
Ara menatap kepergian Bastian dengan curiga.
“Bastian! Apa yang kau lakuan?” teriak Ara, dia mencoba melepaskan tangannyaTn.Ferdi tapi tangannya jangankan di lepas, Tn.Ferdi malah memegang tangan satunya lagi ke belakang.
“Sayang, apa yang dilakukan Bastian?” tanya Ny. Inez.
“Kau diam saja!” jawab Tn.Ferdi.
“Pak Beni!” Ara terus berteriak-teriak.
Pak Beni yang mendengar suara ribut-ribut memasuki rumah, keheranan, diapun menuruni tangga, dilihatnya pria-pria muda dengan membawa kayu dan senjata tajam ditangan mereka berlariaan menaiki tangga.
“Hei, kalian mau apa? Ada apa ini?” tanya Pak Beni.
Pak Atam tampak kebingungan, akan mengikuti mereka tapi Bastian langsung menghardiknya.
“Kau diam! Jangan ikut campur!” bentak Bastian, membuat Pak Atam diam.
“Ada apa ini? Tuan Bastian! Apa yang kau lakukan?” tanya Pak Beni keheranan, Bastian melewatinya dan menghentikan langkahnya.
“Bersenang-senang sedikit di hari ulang tahunku,” jawab Bastian, lalu berlari mengikuti teman-temannya berbelok kesebelah kiri.
Melihatnya membuat Pak Beni terkejut, mereka menuju pintu ruangan tempat mainannya Jack. Pak Beni langsung berlari mengikuti mereka.
“Tuan Bastian! Apa yang akan kau lakukan?” teriak Pak Beni.
Bastian tidak menggubrisnya, merekapun sampai dipintu ruangan museum mininya Jack, yang berisi mainannya Jack pemberian dari ayahnya.
Teman-temannya menoleh pada Bastian.
“Hancurkan!” Perintah Bastian.
“Tuan! Jangan!” teriak Pak Beni.
Tapi teriakannya tidak didengar Bastian. Teman-teman Bastian menghancurkan kaca lebar yang menjadi ruangan mainan itu. Kacapun pecah berantakan. Mereka masuk ke dalam ruangan itu dan menghancurkan apapun yang ada didalam itu.
“Bawa mainan-mainan itu semua juga miniature itu keluar!” teriak Bastian.
“Tuan Bastian! Apa yag kau lakukan?” teriak Pak Beni, dia terkejut melihat pengrusakan yang dilakukan teman-temannya Bastian.
“Hentikan! Aku bisa melaporkan kalian ke polisi!” teriak Pak Beni, dia berusaha menarik seseorang yang akan menghancurkan etalase miniaturnya Jack.
Tapi temannya Bastian itu mendorong Pak Beni sampai terjatuh menabrak tembok dibelakangnya. Pak Beni yang usianya sudah tidak muda lagi, langsung merasakan sakit dipunggungnya dan sesak. Diapun segera mengeluarkan ponselnya akan menelpon polisi tapi Bastian mengambil ponsel itu dengan cepat.
“Jangan macam macam denganku! Atau kau akan melihat Tuanmu dihabisi juga?” bentak Bastian.
Pak Beni menatap Bastian.
“Kau! Kau benar-benar keterlaluan!” bentak Pak Beni.
“Aku berjanji kau tidak akan lepas dari jerat hukum!” teriaknya lagi, tapi Bastian langsung mendorongnya sampai tertabrak tembok untuk yang kedua kalinya dan Pak Beni langsung memegang dadanya.
Ara yang mendengar suara barang-barang pecah diatas semakin panik.
“Bastian! Apa yang kau lakukan?” teriaknya, mencoba melepaskan diri dari Tn.Ferdi tapi pria itu memegang tangannya sangat erat.
Jack yang mendengar suara ribut-ribut itu, tampak kebingungan, dia terus menutup telinganya, tangannya gemetaran dan dia panik. Ara sangat sedih melihatnya, Jack tahu sesuatu sedang terjadi.
“Jack, tenanglah Jack!” teriak Ara.
“Lihat, orang gila itu mana bisa menyelamatkanmu! Jadi jangan sok jago di rumah ini!” kata Tn. Ferdi.
Ara menoleh pada Ny. Inez.
“Nyonya! Jack itu putramu! Saharusnya kau melindunginya! Kenapa kau membiarkan suami dan anakmu menyakitinya?” kata Ara dengan nada tinggi.
Ny. Inez menoleh pada suaminya.
“Sayang, sebenarnya apa yang Bastian lakukan? Jangan menyakiti Jack!” tanya Ny. Inez.
“Kau diam saja!” hardik Tn.Ferdi.
Di lantai atas, ruangan mainannya Jack itu sudah hancur berantakan, kaca yang lebar itu telah pecah beserakan. Pak Beni bersedih melihat ruangan itu hancur tak bersisa.
“Bawa mainan itu keluar!” teriak Bastian pada teman-temannya.
Merekapun berbondong-bondong membawa mainan Jack yang sebagian sudah rusak keluar rumah.
Ara yng melihat teman-teman Bastian keluar rumah langsung bereaksi.
“Hei, apa yang kalian lakukan?Apa yang kalian bawa?” tanya Ara.
Dilihatnya teman-teman Bastian membawa semua mainannya Jack dan dikumpulkan di tengah halaman yang luas itu.
“Itu..Itu mainannya Jack!” teriak Ara, terkejut.
“Apa yang akan kalian lakukan?” teriak Ara, hatinya langsung saja cemas, melihat semua mainan itu dikumpulkan di halaman.
Arah pandangan Jack tampak melirik pada mereka yang berdatangan melewatinya. Dia semakin panik melihat mereka membawa mainanya yang rusak. Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak ada yang bisa diucapkannya. Dia kelihatan kebingungan.
Hingga Bastian datang dengan temannya yang lain membawa mainan miniatur Jendralnya Jack di tumpukkan dalam tumpukan mainan itu.
“Bastian! Apa yang kau lakukan?” teriak Ara. Dia juga semakin panic.
“Jenderal! Jendral!” gumam Jack, dia mulai pucat pasi.
“Jendral! Jendral!” teriaknya lagi.
Bastian tersenyum melihat Ara dan Jack yang panik, dilihatnya juga Pak Beni sudah ada dihalaman sambil memegang dadanya yang sesak.
Semua mata tertuju ketumpukan mainan itu, disana ada Bastian yang ternyata sudah membawa sebuah tempat bensin dan tanpa fikir panjang lagi disiramkan keatas tumpukan mainan.
Ara yang melihatnya semakin terkejut.
“Bastian jangan! Bastian!” teriaknya.
“Jendral! Jendral!” kata Jack dengan panik, Jack kebingungan menatap api.
Dia akan beranjak tapi teman-temannya Bastian memegangnya dengan kuat.
Bastian mengacungkan sebuah miniatur Jendral, dengan senyum penuh kemenangan, dia memasukkannya ke dalam api.
“Jendral! Jendral!” teriak Jack, tenaganya yang kuat langsung menepiskan pegangan teman-temannya Bastian itu sampai mereka terpental.
Jack langsung berlari kearah tumpukan mainan yang sudah dilalap api.
“Jack! Jangan Jack! Nanti kau terbakar!” teriak Ara, diapun mecoba melepaskan diri dari Tn.Ferdi.
Pak Beni berlari menyusul Jack tapi teman-temannya Bastian memegangnya.
Jack berlari menuju mainan yang dilalap api itu.
“Jack jangan Jack!” teriak Ara.
“Jendral, Jendral!” Jack sama sekali tidak menghiraukan teriakannya Ara, dia hanya ingin menyelamatkan Jendralnya.
Tanpa berfikir panjang lagi, Jack langsung mengobrak-abrlik mainan yang sedang terbakar itu.
“Jack! Jangan Jack! Nanti kau terbakar!” teriak Ara.
Sudah tidak bisa terbayangkan betapa hancurnya hatinya melihat tangan Jack terulur menyingkirkan
mainan yang berupa bola-bola yang teralalap api, mobil mobilan yang terbakar habis, dia mencari miniatur Jendralnya yang ukurannya kecil diantara tumpukan mainan yang begitu banyak dan dilalap api.
“Tuan! Tuan!” teriak Pak Beni.
Jack tidak peduli mainannya yang sudah meleleh menempel di kemaja membuat kemeja itu menjadi bolong dan melukai tangannya juga dadanya.
“Jack, jangan Jack!” teriaka Ara, dia berusaha melepaskan diri.
Jack menemukan salah satu jendralnya yang sudah terbakar sebagian lalu dipegangnya dan diapun kembali mencari ditumpukan mainan yang terlalap api. Dia tidak peduli kemejanya sudah compang-camping dan kulitnya ikut terbakar.
“Jack! Jack!” panggil Ara, air mata sudah tidak bisa di bendung lagi, dia terus menangis.
Melihat mainan itu sudah terbakar habis, Tn.Ferdi barulah melepaskan tangannya Ara.
Ara langsung berlari menghampiri Jack yang tidak berhenti mengumpulkan miniatur yang sudah terbakar itu.
“Jack Sudah Jack! Kau terluka!” teriak Ara, memegang tangan Jack, tapi Jack tidak menghiraukan, dia terus mengumpulkan miniaturenya dan terus saja berbicara dalam bahasa Perancis yang tidak Ara tahu apa itu.
“Jendralku! Jendralku! Jendralku tidak boleh mati! Jendralku tidak boleh mati!” ucapnya.
Ara berdiri menatap Jack dengan airmata yang terus tumpah.
“Jack, sudah, tanganmu terluka!” ucap Ara.
Tapi Jack terus mencari-cari jendralnya yang sudah hangus dan disimpannya dalam pelukan tangan kirinya.
Sudah tidak bisa tertahankan betapa hancurnya hatinya Ara, diapun duduk bersimpuh dibawah dan terus menangis. Dia tidak menyangka kalau keluarganya Jack begitu jahat pada Jack. Demi harta mereka melukai keluarga sendiri.
Jack terduduk dibawah sambil memeluk miniaturnya yang sudah memenuhi kedua lengan di dadanya dan sebagian berjatuhan tidak tertampung.
“Jendralku tidak boleh mati!” ucapnya dalam bahasa Perancis.
“Jendralku tidak boleh mati!” ucapnya lagi.
Ara tidak tahu apa yang di ucapkan Jack. Yang dilihatnya Jack memeluk Jendral- Jendralnya itu dalam dekapan di dadanya, matanya sudah memerah, dia manangis.
Ara benar-benat tidak tega melihatnya. Diapun langsung memeluk Jack, menangis dibahu pria itu yang sedang meratapi mainannya yang hangus.
Terdengar langkah mendekati mereka.
“Kau bersiap-siap saja meninggalkan rumah ini! Jack akan dibawa kembali ke RSJ di Perancis! Jangan kau harap dia akan sembuh, dia akan gila seumur hidupnya!” ucap Tn. Ferdi.
Ara langsung berdiri dan menatap Tn.Ferdi.
“Kau! Aku pastikan Jack akan sembuh dan membalaskan semua perlakuan kalian padanya!” teriak Ara.
“Teruslah bermimpi! Karena itu tidak akan pernah terjadi!” kata Tn.Ferdi.
“Sayang, tidak seharusnya kau menghancurkan mainannya Jack! Semua itu pemberian dari ayahnya Jack,” ucap Ny. Inez, sambil menoleh pada Tn.Ferdi.
“Jack!” panggil Ny.Inez, dia akan berjongkok tapi tangannya ditarik Tn.Ferdi.
“Tidak perlu dikasihani! Jangan membuat hatimu rapuh!” bentak Tn.Ferdi.
"Tapi Jack..." ucapan Ny.Inez terhenti, mendapat tatapan tajam suaminya.
Bastian menatap Ara.
“Sebaiknya kau pergi dari rumah ini secepatnya!” ucap Bastian.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan Jack!” jawab Ara, menatap tajam Bastian.
“Kalau begitu silahkan saja kau ikut ke Perancis dan tinggal di RSJ bersama suamimu tercinta!” kata Bastian.
“Kalian benar-benar keterlaluan!” umpat Ara.
“Sudah aku peringatkan dari awal, jangan ikut campur urusan kami! Kau tidak akan menang!” kata Tn. Ferdi, lalu meraih tangan Ny. Inez supaya pergi meninggalkan Ara dan Jack.
“Jack!” panggil Ny.Inez, tapi Tn.Ferdi semakin keras menarik tangannya memaksa pergi.
Ara hanya menatap kepergian mereka masuk ke dalam rumah.Tidak berapa lama teman-temannya Bastian meninggalkan rumah itu.
Pak Beni berdiri menatap Ara dengan sedih. Dia merasa bersalah dengan kejadian ini.
Ara menatap Jack yang masih meratapi Jendral-Jendralnya yang hangus, masih dalam dekapannya dan terus berbicara dalam bahasa Perancis.
************