Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 50. Peringatan Alex


Ting nong ting nong...


Baru saja Tasya hendak melahap mie yang ia buat itu, tiba-tiba bel dari arah luar berbunyi dan membuat Tasya harus mengurungkan niatnya itu. Tasya pun terpaksa meletakkan sejenak mangkuk mienya di atas meja, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu untuk memastikan siapa yang datang. Meski saat ini ia sudah merasa sangat lapar, dan ingin segera melahap mie buatannya itu.


Begitu ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat tiba-tiba seseorang di luar sana langsung bergerak memeluknya dengan erat sambil menangis sesenggukan. Tasya benar-benar kaget, karena saat dipastikan rupanya orang yang datang itu ialah Keisha alias sahabatnya. Namun, ia heran mengapa Keisha datang dalam kondisi sedih seperti itu dan menangis deras di dalam pelukannya.


"Kei, bentar Kei tahan dulu tahan! Lu ini kenapa tiba-tiba datang terus peluk gue?" Tasya spontan melepas pelukannya dan menangkup wajah sahabatnya itu sambil memberikan tatapan heran.


Keisha tampak terisak dan air mata terus membasahi kedua pipinya, membuat Tasya makin heran lalu berusaha menyeka air mata itu. Biar bagaimanapun, Tasya tidak tega saat melihat sahabatnya itu menangis seperti itu.


"Hiks hiks, gue sedih banget Sya. Kenapa ya di dunia ini masih ada yang namanya pelakor?" ujar Keisha.


"Hah apa? Ini lu ngomongin pelakor, emangnya siapa coba pelakor itu? Hubungan lu sama Alex baik-baik aja kan, kalian berdua gak kenapa-napa kan?" kaget Tasya.


"Justru itu Sya, rumah tangga gue sama Alex lagi dalam bahaya. Kita diincar sama orang yang mau hancurin rumah tangga kita," ucap Keisha.


"Kei, tenang dulu! Lu cerita di dalam aja ya, sekalian gue buatin minum buat lu biar lu bisa tenang dan gak terlalu panik kayak gini! Udah yuk kita masuk ke dalam!" bujuk Tasya.


Keisha manggut-manggut setuju, lalu keduanya pun sama-sama masuk ke dalam dan duduk di sofa yang tersedia. Tasya tampak mengambilkan minum untuk sahabatnya itu, dan menyuruh Keisha meminum sejenak agar tidak terlalu memikirkan masalah yang sedang menimpanya.


"Gimana, lu udah baikan belum?" tanya Tasya sembari menatap wajah sahabatnya.


Keisha kembali menganggukkan kepalanya, meletakkan gelas minuman itu di atas meja dan menatap wajah Tasya sambil tersenyum tipis. Keisha juga terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya, meskipun ia masih saja memikirkan mengenai masalahnya tadi.


"Bagus deh, terus lu sebenarnya ada masalah apa sama Alex? Kok lu sampai datang kesini terus nangis-nangis begitu, hm?" tanya Tasya kembali.


"Gu-gue kesal banget sama kelakuan si murid baru di sekolah kita itu, bete gue!" jawab Keisha dengan ketus sembari mengambil paksa mangkuk mie dari tangan Tasya dan memakannya.


"Eh eh Kei, i-itu kan..."


"Dia itu udah kayak pelakor yang nyebelin, padahal dia masih sekolah loh! Bisa-bisanya dia terang-terangan godain Alex di depan gue, emang dasar ular!" ucap Keisha sambil terus melahap mie tersebut dengan wajah kesal.


Tasya hanya bisa menepuk jidatnya, ia tidak mau membuat sahabatnya bersedih kembali jikalau ia mengambil mangkuk mie tersebut darinya.


"Hmm, lu kesal sih boleh-boleh aja Keisha. Tapi gak sampai ngabisin mie gue segala kali," cibir Tasya.


Keisha tersenyum lebar, ia menghentikan aksinya tadi dan menyerahkan mangkuk mie tersebut kepada Tasya kembali. Namun, mata Tasya terbelalak ketika melihat mangkuk itu hanya tinggal berisi kuahnya saja.


"Tuh gue balikin deh, sorry tadi gue lagi kesel jadi kebawa lapar!" ucap Keisha.


"Sialan lu! Ngapain pake lu balikin coba? Ini udah tinggal kuahnya doang, mending sekalian nih lu minum tuh kuah sampai habis!" kesal Tasya.


"Eh iya ya, yaudah sini deh boleh!" Keisha mengambil kembali mangkuk itu dan menyeruput kuah mie tersebut sampai habis tak bersisa.


Setelahnya, Keisha pun meletakkan mangkuk itu di meja dan bersendawa karena kekenyangan. Tasya yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, ingin marah tetapi tidak bisa karena Keisha adalah sahabatnya dan kini wanita itu sedang bersedih.




Bukannya menurut, Shella justru beranjak dari tempat duduknya dan berniat pergi meninggalkan mamanya karena kesal. Lala pun berusaha menahannya, tetapi gagal karena Shella sudah lebih dulu pergi menaiki tangga dan masuk ke kamarnya dengan ekspresi kesal.


Lala kini tampak bingung, ia mengusap keningnya sendiri memikirkan apa yang dikatakan Shella tadi. Ia tak mengerti mengapa Shella jadi seperti itu, dan ia juga penasaran apa sebenarnya yang terjadi di rumah Alex tadi saat Shella datang kesana. Apakah benar Keisha sudah memperlakukan Shella dengan tidak baik?


TOK TOK TOK...


Disaat yang sama, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dari luar oleh seseorang. Sontak Lala terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu, karena penasaran akhirnya Lala berjalan keluar menemui orang yang datang kesana. Lala membuka pintu, lalu tampak syok ketika melihat Alex berdiri disana.


"Selamat siang tante! Mohon maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat tante!" ucap Alex menyapa dengan sopan pada sahabat dari mamanya itu.


"Ah iya Alex, ini kenapa ya kamu datang ke rumah tante kayak gini? Gak biasanya loh kamu kesini sendirian, masuk dulu yuk!" ajak Lala.


"Tidak usah tante, saya cuma sebentar kok. Saya kesini karena saya mau minta tolong sama tante, tolong tan beritahu anak tante itu untuk tidak mendekati dan menggoda saya lagi!" ucap Alex.


Deg


"Apa??" Lala tersentak bukan main mendengar ucapan Alex barusan.


"Iya tante, kelakuan anak tante sudah di luar nalar dan tidak bisa ditolerir lagi. Dia bahkan bilang secara langsung ke depan istri saya, kalau dia ingin merebut saya dari Keisha!" jelas Alex.


Lala menggeleng tak percaya, "Gak mungkin Alex, masa iya Shella sampai begitu? Pasti dia cuma bercanda nak, kamu tenang ya!" ucapnya.


"Itu bukan candaan tante, saya tahu Shella memang menyukai saya. Tolong tante beritahu dia untuk menjauhi saya, juga melupakan saya dan jangan pernah berharap bisa memiliki saya!" tegas Alex.


"Ba-baik Alex, nanti tante akan bicara ke Shella. Maafkan kelakuan dia ya Alex!" ucap Lala.


"Gapapa tan, yang penting kejadian itu gak akan terulang lagi. Kalau sampai Shella bikin Keisha menangis, saya gak akan segan-segan kasih pelajaran ke anak tante itu! Dia harus tahu batasannya tante!" geram Alex.


Lala manggut-manggut paham, ia tak membantah ataupun mengiyakan usapan Alex karena ia benar-benar bingung saat ini. Tadi ia kira Shella lah yang dijahati oleh Keisha, tapi setelah mendengar kata-kata Alex barusan kini Lala pun dibuat heran dan penasaran siapa yang benar dan harus ia percaya saat ini.


Kini Lala masuk kembali ke dalam rumahnya, ia masih kebingungan dan tak habis pikir dengan sikap Shella pada Alex saat di kediaman pria itu tadi. Sungguh Lala tak percaya putrinya dapat melakukan itu, ia pun berniat menghampiri kamar Shella untuk bertanya langsung pada gadis itu mengenai kebenaran semua ceritanya.


Namun, tanpa diduga Lala malah berpapasan dengan putrinya itu yang baru turun dari tangga. Lala sontak terkejut, kemudian mendiamkan dirinya menatap wajah Shella. Tampak juga Shella cemberut saat ini, gadis itu masih agak kesal pada sikap mamanya yang malah seolah membela Keisha tadi ketika ia sedang bercerita.


"Kebetulan kamu turun sayang, mama mau bicara sama kamu. Yuk kita duduk di sofa!" ajak Lala coba bersikap seperti biasa.


Shella mengernyitkan dahinya, ia tahu ada yang sedang disembunyikan oleh mamanya itu. Namun, Shella menurut saja kali ini mengikuti permintaan Lala dan melangkah menuju sofa. Mereka pun terduduk disana, saling bertatapan satu sama lain dengan ekspresi yang berbeda.


"Gimana ma, ada apa mama ajak aku kesini?" tanya Shella penasaran.


"Mama mau tanya sesuatu sama kamu, tapi mama mohon kamu jawab itu dengan jujur dan jangan berani-berani membohongi mama!" pinta Lala.


Shella mengangguk paham, "Iya ma, emangnya mama mau tanya apa sih?" ujarnya.


"Apa benar kamu udah godain Alex di rumahnya tadi, di depan Keisha juga? Kamu bilang kalau kamu mau merebut Alex dari Keisha, iya?" tanya Lala tegas.


Deg


Shella terkejut bukan main mendengarnya, ia bingung darimana mamanya itu tahu mengenai apa yang terjadi saat di rumah Alex tadi. Padahal Shella sudah mengarang cerita, agar membuat Lala mau membelanya dan memusuhi Keisha. Namun, semua rencana yang ia lakukan itu malah gagal.




Alex yang sedang dalam perjalanan menuju rumah Bruce alias kakek Keisha, merasa terkejut saat tiba-tiba sebuah mobil menyalipnya dan berhenti tepat di hadapannya. Nyaris saja tabrakan keras terjadi, untungnya Alex dengan cekatan menginjak rem dan berhasil menghindari mobil tersebut. Meski, Alex terpaksa berhenti lalu turun dari mobilnya dengan perasaan jengkel.


"Woi keluar lu! Siapa lu, dan apa maksudnya lu cegat mobil gue? Sini turun lawan gue!" sentak Alex menunjuk ke arah mobil di depannya.


Tak lama kemudian, seorang pria muncul dan keluar dari mobil itu lalu menatap ke arah Alex. Ia tampak menyeringai, melangkah mendekati Alex dan berhenti tepat di hadapannya. Alex menggeleng tak percaya, sebab yang dirinya lihat saat ini adalah sosok Tarra alias musuh besarnya.


Emosi Alex semakin memuncak melihat wajah pria itu lagi, tangannya terkepal teringat pada momen dimana Tarra menculik istrinya dan nyaris membuat Keisha terluka. Ia tak mengerti mengapa Tarra berani memunculkan wajahnya di hadapan ia saat ini, karena Tarra pasti tahu jika sekarang Alex sedang sangat emosi.


"Apa kabar Lex? Lu pasti lagi cari gue kan sejak kejadian penculikan itu? Selamat, sekarang lu udah berhasil temuin gue! Ayo, tangkap gue dan bawa gue ke polisi!" tantang Tarra.


Alex menggeleng cepat, "Gue emang bener lagi cari lu, dan gue akan buat pelajaran ke lu atas semua yang udah lu lakuin ke Keisha. Tapi gak sekarang, karena gue lagi sibuk dan punya urusan yang lebih penting daripada lu!" ucapnya.


"Hahaha, kenapa Lex? Kalau lu takut ya bilang aja, gue tahu kok lu itu pengecut!" cibir Tarra.


"Cukup Tarra! Gue masih kasih lu kesempatan untuk hidup sekarang, pergi lu dan jangan halangi jalan gue!" kesal Alex.


"Gue gak mau pergi, gue pengen kita bertarung disini sekarang juga!" ucap Tarra.


Alex terkekeh mendengarnya, apa yang diucapkan Tarra amat membuatnya merasa geli dan seolah ingin tertawa keras. Jika saja ia sedang tidak mencari Keisha, maka pasti ia akan dengan senang hati menerima tawaran Tarra tadi. Namun, saat ini Keisha adalah prioritas utama baginya.


"Okay, nanti gue akan bertarung sama lu Tarra. Gue pastikan lu bakal babak belur di tangan gue, setelah itu gue juga akan bawa lu ke markas untuk gue siksa sampai lu mati!" ancam Alex.


Tarra menyeringai dibuatnya, "Yakin lu bisa matiin gue? Seekor harimau memang kuat dan pandai dalam bertarung, tetapi seekor singa tidak akan pernah lari di dalam pertarungan. Lu itu gak lebih dari seorang pengecut, Lex!" ucapnya.


"Singa? Lu menyamakan diri lu dengan singa? Gak ada singa yang melakukan perbuatan busuk kayak lu, Tarra!" umpat Alex.


Tarra tersenyum lebar kali ini, ia seolah puas melihat ekspresi marah dari Alex yang sepertinya mulai terpancing. Ia memang sengaja melakukan itu, agar ia bisa menghabisi Alex disana saat itu juga. Alex memang tidak tahu, jika sekarang dia sedang berada dalam bahaya karena rencana buruk yang sudah disiapkan oleh Tarra dan yang lainnya.


"Hahaha... hahaha...."


Tarra tertawa puas, kedua tangannya ia rentangkan lebar sembari melangkah lebih dekat ke arah Alex. Pria itu memberikan tatapan tajamnya, dan kembali menantang Alex untuk berkelahi.


"Terima tantangan gue, Alex! Kita buktikan siapa yang paling tangguh diantara kita!" ujar Tarra.


Emosi Alex sudah tidak bisa ia redam lagi, akhirnya kini Alex mengiyakan ajakan Tarra dan bersiap untuk bertarung dengannya. Tapi disaat mereka hendak memulai perkelahian, tiba-tiba saja satu mobil lainnya muncul dan berhenti tepat di dekat mereka.


Alex tampak kebingungan, menatap serius ke arah mobil yang baru datang itu dengan wajah penasaran. Benar saja, tak lama kemudian rombongan pria yang merupakan anak buah Tarra turun dari mobil itu. Alex bertambah kaget, ia merasa kesal karena sudah dijebak oleh Tarra saat ini.


"Sial! Lu jebak gue, hm? Ini yang lu bilang nyali? Dasar pengecut lu!" kesal Alex.


"Hahaha, ingat Alex! Singa tidak pernah berkelahi sendirian, dia akan selalu menyerang lawannya secara berkelompok. Lu harusnya lebih paham soal itu, karena lu jauh mengerti dari gue!" ujar Tarra.


"Banyak omong lu, ayo serang gue sekarang!" Alex berteriak keras seolah menantang mereka.


Menurutnya, kini semua sudah kepalang tanggung dan mau tidak mau Alex harus menghadapi mereka semua saat ini. Ya meski Alex agak ragu sebenarnya untuk bisa melawan mereka, karena ia sadar kalau ia hanya sendiri saat ini.


"Hiyaaa!!!"


......~Bersambung~......


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...