
Sementara itu, Alex keluar dari rumahnya dan menghampiri Lana yang berdiri disana seorang diri. Alex cukup heran mengapa Lana hanya sendirian disana, padahal tadinya gadis itu pergi bersama Keisha menunggunya disana. Alex pun menegur adiknya itu, sembari celingak-celinguk ke sekeliling rumahnya mencari keberadaan sang istri.
Lana yang semula tengah bengong memandangi Keisha di depan sana bersama seorang lelaki, kini terkejut saat Alex tiba-tiba muncul dan menyapanya dari jarak dekat. Gadis itu menoleh sembari mengusap dadanya, ia menghela nafas lega setelah memastikan yang memanggilnya adalah Alex alias kakaknya dan bukan orang jahat.
"Duh, kakak mah ngagetin aja sih jadi orang! Ngapain coba tiba-tiba muncul begitu?" ucap Lana tampak kesal.
Alex tersenyum dan mengusap lembut pipi adiknya, dua bola matanya masih terus bergerak ke kanan dan kiri seolah mencari dimana keberadaan istrinya yang hilang entah kemana. Sedangkan Lana masih tampak memasang wajah cemberut, gadis itu kesal lantaran Alex malah mengagetkan dirinya dan tidak meminta maaf padanya.
"Lan, kak Keisha kemana? Kamu kok sendirian sih disini?" tanya Alex penasaran.
"Ohh, itu loh kak Keisha di depan gerbang tuh sama orang gak tahu siapa!" jawab Lana serta menunjuk ke arah Keisha berada.
"Hah??" Alex tersentak mendengarnya, ia lalu melihat ke arah yang ditunjuk Lana di depan sana.
Betapa terkejutnya Alex melihat seorang lelaki berdiri bersama Keisha disana, tentu saja pria itu tampak emosi dan mengepalkan tangannya. Meski Alex belum dapat mengetahui siapa lelaki yang ada di depan sana, namun rasanya ia begitu kesal melihat istrinya berduaan dengan lelaki lain di depan matanya sendiri saat ini.
"Sialan! Siapa sih tuh cowok? Gue harus kasih pelajaran ke dia, ini gak bisa dibiarin gitu aja!" geram Alex kesal.
"Eh kak, tunggu!" Lana mencekal lengan Alex dan mencegahnya agar tidak maju mendekati Keisha.
"Kenapa? Lu mau halangin gue buat deketin istri gue sendiri? Gue gak terima Lan, itu masa si Keisha berduaan sama cowok lain kayak gitu! Gue pokoknya harus samperin mereka!" ujar Alex.
"Tapi kak, belum tentu kan itu cowok mau godain kak Keisha. Mending kakak sabar dulu, siapa tahu cowok itu cuma nganterin paket!" ucap Lana.
"Nganter paket apanya? Jelas-jelas dia tangan kosong begitu, dari penampilannya juga gak kayak tukang paket. Udah lu gausah ikut campur deh, gue mau kesana samperin mereka!" ucap Alex.
"I-i-iya kak, tapi sabar dulu jangan emosi ya! Nanti malah salah sasaran loh," pinta Lana.
Alex tak mendengarkan ucapan adiknya, ia yang sudah emosi langsung bergerak maju begitu saja dan menghentak tangannya. Lana kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa, karena Alex sudah lebih dulu melangkah menghampiri Keisha dan Revan. Namun, Lana tetap berusaha mengejar kakaknya untuk memastikan tidak ada keributan diantara mereka.
"Ehem ehem!" deheman lelaki itu membuat Keisha dan Revan sama-sama terkejut dibuatnya.
Baik Keisha maupun Revan menoleh ke arah Alex dengan wajah bingung, terutama Keisha yang terkejut bukan main karena melihat suaminya muncul disana. Kini Keisha tampak bingung dan tak tahu harus apa, ia khawatir Alex akan terpancing emosi lalu terjadi keributan dengan Revan yang datang ke rumahnya.
"Oalah, jadi lu yang datang kesini? Lu mau apa sih? Keisha ini istri gue, jangan mimpi kalo lu bisa rebut dia dari gue!" sentak Alex.
Revan benar-benar syok mendengar apa yang diucapkan Alex barusan, padahal ia tak memiliki niat apapun untuk merebut Keisha apalagi mencoba memiliki wanita itu. Revan datang kesana semata-mata hanya untuk meminta maaf, tak ada niat lain yang diharapkan oleh Revan. Namun, Alex tidak salah jika dia menghawatirkan hal itu.
"Alex, jangan salah paham dulu! Saya datang kesini justru karena saya mau minta maaf sama anda, saya sudah bikin rumah tangga anda dan Keisha berantakan kemarin!" ucap Revan tegas.
Keisha yang berada disana juga ikut berupaya menahan emosi suaminya, ia tidak mau jika Alex meneruskan amarahnya dan terjadi keributan hebat disana antara pria itu dengan Revan. Keisha hanya ingin keduanya tidak bermusuhan, karena memang diantara ia dan Revan tidak pernah terjalin hubungan apapun seperti yang Alex duga.
"Iya mas, kamu jangan emosi begitu! Revan gak pernah sama sekali punya niat buat deketin aku, sabar dong mas!" ucap Keisha cemas.
"Kamu gak perlu belain dia sayang, aku tetap gak suka lihat laki-laki lain yang berusaha buat jadi pahlawan di depan kamu! Aku yakin, si Revan ini punya niat gak bener sama kamu!" sentak Alex.
"Apa sih mas? Tuduhan kamu ini gak beralasan loh, nyatanya Revan gak pernah tuh jahatin aku. Dia cuma mau tolong aku mas," ucap Keisha.
Alex menggeleng disertai senyuman tipis, ia tampak kecewa dan tak percaya dengan Keisha yang malah lebih membela Revan dibanding dirinya yang merupakan suami sahnya. Tentu saja Alex emosi, lelaki itu tidak terima jika Keisha terus saja begitu. Kini Alex mencengkram kuat lengan Keisha, menarik tubuh wanita itu menjauh dari Revan.
"Ayo sayang, kita pergi aja dari sini! Dokter Nita sudah menunggu di rumah sakit, jadwal tes kamu sebentar lagi dimulai. Kamu juga gak boleh dekat lagi sama cowok ini atau siapapun itu, pokoknya aku gak suka!" ucap Alex memaksa.
"Mas, tenangin dulu diri kamu baru kita pergi dari sini!" pinta Keisha.
Keisha terus mencoba menenangkan suaminya, ia berusaha menghilangkan emosi yang tengah memenuhi tubuh Alex saat ini karena melihat keberadaan Revan disana. Alex sendiri juga tampak mengatur nafasnya, meski rasa emosi di dalam tubuhnya masih sulit untuk dihilangkan. Alex bahkan terus menatap tajam wajah Revan, seolah-olah hendak memukul pria tersebut disana.
Akhirnya Alex berhasil menahan emosinya dan tidak lagi memperpanjang masalah, ia pun kembali mengajak Keisha pergi ke dokter saat ini. Keisha tersenyum saja menatap wajah suaminya yang sudah jauh lebih tenang, walaupun masih terlihat sisa-sisa emosi di dalam tubuh pria itu sekarang. Ya Keisha tahu itu, karena tatapan Alex menunjukkan bahwa pria itu belum seutuhnya memaafkan Revan.
Alex pun membawa Keisha mendekat ke mobilnya dengan tangan menggenggam lengan istrinya, mereka menghentikan langkah ketika Lana berdiri di depan mereka saat ini. Lana tersenyum lebar saat dipergoki oleh kedua kakaknya itu, sebab sedari tadi Lana memang terus menyaksikan obrolan mereka bertiga di depan gerbang sana.
"Lana, ngapain lu cengar-cengir begitu? Udah sana kamu pergi, nanti telat loh sekolahnya! Ini gue sama Keisha udah mau ke rumah sakit, buruan sana lu berangkat!" sentak Alex
Lana manggut-manggut paham mendengar perintah dari kakaknya itu, lalu ia berbalik dan pergi lebih dulu menuju mobil yang biasa digunakan olehnya.
•
•
Singkat cerita, Alex dan Keisha telah berada di rumah sakit untuk menemui dokter Nita yang selama ini sering memeriksa kondisi kandungan Keisha. Mereka berdua sama-sama tersenyum melihat kondisi calon bayi mereka di dalam rahim Keisha saat ini, tampak jelas kalau calon anak mereka itu memang terlihat sangat baik dan tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Keisha bahkan terus menggenggam telapak tangan suaminya dan memandang ke arah layar proyektor yang menampilkan kondisi anak mereka, Keisha tersenyum bahagia seolah tak sabar ingin segera memiliki anaknya itu. Alex juga terlihat demikian, meski sekarang ini rasanya pria itu masih belum bisa tenang dan terus memikirkan perkataan Rizky serta Tio beberapa waktu lalu.
"Mas, anak kita lucu ya? Aku jadi gak sabar deh nunggu dia lahir ke dunia, pasti bakalan rame banget deh rumah kita nanti!" ucap Keisha.
Alex hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia kembali fokus memandang ke arah layar dimana wujud anaknya berada. Sejujurnya Alex juga tak sabar menanti anaknya itu lahir, tapi entah kenapa sejak Rizky mengatakan hal itu sekarang dirinya menjadi tidak tenang dan terus merasa cemas kalau itu bukanlah anaknya.
"Usia bayinya sudah memasuki 12 Minggu, dan kondisi sehat-sehat saja kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tetapi bu Keisha juga harus jaga kondisi ya dan gak boleh beraktivitas di luar batas!" ucap dokter Nita.
"Iya dok, saya paham kok. Yang penting kondisi anak saya baik-baik aja sekarang," ucap Keisha sambil tersenyum.
"Eee kira-kira kapan ya dok, anak kami ini bisa diketahui jenis kelaminnya?" tanya Alex menyela.
"Oh kalau itu mungkin sekitar dua atau tiga Minggu lagi pak, malah bisa lebih cepat atau lambat kok. Bapak tunggu aja, nanti juga bakal kelihatan kok jenis kelaminnya apa," jawab dokter Nita.
"Iya mas, udah kamu tenang aja sih! Lagian mau itu laki-laki atau perempuan, kan tetap dia anak kita mas!" sahut Keisha.
"Hmm, ya sayang."
Alex mengecup punggung tangan Keisha dengan lembut sembari membelainya, Alex paham apa yang dimaksud Keisha karena sebenarnya dirinya pun tak mempermasalahkan jenis kelamin anaknya nanti. Hanya saja Alex tetap belum percaya seratus persen pada Keisha saat ini, ia masih menduga bahwa anak yang ada di dalam kandungan Keisha itu bukanlah anak kandungnya.
"Umm dok, bisa kita bicara sebentar berdua? Ada yang mau saya tanyakan sama dokter," ucap Alex.
Tentu saja Keisha terkejut mendengar permintaan Alex barusan pada dokter Nita, ia spontan menatap wajah suaminya seolah bertanya apa yang hendak dibicarakan antara Alex dengan dokter Nita saat ini sampai harus pergi berdua. Keisha pun mencekal lengan Alex, menahannya dan bertanya mengapa pria itu meminta dokter Nita untuk bicara berdua.
"Mas, kamu mau bicara apa sama dokter Nita? Kenapa harus berdua? Emangnya aku gak boleh tahu ya?" tanya Keisha penasaran.
"Eee gak ada apa-apa kok sayang, aku cuma pengen tahu sesuatu aja. Udah ya aku tinggal dulu, lagian cuma sebentar kok. Kamu gapapa ya disini sebentar?" ucap Alex tersenyum.
"Huft, iya deh aku nurut aja sama kamu. Tapi, jangan lama-lama ya mas!" ucap Keisha.
Alex mengangguk perlahan, ia kecup kening dan usap rambut wanita itu dengan lembut sebelum pergi dari sana mengikuti dokter Nita.
•
•
Kini Alex telah berada di dalam ruangan pribadi dokter Nita dan bersiap untuk bicara berdua dengan wanita itu, Alex dipersilahkan untuk duduk pada kursi yang tersedia dan berhadapan langsung dengan sang dokter. Alex sebenarnya tampak ragu, tapi ia terpaksa melakukan semua ini untuk membuktikan apakah anak yang dikandung Keisha adalah darah dagingnya atau bukan.
Alex terdiam sesaat seolah tengah memikirkan sesuatu, sedangkan dokter Nita di depannya sudah terlihat begitu penasaran dan ingin tahu apa yang hendak dibicarakan Alex saat ini. Pasalnya, wajah pria itu menunjukkan keseriusan yang amat sangat dan menurutnya pasti ada sesuatu hal yang penting sampai Alex mengajaknya bicara berdua.
"Bagaimana pak Alex, apa yang bapak mau bicarakan dengan saya sekarang?" tanya dokter Nita sambil tersenyum dan meletakkan satu tangannya di atas meja.
"Eee saya cuma mau tanya aja dok, kira-kira di usia kandungan istri saya yang sekarang apa sudah bisa dilakukan tes DNA? Saya mau tahu apakah janin yang dikandung istri saya itu memang benar anak saya atau bukan," ucap Alex.
"Hah? Jadi, anda meragukan kandungan istri anda sendiri pak? Kenapa bisa begitu?" ujar dokter Nita tampak terkejut.
Alex pun kebingungan saat hendak menjawabnya, karena jujur ia juga belum tahu mengapa dirinya bisa semudah ini terpengaruh oleh ucapan para temannya yang mengira Keisha hamil anak laki-laki lain. Padahal, Alex sebelumnya sangat percaya pada Keisha dan selalu yakin bahwa wanita itu jujur padanya serta tidak mungkin mengkhianatinya.
"Sa-saya mau mastiin aja dok, gak salah kan?" ucap Alex dengan gugup.
Dokter Nita kembali tersenyum dan mengangguk kecil, kemudian ia menghela nafasnya lalu mengambil secarik kertas yang ia simpan di atas meja kerjanya. Alex kebingungan melihat itu, dia belum mengerti apa yang hendak dilakukan dokter Nita pada kertas tersebut. Namun, ternyata di dalam kertas itu berisi catatan miliknya.
"Disini tertulis, kalau usia kandungan bu Keisha sekarang sudah bisa untuk dilakukan tes DNA. Akan tetapi, ini sangat beresiko loh pak. Anda bisa kehilangan calon bayi anda!" ucap dokter Nita.
"Apa dok? Kenapa bisa begitu? Saya kan cuma mau tes DNA loh, memangnya itu berbahaya banget ya sampai bisa bikin istri saya keguguran?" kaget Alex.
Dokter Nita mengangguk perlahan, "Jelas pak, ini sangat beresiko. Maka dari itu, banyak orang tua yang tidak mau melakukan tes DNA saat bayi masih berada dalam kandungan. Kebanyakan dari mereka memilih melakukan itu begitu bayinya lahir," jelasnya secara singkat.
"Tapi dok, saya butuh hasilnya itu sekarang. Saya gak bisa menunggu sampai bayinya lahir, itu kelamaan dok. Apa gak ada cara aman gitu supaya saya bisa tes DNA?" ucap Alex.
"Umm itu....."
"Mas!" tiba-tiba saja, suara Keisha terdengar di telinga keduanya dan membuat Alex serta sang dokter terkejut bukan main.
Alex sontak menoleh ke asal suara, matanya terbelalak lebar melihat istrinya berdiri disana. Ia tak menyangka kalau ternyata Keisha menyusulnya kesana dan mendengar semua pembicaraannya dengan dokter Nita tadi, tampak raut kekecewaan di wajah Keisha saat ini dan sepertinya memang Keisha sangat emosi pada suaminya.
"Tega ya kamu mas, jadi kamu masih meragukan anak kita ini? Kamu jahat mas, kamu jahat!" geram Keisha yang langsung berbalik pergi.
"Sayang? Keisha tunggu, Keisha sayang!" Alex panik, ia bergerak cepat mengejar istrinya keluar dari ruangan itu karena tidak ingin terjadi sesuatu.
•
•
Shella pulang ke apartemennya saat ini, memang sejak ia ditinggal oleh orangtuanya ke luar negeri kini ia hanya tinggal seorang diri di sebuah apartemen mewah milik papanya itu. Shella pun bergegas masuk ke dalam lift dan menekan tombol sesuai lantai tujuannya, tapi tanpa diduga tiba-tiba seorang lelaki bergerak cepat menyusulnya dan ikut masuk ke dalam sana.
Lelaki itu berdiri tepat di sampingnya sebelum lift itu tertutup, dan kini dia menatap ke arahnya sambil tersenyum memperlihatkan gigi-giginya. Shella yang ditatap seperti itu sontak merasa cemas, apalagi lelaki tersebut adalah Zayn alias orang yang sempat mengejar-ngejar cinta Keisha beberapa waktu lalu sebelum akhirnya mengalami frustasi.
"Zayn, ngapain lu di apartemen gue coba? Ada keperluan apa?" tanya Shella ketus.
"Kamu pikir yang bisa tinggal disini cuma kamu, Shella? Enggak lah, saya juga bisa kok. Saya sewa unit di apartemen ini tahu," jawab Zayn santai.
"Hah masa sih? Kok gue baru tahu dan selama ini juga kita gak pernah ketemu?" kaget Shella.
"Mana saya tahu, mungkin emang karena tempat ini terlalu luas jadinya kita baru ketemu sekarang. Lagian apa salahnya sih kalau saya ada di apartemen ini juga, hm?" ucap Zayn.
Shella terdiam, ia juga tak tahu mengapa rasanya ia benci sekali setelah tahu Zayn ada di apartemen yang sama dengannya. Mungkinkah itu semua terjadi karena Shella khawatir Zayn akan mengetahui rencana gelapnya pada Joshua nanti? Namun, Shella sendiri pun belum tahu apakah Joshua mau menerima tawarannya atau tidak.
Ting
Lift berbunyi dan pintunya terbuka kali ini, Shella melirik sekilas ke arah Zayn sebelum keluar dari lift tersebut dan buru-buru pergi menuju unitnya. Shella tak sadar jika Zayn ikut turun disana dan melangkah tepat di belakangnya, gadis itu terlalu sibuk mengganti judul lagu yang ia setel di ponselnya saat ini karena tidak sesuai dengan yang ia inginkan.
Lalu, Shella baru menyadari hal itu saat ia menoleh dan menemukan sosok Zayn di sebelahnya. Shella sontak menjerit sembari memegangi dadanya, gadis itu terkejut karena tadi ia tak melihat Zayn ikut turun dari lift tersebut. Shella pun menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Zayn yang kaget mendengar jeritan Shella tadi.
"Buset dah, kamu itu kenapa sih Shella? Udah kayak ngeliat setan aja sampai sekaget itu, padahal saya ini manusia loh," heran Zayn.
"Ish, harusnya tuh gue yang tanya sama lu! Kenapa lu bisa ada disini juga? Lu sengaja ya mau buntutin gue, sebenarnya lu tuh mau apa sih Zayn?" ucap Shella dengan kesal.
"Hah? Ngapain banget saya ikutin kamu, saya ya mau ke unit saya lah. Kamu sendiri ngapain ada disini hayo?" ucap Zayn.
"Dih pake nanya, ya gue juga mau ke unit gue! Nih, unit gue itu nomor 211. Lu emangnya nomor berapa coba?" ujar Shella.
"213." Zayn menunjukkan kartu unitnya kepada Shella dan membuat gadis itu terperangah.
Lagi-lagi Shella terkejut dan matanya terbelalak lebar, ternyata mereka bukan hanya satu apartemen tetapi juga tetanggaan. Shella tak menyangka kalau unit Zayn ada dua blok dari tempatnya berada, tetapi selama ini ia tak menyadarinya. Kini Shella pun terdiam begitu saja tanpa mampu berbicara apapun, sedangkan Zayn malah tersenyum melihatnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...