Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 152. Nyaman


Kini Alex pergi menemui Cherry yang ternyata sudah hadir di depan rumahnya pagi ini, Alex sungguh tak menyangka jika Cherry sampai seberani ini untuk menemuinya disana. Apalagi, sekarang juga masih ada sosok Lana yang secara langsung melihat keberadaan Cherry alias kakak kelasnya itu. Alex tak tahu harus menjelaskan apa pada Lana, itu sebabnya ia memilih pergi saja meninggalkan adiknya disana.


Cherry pun tersenyum saat Alex mendekat ke arahnya dan membuka pintu pagar, gadis itu sudah tampak rapih dengan cardigan berlengan panjang yang menutupi kaos di tubuhnya. Alex sangat kagum pada kecantikan Cherry pagi ini, pasalnya Cherry memang terlihat luar biasa meski hanya mengenakan baju santai seperti itu. Namun, saat ini Cherry sudah terlihat seperti sosok bidadari di mata Alex yang memang gila wanita itu.


"Pagi kak Alex! Maaf ya kalau aku ganggu pagi-pagi begini, aku itu niatnya kesini mau bantu kamu buat cari lagi istri sama anak kamu!" ucap Cherry lirih.


"Ahaha, pagi juga Cherry! Enggak kok, kamu gak ganggu sama sekali. Aku justru senang banget lihat kamu disini, apalagi niat kamu yang mau bantu aku buat cari istri dan anak aku," ucap Alex.


"Bisa aja kamu, tapi beneran kan aku gak ganggu nih?" ucap Cherry memastikan.


"Enggak lah Cherry, mana mungkin aku ngerasa keganggu sama kamu? Lagian ini aku juga udah mau berangkat cari istri aku," ucap Alex.


"Oh bagus dong, berarti aku pas ya datangnya?" ucap Cherry merasa senang.


Alex mengangguk kecil, ia sangat senang karena Cherry begitu setia untuk membantunya mencari Keisha dan juga Kenzie. Meski begitu, tampak Lana juga langsung mendekati mereka dan terlihat tak suka ketika Alex begitu akrab dengan Cherry yang merupakan seniornya di sekolah itu.


"Kak, ngapain sih kakak pake ajak dia segala buat cari kak Keisha? Udah lah biar aku aja yang temenin kakak sekarang, gak perlu kakak bawa cewek ini segala!" ucap Lana dengan nada ketus.


"Hey Lana, lu gak boleh ngomong gitu ah! Gak enak tau sama Cherry, sopan dikit dong!" tegur Alex.


"Sopan? Buat apa aku harus sopan sama orang yang udah jadi pelakor di hubungan kakak kandung aku sendiri? Dengar ya kak, aku tau kok kalau kak Keisha pergi dari rumah karena dia gak tahan sama sikap kakak yang kayak gini!" ucap Lana.


Deg


Alex tersentak mendengarnya, emosi pun hendak meluap di dalam dirinya ketika Lana berkata seperti itu padanya. Akan tetapi, tak mungkin Alex memukul adiknya saat ini karena apa yang dikatakan Lana tentangnya adalah benar. Alex memang tidak bisa mengendalikan dirinya, ia selalu saja membuat Keisha merasa cemburu dan kecewa padanya.


"Umm Lana, kamu tenang dulu ya! Aku kesini gak ada niatan jahat kok, aku cuma mau bantu kakak kamu buat cari istrinya yang hilang," ucap Cherry.


"Heh cewek gak tau diri! Kakak aku ini udah nikah, kenapa kamu masih aja coba buat deketin dia? Apa kamu udah gak laku lagi ya? Hadeh kasihan amat sih, padahal masih muda tapi udah jadi pelakor!" cibir Lana.


"Maksud kamu apa ya Lana? Aku gak begitu loh," elak Cherry.


"Cih, pelakor mana ada yang mau ngaku? Dasar perempuan gak tau diri, suami orang masih aja mau diembat juga!" sentak Lana.


Cherry hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa mampu berbicara apapun lagi saat ini, sedangkan Alex langsung menarik tangan adiknya dan membawanya menjauh dari sana. Ya sepertinya Alex ingin memberi peringatan pada adiknya itu, karena apa yang dikatakan Lana sudah keterlaluan.




Disisi lain, Keisha tengah menggendong putranya di halaman depan rumah sang kakek. Keisha tampak tersenyum lebar dan merasa begitu bahagia kali ini, karena ia tidak lama lagi akan segera resmi bercerai dengan Alex alias suaminya. Keisha sudah tak sabar untuk itu, sebab selama ini Alex sering sekali menyakiti hatinya dan membuatnya terluka.


Disaat ia tengah asyik bermain bersama Kenzie, tiba-tiba saja Lania muncul menghampirinya dan terlihat membawakan segelas teh hangat untuknya. Tentu saja Keisha agak terkejut, karena sedari tadi ia tak melihat keberadaan wanita itu. Namun, kemudian Keisha beralih menatap Lania dan tersenyum ke arahnya dengan lembut.


"Ahaha, nyenyak kok kak. Aku juga udah biasa kok tinggal di pedesaan, malahan kerasa lebih nyaman daripada di kota. Aku suka suasana disini, adem gitu terus bikin betah," jawab Keisha.


"Bagus deh kalau emang kamu suka, soalnya dari semalam kakek kamu itu bawel banget tanyain kamu terus. Ya mungkin karena dia khawatir kali ya sama cucunya yang cantik ini," ucap Lania sembari mengusap wajah Keisha dengan lembut.


"Hehe, kak Nia bisa aja. Oh ya, kabar kakek sekarang gimana kak? Terus kapan juga kakek mau nyusul aku kesini?" tanya Keisha penasaran.


"Eee kalau soal itu aku kurang tahu, kakek kamu gak ada bilang apa-apa tuh," jawab Lania.


"Oh gitu ya kak, iya gapapa kok. Nanti juga pasti kalau kakek mau kesini, dia bakal kabarin kita," ucap Keisha tersenyum lebar.


"Iya kamu benar, mending sekarang kita duduk minum teh dulu yuk!" ajak Lania.


Keisha pun mengangguk sambil tersenyum, ia setuju dengan ajakan Lania karena memang saat ini tenggorokannya terasa begitu haus. Tanpa melepas gendongannya, Keisha kini terduduk di sebelah Lania pada kursi yang tersedia. Lania juga telah meletakkan gelas teh itu di atas meja, sehingga Keisha dapat lebih mudah meminumnya.


"Euumm, ini enak banget sih kak! Emang paling pas pagi-pagi gini minum teh hangat, rasanya tubuh jadi ikutan hangat. Makasih ya kak, karena udah mau baik sama aku!" ucap Keisha.


"Sama-sama Keisha, kamu itu kan cucunya suami aku ya jadi kamu juga bagian keluarga aku dong. Masa iya aku gak baik sama kamu?" ucap Lania.


"Hehe, tapi aku masih gak nyangka loh kak. Selama ini aku kira kakek itu single, eh tapi ternyata diam-diam dia punya istri secantik kakak. Kalian sejak kapan sih nikahnya?" ucap Keisha.


"Eee udah lumayan lama kok, dari waktu aku masih kuliah. Ya sekitar tiga sampai empat tahunan lah," jelas Lania.


Keisha sedikit terkejut mendengarnya, "Wah lama juga ya? Berarti hubungan kakak sama kakek aku tuh langgeng banget dong, tapi kenapa kakek mesti rahasiain ini semua dari aku ya?" ujarnya.


"Itu sih aku juga gak tau ya Keisha, coba aja kamu tanyain langsung ke kakek kamu!" ucap Lania.


Keisha kembali menganggukkan kepalanya, sebelum mulai menenggak teh hangat buatan Lania itu sampai tersisa sedikit. Keisha merasa cukup nyaman berada disana, apalagi ada Lania yang bisa mengerti perasaannya. Selain itu, di tempat ini Keisha juga aman dari kejaran Alex yang selalu saja berusaha untuk mendekatinya kembali.


"Umm Keisha, daritadi kan kamu udah banyak tanya soal aku nih. Sekarang boleh dong gantian aku yang tanya ke kamu?" ucap Lania.


"Eh, iya boleh kok kak. Emang kak Nia mau tanya soal apa?" ucap Keisha.


"Begini Keisha, sebenarnya aku mau tau satu hal dari kamu. Kenapa sih kamu mesti cerai dari suami kamu itu? Emangnya kamu gak cinta ya sama dia?" tanya Lania.


Keisha terdiam saat itu juga, ia berpikir sejenak untuk bisa menjawab pertanyaan Lania kali ini.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...