Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 65. Bareng Revan


Alex saat ini sudah berada di depan unit apartemen tempat tinggal Anya, pria itu baru saja mengajak Anya untuk makan malam bersamanya di restoran bawah sebagai bagian dari rencananya. Alex sudah bekerjasama dengan Bram, agar bisa menghapus fotonya dari ponsel Anya dan mencegah wanita itu untuk memanfaatkannya seperti tadi.


Anya pun sangat syok tentunya, ia tak menyangka Alex akan mengajaknya makan malam secara dadakan seperti ini. Padahal, tadi saja Alex sudah hampir mencelakainya dan terang-terangan menolaknya. Namun, kali ini sikap Alex justru berubah seratus persen dari sebelumnya.


"Lex, ini serius nih kamu mau ajak aku makan malam bersama sekarang? Cuma kita berdua kan, gak ada orang lain atau si Bram itu?" tanya Anya memastikan.


Alex mengangguk secara perlahan, "Iya Anya, aku gak mungkin cuma bercanda. Aku beneran kok mau ajak kamu makan malam berdua," jawabnya disertai senyuman lebar.


"Hah akhirnya, kamu mau juga nurutin kemauan aku ya sayang! Aku benar-benar senang deh dengarnya, seharusnya daritadi itu kamu kayak gini Alex sayang!" ucap Anya tampak bahagia.


"Iya Anya, aku juga mau minta maaf ya soal kejadian tadi? Aku benar-benar nyesel udah dorong kamu, maafin aku ya!" ucap Alex.


"Gapapa kok sayang," ucap Anya singkat.


Alex terkejut saat Anya tiba-tiba memeluknya, ia sungguh malas dan jijik dengan sentuhan wanita itu padanya. Jika saja bukan karena ia ingin menjalankan rencananya bersama Bram, maka pasti saat ini Alex sudah mendorong dan menghempas tubuh Anya seperti sebelumnya.


"Yaudah, kalo gitu aku siap-siap dulu ya di dalam? Gak mungkin kan aku dinner berdua sama kamu, tapi tampilannya jelek gini?" pamit Anya.


"Ya Anya, walau kamu sebenarnya udah cantik kok sekarang. Tapi aku hargai aja keputusan kamu, silahkan kalau kamu mau dandan dulu!" ucap Alex.


"Ah bisa aja kamu mah gombalnya, tunggu sebentar ya sayang!" ujar Anya malu-malu.


Alex hanya mengangguk perlahan, kemudian membiarkan Anya memasuki unitnya untuk bersiap-siap dan berdandan sejenak. Alex pun menunggu disana dengan setia, sesekali ia menoleh ke belakang dimana Bram berada. Ia acungkan jempol ke arahnya, yang dibalas juga dengan senyuman oleh Bram saat ini.


Tak lama kemudian, Anya kembali keluar dari unitnya dan menemui Alex disana. Tampak Anya sudah berganti pakaian mengenakan gaun terbuka dan juga parfum yang membuat tubuhnya begitu wangi, bahkan Alex sampai terkejut lantaran wangi tubuh Anya yang menyengat di hidungnya.


"Nah sayang, aku gak lama kan dandannya?" ucap Anya sambil tersenyum.


"Iya Anya, kamu emang the best deh. Yaudah, yuk kita ke bawah sekarang!" ajak Alex.


"Eh bentar dulu, aku lupa ambil handphone aku di dalam!" ucap Anya.


Alex pun menahan Anya yang hendak kembali ke dalam apartemennya, ia cekal lengan wanita itu dengan kuat berharap agar Anya tidak mengambil ponselnya. Ya tentu saja semua ini bagian dari rencananya dan Bram, setelah mereka pergi nanti maka Bram akan leluasa mengambil ponsel milik Anya itu di dalam kamarnya.


"Jangan Anya cantik! Kita kan mau dinner berdua, gak enak ah kalau kamu bawa hp! Nanti yang ada kamu malah fokus ke hp daripada aku," bujuk Alex.


"Oh iya juga sih, yaudah deh gak jadi. Tapi, aku sekarang cantik kan?" tanya Anya.


Alex mengiyakan saja perkataan wanita itu, ia tak mau terlalu lama bersama Anya disana dan ingin segera melancarkan aksinya. Selain itu, Alex juga memang sudah tidak tahan lagi dengan sikap manja dan genit dari Anya saat ini. Jika bukan karena rencananya dengan Bram, mungkin Alex sudah mual sekarang karena sikap sok cantik Anya itu.


Akhirnya mereka sama-sama melangkah menuju lift untuk segera pergi ke restoran yang ada di bawah sana, tentunya Alex tak lupa memberi kode pada Bram bahwa semua sudah aman. Begitu ia memasuki lift bersama Anya, kini Bram dan juga seorang rekannya bergerak cepat menuju unit apartemen Anya untuk melaksanakan tugas mereka.


Ya sebagai info, Bram memang telah mengajak satu orang temannya yang ahli dalam membobol apapun termasuk ponsel dan juga pintu. Maka dari itu, saat ini mereka bisa dengan mudah memasuki unit Anya meski dalam kondisi terkunci.




Disisi lain, Keisha tampak kesulitan untuk memesan taksi dari ponselnya karena sampai sekarang ia masih juga belum berhasil mendapatkannya. Padahal, ia sudah sedari tadi menunggu di depan mall dan berharap bisa segera pergi dari sana karena khawatir Revan akan mengejarnya lagi.


Keisha pun terlihat terus memandang ke layar ponselnya sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Revan tidak akan muncul lagi di dekatnya, karena jujur Keisha selalu merasa tidak enak setiap kali berdekatan dengan lelaki lain sebab ia sudah memiliki Alex dan ia masih yakin bahwa lelaki itu belum meninggal.


Dikala ia tengah sibuk berusaha memesan taksi melalui ponselnya, tiba-tiba saja Revan sudah berada di dekatnya dan berdiri menatapnya. Keisha tentu merasa bingung, sebab sedari tadi ia tak melihat Revan berjalan atau apalah itu. Sontak saja Keisha terkejut, ia juga nyaris melempar ponsel di tangannya karena tak menyangka dengan kehadiran Revan di sisinya.


"Hah Revan? Ka-kamu gimana bisa ada disini? Perasaan tadi waktu aku noleh ke belakang, kamu belum ada deh," heran Keisha.


Revan tersenyum lebar melihat keterkejutan di wajah Keisha saat melihatnya, ia tahu betul bahwa Keisha memang berusaha menghindarinya dan tidak ingin ada di dekatnya. Namun, entah mengapa Revan selalu merasa khawatir jika ia belum melihat langsung Keisha dalam keadaan baik-baik saja.


"Maaf ya Keisha, aku gak maksud buat ngagetin kamu. Aku itu nyamperin kamu karena daritadi aku lihat kamu gelisah terus, pasti kamu belum dapat taksi buat pulang ya?" ucap Revan.


"Bukan urusan kamu, jadi tolong gausah ikut campur! Kamu masih ingat kan kata-kata aku tadi? Aku udah punya suami!" ketus Keisha.


Revan mengangguk perlahan, "Jelas dong aku masih ingat, tapi itu bukan masalah buat aku. Toh aku gak ada niatan buat rebut kamu dari suami kamu, aku cuma pengen bantu kamu kok!" ucapnya santai.


"Tapi aku gak butuh bantuan kamu, jadi gausah merasa paling benar deh!" ujar Keisha.


Revan agak kaget dengan kata-kata yang dilontarkan Keisha barusan, sebab sebelumnya wanita itu selalu bersikap manis dan lembut. Namun, ia malah tersenyum dan mewajarkan bila sikap Keisha berubah padanya. Ia justru bangga pada kesetiaan Keisha, wanita itu betul-betul tidak ingin memberi ruang bagi lelaki lain untuk berada di dekatnya.


"It's okay, kalo gitu aku temenin kamu aja disini ya sampai kamu bisa dapat taksi? Aku gak akan paksa kamu buat bareng sama aku kok," usul Revan.


"Terserah!" singkat Keisha.


Sementara Revan juga masih terus mengawasi Keisha dari tempatnya berdiri saat ini, pria itu tak mau jika Keisha sampai kenapa-napa atau terluka seperti malam tadi. Revan memilih tetap disana, karena jika ia mendekati Keisha maka pasti wanita itu akan langsung pergi menjauh darinya.


"Duh, mana sih ini taksinya? Kenapa coba susah banget mau pesan taksi aja?" kesal Keisha.


Revan tiba-tiba tersenyum mendengar keluh kesah dari wanita di seberang sana, ia ingin sekali menghampirinya dan menawarkan tumpangan kepadanya. Namun, ia juga khawatir kalau Keisha akan memarahinya seperti tadi dan malah semakin menjauh darinya serta tak ingin bersamanya lagi.


Tetapi tanpa diduga, Keisha sendiri lah yang justru kini beralih mendekat ke arah Revan dan berdiri tepat di hadapan lelaki itu. Sepertinya Keisha sudah menyerah untuk memesan taksi online di ponselnya, karena sedari tadi ia cukup kesulitan untuk melakukan itu dan selalu tidak berhasil.


"Kenapa Keisha? Tadi katanya kamu gak suka dekat-dekat sama aku, terus kok ini kamu malah datengin saya lagi?" tanya Revan kebingungan.


"Gausah sok deh jadi orang! Kamu kan lihat sendiri tadi aku gak bisa-bisa pesan taksi online, ya makanya aku kepaksa balik lagi kesini buat minta bantuan kamu!" jawab Keisha dengan ketus.


"Oh gitu, jadi kamu mau dibantu apa nih? Diantar sampai ke rumah, iya?" tanya Revan menggoda.


Awalnya Keisha tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Revan itu, tapi kemudian ia mengangguk perlahan dan mengatakan kalau ia mau menerima tawaran Revan untuk mengantarnya pulang karena saat ini ia tak memiliki pilihan lain. Walau, Keisha merasa itu bukanlah keputusan yang tepat dan ia khawatir Alex akan salah paham nantinya.


Tentu saja Revan amat senang mendengarnya, dengan senang hati pria itu mengajak Keisha menuju mobilnya dan meminta Keisha untuk masuk ke dalam lebih dulu. Bahkan Revan turut membukakan pintu mobilnya bagi Keisha, sehingga wanita itu dapat masuk dengan mudah. Keisha menurut saja, meski hatinya merasa bahwa ia telah mengkhianati cinta sang suami.


Saat di dalam mobil, Revan langsung melajukan kendaraannya itu dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman mall. Disaat yang sama pula, Keisha malah mendapatkan notif dari ponselnya yang berisi bahwa ia telah berhasil menemukan taksi untuknya. Keisha pun sangat bingung, karena saat ini ia sudah bersama Revan.


"Ada apa Keisha? Kok kelihatannya kamu kayak bingung gitu?" tanya Revan keheranan.


"Ini Van, giliran aku udah bareng sama kamu malah aku berhasil dapat taksi online. Kalo gitu aku turun disini aja ya?" jawab Keisha.


"Hah? Lah gak bisa gitu dong, aku bakal antar kamu sampai rumah sesuai kesepakatan awal!" ucap Revan.


"Tapi, terus ini taksi onlinenya gimana?" tanya Keisha dengan wajah bingung.


"Yaudah kamu cancel aja sih, pokoknya aku gak mau ya turunin kamu di tengah jalan kayak gini! Udah buruan dicancel tuh taksinya!" usul Revan.


"Iya deh."


Akhirnya Keisha memutuskan mengikuti perintah dari Revan dan membatalkan pesanannya kepada taksi tersebut, meski ia melakukan itu dengan perasaan gusar karena sebenarnya ia juga ingin segera turun dari mobil Revan. Biar bagaimanapun, Keisha tetap tidak ingin menduakan suaminya dan ia harus menjadi istri yang setia.




Alex kini masih terjebak di dalam rencananya dan juga Bram, ya pria itu tengah menikmati makan malam bersama Anya di sebuah restoran yang mewah. Namun, Alex terlihat canggung serta bingung harus melakukan apa. Sedangkan Anya tampak lebih agresif, bahkan beberapa kali wanita itu berusaha untuk menggoda Alex disana.


Setiap kali Anya hendak menyentuh tangannya, Alex langsung menghindar dan seolah tidak ingin disentuh oleh wanita itu. Alex benar-benar tidak nyaman jika hal itu sampai terjadi, karena ia sangat merasa jijik dengan wanita di depannya itu. Apalagi setelah ia tahu, bahwa Anya merupakan wanita penghibur yang suka memuaskan banyak lelaki.


"Lex, kamu kok malu-malu gitu sih sama aku? Ayolah, udah kamu gausah kayak begitu! Kita ini kan lagi menikmati malam yang indah, harusnya kamu bahagia dong sayang!" bujuk Anya.


"I-i-iya Anya, aku cuma mau fokus makan aja. Makanya aku gak suka banyak ngobrol," ucap Alex.


"Ohh, ya tapi kan tetap aja aku juga gak suka diabaikan sayang. Kamu katanya mau bikin aku bahagia dan coba buat dekat sama aku, ayolah jangan diam aja kayak gitu! Minimal kamu senyum atau apa kek," pinta Anya.


"Hm, iya Anya yang cantik dan manis!" puji Alex sambil tersenyum menuruti kemauan Anya, supaya wanita itu tidak kecewa dan pergi dari sana.


Akan tetapi, tak lama kemudian Alex malah melihat kemunculan sahabatnya yang berjalan di dekat sana sambil menatapnya serta memberi kode seolah mengajak Alex untuk ikut dengannya. Alex yang mengerti, sontak tengah memikirkan cara agar bisa meminta izin pada Anya dan pergi menemui Bram.


"Umm Anya cantik, aku mau ke toilet sebentar ya? Kamu disini dulu okay!" pamit Alex.


"Oh gitu, yah yaudah deh gapapa aku ditinggal sendirian. Tapi, kamu jangan lama-lama ya sayangku cintaku!" ucap Anya dengan manja.


"Hm, pasti sayang."


Alex beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah dengan cepat menuju toilet pria di dekat sana. Ya sebelumnya ia melihat Bram memasuki toilet itu juga, sehingga ia memilih menyusul kesana untuk menemuinya. Alex ingin tahu, apakah Bram berhasil mengambil ponsel Anya dan menghapus fotonya atau tidak.


Sesampainya di toilet pria, Alex langsung berdiri di hadapan Bram sembari menanyakan keberhasilan pria itu. Alex sudah tak tahan lagi harus berpura-pura menjadi lembut di depan Anya, karena sungguh hal itu sangat membuatnya merasa jijik. Rasanya Alex sudah tidak kuat, apalagi kalau sampai itu terus terjadi di hidupnya.


"Bram, gimana? Lu berhasil gak buat ambil hp nya si Anya dan hapus foto-foto gue disana?" tanya Alex dengan penasaran.


Bukannya menjawab, Bram justru senyum-senyum dan memandang wajah Alex. Sontak hal itu membuat Alex keheranan, pria itu tak mengerti apa yang lucu sampai Bram tersenyum seperti itu. Padahal, saat ini situasinya tengah genting dan Alex sangat membutuhkan ponsel Anya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...