Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 63. Amarah Alex


Keisha tengah melamun seorang diri saat ini di taman samping rumahnya sembari memandangi langit malam yang dipenuhi bintang-bintang, entah mengapa Keisha yakin jika Alex suaminya masih hidup dan orang yang kemarin menelponnya memang benar sosok Alex. Namun, Keisha juga belum yakin sepenuhnya karena memang kejadian itu berlangsung begitu cepat dan dari kata-kata yang diucapkan Alex di telpon itu membuat Keisha bingung antara Alex masih hidup atau tidak.


Setelahnya, Keisha juga mencoba menghubungi kembali nomor itu untuk memastikan secara langsung. Akan tetapi, nomor yang sebelumnya digunakan Alex itu malah tidak aktif sehingga Keisha pun tak tahu apakah ia masih bisa berharap atau memang ia harus mengikhlaskan Alex. Kini wanita itu terlihat begitu bingung, semuanya memang tidak bisa ditebak dan amat membuatnya ragu.


Lana pun tak sengaja melihat keberadaan kakak iparnya disana, karena penasaran akhirnya Lana memutuskan untuk mendekati Keisha dan bertanya secara langsung apa yang sedang terjadi pada wanita itu. Jujur Lana tampak kasihan melihat Keisha yang terus melamun seperti itu sejak kepergian Alex, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghibur Keisha saat ini.


"Kak Keisha!" perlahan Lana memanggil kakaknya, dan membuat sang pemilik nama menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut.


Keisha tak menyangka dengan kehadiran Lana saat ini, ia bangkit dari tempat duduknya lalu tersenyum dan berusaha memperlihatkan wajah bahagianya di hadapan Lana agar gadis itu tidak curiga. Meski begitu, Lana sudah tahu bahwa Keisha tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya bersedih.


"Eh Lana, kamu kok kesini? Harusnya kamu belajar aja di dalam," ucap Keisha sambil tersenyum.


"Aku udah kok belajarnya kak, ini baru aja mau cari cemilan. Eh aku malah gak sengaja lihat kak Keisha ada disini, makanya aku samperin aja deh. Kak Keisha lagi mikirin apa sih?" ujar Lana.


"Hm, maksud kamu? Aku cuma lagi duduk-duduk biasa kok, gak ada mikirin apa-apa. Udah kamu bisa lanjutin cari cemilannya!" bohong Keisha.


Tidak semudah itu bagi Lana untuk percaya pada ucapan Keisha, sebab gadis itu tahu betul saat seseorang sedang bersedih dan mengatakan kebohongan padanya. Lana justru tersenyum, lalu mendekati Keisha serta meraih satu tangannya untuk digenggam dengan erat.


"Kak, jujur aja sama aku! Ada apa sih sampai kak Keisha sedih begitu? Apa kak Keisha masih mikirin kak Alex?" tanya Lana sekali lagi.


Keisha sontak memalingkan wajahnya, tak mungkin ia menceritakan apa yang ia alami pagi tadi kepada Lana. Bisa saja gadis itu tidak percaya padanya, dan kemudian malah menyangka bahwa dirinya mengada-ada atau berhalusinasi. Maka dari itu, Keisha memilih membohongi adik iparnya dan tak mengaku padanya bahwa ia sedang bersedih.


"Ini mah beneran ya Lana, aku gak ngapa-ngapain kok. Ngapain juga aku sedih malam-malam begini? Aku itu udah ikhlas sama kepergian mas Alex, kamu percaya dong sama aku!" ucap Keisha.


"Syukurlah kalau emang kak Keisha udah ikhlas, aku ikut senang loh dengarnya! Tapi, terus apa dong yang tadi kak Keisha pikirin sampai sedih kayak gitu?" ucap Lana masih penasaran.


Keisha terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, "Kamu ngeyel banget ya Lana? Udah dibilang aku gak sedih atau mikirin apa-apa, kamu kok gak percaya sama aku sih? Itu tuh cuma persepsi kamu aja Lana," ucapnya kekeuh.


"Huft, iya deh maaf kak. Ya mungkin aku emang cuma salah kira tadi," ucap Lana kebingungan.


"Iya Lana, udah kamu masuk aja gih! Gak baik anak kecil malam-malam di luar kayak gini, nanti kamu masuk angin loh!" suruh Keisha.


"Yeh anak kecil, kalo gitu kak Keisha juga harus masuk dong! Kan kak Keisha lagi hamil tuh, gak baik kalau kak Keisha di luar malam-malam begini!" ucap Lana sambil terkekeh.


Keisha geleng-geleng kepala sembari tersenyum mendengar perkataan Lana barusan, gadis itu memang pandai membuatnya tersenyum dan bisa menghilangkan sejenak kesedihan di dalam hatinya saat ini. Akhirnya, Keisha mau menurut dan ikut bersama Lana masuk ke dalam rumah.




Keesokan paginya, Keisha tiba di sekolah bersama Lana dan juga sang supir. Ia langsung turun begitu mereka sampai, lalu berpamitan pada Lana sambil melambaikan tangannya. Setelah itu, barulah mobil milik Lana itu pergi dengan supirnya meninggalkan sekolah tersebut.


Begitu dipastikan mobil Lana tak terlihat lagi, Keisha pun memilih pergi dari sekolahnya dan tidak jadi masuk ke dalam sana. Ya entah mengapa Lana sedang tidak ingin bersekolah, karena ia selalu saja memikirkan suaminya. Mungkin saja dengan pergi berjalan-jalan seorang diri, ia bisa melupakan Alex serta menenangkan dirinya untuk saat ini.


Keisha terus berjalan melalui pinggir trotoar dengan perlahan, wajahnya masih tampak murung dan pikirannya juga belum bisa lepas dari wajah Alex sang suami. Sulit sekali bagi Keisha untuk melupakan Alex dan menghilangkan suaminya itu dari pikirannya, sebab Keisha amat mencintai Alex sejak dulu dan sampai sekarang.


Disaat ia tengah melangkah sembari memikirkan Alex, tiba-tiba saja ia mendengar suara klakson dan mobil yang tepat berhenti di hadapannya. Langkah Keisha pun terhenti, ia menatap heran ke arah mobil tersebut dan sangat penasaran. Lalu tak berapa lama, seorang pria turun dari mobil tersebut dan mendekat ke arahnya sambil tersenyum.


"Heyy!!" pria itu menyapanya, dan Keisha ingat betul bahwa dia adalah Revan alias orang yang sudah menolongnya semalam dari para preman.


"Ternyata benar dugaan aku tadi, aku gak salah lihat. Memang ini kamu Keisha, pantas aja aku merasa gak asing tadi sewaktu lihat kamu. Tapi, ada apa kamu jalan disini? Kok gak sekolah?" ujar Revan.


Keisha hanya diam seraya memalingkan wajahnya, ia tidak menjawab pertanyaan Revan karena ia khawatir pria itu akan semakin banyak tanya. Apalagi ia juga baru mengenal Revan semalam, tidak mungkin ia langsung menceritakan semua masalah yang ia alami pada Revan saat ini.


"Ah gapapa kok, emang lagi ada rapat di sekolah jadi aku terpaksa pulang deh," jawab Keisha bohong.


"Oh begitu, aku kira tadi kamu bolos terus gak mau sekolah. Ini sekarang kamu mau kemana sendirian, yang anterin kamu gak ada?" ucap Revan.


Keisha menggeleng perlahan, "Enggak, soalnya tadi mereka udah keburu pulang," ucapnya.


"Kasihan dong kamu, masa iya kamu pulangnya jalan kaki? Apa mau aku antar aja sampai rumah kamu?" ucap Revan menawarkan tumpangan.


"Eh gausah, aku nanti bisa pesan ojek atau taksi online kok. Kamu gak perlu repot-repot anterin aku, kamu juga kan pasti sibuk," ucap Keisha menolak.


"Gapapa loh, aku mumpung lagi free ini. Atau kamu mau diantar ke tempat lain?" ucap Revan.


Lagi-lagi Keisha menolaknya, bahkan kali ini dengan tegas dan membuat Revan terkejut karena ucapan wanita itu. Revan tidak paham mengapa Keisha terlihat begitu sedih kali ini, sepertinya wanita itu memang sedang memiliki masalah dan tidak suka bila Revan ikut campur padanya.


Akhirnya mau tidak mau, Revan pun terpaksa membiarkan Keisha pergi saat ini. Meski begitu, tampak Revan juga masih curiga dengan sikap Keisha yang amat kasar sebelumnya. Setelah Keisha menjauh darinya, kini pria itu hanya bisa pasrah dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Lah kok murid-murid yang lain pada masuk ya? Perasaan tadi kata Keisha, guru-guru lagi pada rapat terus sekolah diliburin. Apa dia bohong ya tadi?" gumam Revan tampak kebingungan.




Disisi lain, Alex terkejut saat ia keluar dari unitnya dan melihat Anya berdiri tepat di belakangnya. Alex benar-benar tak mengerti mengapa wanita itu ada di depan unitnya saat ini, apalagi tampak kalau Anya tengah memandang ke arahnya disertai senyuman genit dan kedipan matanya.


Alex sampai menghela nafas kasar serta memutar bola matanya, malas sekali ia harus meladeni wanita itu disaat seperti ini. Alex sedang sibuk memikirkan Keisha yang menganggapnya telah tiada, tetapi sekarang Anya justru lagi-lagi mengganggunya seolah tak ingin membiarkan ia hidup tenang.


"Mau apa lagi sih kamu? Aku gak ada waktu ya buat ladenin ocehan gak jelas kamu itu, kalau kamu perlu uang tinggal bilang aja ke aku! Aku akan transfer semuanya ke rekening kamu!" ketus Alex.


Anya melebarkan senyumnya, "Bukan itu yang aku mau, Lex. Aku ini cuma minta kamu buat dekat dan nurut sama aku, itu aja kok. Kalau kamu gak bisa ngelakuin itu, ya jangan salahin aku semisal foto kamu itu kesebar nanti!" ucapnya.


"Cukup ya Anya! Aku tuh baru kenal sama kamu, gak seharusnya kamu bersikap kayak gini ke aku!" tegas Alex tampak emosi.


"Iya iya, tapi ingat loh Lex kalau malam itu kamu udah tidur sama aku! Kamu belum kasih bayaran buat aku seperti yang orang-orang lakuin, jadi kamu masih punya hutang ke aku!" ujar Anya.


"Haish, ya terus kamu maunya apa? Bilang sekarang sama aku!" geram Alex.


Bukannya menjawab, Anya justru mendekat dan merangkul lengan Alex dengan erat sambil tersenyum lebar. Wanita itu sengaja menempelkan tubuhnya pada Alex, agar membuat Alex merasa nyaman dan mulai tergoda dengannya. Akan tetapi, semua usaha Anya gagal dan Alex malah mendorong kasar tubuh wanita itu hingga terjatuh ke lantai dengan posisi miring.


"Jangan coba-coba buat godain aku ya Anya! Aku ini sudah punya istri, dan aku gak mungkin bisa menjalin hubungan sama wanita lain termasuk kamu!" sentak Alex.


Anya terdiam seraya memalingkan wajahnya, ia menggeram kesal dan mengepalkan kedua tangan tanda emosi. Perlakuan Alex benar-benar di luar dugaannya, padahal tadinya ia kira Alex akan mudah tergoda padanya seperti malam itu. Namun, Alex malah berlaku kasar dan masih saja mengingat istrinya itu.


"Dan soal malam itu, ingat ya Anya aku dalam kondisi mabuk dan gak sadar sewaktu main sama tubuh kamu! Aku juga gak ngerasain apa-apa, jadi kamu gak berhak minta bayaran dari aku!" sambung Alex seraya menunjuk wajah Anya.


"It's okay, tapi ingat loh Lex kalau aku gak akan pernah main-main sama ancaman aku!" ucap Anya.


"Aku gak pernah takut sama ancaman kamu, dan aku pastikan kamu akan menyesal karena berani main-main sama aku! Kamu belum tahu kan aku ini siapa?" tantang Alex.


Deg


Anya sampai tersentak dibuatnya, Alex sepertinya tidak takut pada ancamannya dan malah berbalik menantangnya. Wanita itu sungguh bingung saat ini, karena senjata yang ia punya hanyalah foto dimana mereka tengah tidur berdua malam itu. Namun, ia tidak mungkin bisa menyebarkannya ke media sosial sekarang karena sebenarnya ia hanya ingin membuat Alex tunduk padanya.


Setelah mengatakan itu, sontak Alex pergi dari sana meninggalkan Anya begitu saja tanpa perduli dengan kondisinya yang masih terduduk di lantai dengan ekspresi kesal. Alex sudah benar-benar kesal, dan ia ingin menemui sahabatnya untuk meminta solusi darinya.




"Apa? Jadi, lu diancam sama si Anya yang biadab itu? Wah kacau sih, tuh cewek kelakuannya makin gak bener aja deh!" geram Bram.


Ya saat ini Bram telah mendengar semua cerita dari Alex mengenai Anya yang mengancamnya dengan foto telanjang mereka berdua saat di ranjang, Bram pun sangat terkejut dan seolah tak percaya dengan kelakuan wanita itu pada Alex. Apalagi, secara terang-terangan Anya juga mengancam Alex lalu meminta Alex menurut padanya.


Bram pun sama kesalnya dengan apa yang dirasakan Alex, rasanya ia ingin segera menghajar Anya dengan tangan kosongnya itu dan mengirimnya ke rumah sakit. Hanya saja, Bram tidak mungkin tega jika harus menghajar seorang wanita yang meski telah membuat sahabatnya kesal.


"Itu dia bro, gue kesal banget sama si Anya itu! Gue hampir aja gak bisa tahan emosi tadi waktu tuh cewek datengin gue dan ancam gue lagi," ucap Alex mengepalkan tangannya.


Bram mengangguk perlahan, "Yaudah bro, gimana kalau kita rencanain sesuatu aja buat si Anya itu? Supaya dia gak bisa ancam lu lagi," usulnya.


"Umm, ya boleh sih. Itu juga yang emang lagi gue pikirin daritadi, makanya gue temuin lu sekarang buat minta saran. Kira-kira lu ada rencana apa bro buat bebasin gue dari ancaman si Anya?" ujar Alex.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bram tahu apa yang mereka harus lakukan saat ini.


"Nah gue tahu, kita ambil aja tuh hp nya si Anya terus cari dan hapus foto lu sama dia dari sana! Gue yakin, dengan begitu pasti si Anya gak akan mungkin bisa ancam lu lagi bro! Gimana, lu setuju gak sama rencana gue?" ucap Bram.


Alex manggut-manggut paham, "Iya sih, gue juga punya pemikiran kayak gitu. Tapi, gimana ya caranya kita bisa ambil hp nya si Anya?" ujarnya.


"Hahaha, itu sih mudah bro. Serahin aja semuanya ke gue, intinya lu cukup pancing aja tuh si Anya buat jauh-jauh dia dari hp nya!" jawab Bram.


Alex terdiam sesaat untuk memikirkan ucapan yang dilontarkan Bram barusan, jujur ia masih bingung dan belum mengerti harus melakukan apa agar bisa menjauhkan Anya dari ponselnya. Pikirannya saat ini memang tengah kacau, sehingga Alex tidak bisa berpikir dalam waktu cepat.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...