Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 64. Gak enak


Setelah puas melampiaskan emosinya kepada Anya di depan unit apartemen tadi, Alex akhirnya memilih bergerak menemui Bram di bawah untuk segera menceritakan semuanya. Ia tidak bisa lagi menahan semua ini sendirian, dan hanya Bram lah orang yang bisa membantunya saat ini.


"Apa? Jadi, lu diancam sama si Anya yang biadab itu? Wah kacau sih, tuh cewek kelakuannya makin gak bener aja deh!" geram Bram.


Ya saat ini Bram telah mendengar semua cerita dari Alex mengenai Anya yang mengancamnya dengan foto telanjang mereka berdua saat di ranjang, Bram pun sangat terkejut dan seolah tak percaya dengan kelakuan wanita itu pada Alex. Apalagi, secara terang-terangan Anya juga mengancam Alex lalu meminta Alex menurut padanya.


Bram pun sama kesalnya dengan apa yang dirasakan Alex, rasanya ia ingin segera menghajar Anya dengan tangan kosongnya itu dan mengirimnya ke rumah sakit. Hanya saja, Bram tidak mungkin tega jika harus menghajar seorang wanita yang meski telah membuat sahabatnya kesal.


"Itu dia bro, gue kesal banget sama si Anya itu! Gue hampir aja gak bisa tahan emosi tadi waktu tuh cewek datengin gue dan ancam gue lagi," ucap Alex mengepalkan tangannya.


Bram mengangguk perlahan, "Yaudah bro, gimana kalau kita rencanain sesuatu aja buat si Anya itu? Supaya dia gak bisa ancam lu lagi," usulnya.


"Umm, ya boleh sih. Itu juga yang emang lagi gue pikirin daritadi, makanya gue temuin lu sekarang buat minta saran. Kira-kira lu ada rencana apa bro buat bebasin gue dari ancaman si Anya?" ujar Alex.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bram tahu apa yang mereka harus lakukan saat ini.


"Nah gue tahu, kita ambil aja tuh hp nya si Anya terus cari dan hapus foto lu sama dia dari sana! Gue yakin, dengan begitu pasti si Anya gak akan mungkin bisa ancam lu lagi bro! Gimana, lu setuju gak sama rencana gue?" ucap Bram.


Alex manggut-manggut paham, "Iya sih, gue juga punya pemikiran kayak gitu. Tapi, gimana ya caranya kita bisa ambil hp nya si Anya?" ujarnya.


"Hahaha, itu sih mudah bro. Serahin aja semuanya ke gue, intinya lu cukup pancing aja tuh si Anya buat jauh-jauh dia dari hp nya!" jawab Bram.


Alex terdiam sesaat untuk memikirkan ucapan yang dilontarkan Bram barusan, jujur ia masih bingung dan belum mengerti harus melakukan apa agar bisa menjauhkan Anya dari ponselnya. Pikirannya saat ini memang tengah kacau, sehingga Alex tidak bisa berpikir dalam waktu cepat.


Bram menggeleng melihat sahabatnya itu tampak kebingungan, ia lalu menepuk pundak Alex dan menawarkan minuman padanya. Mungkin saja jika Alex minum terlebih dulu, maka otak pria itu bisa lebih encer dan mudah baginya untuk bisa memikirkan cara yang terbaik nantinya.


Setelah minum sesaat, Alex pun merasa lebih lega dan tenang dibanding sebelumnya. Ya meski tentu saja pikirannya masih kacau dan bingung harus melakukan apa, pasalnya saat ini ia tengah dihadapkan pada masalah yang besar dimana pihak keluarganya mengira bahwa ia sudah meninggal.


"Masalah Anya itu gampang buat kita urus, tapi soal berita gue meninggal itu gimana ya bro?" ujar Alex kebingungan.


Lagi-lagi Bram dibuat geleng-geleng mendengar perkataan sahabatnya, padahal sebelumnya ia sudah memberi saran pada pria itu untuk segera pulang ke negaranya dan menemui pihak keluarganya agar mereka bisa tahu kalau Alex masih hidup. Akan tetapi, Alex sendiri yang menolak usulannya dan tidak mau melakukan hal itu.




Keisha kini tengah berkutat di dalam mall seorang diri bermaksud untuk menghilangkan stress yang selalu mengganggunya, sebelumnya ia telah berganti pakaian terlebih dulu agar bisa diizinkan masuk ke dalam mall tersebut dan tidak disangka sedang membolos sekolah karena seragam yang ia kenakan saat menuju kesana tadi.


Namun, Keisha justru tampak kebingungan setelah berada di dalam mall itu. Ia tak tahu hendak pergi kemana lagi saat ini, karena tadinya ia berpikir hanya ingin menenangkan diri. Tapi, ternyata berada di mall itu malah sama saja dan tetap tidak bisa membuat ia melupakan pikirannya kepada Alex sang suami.


Bruuukkk


Justru, baru saja ia malah tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang tengah berjalan di hadapannya dan membuat semua barang bawaan orang tersebut terjatuh. Sontak Keisha tampak terkejut, sedangkan si wanita yang ditabraknya juga mulai memaki-maki dirinya karena emosi.


"Heh! Gimana sih kamu? Kalo jalan pake mata dong, jangan ngelamun aja!" sentak si wanita.


"I-i-iya, ma-maaf kak! Biar aku bantuin beresin semuanya," gugup Keisha.


"Ah udah udah, gausah! Nanti yang ada malah pada rusak lagi, dasar gak jelas!" sentak si wanita.


Keisha terdiam dan hanya memperhatikan wanita itu dari tempatnya berdiri saat ini, ia menggeleng heran dengan sikap si wanita yang terlalu kasar padanya meski ia tidak sengaja menabraknya tadi. Namun, Keisha pun tetap merasa bersalah karena memang ia tadi yang sudah melakukan kesalahan.


Setelah membereskan barang-barangnya, wanita itu bergegas pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Keisha. Sungguh Keisha sangat keheranan, tapi ia hanya bisa menghela nafas serta mengerutkan keningnya. Lalu, ia pun berniat kembali meneruskan langkahnya dan pergi dari sana.


Namun baru beberapa jengkal ia melangkah, dirinya sudah dikejutkan dengan keberadaan Revan yang tanpa diduga sudah berdiri di hadapannya sambil menatap ke arahnya disertai senyuman lebar. Keisha sontak terkejut bukan main, bahkan ia sampai reflek memegangi dadanya karena tidak menyangka akan bertemu Revan kembali di mall itu.


"Loh Revan, kok kamu bisa ada disini juga? Oh apa jangan-jangan, kamu ngikutin aku ya daritadi sampai sini?" kaget Keisha.


Revan terkekeh seraya merapihkan rambutnya, ia tak mungkin mengaku pada Keisha bahwa sedari tadi ia memang mengikuti wanita itu karena penasaran. Ia juga khawatir pada Keisha sebelumnya, sebab ia melihat ekspresi wanita itu seperti sedang memiliki banyak masalah dan ia harus membantunya.


"Tuh kan bener, kamu emang bukan orang baik seperti yang aku kira! Berarti semalam kamu tolongin aku cuma pura-pura doang kan? Padahal, kamu ada niat gak baik sama aku!" ucap Keisha.


"Sssttt, pelan-pelan ngomongnya dong Keisha! Gimana kalau ada yang dengar terus salah paham? Nanti aku bisa digebukin tau," panik Revan.


"Biarin aja, abisnya kan emang benar kalau kamu itu penjahat. Ngapain coba kamu sampai ngikutin aku kesini kalau gak ada niat jahat? Dasar cowok aneh!" cibir Keisha.


"Bukan begitu Keisha, aku tadi penasaran aja kenapa kamu bolos dari sekolah," ucap Revan.


Keisha sampai terbelalak mendengar ucapan pria itu, ia heran bagaimana bisa Revan tahu kalau ia bolos dari sekolahnya. Padahal tadi ia tidak mengatakan apa-apa kepada Revan mengenai itu, tetapi Revan malah sekarang mengetahui semuanya dan membuat Keisha kebingungan.




Akhirnya Keisha terpaksa mengikuti kemauan Revan dan pergi bersamanya ke sebuah tempat makan di mall itu, Revan mentraktir Keisha untuk menikmati es krim disana sembari berbincang bersamanya. Jujur Revan ingin banyak bertanya pada wanita itu, karena ia sangat penasaran mengenai Keisha.


Keisha terlihat begitu menikmati es krim yang dibelikan oleh Revan, dan tentu saja Revan pun amat bahagia melihatnya. Pria itu senang karena dapat melihat Keisha tersenyum seperti itu, seolah-olah beban yang ada di dalam dirinya saat ini hilang setelah dapat membuat Keisha tersenyum kembali.


"Kei, es krimnya enak gak? Kamu kayaknya senyum terus daritadi, lahap banget lagi makannya. Tuh sampe belepotan gitu mulutnya," tanya Revan.


Keisha terkejut dan mengangkat kepalanya menatap ke arah Revan, ia seketika mengecek mulutnya dan menyeka bekas es krim yang tertinggal disana menggunakan tangannya. Ternyata memang benar, ada sisa-sisa es krim disana yang membuat Keisha benar-benar malu di hadapan Revan.


"Umm, ma-maaf ya Van? Aku emang suka banget sama es krim ini, jadinya aku sampai gak kepikiran kalau mulut aku belepotan begini," ucap Keisha dengan gugup.


"Iya gapapa Kei, kamu justru lucu kalau kayak tadi. Wajah kamu tambah imut," puji Revan.


Keisha tampak malu-malu mendengar pujian dari pria itu, ia sampai menundukkan wajahnya dan fokus ke arah lain saat ini. Keisha rasanya ingin segera pergi dari sana untuk menghilangkan rasa malunya, namun sepertinya ia sangat berat meninggalkan es krim yang sedang ia makan itu.


"Gak perlu malu Keisha, udah kamu makan kayak biasa aja! Aku gak pernah mempermasalahkan cara makan seseorang kok," ucap Revan.


"Iya Van, thanks ya atas traktirannya! Tapi, kayaknya aku harus pergi sekarang deh. Aku gak enak juga lama-lama disini sama kamu, jadi lebih baik aku pergi aja," ucap Keisha pamit.


Revan mengernyitkan dahinya, "Loh kenapa harus gak enak? Santai aja kali, aku juga suka kok bisa berduaan sama kamu!" ucapnya lembut.


"What??" Keisha terkejut dan keheranan dibuatnya.


Revan langsung menepuk jidatnya dan menyesal karena telah salah berbicara, seharusnya ia tidak mengucapkan itu kepada Keisha karena pasti itu akan membuat Keisha berprasangka yang tidak-tidak padanya. Revan pun kini kebingungan, ia tak tahu harus menjelaskan apa saat ini.


"So-sorry Kei, bukan begitu maksud aku! Kamu jangan salah paham dulu ya!" ucap Revan panik.


"It's okay, aku ngerti kok maksud kamu. Gak mungkin juga aku marah sama kamu, apalagi kamu kan udah baik sama aku," ucap Keisha tersenyum.


"Terimakasih Keisha, tapi aku beneran kok gak masalah sama gaya makan kamu tadi! Aku cuma ngerasa lucu aja lihatnya," ucap Revan.


"Iya deh, tapi tetap aku harus pergi sekarang. Sekali lagi makasih ya Revan?" ucap Keisha.


"Emang kamu mau kemana sih Keisha? Kenapa kamu gak disini aja sama aku? Padahal, katanya kamu suka kan sama es krim ini?" tanya Revan.


"Eee iya sih aku emang suka, tapi aku tetap ngerasa gak enak kalau berduaan sama kamu," jawab Keisha.


Revan tentu saja penasaran mengapa Keisha begitu ingin pergi darinya dan tidak suka bila berduaan dengannya, ia sangat tahu jika Keisha pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Keisha juga pasti memiliki alasan untuk itu, makanya Revan sekarang coba bertanya pada Keisha secara langsung.


"Kei, kamu tuh sebenarnya kenapa sih? Kamu gak suka ya berduaan sama aku kayak gini? Apa karena kita baru ketemu semalam?" tanya Revan lagi.


"Bu-bukan begitu Van, aku begini karena aku gak enak aja berduaan sama laki-laki lain disaat aku sudah bersuami!" jawab Keisha gugup.


Deg


Revan tersentak mendengarnya, ia amat kaget begitu tahu bahwa Keisha saat ini telah memiliki seorang suami. Tadinya ia kira Keisha adalah seorang gadis, sebab ia menemui Keisha tengah memakai seragam sekolahnya. Ia pun terlihat sangat bingung, lalu penasaran dibuatnya.




Alex saat ini sudah berada di depan unit apartemen tempat tinggal Anya, pria itu baru saja mengajak Anya untuk makan malam bersamanya di restoran bawah sebagai bagian dari rencananya. Alex sudah bekerjasama dengan Bram, agar bisa menghapus fotonya dari ponsel Anya dan mencegah wanita itu untuk memanfaatkannya seperti tadi.


Anya pun sangat syok tentunya, ia tak menyangka Alex akan mengajaknya makan malam secara dadakan seperti ini. Padahal, tadi saja Alex sudah hampir mencelakainya dan terang-terangan menolaknya. Namun, kali ini sikap Alex justru berubah seratus persen dari sebelumnya.


"Lex, ini serius nih kamu mau ajak aku makan malam bersama sekarang? Cuma kita berdua kan, gak ada orang lain atau si Bram itu?" tanya Anya memastikan.


Alex mengangguk secara perlahan, "Iya Anya, aku gak mungkin cuma bercanda. Aku beneran kok mau ajak kamu makan malam berdua," jawabnya disertai senyuman lebar.


"Hah akhirnya, kamu mau juga nurutin kemauan aku ya sayang! Aku benar-benar senang deh dengarnya, seharusnya daritadi itu kamu kayak gini Alex sayang!" ucap Anya tampak bahagia.


"Iya Anya, aku juga mau minta maaf ya soal kejadian tadi? Aku benar-benar nyesel udah dorong kamu, maafin aku ya!" ucap Alex.


"Gapapa kok sayang," ucap Anya singkat.


Alex terkejut saat Anya tiba-tiba memeluknya, ia sungguh malas dan jijik dengan sentuhan wanita itu padanya. Jika saja bukan karena ia ingin menjalankan rencananya bersama Bram, maka pasti saat ini Alex sudah mendorong dan menghempas tubuh Anya seperti sebelumnya.


"Yaudah, kalo gitu aku siap-siap dulu ya di dalam? Gak mungkin kan aku dinner berdua sama kamu, tapi tampilannya jelek gini?" pamit Anya.


"Ya Anya, walau kamu sebenarnya udah cantik kok sekarang. Tapi aku hargai aja keputusan kamu, silahkan kalau kamu mau dandan dulu!" ucap Alex.


"Ah bisa aja kamu mah gombalnya, tunggu sebentar ya sayang!" ujar Anya malu-malu.


Alex hanya mengangguk perlahan, kemudian membiarkan Anya memasuki unitnya untuk bersiap-siap dan berdandan sejenak. Alex pun menunggu disana dengan setia, sesekali ia menoleh ke belakang dimana Bram berada. Ia acungkan jempol ke arahnya, yang dibalas juga dengan senyuman oleh Bram saat ini.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...