Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 97. Akting Anya


Keisha tengah melamun di depan rumahnya menantikan sosok Alex yang belum juga kembali, ia tak tahu harus mencari Alex kemana dan itu amat membuatnya bingung. Keisha juga cemas dengan kondisi suaminya, ia khawatir lelaki itu berbuat nekat karena sedang dalam keadaan emosi. Ingin rasanya Keisha pergi mencari Alex, tetapi ia juga bingung harus mulai mencari darimana nantinya.


Tak lama kemudian, Mayra yang sebelumnya diberitahu oleh Lana mengenai kondisi Keisha pun terlihat mendekat ke arahnya dan menepuk pundak Keisha secara perlahan. Sontak Keisha terkejut, lalu reflek menoleh ke belakang dengan wajah kaget. Mayra tersenyum dibuatnya, begitupun dengan Keisha yang membalas senyuman sang ibu mertua di hadapannya itu sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu lagi apa disini, hm? Nungguin suami kamu yang belum pulang-pulang itu ya? Udah dia mah gausah dipikirin sayang, nanti kalo lapar juga pulang sendiri dia!" ucap Mayra.


"Tapi ma, aku khawatir aja kalau mas Alex nekat. Dia kan semalam perginya dalam keadaan emosi, aku takut dia bertindak macam-macam. Aku pengen cari dia ma, tapi aku gak tahu dia ada dimana. Aku telponin juga hpnya gak aktif," ucap Keisha.


"Sabar aja ya sayang, kamu tenang dulu! Mama yakin Alex gak sampai senekat itu, percaya deh sama mama!" bujuk Mayra.


Keisha mengangguk perlahan, "Iya ma, aku juga berharap begitu. Aku gak mau mas Alex terus marah sama aku, ma. Aku nyesel banget udah bikin mas Alex marah semalam," ucapnya.


"Umm, kalau boleh tahu memangnya kalian ini ada masalah apa sih?" tanya Mayra penasaran.


Keisha langsung memalingkan wajahnya dan dibuat bingung dengan pertanyaan yang diajukan mama mertuanya tadi, ia tak tahu apakah ia harus menceritakan semua masalah yang ia alami bersama Alex atau tidak. Pasalnya, Keisha khawatir jika Mayra nantinya malah akan membenci Alex dan mengira Alex juga selingkuh di belakangnya.


"Kenapa kamu malah diam sayang? Mama gak boleh tahu ya masalah kalian apa?" tanya Mayra.


"Eee bukan begitu ma, aku sama mas Alex ini gak ada masalah apa-apa kok. Kami cuma salah paham aja, makanya aku nyesel udah bikin mas Alex sampai semarah ini sama aku," jawab Keisha.


"Salah paham soal apa?" tanya Mayra lagi.


"Eee i-i-iya ma, jadi kemarin itu aku ketemu sama perempuan yang ngaku-ngaku temannya mas Alex sewaktu di luar negeri," jelas Keisha.


Mayra terkejut dan mengernyitkan dahinya, "Perempuan temannya Alex di luar negeri? Siapa dia sayang? Kok bisa dia muncul dan bikin kalian bermasalah?" tanyanya penasaran.


"Itu dia yang aku mau tanyain ke mas Alex, ma. Tapi, mas Alex malah marah sama aku," jawab Keisha.


Penjelasan Keisha barusan membuat Mayra geleng-geleng kepala seolah tak percaya, jadi ternyata itulah yang terjadi di hubungan Keisha dan Alex sampai membuat Alex emosi lalu pergi dari rumah semalam. Mayra tak menyangka hanya karena masalah kecil, Alex bisa sebegitu emosinya dan meninggalkan Keisha dengan tega.


"Kenapa Alex mesti marah ya sama aku? Kan kamu cuma nanya loh, harusnya kalau diantara mereka gak ada apa-apa kan Alex gak perlu marah!" ujar Mayra.


"Itu dia ma, aku juga gak ngerti kenapa mas Alex kayak gitu. Mungkin aja mas Alex emang lagi sensitif atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dari aku," ucap Keisha.


"Bisa jadi sih itu, nanti biar mama cari Alex dan bawa dia pulang ke rumah deh. Kamu istirahat aja ya sayang, kasihan anak kamu!" ucap Mayra.


"Iya ma." Keisha mengangguk menurut.




Sementara itu, Alex pergi dari rumah Tio setelah semalaman ia menginap disana. Ya rasanya Alex tak tega jika harus terus menginap di tempat sohibnya itu, meski Tio mengatakan kalau dia tidak masalah jika Alex masih ingin berada disana. Namun, Alex tentu tidak enak bila ia terus merepotkan Tio yang sudah banyak membantunya selama ini.


Kini Alex melipir sejenak ke sebuah warung di pinggir jalan, ia merasa lapar dan hendak menikmati sarapan disana. Tanpa banyak berpikir lagi, Alex segera turun dari motornya lalu masuk ke dalam warung makan tersebut. Akan tetapi, baru saja ia hendak masuk tanpa diduga seseorang mencekal lengannya dari belakang dan membuatnya terkejut.


Disaat Alex menoleh, pria itu terkejut dengan keberadaan Anya di hadapannya saat ini. Apalagi, Anya tampak tersenyum menatapnya sambil terus menggandeng lengan pria itu. Alex pun hanya bisa diam dibuatnya, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana saat ini karena Anya adalah penyebab mengapa ia pergi dari rumah.


"Hai Alex!" gadis itu menyapanya dengan ramah, sembari melambaikan tangannya.


Alex sungguh bingung harus melakukan apa, pria itu terdiam dan terus memandang wajah wanita di hadapannya. Sedangkan Anya berusaha semakin menggoda Alex dengan cara mengusap punggung tangannya, lalu bergerak mendekat dan memeluk erat tubuh Alex. Anya membenamkan wajahnya pada dada bidang sang lelaki, seolah menunjukkan betapa sayangnya Anya kepada Alex.


"Aku senang banget, akhirnya aku bisa ketemu dan peluk kamu lagi kayak gini Alex! Setelah kejadian malam itu, kita kan udah gak pernah bersentuhan lagi. Apalagi, kamu malah pergi tinggalin aku begitu aja," ucap Anya dengan lembut.


"Nya, kamu bilang apa sih? Udah cukup ya Anya, jangan peluk-peluk aku sembarangan kayak gini!" ucap Alex berusaha berontak.


Namun, pelukan Anya terlalu kuat sampai tak berhasil dilepaskan oleh Alex. Ya Anya sengaja mengeratkan pelukannya, karena memang wanita itu sudah merencanakan semuanya untuk bisa menghancurkan rumah tangga Alex dan Keisha. Alex tentu saja tak tinggal diam, pria itu berusaha semakin keras untuk memberontak darinya.


"Anya cukup!" Alex membentak kasar dan menarik paksa tubuh wanita itu lepas darinya.


Sangking kasarnya tindakan Alex, sampai-sampai membuat tubuh Anya terhuyung dan jatuh ke bawah dengan posisi duduk. Anya merintih kesakitan, sedangkan Alex menatapnya dengan tajam sambil menunjuk penuh emosi. Kejadian itu membuat orang di sekitar sana kompak menoleh ke arah mereka, lalu menyalahkan Alex karena dianggap kasar kepada wanitanya.


"Awhh akh!!" Anya meringis dibuatnya.


"Wah mas, jangan kasar gitu dong sama pacarnya! Kasihan tahu dia kan perempuan, gak boleh gitu dong mas!" ucap salah seorang di sekitar sana yang tampak menegur Alex.


"Eee bapak-bapak semuanya, maaf tapi dia bukan pacar saya! Saya juga gak kenal dia siapa, makanya saya gak suka sama tindakan dia yang main peluk saya aja kayak gitu! Jadi, tolong bapak-bapak jangan ikut campur kalau gak tahu masalahnya!" ucap Alex menjelaskan pada mereka semua.


"Ohh, ya tapi tetap aja mas jangan kasar sama cewek! Nanti kualat loh!" tegur si pria.


"I-i-iya pak.."


Setelahnya, orang-orang itu pergi dari sana meninggalkan Alex serta Anya karena merasa jika masalah mereka sudah selesai.




Namun, Anya tak tinggal diam melihat Alex yang bersikap cuek padanya. Ya Anya terus saja berupaya menggoda pria itu dengan cara merangkulnya, atau bahkan membenamkan wajahnya pada lengan sang lelaki sambil mengendus-endus. Alex semakin merasa risih dengan perlakuan Anya, ingin rasanya dia mendorong Anya dan mengusirnya dari sana. Akan tetapi, Alex teringat pada momen saat di depan warung tadi yang mana hampir membuatnya diamuk warga karena bersikap kasar pada wanita.


"Lex, kamu jangan diam aja dong! Masa ada aku disini malah kamu gak anggap? Aku kangen banget loh sama kamu, Lex!" ucap Anya dengan manja.


Alex terus berusaha menyingkirkan tangan Anya darinya, sebab ia tak mau menyakiti perasaan Keisha yang merupakan istri tercintanya. Namun, berulang kali Alex melakukan itu tetap saja Anya dapat kembali menyatukan tangan mereka. Ya sepertinya Anya memang sengaja ingin menggoda Alex dan memancing kesabarannya, seolah tahu kalau saat ini Alex tidak bisa melakukan apa-apa.


"Alex, harusnya kamu tuh senang dong ada aku disini yang bisa temenin kamu! Lagian kamu tuh ngapain pagi-pagi udah nongkrong di warung? Emang istri kamu yang cantik itu udah gak bisa melayani kamu ya?" ucap Anya mencibir.


Alex tersentak dengan kata-kata yang dilontarkan Anya saat ini, wanita itu sungguh terlalu dan sudah kelewatan menghina istrinya. Alex tentu tak terima, dengan cepat ia raih tangan Anya dan dicengkeram kuat sambil menatapnya secara tajam. Alex tampak emosi pada wanita itu, jika bukan di tempat umum mungkin saja Alex sudah menghukum Anya.


"Kamu jaga omongan kamu ya! Jangan pernah sekali-sekali kamu berani hina istri aku!" sentak Alex dengan tegas.


"Ups, aku minta maaf Lex! Aku salah bicara ya? Emang sih harusnya aku gak boleh ngomong gitu, maaf banget ya! Tolong lepasin aku dong Lex, kamu gak mau kan kalau aku teriak?" ucap Anya.


Alex menatap sekitarnya yang terlihat ramai, ia pun melepaskan tangan wanita itu dan menghentaknya kasar sampai terbentur meja. Anya meringis dibuatnya, tapi untung kali ini sedikit pelan dan tidak sampai membuat orang-orang disana mendengar. Meski begitu, Alex tetap merasa was-was dan cemas jika terus berada di tempat itu.


"Tapi kan Lex, ucapan aku tadi gak salah dong. Buktinya kamu pagi-pagi udah nongkrong di warung, harusnya kan udah jadi tugas istri kamu buat masak dan melayani kamu!" ucap Anya kembali.


Alex menoleh dengan dingin, "Anya, sekali lagi aku peringati kamu jangan pernah bahas soal rumah tangga aku disini!" ucapnya penuh kekesalan.


"Eee salahnya dimana ya? Kalau emang ucapan aku gak benar, ya kamu gausah marah dong. Justru dengan sikap kamu yang begini, makin bikin aku yakin deh kalau kamu dan istri kamu lagi ada masalah sekarang!" ucap Anya sambil tersenyum.


Deg


Alex terdiam tak mampu berkata-kata dibuatnya, sedangkan Anya menyeringai dan setelahnya kembali memeluk erat lelaki itu dari samping sembari mengusapnya lembut.




Keisha kini masih berkutat di halaman depan rumahnya dengan perasaan cemas memikirkan kondisi suaminya, entah mengapa wanita itu tidak bisa tenang dan terus saja mondar-mandir ke kanan dan kiri sambil menggigit jarinya. Keisha tetap saja seperti itu, walaupun Mayra kini telah pergi mencari keberadaan Alex di luar sana.


Bahkan, Lana yang sedari tadi duduk disana bermaksud menemani Keisha juga dibuat bingung dengan sikap wanita itu. Lana terdiam saja memandangi kakak iparnya yang terus mondar mandir di depannya saat ini, gadis itu hanya bisa menopang dagunya lalu berpikir keras bagaimana caranya untuk dapat menenangkan Keisha saat ini.


"Kak Keisha!" tiba-tiba saja, Lana memanggil iparnya dan bangkit dari kursinya.


Keisha sontak berhenti melangkah, berbalik menatap adik iparnya yang kini berdiri di dekatnya sambil tersenyum. Keisha mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti mengapa Lana memanggilnya seperti itu dan mendekatinya saat ini. Sedangkan Lana langsung menarik satu tangannya, digenggam dengan erat sembari mengusapnya lembut.


"Kak, kita main tebak-tebakan yuk! Aku punya satu nih, ikan ikan apa yang cantik?" ucap Lana mencoba menghibur wanita itu.


Keisha menghela nafasnya, "Ikan aku."


Lana terbelalak mendengar jawaban dari Keisha, ia tak menyangka Keisha mengetahui jawaban dari tebak-tebakan yang ia berikan tadi. Kini senyum di wajahnya menghilang, gadis itu menggaruk kepalanya dan kebingungan sendiri.


"Yah kok kak Keisha tahu sih? Padahal, niat aku kan pengen hibur kakak," ucap Lana cemberut.


"Hadeh Lana, itu mah tebak-tebakan udah ada dari jaman aku masih SD! Kamu kalau mau kasih tebak-tebakan tuh yang baru dong, yang fresh gitu!" ucap Keisha.


"Ya kan aku bingung kak, cuma itu yang aku tahu. Kalau kak Keisha sendiri punya tebak-tebakan gak?" ucap Lana.


Keisha menggeleng dan melepaskan genggaman tangan Lana itu, ia pun kembali melanjutkan langkahnya sambil terus memikirkan sang suami. Sedangkan Lana tampak bingung disana, dia tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat ini untuk bisa menghibur kakak iparnya.


Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan pagar rumahnya dan seorang wanita turun dari taksi tersebut. Keisha melongok lebar melihatnya, terlebih ketika si wanita di depan sana meminta pada satpam yang berjaga untuk dibukakan gerbang. Keisha pun tampak penasaran, ya ia heran mengapa Shella datang ke rumahnya sekarang ini.


Benar saja, yang muncul di hadapannya adalah Shella alias gadis yang telah menyakiti Keisha dan nyaris membuat wanita itu trauma. Kini dengan santainya, Shella malah berdiri mendekatinya disertai senyuman lebar. Tentu Keisha hanya diam memandang Shella dengan wajah ketus, tampak jelas bahwa ia tidak menyukai kehadiran gadis itu.


"Halo Shella, selamat pagi!" sapa Shella sembari melambaikan tangannya.


"Iya, pagi. Ngapain lu kesini, ha? Masih pengen cari gara-gara sama gue, atau mau ketemu sama mas Alex? Sorry, mas Alex nya lagi gak ada di rumah! Jadi, lu mending pergi deh!" ucap Keisha ketus.


"Ahaha, gue bukan mau ketemu Alex, Kei. Gue itu pengen kasih kue ini ke lu, sebagai tanda maaf gue sama lu!" ucap Shella menyodorkan bingkisan di tangannya ke arah Keisha.


Keisha pun terkejut bukan main, matanya melongok sekaligus tak percaya pada ucapan Shella tadi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...