
Kini Alex telah tiba di lokasi pesta bersama Hani yang ikut dengannya, mereka langsung bergegas turun dari mobil dan memasuki rumah besar tersebut untuk menemui Shella. Akan tetapi, begitu sampai di dalam mereka malah bertemu dengan Novia yang terlihat panik. Sontak Alex bergerak mendekati wanita itu, lalu bertanya mengenai keberadaan Shella saat ini.
Novia mengatakan yang sejujurnya, bahwa Shella tadi tidak sengaja meminum minuman yang telah dicampur obat tidur untuk Keisha. Sekarang ini Shella pun tengah tertidur di kamarnya akibat minuman tersebut, seketika Alex merasa jengkel dan melampiaskan amarahnya dengan cara menendang meja yang ada di dekatnya.
"Aaarrrgghhh sial! Sekarang gimana caranya gue bisa tahu lokasi keberadaan Tarra? Gue harus selamatin Keisha!" geram Alex.
Hani dan Novia sama-sama saling menatap satu sama lain, mereka kebingungan melihat reaksi Alex saat ini yang terlihat begitu emosi setelah mengetahui istrinya dalam bahaya. Lalu, Alex kini beralih menatap wajah Novia berharap wanita itu tahu lokasi markas Tarra yang baru. Namun, Novia mengatakan jika dirinya tidak pernah diberitahu apa-apa oleh Shella mengenai Tarra.
"Masa sih Nov? Serius lu gak tahu dimana Tarra? Lu itu kan temannya Shella, lu cukup dekat loh sama dia. Pasti dia pernah bicara kan sama lu soal Tarra, mending lu jujur deh sama gue!" ucap Alex.
"Gue udah jujur Lex, gue emang gak tahu. Cuma Shella yang tahu, percaya dong!" tegas Novia.
"Yaudah, dimana Shella sekarang? Gue mau lihat kondisi dia secara langsung, kali aja gue bisa bikin dia sadar!" ucap Alex.
"Eee Shella ada di kamarnya, ayo deh gue antar lu kesana!" ucap Novia gugup.
Alex mengangguk, mereka pun melangkah bersamaan menuju kamar tempat Shella berada. Ketiganya memasuki kamar itu, terlihat lah sosok Shella tengah terbaring disana dalam keadaan tertidur pulas akibat obat yang dia konsumsi. Alex langsung mendekatinya, menyentuh wajahnya berharap agar Shella bisa segera sadar.
"Heh, cepat bangun lu! Gue butuh bantuan lu buat cari tahu dimana Tarra, ayo bangun!" sentak Alex.
"Lex, sabar! Gue beli obat tidur itu yang paling mujarab, tapi waktu berlakunya cuma sebentar kok. Orang yang minum obat itu, paling lama tidur sekitar setengah jam lah. Jadi, kita tunggu aja dia dulu!" ucap Hani menenangkan.
"Nah dengerin tuh, lagian Shella udah tidur sekitar sepuluh menitan kok!" sahut Novia.
"Tetap aja gak bisa, segitu mah kelamaan dan keburu Keisha diapa-apain sama si Tarra! Gue mau selamatin dia sekarang!" sentak Alex.
"Ya tapi gimana Lex? Cuma Shella yang tahu dimana lokasi si Tarra," ujar Hani.
Alex terdiam bingung, pikirannya benar-benar kacau memikirkan kondisi Keisha sehingga ia tidak bisa berpikir dengan tenang. Ia sungguh khawatir pada Keisha, sebab hingga kini ia tak tahu dimana dan bagaimana keadaan istrinya itu.
Tling
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari nomor Tasya yang membuat Alex penasaran. Pria itu langsung membukanya, matanya terbelalak seketika saat melihat Tasya mengirimkan sebuah lokasi kepadanya. Tentu saja Alex bingung, ia tak tahu lokasi siapakah yang dikirim oleh Tasya itu.
"Ini Tasya kirim lokasi siapa ya? Kok gak ada penjelasannya sih?" batin Alex.
"Eengghh..."
Tak lama kemudian, terdengar suara lenguhan dari mulut Shella. Sontak Alex, Hani dan juga Novia sama-sama menatap ke arah Shella dengan tatapan terkejut. Ketiganya heran mengapa Shella terlihat mengusap tubuhnya sendiri, seperti orang yang tengah kepanasan.
"Loh itu si Shella kenapa kayak gitu? Katanya dia cuma minum obat tidur, kok malah jadi kayak orang sang3?" tanya Alex terheran-heran.
"Eee sebenarnya yang gue beli itu emang obat tidur, tapi di dalamnya juga mengandung reaksi yang bisa bikin si pemakai ini ngerasa panas dan pengen begituan lah," jelas Hani.
"Apa? Berarti Keisha..." Alex tak sanggup meneruskan kata-katanya, sungguh ia khawatir pada istrinya saat ini.
"Kurang ajar lu Hani!" Alex menggeram kesal, dirinya maju dan hendak menampar wajah Hani sebagai pelampiasan amarahnya.
"Eh Lex tunggu, tenang dulu jangan emosi! Itu cuma reaksi kalau si pemakai minumnya kebanyakan, tapi tadi gue lihat Keisha cuma minum sedikit kok. Lo tenang aja ya!" bujuk Hani.
"Lo gausah bohong Hani!" sentak Alex.
Hani menggeleng ketakutan, "Gue gak bohong, tanya aja si Novia dia juga lihat kok waktu Keisha minum tadi!" ucapnya menunjuk ke arah Novia.
"I-i-iya Lex, si Hani gak bohong kok. Udah lu tenang aja, jangan cemas gitu!" sahut Novia.
Alex mencoba menenangkan dirinya, meskipun rasa cemas terus saja menghantuinya mengingat saat ini Keisha sedang dalam bahaya dan Alex tidak tahu wanita itu ada dimana. Ingin sekali Alex pergi sekarang untuk menyelamatkan Keisha, hanya saja ia tak tahu dimana lokasi markas Tarra dan itu yang membuatnya sekarang.
•
•
Disisi lain, Tasya masih bersembunyi dan memantau dari jauh sambil mencari cara bagaimana untuk bisa menyelamatkan sahabatnya di dalam sana. Ya memang sebelumnya Tasya berhasil mengikuti Keisha saat dibawa oleh Tarra beserta rombongannya, sehingga kini ia dapat tahu dimana lokasi Tarra menyembunyikan Keisha.
Gadis itu terlihat kebingungan saat ini, berulang kali ia mengecek ponsel dan belum ada jawaban apa-apa dari Alex. Padahal tadi ia sudah mengirimkan lokasi dirinya berada ke nomor pria itu, tetapi Alex malah hanya melihatnya dan tak memberi respon apa-apa padanya. Maka dari itu, Tasya pun tak tahu harus apa kali ini.
"Duh, Alex gimana sih? Gue udah kirim lokasi loh, kok dia malah diem aja gak jawab apa-apa? Dasar cowok aneh!" gumam Tasya dengan perlahan.
Tak lama kemudian, ia melihat lima orang pria keluar dari dalam rumah besar itu dan terlihat panik. Tasya pun keheranan, apalagi kelima pria tersebut tampak berteriak seolah mencari seseorang. Gadis itu juga ikut menatap sekitar, tak ada siapa-siapa disana dan ia pun sungguh bingung. Siapa sebenarnya yang sedang lima pria itu cari saat ini?
"WOI KELUAR LU PENYUSUP!"
"KITA TAHU LU ADA DISINI, CEPAT KELUAR!"
Begitulah suara teriakan yang keluar dari mulut mereka, seketika Tasya panik karena mengira mereka telah mengetahui keberadaannya disana. Namun, Tasya tetap berdiam diri di tempatnya tanpa mau menemui mereka karena khawatir akan menjadi bahaya sendiri baginya.
Raffa bersama teman-temannya kini menyebar ke berbagai sisi di luar rumah itu, mereka juga terus meneriaki penyusup yang mereka kira ada disana karena tadi mereka mendengar suara bising dari arah luar. Tentu saja Raffa berharap bisa menangkap si penyusup itu dengan segera, agar mereka bisa segera kembali ke dalam menikmati tubuh Keisha.
Tasya semakin merasa cemas, gadis itu gemetar hebat dan berusaha menjauh dari Raffa beserta rombongannya. Ia tentu tak mau tertangkap oleh mereka, sebab dirinya juga kini tengah menanti cara untuk bisa membebaskan Keisha dari dalam sana. Ya meski Tasya belum tahu harus apa.
"Haish, gimana ini ya? Kalau mereka lihat gue, pasti mereka bakal tangkap gue. Bisa berabe nih semuanya, kemana sih Alex ih!" gumam Tasya merasa bingung dan panik.
Disaat ia sedang bingung memikirkan cara untuk bisa lepas dari kelima pria itu, justru kini ponselnya malah berbunyi dan membuatnya semakin panik. Sontak ia langsung mengambil ponselnya dan berusaha mematikan telpon dari Alex, tentu karena ia tak mau suara dari ponselnya didengar oleh Raffa maupun teman-temannya.
"Hah suara hp siapa tuh??" tapi terlambat, Raffa rupanya telah mendengar suara tersebut dan kini ia tampak mencari tahu darimana suara itu berasal.
"Raf, kayaknya dari sana deh!" Panji alias teman Raffa itu menunjuk ke tempat Tasya berada, ya karena ia mendengar suaranya dari sana.
"Yaudah, ayo kita cek kesana!" ajak Raffa.
Raffa dan yang lainnya mencoba melangkah mendekati tempat Tasya berada, sontak hal itu membuat Tasya semakin cemas dan kebingungan harus bagaimana caranya menghindari mereka. Terlebih posisinya sangat sempit dan hampir tidak ada jalan lagi untuknya pergi menjauh, Tasya pun terus berpikir sembari celingak-celinguk mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
•
•
Tarra kini masih bersama Keisha di kamar yang sudah ia modifikasi sebaik mungkin, terlihat Keisha pun amat cemas dan terus berontak dari ikatan tali tersebut berharap dirinya bisa melepaskan diri lalu keluar dari sana. Namun, tentunya sangat sulit untuk bisa lepas dari tali yang mengikatnya amat kuat itu. Apalagi ada tekanan juga dari Tarra yang duduk di sebelahnya, dan terus menertawakannya.
Keisha terus berharap bahwa akan ada bantuan yang datang dan dapat membawanya keluar dari sana, meski sulit tapi tetap saja Keisha ingin bertemu kembali dengan Alex. Wanita itu tahu jika pasti saat ini Alex begitu khawatir padanya, ia pun menyesal karena telah melawan kata-kata suaminya yang melarang ia untuk mengikuti pesta itu.
Tindakan Tarra semakin agresif, pria itu berani menyentuh area kaki Keisha dari bawah sampai menuju paha. Sontak Keisha berteriak, berusaha menggerakkan kakinya menghindar dari sentuhan sensual Tarra karena tentu dia tak ingin tubuhnya disentuh oleh lelaki lain. Bukannya berhenti, Tarra justru makin berani dan terus meraba paha mulus milik Keisha sambil tertawa puas.
"Hahaha, ternyata tubuh lu mulus juga ya Keisha? Pantas aja si gila Alex itu gak mau kehilangan lu, salut sih gue!" ucap Tarra memujinya.
Keisha menatap tajam wajah Tarra dengan ekspresi kesalnya, seolah-olah menunjukkan betapa emosi dirinya saat ini akibat ulah yang diberikan Tarra kepadanya. Wanita itu terus mengerang dan meronta-ronta dari sentuhan Tarra, akhirnya Tarra menjauhkan tangannya dan berhasil membuat Keisha merasa lega.
"Tuh gue udah berhenti kok, lu gausah panik begitu kali Keisha! Acara kita gak akan dimulai tanpa teman-teman gue yang lain itu, jadi sekarang lu masih bisa bernafas lega!" ucap Tarra menyeringai.
"Cukup Tarra! Gue mohon lepasin gue, gue mau pulang dan ketemu Alex! Kalau lu mau ngelakuin ini ke gue sekarang, lu bisa masuk penjara Tarra!" ucap Keisha dengan tegas.
"Gue gak takut Keisha, yang penting gue bisa bikin lu dan Alex tersiksa dulu. Setelah itu, gue gak perduli apa yang akan terjadi ke gue," ucap Tarra.
"Lu benar-benar kejam Tarra! Gue sumpahin lu bakal hidup dalam penderitaan yang lebih dari ini, lepasin gue Tarra sialan! Lu itu musuhnya Alex, tapi kenapa lu ngincer gue juga?" ucap Keisha.
"Ahaha, jelaslah karena lu pacarnya dia. Siapapun yang berhubungan baik sama Alex, bakal kena sama kekejaman gue Keisha!" tegas Tarra.
Ceklek
Tiba-tiba saja, pintu kamar itu dibuka dari luar oleh seseorang. Sontak Tarra reflek menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Keisha yang turut penasaran siapa yang datang kesana itu. Tarra langsung beranjak dari ranjang, matanya terbelalak melihat seorang pria memasuki kamar itu dengan mengenakan topeng penutup wajah.
"Hey! Siapa lu? Mau apa lu masuk kesini, ha?" tanya Tarra pada orang misterius itu.
Pria misterius itu tak menjawab, dia malah terus melangkah mendekati Tarra dan mengarahkan pandangan ke tubuh Keisha yang masih terbaring disana dengan kondisi terikat.
"Heh penyusup! Kalau lu berani mendekat, gue bakal hajar lu sampai mampus!" ancam Tarra.
Bukannya takut, pria misterius itu justru tetap diam dan melanjutkan langkahnya mendekati Tarra sembari mengepalkan satu tangannya. Sontak Tarra merasa panik, ia berjaga-jaga jikalau nanti orang misterius itu akan menyerangnya atau berusaha memukulnya dan membebaskan Keisha.
Keisha sendiri turut merasa takut, sebab ia belum tahu siapa lelaki yang datang itu dan apakah dia berniat menolongnya atau justru dia merupakan orang suruhan Tarra yang lain. Keisha pun semakin kuat berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya usahanya itu gagal lantaran tali-tali yang mengikat kaki serta tangannya cukup kuat.
"Pergi lu penyusup!" tanpa disadari, Tarra kini sudah membawa tongkat baseball di tangannya dan hendak memukul ke arah orang misterius itu.
Namun, serangan mendadak dari Tarra berhasil dengan mudah ditangkis oleh si misterius itu. Tarra pun terbelalak tak percaya, lalu mencoba menarik tongkat itu dan berniat memukul si misterius itu kembali. Tapi lagi-lagi, usaha Tarra gagal lantaran orang bertopeng tersebut berhasil menahan dan menghentak tongkat itu sampai terjatuh ke lantai.
"Jangan terlalu gegabah Tarra, lepasin Keisha dan lu akan aman kali ini!" ucap orang itu.
Tarra mengernyitkan dahinya, "Maksud lu apa? Emang lu ini siapa, terus kenapa lu mau bebasin Keisha? Oh atau lu ini suruhan Alex ya?" ujarnya.
"Gak penting gue ini siapa, mending cepat lu bebasin Keisha karena polisi sedang menuju kesini sekarang!" ucap orang itu.
"Apa? Polisi? Lu sebenarnya siapa? Mending lu pergi deh atau gue akan hajar lu!" ancam Tarra.
"Lepasin Keisha sekarang!" orang misterius itu membentak keras sampai membuat Tarra terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Gue gak akan lepasin dia, karena dia ini urusan gue. Siapapun lu, gue bakal habisin lu!" ucap Tarra.
Akhirnya Tarra bergerak maju dan menyerang lelaki misterius itu dengan gerakan cepat, perkelahian pun terjadi disana yang mana keduanya saling berbalas pukulan. Hingga Tarra kini terjatuh ke lantai dengan posisi tengkurap, sedangkan si misterius langsung mendekati Keisha dan ingin melepaskannya.
"Lo siapa??" tanya Keisha dengan gugup.
"Tenang aja, gue cuma mau bebasin lu! Sekarang lu nurut, gue bakal bawa lu pergi dari sini!" jawab si misterius sembari melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Keisha.
"HEY BERHENTI!!"
Namun, Tarra rupanya belum kalah dan masih dapat berdiri kembali. Ya lelaki itu segera menarik tubuh si misterius dan memukul wajahnya sampai tersungkur, lalu terus mendekati orang misterius itu tanpa perduli dengan kondisinya yang masih mengerang sakit akibat pukulan dadakan tadi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...