Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 145. Bantuan kakek


Lana kini bersekolah seperti biasanya, meski ia tahu kalau Alex tengah dalam kondisi yang tidak baik setelah Keisha pergi beserta Kenzie dari rumahnya pagi tadi. Jujur Lana juga masih memikirkan Alex sampai saat ini, karena ia khawatir kalau Alex akan berbuat suatu hal yang tidak benar. Lana sungguh tak mengerti, masalah apa lagi yang terjadi antara Alex dan Keisha sampai wanita itu begitu emosi.


Disaat Lana tengah melamun memikirkan masalah yang menimpa kakaknya, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan sebungkus coklat yang ada di depan matanya. Lana tak menyangka dengan itu, karena ternyata ada sosok Arfan yang berdiri di sampingnya dan membawa sebatang coklat sambil tersenyum. Padahal, Lana tak pernah meminta Arfan untuk membelikan coklat untuknya atau tidak.


"Pagi Lana! Senang banget aku bisa lihat kamu di pagi hari yang cerah ini, rasanya hati aku langsung berbunga-bunga sekarang!" ucap Arfan.


Lana menggeleng dibuatnya, "Duh Arfan, kamu apaan sih? Ini juga apa coba pake kasih coklat segala ke aku, ha? Kamu emangnya anggap aku ini apa sih?" ujarnya terheran-heran.


"Ya sahabat aja, gak boleh ya kalau sahabat kasih coklat?" ucap Arfan dengan santai.


"Hm, kamu aneh banget sih Arfan! Aku juga kan gak terlalu suka coklat, aku takut sakit gigi nantinya," ucap Lana menolak dengan halus.


"Ohh, iya gapapa kok." Arfan mencoba tetap kuat kali ini, meski hatinya sangat sakit.


Kini Arfan meletakkan kembali coklat itu ke dalam saku celananya, ia tak mau terlalu memaksa jika Lana memang tidak menginginkan coklat darinya. Meski rasanya ia sangat kecewa, namun ia sadar kalau ia memang bukan siapa-siapa gadis itu. Apalagi, ia juga tahu kalau Lana telah memiliki kekasih saat ini.


"Aku minta maaf ya Lana, gak seharusnya emang aku kasih coklat ke orang yang udah punya pasangan! Aku benar-benar nyesel deh, kamu mau kan maafin aku?" ucap Arfan gugup.


"Untuk apa kamu minta maaf? Aku yang harusnya minta maaf karena gak bisa terima hadiah dari kamu," ucap Lana sambil tersenyum.


Deg


Betapa syoknya Arfan, matanya sampai terbelalak dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Lana barusan. Senyum di wajah gadis itu juga menambah keterkejutan dirinya, ia tak menyangka Lana mau memberikan senyum manisnya itu untuknya. Padahal, Arfan bukanlah sosok penting di dalam hidup gadis itu.


"Oh ya, kamu mau gak temenin aku ke kantin sebentar? Aku masih laper nih, mau beli jajan yang gak terlalu berat," ucap Lana.


"Hah? Oh siap siap, dengan senang hati aku pasti mau temenin kamu Lana!" ucap Arfan antusias.


Lana geleng-geleng perlahan, sikap Arfan memang menandakan betapa pria itu mencintai Lana dan ingin selalu ada di dekatnya. Hanya saja, Arfan sadar kalau dirinya itu tak pantas untuk Lana yang sangat cantik dan diidolakan oleh banyak pria di sekolahnya, bahkan juga sudah menjadi kekasih dari Zikri yang merupakan pria terkeren disana.


"Yaudah, ayo kita jalan sekarang!" ajak Lana yang kemudian diangguki oleh Arfan.


Akhirnya mereka berdua pun pergi bersama-sama menuju kantin, tanpa diduga Lana mendekat ke arah Arfan dan menempelkan wajahnya di bahu si pria. Sungguh tindakan yang sangat mengejutkan dari Lana, tapi tentu saja Arfan amat menyukainya dan tak mungkin bisa melupakan hal itu.




Shella tak sengaja bertemu dengan Revan di salah satu cafe yang ia datangi, sontak karena penasaran gadis itu pun bergerak menghampiri si pria dan coba menyapanya. Shella yakin sekali bahwa dugaannya tidak salah, ya karena memang ia pernah melihat pria itu bersama Keisha sebelumnya ketika mereka sedang pergi berdua.


"Hey Revan!" gadis itu pun menegurnya, menepuk bahu si pria dari belakang dan membuat sang empu terkejut lalu spontan menoleh.


Revan mengernyitkan dahinya, ia merasa heran dengan sosok gadis yang ada di sebelahnya saat ini. Namun, seketika ia teringat pada momen sewaktu dirinya tengah pergi bersama Keisha. Ya saat itu lah Shella muncul, sehingga Revan dapat mengetahui siapa sosok gadis yang menyapanya itu.


"Eh kamu, kamu ini temannya Keisha yang waktu itu kan? Ada apa?" tanya Revan penuh heran.


Shella mengangguk, "Betul, iya itu gue Shella. Gue pengen bicara sebentar sama lu, masalah Keisha. Bisa kan?" ucapnya sambil tersenyum.


"Hm, bisa kok. Emangnya apa yang mau kamu bicarakan sekarang?" ucap Revan.


"Eee...." Shella terlihat celingak-celinguk ke sekeliling cafe, kemudian ia melihat tempat yang kosong dan bisa mereka duduki.


"Kita bicara disana, gak enak lah kalau sambil berdiri kayak gini!" sambungnya.


Revan manut saja dengan kata-kata Shella, ia dan gadis itu pun pergi menuju tempat duduk yang kosong disana. Lalu, keduanya pun terduduk bersama-sama dan memesan minuman. Jujur Shella amat gugup kali ini, sebab ia dan Revan baru saja saling kenal. Apalagi, sebelumnya Shella juga jarang sekali duduk berdua bersama pria seperti itu.


"Van, lu tau gak sih perempuan yang kepergok jalan sama Alex itu siapa? Kata Keisha, dia tau soal ini dari lu. Jadi, barangkali gitu kan lu kenal sama tuh cewek yang dekat Alex," ucap Shella.


"Oh, sorry Shella! Soal itu saya gak bisa bantu, karena saya juga gak kenal sama wanita itu. Saya juga cuma lihat dari jauh, wajahnya agak samar gitu dan gak jelas. Tapi, ceweknya itu tuh pake baju seragam SMA," ucap Revan.


"Apa? Berarti si Alex tuh selingkuh sama anak SMA dong? Ih gila banget dia, bisa-bisanya masih kecil udah jadi pelakor!" ucap Shella menggeram kesal.


"Van, kira-kira kalo gue minta tolong lu buat pantau si Alex terus bisa gak? Gue pengen tau gitu apa dia masih ketemuan lagi sama si cewek itu atau enggak, bisa gak?" tanya Shella.


"Oh boleh tuh, ya nanti kalo gue ketemu dia pasti bakal gue pantau terus," jawab Revan.


Drrrtt drrrtt


Disaat yang sama, ponsel Shella berdering dan membuatnya berhenti bicara sejenak dengan Revan untuk mengangkat telpon itu. Shella terkejut, ia melihat nama Zayn alias kekasihnya ada di layar ponselnya itu. Shella sebenarnya ragu untuk menjawab telpon dari Zayn saat ini, namun jika ia menolaknya maka pasti lelaki itu akan kesal.


"Van, bentar ya?" Shella pamit pada lelaki di hadapannya untuk menjawab telpon.


Revan mengangguk saja dan membiarkan Shella pergi menjauh darinya, ia tak ingin ikut campur ke dalam masalah gadis itu. Revan pun memilih menunggu disana, sembari menikmati minuman yang sudah ia pesan bersama Shella tadi.


Sementara Shella kini menekan tombol hijau di layar ponselnya, lalu bersiap untuk bicara dengan Zayn setelah dipastikan kalau Revan tak akan bisa mendengar perbincangan mereka nanti. Selain itu, Shella juga tak perlu khawatir jika Revan nantinya bertanya mengenai posisinya saat ini.


Sekarang Shella memang sudah lebih menerima Zayn sebagai kekasihnya, walau dulu Shella sempat merasa malas sekali untuk meladeni pria yang begitu terobsesi padanya.




Keisha tengah melamun di teras depan rumah kakeknya seorang diri, ia masih terus memikirkan masalah yang terjadi antara dirinya dan juga Alex. Keisha belum bisa percaya kalau semuanya akan terjadi saat ini, padahal Keisha sebelumnya telah yakin kalau Alex sudah berubah. Namun, sekarang justru pria itu kembali berselingkuh di belakangnya.


Keisha pun merasa begitu kesal dan kecewa, ia tak menyangka Alex sebegitu jahatnya pada dirinya yang telah memberi kesempatan lain bagi suaminya itu. Keisha merasa tidak dihargai lagi oleh Alex, kini ia pun berencana untuk mengajukan proses perceraian dengan suaminya di pengadilan. Tentu saja dengan bantuan dari kakeknya, agar semua proses itu bisa lebih cepat selesai.


"Iya itu benar, aku harus minta bantuan kakek buat gugat cerai mas Alex. Gimanapun, kakek itu kan bukan orang biasa. Aku yakin kalau kakek yang urus, semua ini bisa cepat selesai," gumam Keisha.


Perlahan Keisha bangkit dari tempat duduknya, namun sebelum itu Bruce lebih dulu mendekat ke arahnya dan tersenyum menatapnya. Keisha tentu mengurungkan niatnya, ia tetap berdiri disana dan juga mengarahkan pandangannya ke wajah sang kakek yang kini ada di hadapannya.


"Kek, pas banget aku lagi mau temuin kakek tadi. Eh kakek malah udah datang duluan," ucap Keisha.


"Hm, emang kamu ada apa mau temuin kakek, sayang? Justru kakek nih yang daritadi cemas sama kamu karena ngelamun terus," tanya Bruce.


"Begini kakek, aku mau minta bantuan sama kakek buat ajuin gugatan cerai ke mas Alex," jawab Keisha.


Bruce cukup terkejut mendengarnya, matanya membulat lebar dan seolah tak percaya jika Keisha ingin menggugat cerai suaminya. Bruce pun tersenyum, lalu mendekat dan memeluk erat tubuh cucunya. Ia usap punggung Keisha dengan lembut, berusaha menenangkan Keisha agar tidak sedih dan meyakinkan wanita itu saat ini.


"Kakek kenapa? Kakek gak bisa ya bantu aku buat cerai sama mas Alex? Ayolah kek, aku butuh bantuan kakek sekarang!" ucap Keisha.


Bruce menggeleng pelan, "Bukan begitu, kakek justru siap banget buat bantu kamu. Kakek akan lakukan apapun itu demi kebahagiaan kamu, dan kakek juga bangga dengan keputusan kamu untuk pisah dari si Alex yang sialan itu!" ucapnya.


"Makasih kek, aku senang banget dengarnya! Kakek bisa kan bikin aku dan mas Alex pisah secepatnya?" ucap Keisha.


"Tentu sayang, nanti kakek yang urus semuanya supaya kamu bisa resmi cerai dari dia. Kakek juga gak rela kalau cucu kesayangan kakek ini disakiti oleh pria seperti Alex," ucap Bruce.


"Sekali lagi makasih banget ya kek, aku sayang deh sama kakek!" ucap Keisha.


Wanita itu makin membenamkan wajahnya di dalam tubuh sang kakek, ia sangat nyaman dan merasa senang berada dalam pelukan kakeknya itu. Kini memang hanya Bruce lah yang ia punya, setelah suami yang ia sayangi juga malah berkhianat di belakangnya.


"Sekarang kamu masuk ke dalam ya, kasihan anak kamu udah nangis tuh kayaknya lapar sih pengen makan!" ucap Bruce melepas pelukannya.


"Iya kek." Keisha mengangguk pelan.


Bruce pun menangkup wajah cucunya dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya, ia berusaha untuk membuat Keisha tak bersedih lagi dengan cara meyakinkan Keisha kalau ia akan segera berhasil mengajukan gugatan cerai atas Alex ke pengadilan nanti.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...