Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 151. Cuma teman


"Aaarrrgghhh sialan!!"


Suara teriakan itu menggema di sudut ruangan dan membuat Lana yang hendak tidur pun terkejut, gadis itu langsung melangkah ke luar kamar untuk memastikan apakah yang terjadi disana. Ya hari sudah larut, namun justru seseorang datang dan tiba-tiba berteriak seperti itu di rumahnya. Tentu saja Lana sangat kesal, karena momen istirahatnya telah terganggu kali ini akibat teriakan tersebut.


Saat Lana keluar, ia melihat Alex tengah memukul-mukul tembok di depan sana sambil berteriak histeris. Sontak Lana makin penasaran dibuatnya, ia bergegas maju mendekat ke arah Alex untuk bertanya apakah yang membuat pria itu sampai sesedih ini. Apalagi, Alex tak biasanya bersikap seperti itu dan bahkan sampai melukai dirinya sendiri tanpa alasan yang jelas.


"Kak, kak Alex kenapa sih? Jangan kayak gini lah kak, ini sama aja kakak ngelukain diri kakak sendiri! Ada apa sih kak? Cerita sini sama aku!" ucap Lana yang langsung menarik kakaknya itu.


"Gak Lana, gue gapapa kok. Gue lebih baik terluka fisik, daripada gue harus kehilangan Keisha sama Kenzie. Gue udah cari mereka kemana-mana, tapi gak ketemu juga. Rasanya gue frustasi, gue gak tau lagi harus cari mereka kemana," ucap Alex.


Mendengar itu, sontak Lana ikut merasa sedih dan paham betul mengapa Alex bisa sampai begitu histeris tadi. Lana yakin kalau dirinya ada di posisi Alex, maka ia pun akan melakukan hal yang sama. Kini Lana tetap berusaha menghibur kakaknya itu, ia membujuk Alex agar berhenti menyakiti dirinya sendiri dan membawanya menuju sofa di ruang tamu untuk menenangkan diri.


"Kak, duduk dulu disini ya! Biar aku buatin teh hangat dulu buat kakak, siapa tau nanti kakak bisa tenang," ucap Lana.


Alex menolak saat Lana hendak pergi dan membuatkan minuman untuknya, ia malah menarik lengan adiknya itu dan terduduk padanya di sofa sambil terus menatapnya. Alex terlihat begitu histeris, tak ada yang bisa dilakukannya lagi saat ini selain menyesali segala perbuatannya.


"Gue udah kehilangan Keisha, gue juga kehilangan anak gue, Kenzie. Gue gak tahu mereka ada dimana sekarang, lalu buat apa gue harus minum? Gimana caranya gue bisa tenang?" ucap Alex.


"Tenang dulu kak, semuanya kan belum berakhir! Kita masih bisa cari kak Keisha sama Kenzie kok sampai ketemu nanti," ucap Lana membujuknya.


"Itu susah banget Lana, gak mungkin gue bisa temuin mereka secepat itu. Gue aja gak tahu mereka ada dimana, gimana coba caranya gue bisa bawa mereka balik kesini?" ucap Alex.


"Ya kalau soal itu sih kakak berdoa aja dulu, siapa tau kita bisa cepat temuin mereka!" ucap Lana.


Alex menggeleng pelan, ia berpaling ke arah lain dan mengusap hidungnya secara kasar karena ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa menemukan istri serta anaknya. Ia sudah berusaha keras mencari tahu keberadaan mereka, tetapi hingga kini ia tetap saja gagal membawa mereka kembali kesana.


"Udah ya kak, kita tidur yuk! Ini udah malam loh, nanti kakak sakit kalau gak tidur. Besok kita cari lagi kak Keisha sama Kenzie ya?" bujuk Lana.


"Gak bisa Lana, gue gak mungkin bisa tidur kalau gue belum bisa temuin mereka. Lo itu paham gak sih sama kondisi gue? Mereka itu berarti banget bagi gue, gue gak bisa hidup tanpa mereka Lana!" ucap Alex dengan tegas.


"Iya kak, tapi kan kakak juga harus istirahat. Kalau kakak gak istirahat nanti malah sakit, terus gak bisa cari mereka lagi deh," ucap Lana.


Alex terdiam sesaat, tapi entah kenapa rasanya ia cukup sulit untuk bisa hidup tenang saat ini.




Besoknya, pagi-pagi sekali Alex sudah bersiap untuk kembali mencari sang istri tercinta beserta anaknya yang masih tidak tahu dimana keberadaannya saat ini. Alex pun bergerak cepat untuk keluar dari rumahnya, ia tak bisa hidup tenang jika belum dapat menemukan istri dan anaknya itu. Apalagi, sekarang hanya mereka lah yang bisa membuatnya bahagia.


Tapi disaat Alex hendak pergi, tiba-tiba saja tangannya dicekal dari belakang oleh sang adik yang juga muncul kali ini. Tentu saja langkah Alex harus terhenti saat ini, ia menoleh ke arah Lana dan menatap dengan wajah bingung. Ia tak mengerti mengapa Lana memegangi tangannya, bahkan menghalangi jalannya disana.


"Lo apa-apaan sih Lana? Kenapa lu halangi jalan gue coba? Minggir lu, gue mau pergi cari istri dan anak gue!" sentak Alex.


"Gak perlu, gue bisa cari mereka sendiri. Lo itu harus sekolah, lu gak boleh izin cuma karena mau bantu gue!" ucap Alex dengan tegas.


"Tapi kak, aku harus temenin kakak. Aku gak mau kalau sampai kakak kenapa-napa nanti, apalagi kakak pergi dalam keadaan emosi. Pokoknya aku mau temenin kakak ya!" ucap Lana kekeuh.


"Hm, terserah kamu. Sekarang lepasin tangan gue, biarin gue pergi!" pinta Alex.


"Iya kak iya, kita pergi sama-sama ya?" ucap Lana.


Alex menghela nafasnya, akhirnya mereka pun pergi bersama menuju mobil yang terparkir di halaman depan rumah. Lana tak melepaskan tangan sang kakak, karena ia khawatir kakaknya itu akan terluka dan memaksa untuk pergi sendiri. Bagaimanapun, Lana sangat perduli pada pria itu dan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Kamu dimana sih sayang? Kemana lagi aku harus cari kamu sekarang?" batin Alex.


Keduanya tiba di luar, tapi tanpa diduga mereka malah melihat sosok gadis cantik berdiri di depan pagar kali ini sembari menatap ke arah mereka. Alex terkejut dibuatnya, matanya terbelalak lebar dan seolah tak percaya kalau Cherry ternyata datang ke rumahnya pagi ini. Sedangkan Lana terlihat heran, pasalnya jelas sekali kalau gadis yang ada di depan sana adalah kakak kelas di sekolahnya.


"Cherry??" lirih Alex, ia terdiam saat itu juga dan tak bisa berpaling dari wajah gadis di depan sana.


Lana pun reflek menatap wajah kakaknya, "Kak, kakak kenal sama Cherry? Kenal dimana?" tanyanya dengan wajah bingung.


Deg


Tentu saja Alex tersentak dan tidak tahu harus menjawab apa, ia terdiam bingung serta memalingkan wajahnya ke arah lain. Alex khawatir jika Lana akan salah paham nantinya, lalu malah mengira jika Cherry adalah selingkuhannya. Padahal, nyatanya Cherry hanya ia anggap sebagai seorang sahabat yang selalu ada di dekatnya.


"I-i-i-iya Lana, kakak emang kenal sama dia waktu gak sengaja kita ketemu di mall. Akhirnya sampai sekarang kita jadi teman deh," jelas Alex.


"Ohh, apa jangan-jangan kak Keisha pergi dari rumah karena ini ya?" tebak Lana.


"Maksud kamu apa?" Alex reflek menatap wajah adiknya seolah tak mengerti dengan apa yang dimaksud Lana tadi.


"Ah enggak kok, itu cuma tebakan aku aja. Barangkali kak Keisha emang pergi dari rumah gara-gara kedekatan antara kakak dan Cherry kan? Cherry itu senior di sekolah aku loh, kok bisa gitu kakak dekat sama dia?" ucap Lana keheranan.


"Gak terlalu dekat Lana, aku sama Cherry itu cuma sekedar teman. Kamu ini mikir apa sih?" elak Alex.


"Hm, yakin teman aja kak? Kok dia bisa sampai tau rumah kakak disini? Terus ngapain coba Cherry pagi-pagi begini datang ke rumah kita?" tanya Lana memojokkan kakaknya.


Lagi-lagi Alex dibuat tak berkutik dengan pertanyaan yang diajukan adiknya, ia bingung dan tak tahu harus menjawab apa lagi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...