Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 69. Pulang


Namun, Tasya justru semakin penasaran karena Keisha yang tiba-tiba terdiam dan tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Tasya pun mendekati sahabatnya itu, lalu menatap penuh penasaran ke arah Keisha. Ia sungguh ingin tahu seperti apa kelanjutan mimpi Keisha, karena Keisha terlihat begitu sedih setelah mengalami mimpi itu.


"Kei, ayolah lanjutin cerita lu! Lu gak kasihan apa sama gue yang kepo maksimal ini? Gue itu pengen tahu lu mimpi apa, jadi ayolah jangan bikin gue penasaran gitu!" bujuk Tasya.


Keisha menunduk lesu dan bingung harus melanjutkan ceritanya atau tidak, pasalnya itu sungguh menyakitkan untuk diceritakan. Keisha malah beranjak dari tempat duduknya, lalu berniat untuk pergi meninggalkan sahabatnya. Tentu saja Tasya tidak terima, karena dia masih penasaran sekali mengenai cerita dari mimpi Keisha.


"Duh Keisha, tolonglah lu jangan pergi dulu! Ayo lanjutin cerita lu, gue kepo tau!" bujuk Tasya.


"Hm, gue gak bisa Sya. Ini terlalu berat buat diceritain, nanti gue malah jadi susah ngelupain mimpi itu. Sorry ya, gue harus pergi!" ucap Keisha.


"Ta-tapi Kei...."


Keisha tidak lagi mendengarkan permintaan sahabatnya itu, ia kini pergi begitu saja dari sana tanpa berkata apa-apa lagi. Sepertinya Keisha sudah tidak ingin membahas mengenai mimpinya, dan ia lebih memilih untuk menenangkan diri. Sehingga, Tasya kini tak memiliki pilihan lain selain pasrah dan menerima saja keputusan Keisha tadi.




Setelah berhasil pergi dari taman itu, Keisha kini berniat menuju kelas dan menenangkan diri. Tapi di tengah perjalanan, wanita itu malah tidak sengaja bertemu dengan Joshua yang baru muncul di hadapannya saat ini. Keisha pun menghentikan langkahnya, karena ia terkejut ketika Joshua berada disana dan tersenyum ke arahnya.


Joshua pun sangat senang melihatnya, wanita yang selama ini ia cintai akhirnya kembali bersekolah dan bertemu dengannya. Joshua benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi, jika ia tak tahan mungkin saat ini ia langsung saja memeluknya dan melampiaskan kerinduannya. Namun, Joshua masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan itu.


"Kei, aku senang banget bisa lihat kamu disini lagi! Kamu kemana aja sih, terus kenapa kamu gak datang ke sekolah kemarin?" tanya Joshua.


Keisha terdiam saja, ia mendengus dingin dan memalingkan wajahnya karena malas. Ia juga memutar bola matanya seolah tidak ingin meladeni pria tersebut, apalagi sekarang ia tengah pusing dan sedih memikirkan mimpinya tadi. Namun, Joshua tidak mau menyerah begitu saja dan terus berusaha meminta Keisha untuk berbicara padanya.


"Aku paham kalau kamu masih sedih, bahkan mungkin kamu juga belum bisa mengikhlaskan kepergian Alex. Tapi Keisha, semua itu sudah takdir loh. Kamu harus bisa lupain Alex!" ucap Joshua.


"Jos, kamu gausah ikut campur ya sama urusan aku! Kamu mending pergi deh, jangan ganggu aku untuk saat ini!" geram Keisha.


"Aku gak ada niatan buat ganggu kamu, justru aku kesini karena aku perduli sama kamu. Aku ini sayang sama kamu Keisha, aku gak mau kamu terlalu larut dalam kesedihan!" bujuk Joshua.


"Cukup Joshua! Kamu boleh cinta sama aku, karena itu hak kamu. Tapi, kamu juga gak bisa maksa aku buat balas perasaan kamu dong!" ucap Keisha.


Pria itu tersentak mendengar kata-kata yang dilontarkan Keisha dengan tegas itu, ia paham betul kalau Keisha tak akan pernah bisa membalas cintanya seperti yang ia harapkan. Cinta Keisha memang hanya untuk Alex seorang, dan Joshua tidak bisa seberuntung Alex bahkan saat ini ia belum mendapatkan wanita yang mencintainya.


Namun, Joshua berharap setidaknya Keisha mau berteman dengannya dan sekedar dekat seperti pasangan sahabat. Joshua sangat ingin untuk bisa berada di dekat wanita itu, apalagi ia tidak mungkin bisa menghilangkan rasa cintanya. Mungkin dengan ia berdekatan dengan Keisha, setidaknya itu bisa mengobati rasa sedih di dalam hatinya.


"Okay, aku gak akan paksa kamu buat balas cinta aku. Sekarang ini aku cuma minta kamu jadi sahabat aku, kamu mau kan Keisha?" bujuk Joshua.


Keisha manggut-manggut kecil, ia memang tidak pilih-pilih dalam berteman dan mau menjalani hubungan persahabatan dengan siapapun itu termasuk Joshua. Meski ia tahu, Joshua tidak akan mungkin hanya menganggapnya sebagai sahabat. Pastinya pria itu tetap akan mencintainya, karena sangat sulit untuk bisa menghapus rasa cinta.


"Terimakasih Keisha, aku senang banget bisa temanan sama kamu!" ucap Joshua tersenyum.


"Sama-sama, yaudah aku permisi ya? Aku sekarang lagi banyak masalah, jadi aku gak bisa lama-lama disini sama kamu!" ucap Keisha pamit.


"It's okay Keisha, aku gak akan larang kamu lagi. Aku juga udah senang kok bisa lihat kamu," ucap Joshua.


Entah kenapa mendengar ucapan Joshua justru membuat Keisha merasa kasihan, ia tidak tega karena sudah menolak pria itu dan rasanya ia ingin sekali membantunya. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima cintanya. Tentu saja hal itu tak mungkin dilakukan olehnya, karena cintanya hanya untuk Alex seorang.


Akhirnya Keisha pergi dari sana, ia meninggalkan Joshua dalam keadaan tersenyum dan sesekali menyempatkan diri menoleh ke arahnya. Ia tahu Joshua sebenarnya sedang bersedih, tetapi lelaki itu pintar menutupinya dengan cara tersenyum. Keisha bangga pada Joshua saat ini, meski sebelumnya Joshua selalu saja memaksanya.


Keisha pun tidak ada lagi di depan matanya, sehingga Joshua harus menghela nafas panjang dan merasa sedih karena lagi-lagi usahanya ditolak. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana, sebab ini sudah kesekian kalinya ia berusaha meminta Keisha membalas cintanya. Bahkan, Joshua sampai berganti meminta Keisha untuk berteman dengannya dan mencoba melupakan rasa cintanya.


Disaat ia sedang memandangi punggung Keisha yang perlahan menghilang, tiba-tiba saja suara deheman dari seorang wanita mengejutkannya. Ia menoleh ke samping, dan menemukan sosok Shella berdiri disana sambil tersenyum menatapnya. Joshua pun terlihat keheranan, ia tak mengerti mengapa Shella ada di sebelahnya saat ini.


"Shella, ngapain lu kesini? Mau ledekin gue karena Keisha tolak gue agi, iya?" tanya Joshua dengan nada ketus.


"Ya ampun Jos, lu mah sensitif banget sih jadi cowok! Gue tuh cuma kasihan sama lu, karena lu ditolak terus sama Keisha. Mending udah deh lu lupain aja tuh si Keisha!" ucap Shella.


"Maksudnya apa? Gue cinta sama Keisha, gue gak mungkin bisa lupain dia!" tegas Joshua.


Shella melangkah mendekatinya dan melingkarkan tangannya di lengan si lelaki, sontak Joshua amat terkejut dengan perlakuan Shella itu. Belum pernah ada wanita yang menyentuhnya seperti ini, tentu saja Joshua merasa gugup dan detak jantungnya bergerak lebih cepat. Joshua juga terus menatap wajah Shella, yang menurutnya amat cantik itu.


"Gue bisa temenin lu kok Jos, gue juga kan lagi kesepian sekarang sejak Alex gak ada!" ucap Shella dengan manja.


Tanpa basa-basi lagi, Joshua yang tidak tahan langsung menarik Shella dan membawanya pergi. Shella terkejut, tetapi hanya bisa diam saat Joshua bertindak kasar seperti itu. Shella tak mengerti apa yang hendak dilakukan Joshua, apalagi lelaki itu membawanya ke belakang sekolah dan terlihat begitu bergairah saat menatap matanya.




Disisi lain, Alex ternyata benar-benar pulang ke rumahnya sesuai yang ada di dalam mimpi Keisha sebelumnya. Kini pria itu tiba di depan pagar rumah dan menatap ke arah rumah itu sambil tersenyum, entah mengapa rasanya ia cukup ragu untuk masuk ke dalam sana setelah mengetahui kabar bahwa ia dianggap meninggal oleh pihak keluarganya.


Pria itu menoleh, tanpa sengaja melihat Mayra yang baru tiba bersama sang supir sehabis berbelanja. Saat Mayra turun dari mobilnya, betapa syoknya wanita itu karena melihat sosok yang menyerupai putranya itu berdiri disana. Mayra sangat kaget sekaligus tak percaya, pasalnya yang ia tahu Alex telah meninggal dalam kecelakaan pesawat itu.


"Hah? Ini aku gak salah lihat kan, apa benar ini kamu Alex anak aku?" tanya Mayra dengan gugup dan tak percaya begitu melihatnya.


Alex sendiri masih kebingungan dan hanya diam memandangi wajah mamanya, ia tak tahu harus mulai berbicara darimana agar mamanya bisa percaya kalau ia memang masih hidup. Akhirnya Alex meletakkan tasnya sejenak, kemudian berjalan mendekati Mayra di depan sana dengan perlahan disertai senyuman tipis yang merekah.


"Iya ma, ini memang aku kok. Aku Alex anak mama, mama gak salah lihat sekarang. Emangnya kenapa sih mama kaget begitu? Udah kayak ngelihat hantu aja, padahal aku tuh masih hidup tau!" ucap Alex.


Deg


Betapa syoknya Mayra mendengar ucapan yang dilontarkan Alex barusan, ia sampai menutupi mulutnya ketika Alex mengatakan itu. Apalagi selama ini ia kira Alex telah meninggal dunia, tapi ternyata justru semua itu salah dan putranya masih berdiri tepat di hadapannya saat ini.


"Alex, apa benar kamu masih hidup? Ini bukan halusinasi mama aja kan sayang?" Mayra terlihat masih tak mempercayainya.


Alex mengangguk perlahan, "Benar ma, aku masih hidup kok. Ini buktinya kaki aku napak, lagian mama kenapa bilang aku udah meninggal sih? Emangnya apa yang terjadi, ma?" ujarnya keheranan.


"Ah Alex!" Mayra terlihat amat bahagia dan langsung bergerak cepat memeluk putranya erat.


Alex terdiam saja membiarkan mamanya itu melampiaskan rasa sedih dengan memeluknya erat, ia paham kalau mamanya pasti sangat senang sekaligus sedih setelah tahu putranya masih hidup dan selama ini ia salah sangka. Ya berita yang ia lihat memang benar, pesawat itu mengalami kecelakaan tepat di area laut. Namun, Alex tidak ada di dalam pesawat itu karena tertinggal.


"Kamu gimana bisa selamat dari kecelakaan itu sayang? Bukannya seluruh penumpang di pesawat itu meninggal dunia ya?" tanya Mayra penasaran.


"Aku gak ada di pesawat itu ma," jawab Alex dengan santai sambil tersenyum lebar.


Mayra terbelalak seketika, ia heran bagaimana mungkin putranya tidak berada di dalam pesawat tersebut sebelumnya. Padahal, jelas-jelas Alex menaiki pesawat yang sama dengan yang kala itu mengalami kecelakaan. Mayra pun terus meminta penjelasan dari Alex, sebab ia sangat penasaran sekaligus ingin tahu apa yang terjadi.




Alex telah berada di dalam rumahnya bersama Mayra yang tentunya mengajak pria itu untuk masuk dan melanjutkan ceritanya sambil terduduk, Mayra juga tak henti-hentinya memeluk maupun merangkul putranya saat ini. Ya Mayra begitu senang, karena putra yang ia sayangi itu ternyata masih hidup dan ia tidak perlu sedih lagi karena hal tersebut.


Selama ini Mayra selalu mengira putranya itu telah tiada, bahkan ia meminta Keisha melupakan Alex meskipun wanita itu terus saja mengatakan dan meyakini bahwa Alex masih hidup. Mayra merasa bodoh dan menyesal karena tidak mempercayai ucapan Keisha, nyatanya Alex sekarang memang benar-benar belum meninggal.


Mereka pun terduduk di sofa, Mayra meminta pelayan untuk menyediakan minuman bagi mereka. Tentu saja semua pekerja disana tampak terkejut melihat keberadaan Alex, mereka seolah tidak percaya kalau saat ini Alex masih hidup. Namun, Alex santai saja menanggapi reaksi semua pekerja itu karena ia paham mengapa mereka begitu.


Tak lama kemudian, Lana yang baru pulang dari sekolahnya memasuki rumah dan terlihat kaget saat melihat kakaknya tengah duduk bersama mamanya di sofa. Sontak Lana bergegas mendekati mereka, lalu coba bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu mengucek-ngucek matanya, seolah memastikan bahwa ia tidak salah lihat kali ini.


"Ma, ini mama sama siapa? Kok mukanya mirip kak Alex sih, ma? Aku gak salah lihat kan, atau ini memang kak Alex?" tanya Lana terheran-heran.


Alex tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya menghadap ke arah sang adik, ia tarik lalu peluk tubuh Lana disana dengan sangat erat seolah ingin membuktikan bahwa Lana tidak salah lihat. Ini adalah Alex dan memang semua yang dilihat Lana tidak salah, sehingga Lana pun tampak terbelalak seolah tak menyangka dengan hal tersebut.


"Sekarang gimana, hm? Apa lu masih ragu atau gak percaya sama kakak? Ini beneran gue tahu, masa lu gak bisa bedain mana kakak lu atau bukan?" ucap Alex sembari membelai rambut adiknya.


"Ta-tapi kak, bukannya kakak udah....."


"Meninggal?" Alex menyelanya, menatap wajah Lana sambil menangkup nya dan tersenyum lebar.


"I-i-iya kan?" lirih Lana.


Alex menggeleng, ia malah mengajak Lana untuk ikut duduk bergabung bersamanya dan juga sang mama di sofa. Lana menurut saja, lalu terduduk disana tanpa melepas genggaman tangan dari kakaknya yang memang sangat ia rindukan. Mayra bahkan tersenyum lebar, wanita itu senang melihat kedua anaknya akur seperti itu.


"Jadi, apa sebenarnya yang terjadi kak? Kenapa kakak bisa gak ada di pesawat itu?" tanya Lana begitu penasaran.


"Iya Lana, gue tuh ketinggalan pesawat karena gue sakit perut. Yaudah, jadinya gue terpaksa nunggu pesawat yang lain. Gue juga dengar kabar tentang pesawat itu kecelakaan, tapi gue santai aja karena gue kan gak ada disana," jawab Alex.


"Ish, kakak enak banget bilang kayak gitu! Kita disini tuh panik plus sedih banget tau gara-gara ngira kakak kecelakaan terus meninggal!" kesal Lana.


Lana terus menghajar Alex dengan pukulan serta cubitan yang keras, membuat pria itu terkekeh dan tertawa terbahak-bahak karena kelakuan Lana yang benar-benar menggemaskan. Disaat yang sama, Keisha muncul dan terhenti ketika melihat keberadaan sang suami di dalam sana bersama Lana serta Mayra.


"Ma-mas Alex???" lirih Keisha, ia amat terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...~~~...


...HORE KEISHA KETEMU LAGI SAMA ALEX🥳...