada pengacara keluarganya? Bukankah kata Tn.Ferdi orang tuanya sudah meninggal? Ya mungkin ada pamannya atau saudara yang lain.


“Ya sudah, terimakasih,” kata Bu Sinta.


Diapun pergi ke ruang  kerjanya.


Disana Bu Sinta langsung menghubungi nomornya Tn.Ferdi. Pria itu sedang duduk di ruang keluarga sambil menselonjorkan kakinya.


“Ambilkan ponselku!” katanya pada Ny.Inez yang duduk di sofa tidak jauh darinya.


Ny.Inez mengambil ponsel yang ada disampingnya itu. Dia melihat nomor di ponsel itu yang tidak ada namanya, tapi dia tidak bertanya apa-apa.


“Halo!” siapa Tn.Ferdi.


“Tn, ini Sinta, dari Panti Asuhan Permata Hati,” jawab Bu Sinta.


Tn.Ferdi menoleh pada istrinya yang sedang menonton televise. Sebenarnya dia ingin bangun dan pindah menelponnya, tapi dia sangat repot untuk bangun dalam keadaan berselonjor begini, merasakan kakinya yang lelah setelah dipaksakan berjalan-jalan terus.


“Ada apa?” tanya Tn.Ferdi.


“Ada yang menanyakan keberadaannya Arasi, katanya pengacara keluarganya,” jawab Bu Sinata, membuat Tn.Ferdi terkejut.


“Apa?” tanya Tn.Ferdi, saking kegetnya. Ny.Inez sampai menoleh padanya, diapun memelankan suaranya lagi.


“Terus?” tanya Tn.Ferdi.


“Karena yang menerima tamu itu pengurus panti yang lain, jadi kita tidak bisa memberikan datanya, karena memang kalau Arasi tidak saya masukkan ke daftar anak adopsi,” jawab Bu Sinta.


Tn.Ferdi terdiam, dia keheranan, siapa yang mencari Arum? Tidak mungkin Imelda, kecuali..Jack, apa pria itu sedang menyelidiki istrinya lagi? Keringat dingin mulai menyerang Tn.Ferdi. Dia merasa resah, apakah kejahatannya akan terbongkar?


“Terus?” tanya Tn.Ferdi.


“Ya itu Tuan, saya mengabari itu saja, mungkin ada kabar penting dari keluarganya, tapi maaf kami tidak bisa memberikan datanya, pengurus panti yang menerima tamu tadi masih muda, jadi tidak tahu kalau pernah ada anak panti yang bernama Arasi, dia hanya mencari data yang tercatat di computer,” jawab Bu Sinta.


“Ya ya tidak apa-apa, terimakasih,” jawab Tn.Ferdi telponpun ditutup.


Dia tidak bisa bicara banyak karena ada Ny.Inez tapi yang pasti orang yang mencari Arasi itu tidak dapat informasi apa-apa dari panti, itu bagus.


Tangan Tn.Ferdi menggapai botol yang ada dimeja itu.


“Jangan terlalu banyak minum, kau sedang tidak sehat,” kata Ny. Inez.


Tapi tidak di dengarnya, dia terus minum. Istrinya tidak tahu bagaimana stresnya dia akan masalah ini. Dia tidak mau kalau masuk penjara.


Bu Sinta menutup ponselnya setelah menelpon Tn.Ferdi. Terdengar ketukan dipintu ruang kerjanya.


“Ya masuk,” kata Bu Sinta.


Pintupun  terbuka, masuklah Nia yang langsung menghampiri.


“Bu, ada tamu yang ingin bertemu Ibu,” kata Nia.


“Siapa?” tanya Bu Sinta.


“Pak Amril,” jawab Nia.


Tentu saja membuat Bu Sinta terkejut. Dia merasa heran anak adopsi yang sudah sekian lama sepertinya kembali muncul. Apa ada masalah?


“Suruh masuk saja,” kata Bu Sinta.


Nia mengangguk, diapun memenggil Pak Amril dan Jack yang menunggu diruang tunggu.


Bu.Sinta menyambut Pak Amril saat mereka datang.


“Pak Amil?” tanyanya dengan ragu-ragu karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


“Bu Sinta?” tanya Pak Amril menatap wanita yang ditemuinya sudah sekian lama.


“Benar Pak Amril, silahkan, silahkan duduk!” jawab Bu Sinta.


Merekapun duduk di kursi  yang ada diruangan itu.


“Ini Tn. Jack Delmar, dia suaminya Arasi,” jawab Pak Amril, membuat Bu Sinta terkejut, melihat kejadian beberapa hari ini sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi dengan Arasi.


“Senang bertemu denganmu Tn.Jack,” kata Bu Sinta, sambil kembali mempersilahkan mereka duduk.


“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Bu Sinta pada Pak Amril setelah mereka duduk.


“Bagaimana kabar Arasi?” tanya Bu Sinta pada Pak Amril.


“Dia baik-baik saja, “ jawab Pak Amril.


“Saya senang mendengarnya,” jawab Bu Sinta sambil tersenyum.


“Saya kesini membawa suaminya Arasi,” Pak Amril menoleh pada Jack, begitu juga dengan Bu Sinta.


Pak Amril tidak tahu apa yang ingin Jack tanyakan pada Bu Sinta.


Jack menatap ibu panti itu.


“Saya ingin tahu siapa yang membawa Arasi dulu kesini,” tanya Jack, dengan hati yang was-was.


Bu Sinta menatap Jack lalu pada Pak Amril.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Bu Sinta.


“Tidak ada, hanya saja aku ingin tahu darimana istriku berasal,” jawab Jack.


Bu Sinta menoleh pada Pak Amril.


“Seperti yang dulu saya ceritakan pada Pak Amril , kalau Arasi itu orangtuanya sudah meninggal karena kecelakaan kapal tenggelam,” kata Bu Sinta.


“Dimana itu?” tanya Jack.


“Saya lupa soal tempatnya,” jawab Bu Sinta.


“Siapa yang membawanya kesini?” tanya Jack.


Bu Sinta tampak bingung, karena dia belum bertanya pada Tn.Ferdi apakah harus memberitahu mereka atau jangan.


“Tolonglah Bu, karena sebenarnya orang tua kandungnya masih hidup dan sekarang mencarinya,” kata Jack.


“Jadi orang tua Arasi masih hidup? Syukurlah, jadi mereka selamat,” tanya Bu Sinta terkejut, dia masih mengira orang tua Arasi mengalami kecelakaan di laut.


“Iya, jadi saya ingin tahu siapa yang membawa Arasi kemeri,” kata Jack.


“Ya, ya saya mengerti. Pria itu sangat baik, saat menitipkan Arasi memberikan banyak donasi untuk panti ini. Karena dia harus pergi keluar negeri jadi dia tidak bisa mengurus Arasi, korban kecelakaan kapal tenggelam itu,” kata Bu Sinta.


Jack dan Pak Amril tampak tidak sabar dengan jawabannya Bu Sinta.


“Siapa pria itu?” tanya Jack dengan dadanya yang berdebar kencang.


“Tn.Ferdi, namanya Tn.Ferdi,” jawab Bu Sinta.


Tentu saja Jack terkejut mendengarnya begitu juga Pak Amril, dia tidak menyangka kalau yang membawa Arasi ke panti ini adalah ayah tirinya Jack.


Seketika darah Jack naik ke ubun -ubun. Ternyata biang keladi semua ini adalah ayah tirinya, seharusnya dia memukulnya sampai mati! Pria itu benar-benar sudah menghancurka hidupnya, hidup Arum, hidup banyak orang!


“Apa kalian mengenalnya?” tanya Bu Sinta.


“Tidak, kami tidak mengenalnya, apa Ibu Sinta tahu dimana alamat rumahnya?” tanya Jack pura-pura.


“Tidak, tidak tahu, karena Tn.Ferdi hanya menyerahkan Arasi, dulu namanya Arum, kerena anak itu mengalami trauma  karena kecelakaan itu jadi kami sepakat untuk memberi nama baru supaya hidupnya lebih baik, menjadi Arasi,” kata Bu Sinta.


Jackpun diam, ada rasa getir yang ada di hatinya, dia juga sedih meliaht nasibnya Ara yang ternyata harus berpisah dengan orang tua kandungnya dan sempat tingggal di panti asuhan. Kasihan sekali dia. Apa yang akan terjadi kalau Ara tahu kalau Ny.Imelda itu ibu kandungnya? Apa ibunya Ara akan menerima semua ini?


“Jadi kalian berencana untuk mempertemukannya dengan orang tuanya?” tanya Bu Sinta.


“Iya,seperti itu,” jawab Jack, berbohong, sementara ini dia tidak mungkin memberitahu Ara, dia butuh waktu, yang sekarang harus di kerjakannya adalah menemui pria brengsek itu dan memasukkannya ke penjara.


Setelah merasa cukup informasi dari Ibu Sinta, Jackpun  meninggalkan panti itu. Dia tidak tahu apakah Bu Sinta akan jadi ikut tersangka, tapi sepertinya Bu Sinta tidak tahu menahu soal siapa ayah tirinya itu, dia hanya mengurus anak yatim piatu saja.


Saat dihalaman parkir, Jack berbicara dengan Pak Amril.


“Ayah, terimakasih Ayah sudah membantuku,” kata Jack.


Pak Amril menatap Jack.


“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Pak Amril.


“Aku akan membuat perhitungan dengan pria itu, dia tidak boleh lolos,” jawab Jack.


Pak Amrilpun mengangguk, meskipun dia was-was tapi itu akan melibatkan Ara dan mungkin sulit buat Ara menerima semua ini.


Jack menatap Pak Amril.


“Ayah tenang saja, untuk sementara ini aku tidak akan mengatakan apa-apa, mungkin nanti kalau penyidik membutuhkan tindak lanjut kasusnya, terpaksa Ara hars tahu,” kata Jack.


Pak Amrilpun diam, dia juga tidak bisa menghalagi itu, jika memang Ara adalah korban kejahatan mau bagaimana lagi?


“Ayah hanya berharap semua ini adalah jalan yang terbaik buat Ara dan semuanya,” ujar Pak Amril.


“Iya,” jawab Jack.


“Baiklah, Ayah pulang, semoga urusanmu lancar,” kata Pak Amril, lalu naik ke mobilnya.


Jack hanya menatapnya saat ayah mertuanya itu meninggalkan halaman panti. Diapun menoleh ke mobilnya, dia harus menemui ayah tirinya itu, dia harus membuat perhitungan.


**********


Readers, hari ini masih 2 bab. Jangan lupa likenya di tiap bab ya.


Terimakasih buat Pna cuby dan Vandelina yang sudah mampir di MMwRM.


******