Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 114. Belum mandi


Shella masih asyik melamun memandangi punggung Revan yang perlahan menjauh dari pandangannya itu, Shella sepertinya memang amat kagum dengan sosok Revan dan begitu menyukai bagaimana sikap yang dia tunjukkan tadi. Jarang sekali memang ada lelaki seperti Revan di dunia ini, apalagi yang Shella temui. Bisa dibilang Revan adalah lelaki langka, karena kebanyakan sekarang laki-laki itu paling senang memainkan hati wanita.


Disaat ia tengah asyik melamun membayangkan wajah Revan di kepalanya, tiba-tiba saja suara deheman muncul di dekatnya dan membuat dirinya terkejut. Shella spontan menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang ada disana, tapi ternyata itu adalah Keisha alias sahabatnya yang berdiri bersama Tasya disana. Mereka juga tampak menepuk pundak Shella, bermaksud menyadarkan gadis itu dari lamunan anehnya disana.


"Ehem ehem, aduh aduh ini kenapa coba cewek satu ngelamun aja disini sambil senyum-senyum kayak gitu? Hayo, mikirin apa lu Shella? Awas loh nanti kesambet kalo ngelamun terus!" cibir Keisha.


Shella yang dibilang seperti itu tampak tersipu malu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajah gadis itu bahkan sudah memerah menahan malu akibat kepergok oleh sahabatnya bahwa ia sedang melamun. Untung saja Keisha tak mengetahui apa alasan ia melamun disana, jika begitu maka pasti Keisha akan lebih menggodanya nanti.


"Eee hehe, gue gak lagi mikirin apa-apa kok. Itu loh tadi gue pengen kenalin seseorang ke kalian, eh tapi ternyata orangnya malah ada urusan penting. Jadi aja gue gak bisa bawa dia kesini buat ketemu sama kalian," ucap Shella menjelaskan.


"Oalah, orangnya pasti cowok ya? Pacar lu?" tanya Keisha coba menebak.


Mata Shella terbelalak lebar ketika mendengar Keisha menyebut kata pacar, tentu saja Shella menampik tebakan Keisha itu dan mengatakan jika orang yang ingin ia kenalkan pada mereka tadi bukanlah kekasihnya. Mereka saja baru saling mengenal beberapa jam yang lalu, mana mungkin mereka bisa menjadi sepasang kekasih.


"Bukan pacar gue kok, cuma teman lah. Ya tapi dia orangnya baik dan tadi malah tolongin gue waktu dalam perjalanan menuju tempat ini," ucap Shella.


"Wih keren dong tuh! Kenapa gak lu pacarin aja coba, hm?" celetuk Keisha.


Shella semakin dibuat bingung dengan ucapan Keisha yang menjurus terus ke arah pacaran, kini ia tidak tahu harus menjawab apa lantaran ia juga belum memikirkan bagaimana hubungan antara dirinya dan Revan ke depannya. Mereka saja baru saling mengenal, maka Shella tak mau terlalu ambil pusing dengan memikirkan mengenai pacaran.


"Kalau emang cocok sama gue, ya nanti mungkin bakal gue pacarin. Udah ah ini ngapa jadi bahas soal pacar mulu sih? Gue kan diundang kesini sama lu Keisha, harusnya kita bahas soal lu dong!" ucap Shella mengalihkan pembicaraan.


"Ahaha, ya gapapa lah Shella. Sekali-kali gue kan juga pengen tahu tentang kehidupan lu, apalagi kayaknya lu banyak yang naksir nih," ucap Keisha.


"Dih apaan? Enggak kok, gue ini gak cantik kayak lu Keisha. Kalo lu sih wajar banyak yang deketin, lah gue mah apa sih? Cowok-cowok juga pada jijik kali sama gue mah," ucap Shella merendah.


"Hm, merendah mulu lu kerjaannya! Udah tahu lu itu cantik, pake bilang begitu!" cibir Tasya.


Keisha terkekeh saja mendengar cibiran yang dilontarkan Tasya barusan, memang benar apa yang dikatakan Tasya bahwa Shella adalah gadis cantik. Tidak mungkin tentunya banyak lelaki yang tidak tertarik pada Shella, karena nyatanya ada banyak lelaki yang berharap bisa menjalin hubungan dengan Shella dan mendapat balasan cinta dari gadis itu.




Lana akhirnya diantar pulang oleh Zikri setelah pria itu terus memaksa ingin mengantarnya, Lana tak memiliki pilihan lain karena ia pun suka setiap kali naik motor bersama Zikri dan berboncengan dengan pria itu. Meski Lana belum yakin dengan perasaan yang dirasakan Zikri padanya, tetapi tak ada salahnya apabila ia terus berdekatan dengan pria itu.


Kini keduanya tiba di depan halaman rumah Lana, tanpa basa-basi Lana segera turun dari motor dan melepas helm dari kepalanya. Gadis itu memberikan kembali helmnya kepada Zikri, kemudian tampak menunduk sambil merapihkan rambutnya. Zikri yang melihat itu terdiam saja, ia fokus menatap wajah cantik Lana yang selalu berhasil memikatnya.


"Lana, kamu cantik banget deh makin lama! Aku gak nyangka bisa dekat sama perempuan secantik kamu, apalagi kamu juga manis berkat lesung yang ada di pipi kamu itu," ucap Zikri memujinya.


Lana terkejut dengan pujian yang dilontarkan Zikri padanya, gadis itu tersipu dan pipinya bersemu merah akibat rayuan Zikri. Ingin rasanya Lana berteriak cukup keras saat ini, namun ia khawatir akan membuat Zikri tak lagi menyukainya. Lana harus menjaga sikap di depan Zikri, supaya pria itu tahu kalau ia adalah gadis yang kalem dan sopan.


"Duh, aku jadi malu deh dipuji sama idola sekolah yang ganteng dan baik ini!" ucap Lana lirih.


"Hahaha, gantian dong biar aku yang muji kamu. Abisnya kamu sih terus-terusan bilang aku ganteng lah, banyak yang ngefans lah. Padahal, aku ini kan juga manusia biasa sama kayak kamu Lana," ucap Zikri sambil tersenyum lebar.


"Yeh kamu kan emang idolanya para perempuan di sekolah, jadi gak salah dong kalau aku bilang begitu ke kamu?" ucap Lana membela diri.


"Iya gak salah kok, kamu mana pernah salah coba? Cewek itu selalu benar," kekeh Zikri.


Lana pun ikut terkekeh dibuatnya, entah mengapa sejak dekat dengan Zikri membuat Lana selalu ceria dan tersenyum sepanjang hari. Berbeda dengan ketika dulu Zikri masih cuek padanya, bahkan hampir setiap jam ia merasa galau. Namun, kini semua telah berubah dan impian Lana dulu menjadi kenyataan dengan perubahan sikap Zikri padanya.


"Oh ya, kamu mau ikut masuk ke dalam apa enggak nih?" tanya Lana menawarkan.


"Eee gausah deh, aku belum siap buat ketemu orang tua kamu. Takutnya nanti ditanya macam-macam lagi, terus aku gak bisa jawabnya. Mungkin lain kali aja deh ya aku mampirnya?" tolak Zikri.


Lana tampak merengut, "Ya gapapa kok Zik, aku paham kalau kamu masih ragu. Lagian kita juga kan belum jadi apa-apa sekarang," ucapnya.


"Nah itu, makanya nanti aku bingung harus jawab apa kalau ditanya soal status sama orang tua kamu. Secara kamu aja belum kasih jawaban ke aku, jadinya aku gak tahu deh status kita apa," ucap Zikri.


"I-i-iya Zikri, nanti tiga hari lagi kan aku bakal jawab. Kamu sabar aja ya nunggunya!" ucap Lana.


Zikri mengangguk dan mengusap puncak kepala Lana dengan lembut, ia selalu memperlakukan Lana layaknya seperti seorang kekasih dan ingin membuat gadis itu merasa kalau saat ini dirinya sudah benar-benar mencintainya. Zikri tahu Lana masih ragu, itulah sebabnya ia akan terus berusaha meyakinkan Lana tanpa kenal lelah.




Tentu saja Lana ingin tahu apa yang membuat mamanya itu sampai begitu cemas dan harus masuk ke dalam kamarnya, padahal biasanya Mayra lebih dulu mengetuk pintu dan tidak akan langsung masuk tanpa izin darinya. Namun, kali ini Mayra berbeda dan membuat Lana merasa jika ada sesuatu yang sangat penting tentunya.


"Ma, ada apa sih? Kenapa mama tiba-tiba masuk kayak gitu gak ketuk pintu dulu? Aku kaget tahu, aku kira tadi ada maling yang masuk kamar aku terus mau curi barang-barang aku," ucap Lana panik.


Mayra justru tersenyum dan berusaha menahan tawanya saat melihat reaksi putrinya saat ini, ya tentu Lana merasa heran sekaligus penasaran mengapa mamanya itu malah tertawa dan terlihat seolah meledeknya. Padahal, tadi saja Mayra tampak sangat cemas ketika masuk dan hampir membuat jantung Lana copot.


"Hahaha, kamu lucu deh sayang. Mama masuk kesini cuma mau kasih tahu kamu, itu loh di bawah ada teman kamu yang namanya Zikri. Dia bilang katanya mau ketemu kamu, ada sesuatu yang penting tuh katanya," ucap Mayra.


"Hah Zikri? Dia datang kesini, ma? Beneran?" Lana tampak syok berat dan seolah tak percaya.


Mayra mengangguk perlahan, "Iyalah sayang, masa mama bohong sih? Kalau kamu gak percaya, lihat aja sana di bawah temuin langsung!" jawabnya.


"Ta-tapi ma, aku aja belum mandi loh. Malu lah aku kalau ketemu cowok sekarang," ucap Lana gugup.


Mayra kembali terkekeh mendengar pengakuan dari Lana, ia langsung menjewer telinga putrinya itu sambil terus tertawa dibuatnya. Mayra sungguh tak menyangka Lana semalas itu kala libur tiba, sampai-sampai Lana belum kunjung juga mandi walau jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan gadis itu juga telah sarapan sedari tadi.


"Ya itu sih salah kamu sendiri sayang, kenapa juga belum mandi coba? Sekarang jadi bingung kan kamu waktu disamperin pacar kamu," kekeh Mayra.


"Ih mama, Zikri itu bukan pacar aku. Dia tuh cuma teman yang lumayan dekat sama aku, jadi mama jangan salah kira deh! Lagian mana mungkin coba dia jadi pacar aku?" ucap Lana mengelak.


"Hm, kenapa gak mungkin?" tanya Mayra heran.


"Karena Zikri itu idola di sekolah aku, ma. Dia itu kapten basket tim sekolah, banyak cewek-cewek yang suka sama dia tahu," jawab Lana.


"Ohh, ya terus apa urusannya? Kalau kalian emang berjodoh, pasti kalian bakal bersatu kok. Apalagi, dia belakangan ini sering banget kan datang ke rumah buat temuin kamu? Itu udah pertanda loh, kalau dia suka sama kamu," ucap Mayra.


"Masa sih ma?" Lana terlihat ragu dan sulit untuk mempercayai ucapan mamanya.


Namun, kali ini Mayra kembali berusaha meyakinkan Lana bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini dan gadis itu harus terus berpikir positif. Mayra pun menangkup wajah putrinya, membuat Lana begitu yakin dan kembali bersemangat. Meski begitu, tetap saja Lana masih ragu kalau Zikri juga merasakan hal yang sama padanya.




Lana pun keluar dari kamarnya untuk menemui Zikri di luar sana dan berbincang dengannya, walau saat ini ia belum mandi karena rasa malasnya tadi. Lana juga tak menyangka Zikri akan datang, sehingga ia belum mempersiapkan dirinya saat ini. Gadis itu sebenarnya ragu untuk turun menemui Zikri, ia khawatir Zikri akan merasa jijik padanya nanti.


Ya Lana pergi menemui Zikri hanya bermodalkan parfum dan sabun cuci muka, ia berharap Zikri tidak akan mengetahui kalau dirinya belum mandi. Ya walau itu sesuatu yang mustahil, karena pasti ada banyak perbedaan di dalam tubuhnya. Apalagi, Lana khawatir kalau sampai Zikri mencium adanya bau tidak sedap yang ada pada tubuhnya saat ini.


Saat tiba di depan rumahnya, Lana melihat Zikri yang tengah terduduk santai sembari bersiul dan menikmati pemandangan disana. Ada rasa ragu di dalam diri Lana, terutama ketika ia coba mendekat ke arah Zikri dan menyapanya. Namun, seperti kata mamanya tadi maka Lana harus lebih berani dan terus berpikir positif selama hidupnya.


"Ehem, Zikri!" gadis itu berdehem menegur si pria, ia kini sudah berdiri tepat di sebelah Zikri dan menatap wajah pria itu dari samping.


Sontak Zikri terkejut ketika tiba-tiba ada suara yang menyebut namanya, ia reflek menoleh ke samping dan menemukan Lana disana. Tanpa banyak bicara, Zikri bergegas bangkit dari tempat duduknya lalu menemui Lana yang ada di dekatnya. Pria itu tersenyum lebar, seolah senang karena akhirnya gadis yang ia tunggu sedari tadi muncul juga.


"Eh Lana, akhirnya muncul juga kamu! Aku senang deh, di pagi hari yang cerah ini aku bisa lihat wajah kamu yang cantik!" ucap Zikri dengan gombalannya.


Pagi-pagi begini Lana sudah dibuat tersipu oleh gombalan sang Zikri, gadis itu bahkan reflek berpaling ke arah lain sembari menutupi mulutnya. Ia benar-benar tak menyangka, Zikri malah memberi gombalan untuknya dan bukan menanyakan perihal penampilannya saat ini yang memang cukup buruk karena ia belum sempat mandi.


"Kamu apa sih Zikri? Bisa banget pagi-pagi udah gombal aja, padahal aku lagi jelek banget loh ini. Kamu ngapain sih datang kesini di hari libur? Aku tuh belum sempat mandi tahu, jadinya kan aku terpaksa nih temuin kamu dalam keadaan begini," ucap Lana.


"Oh ya? Serius kamu belum mandi Lana?" Zikri tampak terkejut dan terus menatap tubuh gadis di hadapannya dari atas sampai bawah tanpa terlewat.


Sontak Lana reflek menutupi tubuhnya dan merasa jika tidak menyukai pengakuan darinya, ia pun menyesal lalu menepuk bibirnya sendiri karena telah berkata seperti itu di depan Zikri. Seharusnya Lana lebih bisa menjaga ucapannya, karena tadi di awal ia yakin kalau Zikri tidak tahu apa-apa mengenai dirinya yang belum sempat mandi.


"I-i-iya Zikri, aku belum mandi nih daritadi. Kamu pasti jijik ya sama cewek malas kayak aku?" ucap Lana merasa gugup.


Zikri justru terkekeh kali ini, "Hahaha, apa kata kamu? Jijik? Yakali aku bisa jijik sama perempuan secantik kamu, belum mandi aja udah cantik gini apalagi nanti pas mandi coba!" ujarnya.


Deg


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...