Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 113. Belum bisa jawab


Sepulang sekolah, Lana masih saja dibuat gugup dan bingung ketika mengingat perkataan Zikri kala mereka berbincang di kantin beberapa waktu lalu. Gadis itu belum tahu jawaban apa kiranya yang harus ia berikan kepada Zikri, karena ia sendiri belum yakin dengan perasaan yang dirasakan pria itu dan ia khawatir jika Zikri sebenarnya tidak jatuh cinta pada dirinya karena ia bukanlah sosok Cherry.


Selain itu, Lana juga tak yakin dengan apa yang baru saja terjadi di hidupnya saat ini. Kebaikan Zikri padanya itu terlalu berlebih, ia cemas jikalau Zikri memang hanya ingin mempermainkannya dan menjadikan dirinya pelampiasan. Lana tahu kalau Zikri hanya menyukai Cherry selama ini, tak mungkin lelaki itu bisa berubah pikiran dan melupakan rasa cintanya kepada Cherry dalam waktu sekejap.


Kini Lana menunggu jemputan di halte sekolah, ia terduduk dengan santainya sambil terus berpikir mengenai pertanyaan Zikri tadi. Andai saja Lana mengatakan ya, mungkin ia akan menjadi salah satu wanita paling bahagia di sekolahnya. Namun, itu semua belum menjamin bahwa dirinya akan terus bahagia dan dapat menjadi kekasih hati dari lelaki yang ia idolakan selama ini.


"Hmm, kira-kira aku jawab apa ya ke Zikri nanti? Dia kasih aku waktu tiga hari buat berpikir, tapi aku rasa waktu itu kurang cukup untuk aku. Huft, gimana ini ya aku?" gumam Lana tampak kebingungan.


Tanpa disadari olehnya, tiba-tiba saja sebuah bunga mawar merah sudah berada di depannya dan membuat gadis itu terkejut. Sontak Lana menoleh ke asal bunga itu, dilihatnya sosok Zikri yang ternyata sudah berdiri disana. Lana pun terkejut dan tak menyangka dengan kehadiran Zikri, ia bangkit lalu bertatap muka dengan si lelaki saat ini.


"Zikri, ka-kamu sejak kapan ada disini? Kok aku bisa gak sadar ya? Padahal, daritadi loh aku udah duduk disini sendirian nunggu jemputan," ucap Lana terheran-heran.


Zikri tersenyum dibuatnya, "Gak kok Lana, aku baru aja datang sekarang. Aku sengaja bawain bunga mawar ini buat kamu, karena aku tahu kecantikan kamu itu ibaratnya sama kayak bunga mawar di tangan aku ini," ucapnya.


"Hah? Ya ampun Zikri, kamu itu udah mulai suka gombal juga ya! Aku kaget loh digombalin sama idola sekolah," ucap Lana cukup syok.


"Ahaha, maklum aja ya namanya juga lagi proses pendekatan sama kamu. Jadi, aku pengen bikin kamu terkesima dan mau terima aku buat jadi pacar kamu," ucap Zikri sambil terkekeh.


"Ah iya, itu dia aku masih belum bisa jawab pertanyaan kamu Zik," ucap Lana lirih.


"Gak masalah, aku kan udah bilang juga kalau aku kasih waktu ke kamu buat mikir selama tiga hari. Jadi, kamu tenang aja ya!" ucap Zikri santai.


"Okay, makasih Zikri atas pengertiannya!" ucap Lana tersenyum lebar.


Lalu, Zikri kembali menyodorkan bunga di tangannya itu kepada Lana dan meminta Lana untuk menerimanya karena Zikri ingin membuat Lana semakin merasa bahagia. Berbagai usaha akan Zikri lakukan saat ini demi bisa meyakinkan Lana bahwa ia benar-benar mencintai gadis itu, walau ia tahu semua itu tidak akan mudah.


"Kamu terima ya bunga ini, supaya aku senang dan bahagia!" pinta Zikri.


Lana manggut-manggut saja dan menerima bunga itu dengan senang hati, karena menurutnya tak ada salahnya jika ia menerima bunga tersebut dari Zikri. Lagipula, bunga itu memang indah dan cocok untuk dijadikan pajangan di kamarnya. Hanya saja, itu bukan berarti bahwa Lana sudah menerima Zikri dan percaya kalau pria itu memang mencintainya.




Tiiiinnnn


Alex terpaksa harus membunyikan klakson cukup keras dan menginjak pedal rem demi menghindari terjadinya tabrakan dengan mobil lain dari arah samping, ia cukup kaget dengan kemunculan mobil tersebut yang tiba-tiba saja menghalanginya. Alex juga tak mengerti apa maksud pengendara tersebut, dan kenapa orang itu mencegatnya.


Karena penasaran dan ingin tahu secara langsung, Alex pun turun dari mobilnya untuk menemui si pengendara yang tadi menghentikan mobilnya. Alex berusaha tetap tenang dan tidak terpancing emosi, walau saat ini di dalam hatinya ia benar-benar kesal dengan kelakuan si pengendara mobil yang tidak tahu aturan dan tidak jelas dalam berkendara itu.


Disaat Alex mendekat, lagi-lagi ia dibuat terkejut karena ternyata pengemudi mobil yang tadi hampir ia tabrak adalah Anya. Tentu saja Alex melongok lebar dan seolah tak percaya, ia heran mengapa Anya sampai nekat mengejarnya kesana. Alex sungguh tak tahu harus bagaimana lagi, karena Anya memang sangat sulit untuk diberitahu.


"Anya? Jadi, kamu yang tadi cegat mobil aku dan hampir bikin kecelakaan? Maksud kamu tuh apa sih Anya, ha? Kamu mau bikin aku mati ya?" tanya Alex dengan tegas dan kesal.


"Ups, aku gak ada niatan begitu kok. Lagian kalau kamu mati, aku pasti bakal sedih banget!" ucap Anya dengan nada manja.


Alex yang kesal hanya dapat memutar bola matanya, ia kebingungan harus mengatakan apa di depan Anya saat ini agar wanita itu mau menurut dan tidak lagi mendekatinya. Sudah berbagai cara Alex lakukan untuk mengusir Anya dari hidupnya, tetapi Anya sepertinya tidak pernah punya niat untuk menjauh dari Alex sampai kapanpun.


"Aku itu masih pengen ngobrol sama kamu Alex, eh kamu main pergi aja tadi. Kamu gak menghargai aku banget sih sayang!" ucap Anya mendekat.


Wanita itu semakin berbuat nekat, ya bahkan sekarang Anya terang-terangan memeluk Alex dengan erat dan membenamkan wajahnya pada bahu pria itu. Alex yang diperlakukan begitu sontak merasa bingung, tak ada yang dapat ia lakukan selain diam dan memandangi wajah Anya yang tepat berada di dekatnya.


"Kamu pasti suka kan aku giniin, hm? Pelukan dari aku itu lebih nyaman loh sayang, kamu pasti mau kan setiap hari dijemput sama aku?" goda Anya.


"Anya, kamu itu lama-lama makin kelewatan ya! Harusnya kamu tuh sadar dong, bersyukur juga karena aku gak laporin kamu ke polisi setelah apa yang kamu coba lakukan ke aku!" sentak Alex.


"Hah? Maksud kamu apa sih sayang? Kenapa bawa-bawa polisi coba?" heran Anya.


"Asal kamu tahu ya Keisha, aku udah punya bukti yang menyatakan kalau kamu itu pendusta! Aku tahu semua yang kamu bilang ke Keisha itu bohong, karena aku dan kamu gak pernah tidur satu ruangan saat itu!" ucap Alex dengan tegas.


Anya mengernyitkan dahinya, "Kenapa kamu bisa seyakin itu Lex? Kita beneran ngelakuin itu loh, masa kamu gak sadar sih?" ucapnya.


"Ck, cukup ya sandiwaranya! Aku udah muak sama kamu, aku tahu semua kelicikan dan kebusukan kamu Anya! Aku udah dapat buktinya dari Rizky, dia rekam semua percakapan kalian!" ucap Alex.


Deg




Disisi lain, Revan mengantar Shella ke sebuah cafe untuk bertemu dengan teman-temannya yang sudah menunggu dan membuat janji sebelum ini. Shella merasa sangat bahagia karena dapat pergi kesana sekarang dan lepas dari jeratan Zayn, meski ia butuh waktu yang lumayan lama serta harus berpura-pura menyukai Zayn agar pria itu tidak marah padanya.


Sesampainya di cafe itu, Shella mencoba mengajak Revan untuk turut serta masuk ke dalam sana menemui dua sahabatnya yang ada disana. Shella tentunya ingin mengenalkan Revan kepada dua sahabatnya itu, supaya mereka semua tahu bahwa masih ada laki-laki sebaik Revan di dunia ini yang biasanya sudah sangat jarang.


"Revan, kamu mau gak ikut sama aku ke dalam cafe sekarang? Aku bakal kenalin kamu nanti sama teman-teman aku yang ada disana, mereka itu asyik semua kok!" ucap Shella menawarkan.


"Waduh, gimana ya? Pengen sih aku masuk dan kenalan sama teman-teman kamu, tapi aku takut ganggu aja nanti. Apalagi, aku ini kan belum tahu mereka bakal bisa terima aku juga atau enggak nanti," ucap Revan bingung.


"Gapapa Van, kamu gak perlu ngerasa kayak gitu! Aku yakin kok mereka pasti bisa terima kamu, apalagi kamu kan orangnya baik dan suka menolong!" ucap Shella meyakinkan pria itu.


"Hahaha, bisa aja kamu muji aku kayak gitu! Yaudah deh aku mau, aku gak ada pilihan lain juga. Lagian aku gak ada kegiatan lain sih, jadi aku bisa lah kumpul dulu sama teman-teman kamu," ucap Revan.


"Nah gitu dong, aku kan jadi senang dengarnya kalau kamu mau ikut sama aku!" ucap Shella tersenyum.


Revan manggut-manggut saja mengikuti kemauan Shella saat ini, lagipula pria itu memang sedang tidak memiliki kegiatan apapun di jadwalnya. Revan memang jarang sekali berkumpul dengan para wanita, itu sebabnya kali ini ia tak bisa menolak ketika diajak Shella untuk turun ke luar dan menemui para sahabatnya di dalam cafe.


"Eee Shella, kok aku mendadak jadi ragu ya? Aku takut teman-teman kamu gak suka sama aku, terus anggap aku sok asik lagi," ucap Revan gugup.


"Santai aja, kan ada aku loh di samping kamu!" ucap Shella sambil tersenyum.


Tanpa sadar, Revan ikut membalas senyuman Shella dan menggandeng tangan gadis itu dengan erat seolah tak ingin melepasnya. Revan menyukai tekstur telapak tangan Shella yang begitu halus dan lembut, terasa enak untuk digenggam olehnya. Shella sendiri juga tak protes, karena gadis itu malah menyukainya dan ingin terus seperti itu.


Mereka berdua pun mulai melangkah masuk ke dalam cafe tersebut secara bersama-sama, tangan mereka juga terus saling menggenggam seperti orang yang hendak menyebrang. Banyak pasang mata melirik ke arah mereka, namun tak membuat Revan maupun Shella gugup dan malah merasa senang ketika banyak orang memperhatikan mereka.


Baru kali ini Revan merasa begitu nyaman ketika bergandengan tangan dengan wanita, setelah terakhir kali ia merasakan itu ketika bersama Keisha di dalam sebuah mall. Hanya saja, rasa itu tak bertahan lama karena ia tahu bahwa Keisha sudah menikah dan bahkan memiliki seorang calon anak di dalam perutnya.




Singkat cerita, begitu tiba di dalam cafe kini Shella reflek melepas tangannya dari genggaman Revan karena khawatir teman-temannya akan salah paham. Ya Shella hanya ingin mengenalkan Revan sebagai sahabat barunya, ia tak mau Revan merasa tidak nyaman atau malah kesal jika ia mengatakan hal yang tidak-tidak kepada temannya nanti.


Revan pun tampak merasa kehilangan begitu tangan Shella terlepas darinya, tapi semua itu sirna seketika saat Shella menunjuk ke arah depan dimana dua temannya berada. Saat itu juga Revan terkejut, ia tak menyangka bahwa salah satu dari sahabat Shella adalah Keisha alias wanita yang sebelum ini sempat ia sukai namun tidak bisa memiliki.


Sontak Revan spontan menghentikan langkahnya karena khawatir akan terjadi keributan apabila ia nekat menemui Keisha, meski disana tidak ada Alex ia tetap takut karena yang ia tahu Keisha itu sangat setia pada suaminya. Pasti Keisha tidak akan mau berdekatan dengannya, apalagi setelah kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu antara mereka.


"Van, kenapa kamu berhenti? Kamu gak suka ya begitu lihat teman-teman aku itu?" tanya Shella seraya menatap wajah lelaki di sampingnya.


Revan masih tetap terdiam tak dapat menjawab pertanyaan dari Shella, rasanya mulut pria itu begitu sulit terbuka dan membuat Revan bingung harus mengatakan apa. Shella sendiri terus menatap ke arahnya dengan wajah penasaran, ya gadis itu heran lantaran Revan tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas dan entah karena apa.


"Ma-maaf Shella, kayaknya aku gak jadi deh ketemu sama teman-teman kamu itu! Mungkin lain kali aja baru aku bisa kenalan sama mereka, soalnya aku baru ingat kalau ada jadwal meeting sekarang," ucap Revan pura-pura mengecek jam tangannya.


"Oh ya? Wah aku yang salah dong berarti, sorry banget aku udah maksa kamu buat ikut tadi! Aku beneran gak tahu kamu ada meeting," ucap Shella.


"Iya gapapa, kamu gak salah kok Shella. Ah ya ini kartu nama aku, kamu hubungi aku aja kalau perlu bantuan atau sekedar mau ngobrol dan sharing tentang apapun itu!" ucap Revan dengan lembut.


"Okay, makasih banyak Revan!" ucap Shella.


Revan mengangguk dan mengusap puncak kepala gadis di hadapannya itu, Shella sampai melongok seolah tak percaya Revan akan melakukan itu padanya. Namun, Shella sangat senang lantaran Revan begitu manis sikapnya. Andai saja Revan tidak ada meeting saat ini, maka Shella mungkin sudah mengajak lelaki itu pergi bersamanya.


Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, Revan pun melangkah keluar dari cafe dan kembali ke dalam mobil miliknya. Sedangkan Shella masih terus memandangi punggung Revan dari sana, rasanya gadis itu juga sudah mulai terpikat dengan ketampanan dan kebaikan yang ditunjukkan Revan padanya sedari tadi.


"Duh, Revan itu ganteng banget sih jadi cowok! Aku sampai klepek-klepek gara-gara dia, rasanya aku juga pengen milikin dia seutuhnya deh!" gumam Shella di dalam hatinya.


"Ehem ehem!!" tiba-tiba saja, suara deheman itu mengangetkan Shella dan membuatnya terkejut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...