Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-171 Berkumpul Kembali


Keesokan harinya…


Orangtuanya Ara sementara pulang dulu begitu juga dengan Ny.Imelda. Ara hanya ditemani Jack saja dengan beberapa pelayan rumahnya.


Terdengar suara gerakan dipintu, Jack menoleh kearah yang datang, ternyata Ny.Inez, Bastian dan Arum.


“Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya Ny.Inez, menghampiri Ara.


“Aku lebih baik sekarang,” jawab Ara.


Ny.Inez langsung memeluknya.


“Bagaiamana bayimu?” tanyanya sambil melihat bayi yang sedang digendong Ara.


“Dia sangat tampan, dia mirip Jack waktu bayi, persis seperti ini,” kata Ny.Inez.


“Apa benar begitu?” tanya Ara.


Ny.Inez duduk disamping Ara sambil memeluk bahunya Ara.


“Iya, matanya, lihat matanya kebiruan, itu mata Ayahnya, Constantine. Hidungnya juga, bibirnya, semua mirip Jack, ternyata Jack mendominasi ya,” kata Ny.Inez sambil mengusap pipi bayi itu yang kini sedang membuka matanya.


 “Kebetulan dia sedang bangun jadi kita bisa melihat matanya, tapi sebentar lagi dia tidur, dia masih silau dengan dunia barunya,” gumam Ara, menyentuh pipi bayi itu, dia sangat bahagia melihatnya.


“Matanya seperti Jack,  ya kan Nyonya,” tanya Ara.


Ny.Ines tidak menjawab, hanya menatap Ara, yang sedang mengusap-usap bayi itu.


“Ibu,” kata Ny.Inez.


Ara terkejut mendengarnya, lalu menatap Ny.Inez.


“Panggil aku Ibu, seperti Jack memanggilku,” kata Ny.Inez.


Ara tersenyum mendengarnya, dia baru sadar kalau dia memanggil Ibu mertuanya dengan panggilan Nyonya terus.


“Iya, Ibu,” kata Ara.


Ny.Inez tersenyum sambil mengusap pipinya Ara lalu kembali lagi pada bayi itu.


“Iya, Ibu,” ucap Jack tiba-tiba, yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur pasien itu.


 Ara dan Ny.Inez terdiam dan menoleh ke arah Jack.


“Kau boleh memanggil Ibuku dengan Ibu, seperti aku memanggilnya,” kata Jack.


Ny.Inez menatap putranya itu, matanya langsung saja berkaca-kaca. Bahagia mendengarnya, Jack mau memanggilnya Ibu lagi.


Jack menatap Ibunya Itu.


“Terimakasih Ibu sudah melahirkanku,” kata Jack.


 Ny.Inez sudah tidak bisa menahan airmatanya yang terus menetes ke pipinya.


“Tentu saja, karena kau putraku,” ucap Ny.Inez, terbata.


Ara terdiam mendengarnya, dia menoleh pada Jack yang menatap Ibunya dengan sedih.


Ny.Inez bangun dari duduknya, menghampiri Jack lalu berhenti di depan Jack.


“Apa Ibumu ini boleh memelukmu?” tanya Ny.Inez.


Jack mengangguk. Tangannya langsung mengulur memeluk Ibunya. Entah sejak kapan terakhir kalinya dia mendapat pelukan dari ibunya. Dia sudah sangat lupa dan sangat merindukan pelukan ibunya.


Ny.Inez memeluk Jack dengan erat dan terus menangis.


“Maafkan Ibumu ini, aku sudah banyak berbuat salah padamu,” ucap Ny.Inez, memeluk Jack dengan erat.


Jack mengusap punggung Ibunya.


“Aku menyayangimu, Bu,” ucap Jack, membuat Ny.Inez semakin merasa bersalah dan terus saja menangis, penyesalannya begitu dalam, teramat dalam, karena keegoisannnya membuat hidup putranya hancur.


“Maafkan Ibu,” ucap Ny.Inez.


Ara menatap mereka dengan haru, dia merasa bahagia karena Jack sudah mau memaafkan ibunya.


Ara menoleh pada Bastian dan Arum.


“Maaf aku sudah mengganggu pesta pernikahan kalian,” kata Ara.


“Tidak, tidak apa. Selamat atas kelahiran bayimu,” kata Bastian.


“Iya, selamat kak,” kata Arum, tersenyum pada Ara.


"Iya, terimakasih," ucap Ara, balas tersenyum, menatap wanita yang pernah dicemburuinya itu yang kini malah berjodoh dengan Bastian.


Jack melepaskan pelukan Ibunya, menatapnya dengan penuh kasih sayang.


“Kalau Ibu mau, Ibu tinggal bersamaku di Paris,” kata Jack.


“Tidak sayang, Ibu harus mengurus usaha Ibu disini, Bastian juga masih perlu bimbingan,” kata Ny.Inez.


Jack menoleh pada Bastian.


“Aku sudah meminta Pak Beni untuk  mengurus surat kuasa kepemimpinan perusahaan disini padamu,” kata Jack, membuat Bastian terkejut.


“Maksud kakak apa?” tanya Bastian.


Bastian menoleh pada Ara.


“Kau terima saja tawarannya kakakmu, kau juga sudah memulai hidup baru dengan Arum,” kata Ara.


Bastian menoleh lagi pada Jack, dia tidak tahu harus bicara apa.


Terdengar suara pintu dibuka, ternyata Pak Beni yang masuk keruangan itu.


“Semua pengalihan kuasa pada Bastian sudah beres Pak?” tanya Jack.


“Sudah, Tuan,” jawab Pak Beni.


Jack menoleh pada Bastian yang tampak masih terkejut, dia tidak menyangka kakak yang selalu dihinanya justru sangat peduli padanya, dia merasa sangat bersalah.


“Baiklah kak, aku akan menerimanya, tapi mungkin sesekali aku harus meminta bimbinganmu,” kata Bastian.


“Iya,”jawab Jack.


“Terimakasih kau sudah mempercayaiku,” kata Bastian.


“Ya,” jawab Jack, sambil mengangguk.


Seburuk buruk Bastian, pria itu tetap saja adiknya dan sebagai kakak, dia harus bisa menjaga adiknya. Dia memiliki banyak kekayaan, tidak ada salahnya dia berbagi dengan saudaranya, karena kekayaannya juga tidak akan habis karena berbagi.


Ny.Inez menatap Jack lalu pada Bastian, dia merasa senang akhirnya kakak beradik itu bisa berdamai. Kenapa dia tidak menciptakan suasana seperti ini dari dulu? Rukun  bersama keluarga dan hidup saling menghargai terasa lebih nyaman.


Jack menoleh pada Pak Beni.


“Pak Beni, kau juga boleh pensiun,” kata Jack, membuat semua orang terkejut.


Pak Beni menatap Jack tidak percaya.


“Pulanglah pada keluargamu, aku sudah menyiapkan pesangon untukmu dan keluargamu, kau tidak akan kekurangan dimasa tuamu, nikmati masa tuamu bersama istri dan anak-anakmu. Maafkan aku sudah banyak menyita waktumu dan membuat keluargamu kurang perhatian darimu,” kata Jack.


Ara sangat terkejut mendengarnya, ternyata Pak Beni punya keluarga?


“Tuan memecat saya?” tanya Pak Beni,wajahnya memerah, terlihat dia merasa sedih.


“Ya, aku memecatmu,” jawab Jack, wajahnya juga memerah. Menatap pria ini yang selalu menemaninya sejak kecil seperti pengganti ayah baginya.


Pak Beni terdiam, matanya terlihat berkaca-kaca.


“Aku sangat berterimakasih padamu. Pulanglah berkumpul bersama keluargamu,” kata Jack, dengan berat.


Pak Beni mencoba untuk tidak menangis harus berpisah dengan Tuannya, dia menatap Jack.


“Bagaimana nanti Tuan di Paris?” tanya Pak Beni.


“Ada ajudanku disana, aku juga masih bisa mencari penggantimu,” jawab Jack


Dia melangkah mendekati Pak Beni lalu memeluk pria paruh baya itu.


Ara meneteskan airmata melihatnya. Sungguh sangat tidak disangka kalau Pak Beni meninggalkan keluarganya demi menemani Jack. Entah bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya.


“Baik-baiklah di Paris, Tuan,” kata Pak Beni.


Jack mengagukkan kepalanya.


“Pak Beni!” panggil Ny.Inez membuat Pak Beni menoleh.


“Aku sangat berterimakasih kau sudah menjaga Jack dengan baik,” kata Ny.Inez.


“Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya,” jawab Pak Beni.


“Pak Beni!” panggil Ara.


Pak Beni menoleh pada istri Tuannya itu.


“Aku.. aku sama sekali tidak tahu kalau kau punya keluarga, sampaikan pada keluargamu, kapan-kapan aku akan mengunjungi mereka, kalau bayiku sudah agak besar, ya kan Jack?” kata Ara kemudian bertanya pada Jack.


Jack menoleh pada istrinya lalu mengangguk.


“Dengan senang hati Nyonya, semoga kalian selalu bahagia,” ucap Pak Beni. Ada sedih juga senang dihatinya Pak Beni. Sedih karena meninggalkan Tuan yang sudah dijaganya sejak kecil, senang karena dia akan berkumpul dengan keluarganya lagi.


“Kau punya anak berapa?” tanya Ara.


“Tiga Nyonya, mereka sudah menikah semua,” jawab Pak Beni.


“Istrimu tinggal dengan siapa?” tanya Ara lagi.


“Bersama anak yang paling kecil,” jawab Pak  Beni.


“Syukurlah ada yang menjaga istrimu. Terimakasih Pak Beni sudah menemani Jack selama ini,” kata Ara.


Pak Beni mengangguk dan tersenyum.


Terdengar suara langkah-langkah kaki masuk ke ruangan itu, membuat semua menoleh kearah pintu, ternyata Ny.Imelda dengan seorang pria yang Ara tidak pernah lihat sebelumnya. Sedangkan Jack sepertinya  pernah melihatnya.


“Hai Daniswara, kapan kau datang?” tanya Ny.Inez menghampiri pria itu.


“Aku baru datang, langsung kesini! Aku buru-buru pulang meski aku masih banyak pekerjaan. Aku ingin menemui Arum, putriku juga cucuku,” kata Pria itu.


Ara yang mendengar nama Arum disebut putrinya sangat terkejut dan menatap pria itu.


***********