
Setelah tak sengaja menabrak seorang siswi saat di jalan sebelumnya, sekarang Tio tampak lebih cerah dari biasanya karena ia benar-benar bahagia. Bahkan sepanjang perjalanannya kali ini, pria itu terus saja menyebut nama Meira yang merupakan gadis cantik yang ia temui sebelumnya itu. Tio juga berharap kalau Meira adalah jodohnya, sebab selama ini ia selalu berusaha menemukan siapakah wanitanya.
Dan disaat ia melangkah, tanpa sengaja ia melihat keberadaan Meira di depan sana yang tengah bersama teman-temannya. Tentu saja Tio langsung sigap merapihkan rambutnya, berniat mendekat lalu mengajak Meira berbincang kembali. Meski Tio agak ragu, karena saat ini Meira terlihat sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Namun, Tio yang pantang menyerah akhirnya tetap mendekatinya.
"Meira!!" langsung saja Tio meneriaki nama gadis itu, membuat sang empu menoleh lalu terlihat heran dengan kehadiran Tio disana.
Meira pun pamit sejenak pada teman-temannya, ia mendekati Tio dan bertanya padanya. Sedangkan teman-teman gadis itu tampak berbisik seolah membicarakan Meira yang dekat dengan kakak kelasnya, yakni Tio. Entah iri atau apa, tapi yang pasti mereka itu tidak suka melihat kedekatan Meira dengan Tio yang merupakan sahabat Alex itu.
"Kak Tio, ada apa ya?" tanya Meira dengan wajah bingung.
Tio tersenyum lebar sembari mengusap rambutnya ke atas, "Hehe, gue tadi gak sengaja aja lihat lu disini. Lu lagi ngapain?" ucapnya tampak grogi.
"Ohh, ini kak aku sama teman-teman lagi obrolin soal acara perpisahan kelas 12 nanti," ucap Meira.
"Oh gitu, berarti gue ganggu dong ya? Maaf deh, padahal tadi gue pengen ajak lu makan bareng di kantin!" ucap Tio.
"Gak kok, kebetulan juga udah selesai ngobrolnya," ucap Meira tersenyum lebar.
"Wah beneran nih? Terus lu mau gak ikut sama gue sekarang?" tanya Tio penuh harap.
"Umm..."
Gadis itu berpikir sejenak sebelum menjawabnya, ia juga menoleh ke arah teman-temannya yang terlihat tak suka dengan kedekatannya dan Tio. Tapi kemudian, Meira kembali menatap wajah Tio dan mengangguk perlahan sembari mengiyakan ajakan pria itu. Sontak Tio langsung bersorak gembira, dia benar-benar bahagia karena Meira mau menerima tawarannya makan bersama di kantin.
"Serius ini lu mau makan bareng gue? Gue gak salah dengar kan?" tanya Tio ingin memastikan.
"Enggak kok, kakak gak salah dengar. Yaudah, aku mau taruh ini dulu ya sebentar? Nanti aku balik lagi kesini," ucap Meira sambil menunduk.
"Ah iya iya..."
Meira pun berbalik dan kembali ke tempat teman-temannya berada, ia meletakkan barang miliknya disana dan pamit pada mereka semua karena ia ingin pergi bersama Tio. Setelahnya, Meira bergegas mendekati Tio dan mengajak pria itu untuk segera pergi ke kantin. Tanpa menunggu lama, Tio mengangguk setuju lalu jalan berdampingan dengan Meira sambil terus tersenyum dan mencuri-curi pandang ke arah gadis itu.
Sepanjang jalan, keduanya terlihat begitu gugup dan saling terdiam tanpa berbicara. Rasanya ingin sekali Tio memulai pembicaraan, tetapi entah kenapa ia tak memiliki cukup keberanian dan ia juga bingung harus berkata apa terlebih dulu. Meira sendiri pun tampak terus menunduk, sejujurnya dia malu harus pergi berdua bersama kakak seniornya itu.
Akhirnya Tio memberanikan diri membuka obrolan, ia juga menatap wajah Meira dengan sedikit senyum yang merekah di pipinya. Sontak Meira merasa gugup, ia tersipu dan wajahnya pun memerah karena ditatap seperti itu oleh Tio. Belum pernah Tio merasakan pergi berduaan dengan seorang wanita, untuk itu kali ini dia sangat bahagia dan tidak ingin waktu berputar dengan cepat.
"Eee Meira, gue masih bingung nih. Kira-kira enaknya gue panggil lu Mei, atau Ra ya? Lo sukanya apa?" ucap Tio coba membuka topik.
Meira tersenyum dengan sedikit menunduk, "Apa aja aku suka kok, yang penting masih dipanggil pake nama. Kalau kamu manggilnya gak nyambung, baru deh aku gak suka," ucapnya.
"Loh emang ada ya yang pernah manggil lu gak sesuai nama?" tanya Tio penasaran.
Gadis itu mengangguk dengan cepat, "Ada kak, teman-teman aku tuh kadang manggil aku mei-mei atau pirang," jawabnya.
"Hahaha.." Tio spontan tertawa mendengar jawaban Meira yang membuatnya tergeletak tak tertahan.
Seketika gadis itu menunduk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa malu saat ditertawakan oleh Tio dan kedua pipinya pun bertambah merah kali ini. Tio yang melihat itu, sontak menghentikan tawanya agar tak membuat Meira semakin gugup. Pria itu berusaha mencari topik lain, supaya Meira senang tentunya.
Mereka kembali berbincang-bincang kecil sembari melangkah menuju kantin, kali ini keduanya tampak saling tertawa karena lelucon dari Tio. Meira baru tahu, ternyata Tio itu cukup ahli dalam membuat lelucon dan dia adalah pria yang humoris. Rasanya Meira semakin nyaman berada di dekat Tio, bahkan gadis itu mulai berani mengangkat kepalanya dan menggeser posisinya lebih dekat ke arah Tio.
•
•
Sementara itu, Keisha tengah merapihkan seragam sekolahnya seperti semula setelah selesai bermain kuda-kudaan dengan suaminya di gudang sekolah. Jujur Keisha tak menyangka ini akan terjadi, karena seumur-umur baru sekarang lah Keisha harus bermesraan dengan Alex di gudang yang kotor dan berantakan itu. Namun, Keisha tetap merasa senang karena Alex tidak lagi marah padanya.
Kini Alex pun juga telah memakai semula seragamnya, pria itu menghampiri Keisha dan terlihat tersenyum sembari merangkulnya. Ia sengaja menggoda wanita itu, mencolek dagunya seraya mengecup pipi serta mengusap keringat di dahi sang istri. Sejujurnya Alex juga tak mau bermain di tempat seperti itu, tetapi entah kenapa ia sulit menahan diri setiap kali berada di dekat Keisha.
"Sayang, kamu ngambek nih gara-gara aku minta jatah disini? Maafin aku deh, abis aku gak tahan sih ngeliat tubuh kamu yang seksi ini. Kamu mau kan maafin aku, hm?" ucap Alex membujuknya.
Keisha sedikit mengerucutkan bibirnya sembari memalingkan wajahnya, Alex yang melihat itu sontak tersenyum dan menarik kembali wajah Keisha agar menghadap ke arahnya. Dalam sekejap, bibir mereka sudah kembali bertautan meski hanya saling menempel. Keisha terbelalak, mencoba mengakhiri itu tetapi tidak berhasil karena Alex menahan tubuhnya dengan kedua tangan.
"Ish, kamu mah kebiasaan kalau cium aku gak pernah bilang-bilang dulu! Hampir aja aku kehabisan nafas tau, dasar mesum!" Keisha langsung menyerang suaminya itu dengan berbagai perkataan emosi setelah bibirnya dilepaskan.
"Ahaha, salah sendiri kamu imut banget. Aku kan paling gak bisa tahan kalau lihat kamu mainin bibir kamu kayak tadi," kekeh Alex.
"Udah deh, kamu gausah kebanyakan gombal! Ayo sekarang kita pergi dari sini, nanti kalau ada yang lihat bisa-bisa kita malah dituduh mesum lagi disini!" ajak Keisha yang terlihat panik.
"Lah kan emang kita abis berbuat mesum?" goda Alex.
Keisha yang kesal langsung memberikan cubitan ganasnya ke arah lengan sang suami, bukan hanya sekali tapi berkali-kali sampai sang empu merintih kesakitan dan harus menghindar dari serangan istrinya itu. Tak berhenti sampai disitu, ketika Alex lari menjauh Keisha juga terus mengejarnya meski sedikit menahan sakit pada bagian bawahnya akibat permainan panas Alex di gudang tadi.
"Hani, lu mau kemana? Kok sendirian aja sih?" tanya Keisha terheran-heran.
"Gue gak pengen kemana-mana kok Kei, gue sengaja mau cari kalian. Soalnya gue ada yang mau diomongin sama lu," jawab Hani.
"Sama gue?" Keisha kembali mengajukan pertanyaan, lalu diangguki oleh Hani sebagai jawaban yang membuat Keisha penasaran.
"Lo emangnya mau ngomong apa sama gue?" tanya Keisha lagi kepada wanita itu.
Hani tersenyum tipis kali ini, "Gue mau ajak lu ke acara pesta teman gue nanti malam, lu bisa kan Kei?" jawabnya.
"Hah pesta? Pesta apa?" kaget Keisha.
"Ya pesta kayak biasa, kebetulan teman gue ini emang hobi bikin pesta lah. Terus pesta ini khusus para perempuan, makanya gue gak bisa ajak Reno. Jadi, gue putusin buat ajak lu," ucap Hani.
"Ohh, mau dong mau banget malah. Gue udah lama gak ikut pesta kayak gitu," ucap Keisha antusias.
Seketika Keisha mendapat lirikan tajam dari Alex yang sepertinya tak menyetujui perkataan wanita itu, namun Keisha tak perduli dan menganggap Alex hanya khawatir padanya. Keisha pun tetap mengiyakan ajakan Hani, sebab sudah lama ia tidak mengikuti pesta yang pasti menyenangkan itu.
"Okay, nanti malam gue jemput lu jam setengah tujuh ya? Jangan lupa minta izin sama pacar lu tuh!" ucap Hani disertai kekehan kecil.
Keisha mengangguk saja sambil tersenyum, lalu Hani pun pergi dari sana setelah selesai berbicara dengan Keisha. Gadis itu terlihat senang lantaran Keisha mau pergi bersamanya nanti malam, sehingga ia melangkah dengan begitu gembira dan tak sabar menantikan malam nanti. Sedangkan Alex tampak kecewa pada istrinya, pria itu tampak menatap wajah Keisha dan memegang pundaknya.
"Kamu kenapa iyain ajakan si Hani tadi, ha? Kamu gak lihat apa ekspresi aku tadi? Aku gak setuju sayang kalau kamu pergi sama dia, aku khawatir tau!" ucap Alex tegas.
"Sayang, tenang aja kali! Hani itu kan sahabat aku, meski dia pacarnya Reno tapi bukan berarti dia bakal jahat juga kayak Reno kan?" ucap Keisha.
"Ta-tapi kan—"
"Udah lah Alex, kamu gak perlu cemas kayak gitu! Kalaupun Hani punya niat jahat sama aku nanti, aku pasti bisa jaga diri aku sendiri kok," sela Keisha.
Akhirnya Alex tak mempunya pilihan lain, ia terpaksa memberi izin istrinya itu untuk pergi bersama Hani. Walaupun sampai sekarang ia masih belum percaya jika Hani benar-benar baik, ia khawatir Hani justru sengaja mengajak Keisha ke pasti karena hendak membalas dendam atas perlakuannya kepada Reno yang sampai dikeluarkan dari sekolah.
•
•
Malam harinya, Keisha terlihat sudah siap dan cantik dengan gaun yang dikenakannya. Wanita itu keluar dari kamar, lalu menemui Alex yang sedang menonton tv di ruang depan sembari meminum kopi yang sebelumnya telah dibuatkan oleh Keisha. Kini Keisha terduduk di sebelah Alex, menatap wajah pria itu dari samping seraya menggenggam satu tangannya sambil tersenyum lebar. Keisha memang ingin merayu suaminya, agar ia bisa pergi bersama Hani menuju pesta yang sudah ia nantikan.
"Lex, aku boleh kan pergi ke pesta sama Hani?" ucap Keisha dengan nada yang dibuat-buat.
Alex menoleh dengan dingin, tatapannya itu seolah menunjukkan kekesalan tetapi tidak bisa juga meluapkannya saat ini. Sebenarnya Alex sangat melarang Keisha pergi, tapi apa daya dirinya tak mampu berbuat apa-apa selain mengiyakan permintaan wanita itu. Meski hingga kini, Alex masih saja khawatir pada istrinya nanti.
Akhirnya Alex memberi izin pada Keisha dan membiarkan wanita itu pergi, kebetulan juga di luar sana mobil Hani telah sampai karena memang jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Keisha pun langsung bergegas keluar dari rumah, ditemani oleh Alex yang ingin memastikan semua akan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka.
Saat di luar, Hani turun dari mobilnya lalu mendekat ke arah Keisha serta Alex yang sudah menunggu di depan rumahnya. Hani tampak menyapa Keisha dengan lembut sembari melambaikan tangan, yang tentunya dibalas oleh Keisha. Barulah Hani mengajak Keisha untuk segera pergi, dengan alasan pesta sebentar lagi akan dimulai.
"Eh yaudah, ayo Hani kita pergi sekarang aja! Kalau terlambat, nanti malah gak asyik kan. Lagian gue juga udah siap kok," ucap Keisha.
"Iya bener tuh Kei, lu naik ke mobil gue aja biar gampang!" ucap Hani.
Keisha mengangguk setuju, tak lupa ia pamit pada suaminya sebelum berjalan pergi ke dekat mobil bersama Hani. Setelahnya, Keisha serta Hani langsung pergi menggunakan mobil itu menuju tempat pesta. Namun, Alex juga tampak tak berdiam diri begitu saja. Ya Alex pun turut mengejar mobil mereka, karena dia sangat penasaran dan khawatir dengan kondisi istrinya.
Sementara itu, di dalam mobil kini Hani mengatakan pada Keisha untuk pergi ke butik favoritnya lebih dulu. Hani juga bilang kalau pakaian yang dikenakan Keisha saat ini tidak cocok dengan tema pesta, maka dari itu Hani ingin memberikan baju yang sesuai padanya. Keisha menurut saja, tanpa merasa curiga sedikitpun Hani.
"Eh ya, gue masih bingung deh. Lu sama Alex itu statusnya pacaran kan, kok kalian udah tinggal serumah sih? Bukannya itu gak boleh ya di negara kita?" tanya Hani dengan heran.
"Ngomong apa sih lu? Gue sama Alex kan udah nikah, emangnya Reno gak ngasih tau ke lu?" jawab Keisha disertai kekehan kecilnya.
"Hah masa sih? Serius lu udah nikah sama Alex? Gila gue baru tahu sekarang loh, Reno gak ada cerita apa-apa tuh! Emangnya kapan kalian berdua nikah?" ucap Hani terkejut bukan main.
"Ahaha, udah lumayan lama kok. Sejak gue sama Alex diskors dari sekolah, nah itu tuh gue langsung dinikahin sama dia," ucap Keisha.
"Ohh begitu..."
Hani kini tahu kalau ternyata Keisha sudah sah menikah dengan Alex, meski awalnya ia sempat tak percaya karena belum melihat bukti secara langsung pernikahan mereka itu. Tentu saja Hani cukup kaget mendengarnya, ia juga kasihan pada Shella karena cintanya ke Alex harus pupus karena ternyata Alex sudah sah menjadi milik wanita itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...